KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Abdul Rizal Saputra


__ADS_3

"Sayang!" ujar Haykal, sembari menggenggam erat tangan Kanaya. Nampak raut wajah Haykal yang tak rela melepas kepergian Kanaya.


Hampir tiga jam, Kanaya dan Haykal berdua di dalam mobil. Perjalanan menuju pesantren Kanaya membutuhkan waktu hampir seperempat hari. Pesantren yang terletak di luar kota, lebih tepatnya di kota kecil yang masih asri. Tidak terlalu banyak bangunan megah, bahkan tidak ada mall. Hanya ada toko-toko kecil yang berjejer. Pasar tradisional menjadi satu-satunya tempat transaksi di kota ini. Kota kecil yang sengaja dipilih Embun, kota yang jauh dari keramaian. Semua demi ketenangan Kanaya putrinya. Namun pesantren ini bukan pesantren biasa. Sebagian besar alumni pesantren, mendapatkan beasiswa ke luar negeri.


"Ada apa lagi kak? Aku sudah sampai di pesantren. Aku sudah menuruti permintaan Kakak. Sekarang, kenapa kakak malah berat melepasku!" ujar Kanaya lirih, Kanaya menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Kanaya menatap ke luar, dia merasa berat meninggalkan Haykal. Seandainya Haykal berat melepasnya.


"Kenapa harus sejauh ini kamu belajar? Tidak bisakah kita bertemu, setidaknya satu minggu satu kali!"


"Semakin sering kita bertemu, semakin besar kesempatan kita larut dalam napsu sesaat. Maaf, sampai detik ini bayangan kelam itu masih membuatku takut. Namun ketika hati ini belum sepenuhnya yakin, sampai detik itu aku akan tetap seperti ini!" ujar Kanaya lirih, Haykal menggeleng lemah. Haykal menarik tangan Kanaya, mencium lembut tangan Kanaya.


"Sayang, maafkan aku!" ujar Haykal lirih, Kanaya diam membisu.


"Bukankah kakak sudah mengetahui semuanya. Kak Rafan sudah menceritakan, masa kelamku. Alasan aku benci akan ketampanan laki-laki yang selalu membuat mata kaum hawa terpikat. Sesuatu yang seolah menjadi kebanggan para kaum adam. Memanfaatkan ketulusan dan keluguan seorang wanita!"


"Sayang, aku tidak seperti itu. Maaf, jika perkataanku membuatmu teringat akan malam itu. Sungguh sayang, aku minta maaf!" ujar Haykal, sembari menggenggam erat tangan Kanaya. Nampak Kanaya mengangguk, Kanaya melepaskan genggaman tangan Haykal. Kanaya membuka pintu mobil Haykal.


"Seorang wanita, ibarat karang yang berdiri kokoh di tepi laut. Sebesar apapun ombak yang menerjangnya. Takkan karang tumbang begitu saja. Namun tanpa disadari, dalam kokoh karang tersimpan rongga yang kosong yang siap membuatnya runtuh. Aku membentengi diriku dengan dingin dan keras. Namun jauh di dalam hatiku, ada trauma hebat yang mampu membuatku tumbang. Trauma yang tak pernah kakak bayangkan sebelumnya. Ketakutan akan gelap dan dingin malam, yang seolah ingin membekukan tubuhku. Rasa tak nyaman, kala kulitku tersentuh tangan laki-laki. Sentuhan yang selalu membuatku teringat akan malam itu. Alasan sesungguhnya aku berada di pesantren ini. Menjauh dari ketakutan, mencari arti ketenangan dan keikhlasan yang selama ini aku hindari!"


"Sayang, maafkan aku!"


"Kak, sejujurnya aku belum sepenuhnya percaya akan rasamu padaku. Bukan karena malam itu aku melihatmu bersama tante Aira. Namun pengalaman yang terjadi padaku. Membuatku tak mudah percaya, meski aku menyadari kakak tulus padaku. Namun ada satu hal yang akan kuyakinkan padamu. Meski hatiku belum percaya padamu, tapi hatiku percaya akan ketetapan-NYA. Jika kamu imam yang ditetapkan menuntunku. Meski jiwaku ragu bersatu denganmu, tapi jiwaku yakin akan keputusan-NYA. Jika kamu pemilik tulang rusukku. Kanaya Fauziah Abimata sepenuhnya menerimu, karena hadirmu bukan sebuah kebetulan. Melainkan ketetapan-NYA yang akan aku yakini dengan sepenuh hati!" tutur Kanaya, lalu menarik tangan Haykal. Kanaya mencium lembut punggung tangan Haykal.


Haykal terdiam membisu, tak ada kata yang mampu terucap. Perkataan Kanaya tajam, tapi menyembuhkan hatinya yang luka. Perkataan Kanaya bak pisau tajam, tapi juga obat penenang. Sungguh Haykal tak mengerti, dia merasakan sakit dan sembuh di waktu yang hampir bersamaan. Lama Haykal termenung, sampai akhirnya Haykal tersadar. Ketika Kanaya turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Sayang, terima kasih!" sahut Haykal lirih, Kanaya mengedipkan kedua mata indahnya.


"Mari saling belajar memahami. Jadikan jarak ini sebagai media penyatu. Bukan alasan rasa tak percaya itu hadir diantara kita!" ujar Kanaya, Haykal mengangguk pelan. Haykal menatap punggung Kanaya yang menjauh dari mobilnya.


Haykal tidak diperbolehkan turun. Sebab Haykal tengah berada di pesantren putri. Artinya hanya ada santri putri dan bukan tempatnya seorang laki-laki berada di area ini. Haykal hanya bisa menatap punggung Kanaya. Tatapan hangat terakhir selama setahun ke depan.


"Kamu membuatku kehilangan akal!" batin Haykal tak percaya. Senyum dan gelengan kepala Haykal. Menandakan betapa besar Kanaya merubah dunia Haykal.


Kanaya berjalan menghampiri Embun yang berada tidak jauh darinya. Abra dan Embun membawa mobil sendiri. Sedangkan Haykal dan Kanaya berada di satu mobil yang sama. Embun merangkul Kanaya, keduanya berjalan menuju gerbang utama menuju pesantren putri. Namun langkah keduanya terhenti, ketika ada suara yang memanggil Kanaya. Embun dan Kanaya menoleh, terlihat seorang wanita paruh baya mendekat. Kanaya langsung membungkuk, Embun tersenyum penuh kehangatan.


"Apa kabar Embun? Lama tidak melihatmu!" sapa Umi Halimah, menyapa Embun mantan muridnya.


"Alhamdulillah sehat, apa kabar Umi sendiri?" sahut Embun, sesaat setelah mencium punggung tangan Umi Halimah. Embun dan Kanaya bergantian menyapa Umi Halimah. Istri pemilik pesantren tempat Kanaya dan Embun pernah menimba ilmu.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja tubuhku sudah sangat tua. Tak lagi mampu melakukan sesuatu yang berat. Sudah saatnya aku memiliki menantu, tapi entah kapan aku bisa menikahkannya?" ujar Umi Halimah lirih, Embun mengangguk pelan. Baik Embun atau Kanaya menundukkan kepalanya. Sikap sopan santun yang biasa ditunjukkan santri pada Umi Halimah.


"Aku harap seperti itu Embun. Aku masih mengingat, ketika dia masih kecil. Dia selalu mengikutimu, entah sekarang apa dia masih ingin mengikutimu?" ujar Umi Halimah, Embun menggeleng seraya tersenyum.


"Umi, semua itu tidak mungkin. Beliau sudah dewasa, pengurus pesantren sekaligus ustad ternama dan pintar. Kelak bukan aku yang akan diikutinya, tapi langkahnya yang akan diikuti oleh makmumnya!" ujar Embun lirih, Umi Halimah mengangguk.


"Seandainya, putrimu bersedia menjadi menantuku. Tentu aku akan bahagia, bisa berbesan denganmu!" ujar Umi Halimah santai, Kanaya langsung mendongak. Dia merasa tak percaya. Detak jantungnya seolah berhenti, perkataan Umi Halimah mampu meruntuhkan keyakinannya pada Haykal.


"Umi, putriku tidak pantas mendampingi beliau. Keluarga kami tidak pantas berbesan dengan Umi Halimah. Namun percayalah Umu, kelak beliau akan menemukan makmum yang paling tepat. Makmum dunia akhirat yang mampu mengikuti langkahnya. Memahami agama yang sepadan dengan beliau!"

__ADS_1


"Lihatlah Embun, sejak tadi kita membicarakannya. Sekarang dia berjalan kemari!" ujar Umi Halimah bahagia.


Deg


Jantung Kanaya berhenti berdetak. Nampak seorang pemuda yang usianya jauh lebih tua darinya. Ustad idola yang membius mata para santri putri. Kanaya melirik tanpa mengangkat kepalanya. Kanaya tidak pernah menatap laki-laki selam di pesantren. Kanaya selalu menjaga pandangannya. Semua demi kesucian hubungannya dengan Haykal.


"Assalammualaikum kak Embun!"


"Waalaikumsalam ustad Abdul Rizal Saputra!" sahut Embun lantang, Rizal tersenyum simpul. Sekilas dia menoleh ke arah Kanaya.


"Mama, Kanaya masuk ke dalam asrama!" pamit Kanaya, lalu mencium punggung tangan Embun dan Umi Halimah.


"Putrimu tidak hanya cantik wajahnya, tapi hatinya juga sangat cantik!" ujar Rizal lirih, Embun hanya tersenyum menyahuti perkataan Embun.


"Sudah saatnya ustad mencari pendamping?" ujar Embun datar.


"Bukankah baru saja Umi melamar seorang wanita untukku. Namun sepertinya kakak menolak dengan tegas lamaran umi!"


"Maksud ustad Rizal!"


"Lupakan saja, kelak ada banyak waktu mengatakannya!" sahut Rizal santai, lalu berjalan menjauh. Rizal meninggalkan kecemasan yang luar biasa di hati Embun.


"Aku harap ini hanya gurauan, bukan sesuatu yang benar-benar ingin dilakukan oleh Umi Halimah dan keluarganya. Jika gurauan ini sebuah keseriusan, jawaban apa yang akan aku katakan? Haruskan penolakan yang terucap dari bibirku. Penolakan yang akan melukai hati guruku!" batin Embun bimbang.

__ADS_1


"Embun, kamu bisa memahaminya sendiri. Perkatan Rizal itu gurauan atau keseriusan!" ujar Umi Halimah lirih.


"Iya Umi!" sahut Embun singkat.


__ADS_2