KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Tenangku hanya Bersamamu


__ADS_3

"Sayang!" Teriak Abra cemas, langkah kakinya terdengar menggema di seluruh rumah.


Tepat pukul 05.00 WIB, Abra terbangun dari tidur lelahnya. Malam panjang yang terlewati begitu indah dengan Embun. Malam yang takkan mudah dilupakan oleh Abra. Penyatuan dua hati dan jiwa dalam satu hasrat dan cinta. Meleburkan ego dan kecewa menjadi satu titik temu bernama cinta. Malam paling indah bagi sepasang suami istri.


Meski bukan malam pertama Abra dan Embun, tapi apa yang terjadi semalam seolah yang pertama? Saat Embun menyerahkan mahkota miliknya dengan penuh ketulusan dan keyakinan. Bukan hanya sebagai tanggungjawab semata, tapi lebih kepada kepercayaan akan cinta Abra. Embun memberikan hak Abra dengan penuh keikhlasan. Ketulusan yang membuat Abra tak ingin menjauh dari Embun. Penyatuan yang seakan tak ingin berhentikan. Suara ******* Embun, terdengar begitu merdu. Membuat Abra berpikir, Embun telah sepenuhnya menjadi miliknya.


"Sayang!" Teriak Abra lantang, rasa cemasnya semakin besar. Ketakutan Abra seakan tak ingin menjauh dari benaknya. Abra kebingungan ketika terbangun dari tidurnya. Dia tidak menemukan Embun, Abra takut semalam menjadi malam terakhir yang paling indah.


"Sayang!" Teriak Abra ketiga kalinya, suara lantang Abra mampu menunjukkan betapa dia ketakutan. Embun yang begitu hangat semalam. Seakan mendingin dan menjauh sekarang.


Abra berlari mencari Embun dalam rumah besarnya. Abra berlari di setiap ruangan di rumah megahnya. Abra benar-benar kacau, dia takut terjadi sesuatu. Embun telah menjadi bagian paling menakutkan dalam hidup Abra. Dia takut kehilangan Embun yang senantiasa menyejukkan jiwa dan hatinya. Abra menghubungi pos jaga, tapi tidak seorangpun yang mengetahui keberadaan Embun. Entah apa yang membuat Abra begitu ketakutan? Kejadian semalam terbayang dalam benaknya. Abra takut hangat yang terjadi, menjadi awal dingin yang panjang.


"Ada apa Abra? Kenapa kamu berteriak memanggil Embun?" Ujar tuan Ardi cemas, tangan tuanya menepuk pelan pundak Abra.


Abra berdiri dengan berpegangan pada sofa ruang tengah. Berkali-kali Abra memukul sofa, melampiaskan amarah dan ketakutannya. Abra benar-benar kacau, ketika tak seorangpun mengetahui keberadaan Embun. Ardi yang mendengar teriakkan Abra, langsung keluar dari kamarnya. Abra bukan pribadi yang mudah melampiaskan kecemasannya. Abra mampu menyembunyikan marah dan kecewanya. Abra tak pernah takut kehilangan, tapi pagi ini Ardi melihat sisi rapuh yang seolah tak lagi takut terlihat. Kecemasan yang membuat Ardi sedih. Sebab cemas yang ditunjukkan Abra, cemas yang akan membuat cucu kebanggannya hancur.


"Abra, ini masih pagi. Tidak perlu berteriak, papa pusing mendengar teriakkanmu!" Ujar Haykal lantang, Abra tak menoleh. Dia tertunduk menatap sofa di depannya.


Buuughhh


Abra meninju sofa dengan sangat keras. Pukulan yang sudah bisa menjawab perkataan Haykal. Dengan pukulan kerasnya Abra seakan ingin mengatakan amarahnya. Abra ingin mengatakan pada Haykal, jika dia tidak baik-baik saja. Ardi yang berada tepat di sampingnya, menyadari Abra benar-benar cemas.


"Abra, amarahmu sangat tidak perlu. Lebih baik kamu mencari Embun. Kakek yakin, Embun tidak pergi kemana-mana?"


"Lalu, dimana dia? Aku sudah mengelilingi rumah ini. Aku bahkan meminta penjaga mencarinya!"


"Tenanglah Abra, emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Kakek akan menghubungi Iman. Barangkali Embun ada disana!" Ujar Ardi, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Kamu berlebihan Abra, dia bukan wanita bodoh yang akan pergi menjauh dari kemewahan. Mungkin dia ada di sudut rumah ini. Menutupi rasa malunya!" Ujar Haykal sinis, Abra menoleh ke arah Haykal.

__ADS_1


Praaaayyyyyrrr


Abra melempar vas kecil yang ada di meja kecil. Abra meluapkan amarahnya, Ardi dan Haykal seketika terdiam. Abra dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Indira yang tengah berada di dapur. Langsung berlari melihat apa yang terjadi. Nampak pecahan vas bunga berserakan. Indira langsung bisa menebak, ada sesuatu yang salah.


"Minumlah Abra, tenangkan dirimu. Apapun yang kamu dengar? Lupakan itu sejenak, amarahmu hanya akan menyakiti dirimu!" Ujar Indira ramah, sembari memberikan segelas air putih pada Abra. Indira mencoba menenangkan Abra dengan perkataannya.


"Katakan pada tante, apa yang membuatmu marah? Jika hinaan papamu penyebabnya. Percayalah Abra, dia tidak akan berhenti sampai hubungan kalian hancur. Namun jika amarahmu karena Embun. Kamu bisa tenang, Embun masih ada bersamamu!"


"Apa maksud tante?" Ujar Abra, Indira tersenyum. Indira menepuk pelan pundak Abra. Tangan Indira bergetar, ada rasa tak percaya. Ketika menyadari jaraknya dengan Abra begitu dekat. Haykal menatap tak percaya, Indira mampu menenangkan amarah Abra. Menyentuh tubuh Abra dengan begitu hangat.


Tubuh yang tak pernah bisa disentuhnya. Tubuh yang selalu ingin dibelainya. Kini dengan begitu hangat, Indira bisa menyentuhnya. Abra menerima sikap hangat Indira. Berpikir sentuhannya tidak akan membuat Abra marah. Dugaan Indira benar, Abra tidak marah saat Indira menyentuhnya. Bahkan Abra terlihat tenang, ketika Indira menepuk pelan pundak Abra.


"Embun sedang mencuci di belakang. Tante sudah melarangnya, tapi Embun memaksa melakukannya sendiri. Sebenarnya Embun ingin memasak, tapi dia batalkan. Takut masakannya tidak sesuai selera kita!"


"Embun, mencuci pakaian!"


"Iya Abra, dia ada di tempat cucian. Teriakkanmu tidak akan di dengarnya. Tempat cucian berada di balkon belakang. Kamu tidak pernah kesana? Jadi tidak akan tahu ada tempat itu!" Ujar Indira menggoda, Abra mengangguk pelan. Lalu dengan hangat, Abra menarik tangan Embun. Mencium punggung tangan Indira.


"Terima kasih!" Ujar Abra, tepat setelah mencium tangan Indira. Abra langsung berlari menemui Embun. Abra pergi menuju tempat yang dikatakan Indira. Tempat cucian yang tidak pernah Abra sadari. Tempat yang bahkan Abra sendiri tidak pernah datangi.


"Sayang!" Teriak Abra, Embun menoleh. Dia melihat Abra tengah berdiri di bawah.


"Aku masih menjemur pakaian. Kakak butuh sesuatu!" Teriak Embun, Abra mengangguk pelan.


"Sebentar, Embun turun!" Sahut Embun, Abra diam menanti Embun.


"Maaf tuan, biar saya yang melanjutkan pekerjaan nona Embun!" Ujar bik Siti, Abra mengangguk pelan.


"Ada apa? Kakak butuh sesuatu!" Ujar Embun cemas, Abra mengangguk pelan. Abra menarik tubuh Embun. Merangkul pinggang ramping istri tercintanya.

__ADS_1


"Aku membutuhkanmu!" Ujar Abra, lalu memegang dagu Embun. ******* mesra bibir yang membuat Abra candu.


Embun terdiam tanpa kata. Sikap hangat Abra membuat tubuhnya beku. Aliran darahnya seakan berhenti berdetak. Abra menyalurkan kehangatan yang terasa panas dalam tubuh Embun. Membangkitkan gairah penuh cinta dalam diri Embun. Beberapa menit, keduanya larut dalam hangat kebersamaan. Tidak peduli akan sekelilingnya. Abra terus mencium bibir Embun, mendekap erat tubuh Embun.


"Jangan pergi tanpa pamit. Aku takut ketika tak melihatmu!" Bisik Abra.


"Maaf!" Ujar Embun, lalu dibalas dengan ciuman mesra. Abra benar-benar candu pada hangat Embun.


"Kak!" Ujar Embun kesal, Abra tersenyum.


"Salahmu sendiri, kamu membuatku candu!"


"Hentikan sekarang, jika tidak!"


Cup


"Kecupan penutup!" Ujar Abra dengan senyum. Embun menggeleng tidak percaya, Abra benar-benar berbeda, dia begitu hangat dan penuh cinta.


"Ayo sayang!" Ajak Abra, Embun menggelengkan kepalanya. Lalu menunjuk ke arah tumpukan pakaian yang belum disetrika.


"Itu tugas bik Siti!" Sahut Abra, Embun langsung menunduk dengan wajah ditekuk. Abra menghela napas panjang.


"Baiklah itu tugasmu, tapi nanti setelah aku pergi bekerja. Tugasmu sekarang menemaniku bersiap. Aku tidak bisa jauh darimu, tenangku hanya saat melihatmu!" Ujar Abra, Embun tetap diam.


"Bik Siti, jangan setrika pakaian itu. Biar nona Embun yang mengerjakannya!" Titah Abra, siti mengangguk tanpa membantah. Embun langsung mendongak, seraya mengutas senyum.


"Begitu mudahnya kamu bahagia, sampai aku takut tidak bisa membahagiakanmu. Sayang, teruslah tersenyum. Jangan pergi jauh dari pandanganku. Tenangku hanya ada bersamamu!" Batin Abra, sembari menatap senyum bahagia penuh ketenangan di wajah Embun.


Cup

__ADS_1


"Kak Abra!" Teriak Embun kesal bercampur malu.


"Hadiah yang pantas aku terima. Setelah memenuhi keinginanmu!" Ujar Abra santai, lalu menarik tangan Embun menuju kamarnya.


__ADS_2