
"Rafan, keponakan tampanku!" teriak Nur lantang, suara menggema di seluruh bagian rumah.
Hampir satu bulan lebih Nur menghilang tanpa jejak. Lebih tepatnya Nur pergi mengunjungi keluarganya. Nur bersedia pulang, setelah Dirgantara menyetujui hubungannya dengan Fahmi. Nur setuju datang menemui ibu kandungnya demi restu yang belum di dapatnya dari Mira Putri Adiyaksa. Ibu kandung yang sekian lama tak pernah menatap wajah dan memeluk tubuhnya.
"Rafan, dimana kamu?" teriak Nur dengan suara tingginya. Nur tidak lagi canggung atau malu berteriak di dalam rumah Embun. Nur tak sabar ingin melihat si tampan Rafan. Dia berteriak sembari berjalan masuk ke dalam rumah Embun.
"Aggghhhmm!"
"Kak Fahmi!" sapa Nur, tepat setelah dia mendengar suara deheman seseorang. Fahmi menatap Nur, ada rasa rindu sekaligus dingin dalam tatapannya. Sebuah tatapan yang langsung membuat Nur tersipu malu.
"Masih pagi, tidak baik berteriak di dalam rumah. Rafan mungkin masih tidur atau sedang berjemur di halaman belakang. Jika kamu ingin menemuinya, pergi ke halaman belakang!" ujar Fahmi dingin, Nur menatap tak percaya. Suara dingin Fahmi membuat Nur terdiam malu.
"Dia tidak merindukanku, buktinya dia dingin padaku. Dasar Fahmi si gunung es, selalu membuat orang mati beku. Kenapa aku bisa menyukai laki-laki seperti ini? Sebulan lebih tidak bertemu denganku. Jangankan bahagia, tersenyum saja tidak. Fahmi si gunung es, menjengkelkan!" batin Nur kesal, sembari menunduk mengalihkan pandangannya dari Fahmi.
"Kenapa malah diam?" ujar Fahmi lagi, Nur menoleh.
"Aku menunggu di sini saja!" ujar Nur, lalu duduk di sofa tengah rumah Abra.
Nur tak lagi menatap Fahmi, dia merasa kesal dengan sikap Fahmi. Sebulan mereka tidak bertemu, bukannya kehangatan atau sapaan ramah. Malah Nur merasakan dingin sikap Fahmi. Dengan perasaan marah, Nur duduk sembari memainkan ponsel pintarnya. Nur melupakan keberadaan Fahmi. Dia berusaha mengacuhkan keberadaan Fahmi.
"Nur!"
"Hmmmm!" sahut Nur santai dan dingin, tanpa menoleh ke arah Fahmi.
"Kenapa tidak menyapaku? Kamu tidak ingin menemuiku!" ujar Fahmi datar, Nur diam menunduk. Entah kenapa Nur tidak ingin melihat Fahmi?
"Aneh, bukannya dia yang dingin padaku. Kenapa malah menuduhku tak ingin bertemu dengannya? Sekali dingin tetap dingin, tidak peka dengan perasaaan orang lain!" batin Nur heran.
"Nur!"
"Ada apa kak Fahmi? Aku sedang memeriksa berkas yang dikirim Nissa!"
"Kamu mengalihkan pembicaraan!" sahut Fahmi, Nur mendongak menatap Fahmi. Dua bola mata indah Nur, mengunci wajah tampan yang telah mencuri hatinya. Fahmi mengutas senyum yang seakan terlambat. Nur tak lagi mengharap senyum di wajah Fahmi. Hatinya terlanjur kesal dengan sikap dingin Fahmi.
"Terserah kak Fahmi, sebentar lagi aku berangkat kerja bersama Nissa!"
__ADS_1
"Kamu serius, sebulan lebih kamu pergi. Bukannya istirahat, kamu malah bekerja!" ujar Fahmi dengan nada tinggi. Nur mengangguk mengiyakan perkataan Fahmi. Nur tidak lagi peduli akan perhatian yang ditunjukkan Fahmi. Semua terasa hambar tanpa cinta bagi Nur. Fahmi menghela napas, ketika Nur bersikap acuh padanya. Fahmi merasa tak berdaya, melihat Nur yang tak peduli akan dirinya.
"Sebulan lebih aku hanya diam, sekarang aku ingin bekerja. Tubuhku terasa kaku bila tidak bekerja!" sahut Nur santai, Fahmi diam tak lagi menyahuti perkataan Nur. Fahmi merasa percuma bicara dengan Nur. Mengingat sikap Nur yang acuh dan kondisi fisik Nur yang baru saja datang dari perjalanan jauh. Fahmi mencoba bersikap dewasa, menyingkapi sikap labil dan manja Nur.
"Terserah padamu, selama kamu merasa mampu bekerja. Maka berkerjalah dan istirahat saat tubuhmu lelah!" sahut Fahmi dingin, lalu berdiri menjauh dari Nur.
"Gunung es akan tetap dingin, meski dia mencoba bersikap hangat. Pada akhirnya dia tetap dingin dan membekukan. Sesaat aku merasa bahagia dengan sikap hangat dan perhatiannya. Namun dengan mudahnya, dia membuatku sedih. Ketika dia pergi dengan wajah dan sikap dinginnya. Namun jujur, dia laki-laki hebat yang mencairkan hatiku dengan dingin sikapnya!" batin Nur, sembari senyum-senyum sendiri. Nur menatap punggung tegap Fahmi yang terus menjauh. Nur takluk oleh pesona Fahmi si gunung es.
Buuugghhh
"Kenapa cemberut? Kamu tidak bahagia bertemu denganku!" sapa Embun, dengan nada kesal. Berpura-pura marah dengan sikap Nur. Sebaliknya Nur langsung menoleh, ketika merasakan ada yang menepuk pelan pundaknya.
"Embun sayang, aku merindukanmu!" teriak Nur histeris, lalu memeluk Embun dengan sangat erat.
Embun menerima pelukan hangat sahabat yang selalu ada dalam suka dan dukanya. Embun merasa kesepian tanpa Nur di sampingnya. Sahabat yang sudah selayaknya saudara kandung. Tak ada persahabatan seerat persahabatan Embun dan Nur. Keduanya bak pinang di belah dua. Kembar baik dari segi wajah dan watak. Sebab itu mereka bisa merasakan kesulitan dan kesepian satu sama lain.
"Kenapa mengacuhkan kak Fahmi? Bukankah kamu merindukannya. Sekarang saat bertemu, kamu malah mengacuhnya!" ujar Embun menggoda Nur, sontak Nur langsung menoleh. Nur menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak setuju dengan perkataan Embun.
"Aku tidak merindukannya!"
"Jangan berbohong, kamu menghubungiku setiap hari hanya demi mengetahui kabar tentangnya!" sahut Embun lantang, Nur langsung menutup mulut Embun dengan tangannya. Berharap Embun tidak bicara lagi dan mengatakan yang tidak-tidak.
"Lepaskan, aku tidak bisa bernapas!" ujar Embun kesal, Nur tersenyum malu. Tanpa sengaja dia membuat Embun susah bernapas.
"Maaf!" ujar Nur lirih, sembari menangkupkan kedua tangannya. Embun mengangguk pelan, mengiyakan permintaan maaf Nur.
"Kalian berdua aneh, saat tak bertemu kalian saling merindukan. Namun ketika bertemu, kalian malah saling mengacuhkan. Akan seperti apa pernikahan kalian nantinya? Laki-lakinya dingin, tidak pernah peka akan kesepian dan kerinduan kekasihnya. Sedangkan wanitanya merindukan, tapi mengacuhkan demi sebuah harga diri!" ujar Embun tak percaya, gelengan kepala Embun mengisyaratkan ada yang salah dengan hubungan Nur dan Fahmi.
"Bukan aku yang salah, si gunung es yang salah!"
"Gunung es, siapa?" tanya Embun penasaran, Nur terkekeh.
"Kak Fahmi tampan!" sahut Nur dengan tawa riangnya. Nur memeluk erat Embun, menunjukkan rasa sayangnya. Sekaligus Nur ingin menunjukkan kebahagiannya pada Embun sahabatnya.
"Doaku untuk kebahagianmu!" sahut Embun, Nur mengangguk pelan.
__ADS_1
"Terima kasih sahabatku!" ujar Nur penuh haru. Sebuah doa yang menjadi hadiah paling berharga bagi Nur. Doa sahabat yang ingin melihat kebahagiannya. Harapan terbesar saudara yang ingin selalu melihat tawa bahagianya. Nur begitu bahagia, ketika mendengar doa tulus Embun untuknya.
"Embun, maaf aku pergi terlalu lama. Aku meninggalkanmu saat masa tersulitmu!" ujar Nur, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku baik-baik saja!"
"Hubunganmu dengan kak Abra!" ujar Nur spontan, Embun menunduk lemah. Nur menyandarkan kepalanya di pundak Embun. Nur seolah ingin menjadi ketenangan dalam gelisah Embun.
"Hubungan kami baik-baik saja. Kak Abra menjual beberapa aset berharganya. Demi mengganti kerugian yang disebabkan oleh tuan Haykal. Sedangkan aku memutuskan berhenti bekerja. Aku ingin fokus mengurus Rafan!"
"Kamu kecewa dengan sikap kak Abra?" ujar Nur, Embun diam membisu. Tak ada jawaban yang keluar dari bibir mungil Embun. Mulutnya terkunci rapat, seolah tak perlu ada jawaban dari pertanyaan Nur.
"Nur, sebentar lagi Nissa datang. Kontrak kerja yang aku katakan kemarin sudah siap. Sepenuhnya aku percayakan perusahaan Adijaya padamu. Nissa sudah setuju bekerjasama denganmu!"
"Kamu mengalihkan pembicaraan!" sahut Nur, Embun menoleh menatap lekat Nur sahabatnya.
"Aku tidak akan pernah kecewa dengan keputusan kak Abra. Dia imam dunia akhiratku, langkahku akan selalu ada di sampingnya. Bukan di depan atau di belakangnya. Kelak saat kamu menyadari besar cintamu pada kak Fahmi. Saat itu kamu akan memahami, pengobananku yang kamu anggap besar. Sesungguhnya sangat kecil, dibandingkan rasa takut kehilangan. Abah Iman sudah mengetahui alasanku dan dia sudah setuju dengan keputusanku!"
"Embun!"
"Ada apa?" sahut Embun, seraya menoleh ke arah Embun.
"Apa kamu benar-benar ingin memejarakan tuan Haykal?" ujar Nur, Embun menggeleng lemah.
"Lalu, kenapa kamu mengatakan semua itu pada kak Abra?"
"Aku hanya ingin menunjukkan pada tuan Haykal. Jika putranya tidak akan pernah menjauh darinya. Selamanya kak Abra akan ada menjadi sandarannya. Mengubah pendapatnya tentangku, jika aku tidak pernah ingin merebut atau menguasai putra kebanggaannya. Aku mencoba menyatukan ayah dengan putranya yang terpisah karena diriku. Kasih sayang diantara mereka tidak pernah hilang, melainkan tertutup oleh amarah dan harga diri yang tinggi!"
"Lalu, kerugian perusahaan Adijaya!"
"Sebelum aku mengatakan pada tuan Haykal tentang rencanaku melaporkan dirinya. Aku sudah mengatakan pada abah dan papa Arya. Mereka memintaku tegas pada tuan Haykal, tapi tidak dengan membuatnya di penjara. Aku berhak mengambil alih perusahaan tuan Haykal. Nyatanya aku berhasil menyatukan mereka berdua. Menunjukkan pada tuan Haykal, putranya mampu mengorbankan segalanya demi kehormatan dan harga dirinya. Lantas, kenapa dia begitu keras? Hanya demi kebahagian dan ketenangan putranya!"
"Mereka saling merangkul, tapi kamu yang tersisih. Bahkan kamu dianggap angkuh dan sombong!" sahut Nur kesal.
"Kita hidup harus menatap lurus ke depan. Terus berjalan walau dengan langkah tertatih dan berdarah. Bukan berhenti dan menangis, ketika telinga mendengar hinaan dan mata melihat kekejaman orang lain pada kita. Selamanya bahagia itu kita yang menggapainya. Ketenangan hanya kita sendiri yang mendapatkannya. Selamanya orang lain akan menilai kita buruk. Sebab mereka ingin melihat tangis kita, bukan tawa bahagia kita. Bersabar dan ikhlas, agar kita bisa terus berdiri tegak menatap langit. Jangan pernah menunduk, jika nyatanya kita terhina dan tersakiti!"
__ADS_1
"Aku akan selalu mendukungmu!" ujar Nur lirih, sembari memeluk erat Embun.
"Nur, cahaya yang akan ada di kala gelapku menyapa. Sahabat yang selalu menyapaku dengan senyum. Saudara yang selalu membuatku kuat dan terus berdiri tegak. Wanita terhormat yang penuh kesederhanaan. Nur, sahabatku sekaligus saudaraku. Semoga hidupmu seterang arti namamu. An Nuur, cahaya terang!" batin Embun.