
Embun mendongak, langit mulai menangis. Rintikan kecil kian lama semakin deras. Embun berjalan di bawah guyuran hujan, tanpa tahu kemana kakinya melangkah? Melangkah pulang ke rumah Abimata, langkah Embun terlalu berat. Pulang kembali ke desa, Embun tak mampu melihat kecemasan Abah Iman. Embun terus melangkah, mencari tenang dalam hatinya. Setidaknya hanya malam ini, Embun pergi menjauh. Sampai semua kembali tenang dan kembali seperti semula.
"Kenapa aku mencintai? Jika nyatanya aku harus tersakiti. Sayatan pisau terasa perih, tapi akan hilang saat darahnya kering. Lalu, kapan hatiku sembuh? Apa saat hatiku tak lagi menyimpan cinta untuknya? Sejujurnya, aku tidak sanggup menahan sakit ini. Dadaku terasa sesak, sakit sangat sakit!" Batin Embun, seraya memegang dadanya pelan. Air matanya jatuh bersama hujan yang turun semakin deras.
Tepat pukul 22.00 WIB, Embun kembali ke rumah megah keluarga Abimata. Selama hampir satu jam Embun berjalan di bawah guyuran hujan. Tak sedikitpun Embun merasakan dingin, meski tubuhnya basah kuyub oleh air hujan. Namun Embun seakan merasakan tenang, ketika air hujan menyentuh tubuh mungilnya. Embun kembali ke rumah, setelah hampir setengah jam berdiam diri di depan sebuah masjid. Rumah paling nyaman yang takkan melarang hamba-NYA berteduh. Mencari ketenangan dalam kegelisahan hati tanpa arah. Rumah yang mengingatkan Embun akan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Embun kembali ke rumah Abra, bukan demi kemewahan atau tidak tahu diri. Namun Embun kembali demi status yang melekat dalam dirinya.
Embun masuk ke dalam rumah megah Abimata. Sempat penjaga gerbang heran, melihat tubuh Embun yang basah kuyub. Namun dengan pengertian dari Embun, sang penjaga gerbang akhirnya diam. Embun terus berjalan semakin ke dalam. Embun masuk bukan melalui pintu utama. Embun berniat masuk melalui pintu samping yang langsung masuk ke dalam dapur. Embun tidak ingin ada seorangpun yang melihat kondisi paling buruknya. Meski Embun mengetahui, jika Abra belum pulang ke rumah.
"Nona Embun!"
"Bik Siti, bolehkah malam ini aku tidur bersamamu!" Ujar Embun lirih, suaranya bergetar hebat. Tubuhnya mulai merasakan dingin yang teramat. Siti merasa khawatir melihat kondisi Embun. Tanpa berpikir lagi, Siti mengizinkan Embun tidur di kamarnya.
Siti membawa Embun masuk ke dalam kamarnya yang tak cukup luas. Tempat tidur tanpa ranjang, menjadi tempat Siti menghilangkan lelahnya. Keluarga Abimata sudah menyiapkan tempat tidur, tapi bik Siti lebih memilih tidur di bawah dan hanya beralaskan tempat tidur dari busa.
"Nona, saya akan ambilkan baju di kamar nona!" Ujar Bik Siti, Embun menggelengkan kepalanya.
"tapi, tubuh nona basah!"
"Bisa pinjamkan aku baju bik Siti!" Ujar Embun, Bik Siti langsung mengangguk.
Siti memberikan baju rumahan yang sedikit lebih baru. Siti merasakan ada yang salah, tapi dia tetap pura-pura tidak mengerti. Apalagi Abra belum pulang, semakin menguatkan dugaan Siti. Namun sebagai ART, Siti berharap Abra dan Embun baik-baik saja.
Embun menerima gamis bermotif batik dari Siti. Setelah melakukan sholat sunnah dua rakaat, Embun merebahkan diri di tempat tidur Siti. Embun memohon pada Siti, untuk berbagi tempat tidur dengannya. Embun tidak ingin tidur sendirian. Embun membutuhkan kehangatan seorang ibu yang lama hilang darinya.
"Ibu!" Gumam Embun dalam tidurnya.
Siti kaget mendengar suara rintihan Embun. Sebuah kerinduan yang tersimpan dalam hati Embun. Siti menatap lekat wajah cantik Embun. Menyeluti tubuh mungil Embun yang kedinginan. Merangkul erat nona muda keluarga Abimata. Siti mencurahkan kasih sayangnya pada Embun. Sebaliknya Embun merasakan kehangatan seorang ibu.
__ADS_1
"Ibu!" Gumam Embun lagi, sembari memegang erat tangan Siti.
Embun meringkuk di bawah selimut lusuh Siti. Rasa rindu pada sang ibu, terbawa dalam tidurnya. Kerinduan yang seolah hadir, ketika kita membutuhkan kasih sayang dan dukungan orang yang paling dekat. Sejenak Siti terenyuh, mendengar rintihan Embun. Siti merasakan hal yang sama dengan Embun. Perbedaannya, Siti selalu merindukan putrinya yang jauh di luar kota. Siti berpisah demi mengais rejeki di rumah keluarga Abimata.
"Semoga malam ini terakhir kalinya aku melihat air matamu!" Batin Siti, sembari menyeka air mata Embun.
Tepat pukul 00.00, Abra dan Haykal pulang ke rumah Abimata. Keduanya pulang setelah mendiskusi masalah yang diciptakan Arya. Abra tidak menyadari, jika Embun menyusul dirinya. Hanya Indira yang mengetahui kepergian Embun. Sebab hanya pada Indira Embun berpamitan. Namun saat Abra datang, Indira sudah tertidur jadi tidak mengetahui. Jika Embun tidak pulang bersamanya.
"Bik, nona Embun sudah tidur!" Ujar Abra, saat melihat Siti membukakkan pintu. Siti mengangguk pelan, sebab memang Embun sudah tidur. Namun bukan di kamar Abra, melainkan di kamarnya.
Abra merasa lega mendengar jawaban Siti. Dengan perlahan, Abra berjalan naik menuju kamarnya. Namun Abra menghentikan langkahnya. Dia merasa malu bertemu Embun, ketika dari tubuhnya terciup bau alkohol. Akhirnya Abra memutuskan tidur di ruang kerja. Besok pagi, saat tubuhnya merasa fresh. Abra akan menemui Embun di kamarnya.
...☆☆☆☆☆...
"Abra, Embun tidak turun makan!" Ujar Indira ramah, Abra langsung menoleh. Seakan dia terkejut dengan perkataan Indira.
"Bukankah semalam dia pergi menyusulmu. Memangnya kalian tidak pulang bersama!" Ujar Indira, Abra langsung berdiri. Dia terkejut mendengar fakta kepergian Embun.
Braaakkkk
Suara kursi terjatuh ke lantai. Tepat setelah Abra berdiri, karena Abra merasa ada sesuatu terjadi pada Embun. Abra merasa bersalah, ketika dia menghindari Embun. Namun kini kenyataannya, Embunlah yang pergi darinya.
"Tante, semalam aku tidak bertemu Embun. Aku pulang bersama papa, lalu aku tidur di ruang kerja!"
"Tidak mungkin, kemana dia pergi? Jelas-jelas dia berpamitan padaku. Sebenarnya aku ingin menunggunya, tapi tubuhku terlalu tua bergadang sampai malam!" Ujar Indira, Abra menunduk lesu.
"Lalu, dimana dia sekarang? Apa yang terjadi padanya?" Ujar Abra bingung, Indira akhirnya cemas memikirkan Embun.
__ADS_1
"Kemana Dia?" Gumam Indira, Abra mengusap wajahnya kasar. Dia takut terjadi sesuatu pada Embun.
"Sebentar lagi juga pulang. Dia tidak akan meninggalkan hadiah hidup mewah dengan begitu mudahnya!" Ujar Haykal, Abra dan Indira menoleh dengan tatapan tajam Keduanya merasa tidak suka dengan cara pandang Haykal.
"Tuan Abra!"
"Ada apa bik Siti?"
"Nona Embun ada di kamar bibik. Semalam nona datang dengan tubuh basah kuyub. Sejak semalam tubuhnya menggigil dan puncaknya tadi pagi tubuhnya demam!"
"Kenapa bibik diam saja?"
"Maaf tuan Abra, nona Embun melarang. Dia butuh istirahat. Tidur di kamar saya, sebab nona Embun merindukan ibunya!"
Tap Tap Tap
"Sayang!" Panggil Abra, Embun diam dengan tubuh yang menggigil hebat. Selimut lusuh menutupi seluruh tubuhnya. Abra yang mengetahui keberadaan Embun langsung pergi ke kamar Siti. Abra melihat tubuh istrinya menggigil.
"Sayang!" Sapa Abra lebih mesra, tapi percuma. Tak ada sahutan dari Embun, bibir Embun terkunci rapat. Raut wajahnya pucat, Abra terlihat begitu cemas. Indira yang mengetahui keberadaan Embun. Langsung berlari menghampiri Abra.
"Kenapa bibik tidak membangunkan saya? Setidaknya bibik mengatakan, jika Embun ada di kamar bibik!" Ujar Indira kecewa, Siti menunduk.
"Semalaman nona Embun menangis. Bibik tidak tega, jika menolak permintaannya. Apalagi tadi setelah sholat subuh, nona Embun meminta saya mengambilkan obat. Namun dengan syarat saya harus tutup mulut. Saya tidak ingin menambah bebannya, nona Embun menangis dalam tidurnya. Memanggil ibu, hanya ibu yang keluar dari bibirny!"
"Abra, bawa Embun ke kamar kalian. Tante akan menghubungi dokter. Jika perlu kita akan membawa Embun ke rumah sakit!" Ujar Indira, Abra mengangguk lalu menggendong tubuh Embun.
"Sayang, buka mata indahmu. Katakan, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu memilih orang lain? Daripada mencari tenang dalam diriku. Apa kamu marah? Sampai kamu menolak masuk ke dalam kamar kita. Sayang bangunlah, aku mohon bangunlah!" Batin Abra pilu.
__ADS_1