
"Kak Abra, aku pinjam motor sportnya. Besok pagi, salah satu santriku akan mengembalikannya. Sekalian mereka akan mengambil mobilku di bengkel!" ujar Rizal, Abra mengangguk tanpa ragu. Sebaliknya Embun terlihat keberatan. Bukan karena Rizal meminjam motor sport Abra. Melainkan kepulangan Rizal yang seolah mendadak dan terkesan tergesa-gesa.
"Kamu pulang malam ini!" ujar Embun dingin, Rizal mengangguk seraya tersenyum. Berharap nada dingin Embun berubah hangat dan mengizinkan dirinya pulang ke pesantren.
Pembicaraan semalam menjadi awal perjuangan kisah Rizal. Meski Rizal tak pernah ingin mengkhitbah Aira dan memilih menyimpan rasa yang ada. Namun tanpa sepengetahuan Rizal, Embun telah menyusun rencana yang sempurna. Embun tidak akan mengkhitbah Aira, untuk Rizal atau siapapun? Embun hanya ingin membuka jalan pertemuan antara Rizal dan Aira. Embun ingin menunjukkan pada Rizal. Jika masih ada kesempatan untuknya berjuang.
Pertemuan yang direncanakan Embun malam ini. Embun sengaja mengundang Arya dan keluarga besarnya makan malam. Embun meminta pada Arya, agar mengajak Fitri dan Aira. Bahkan Embun khusus mengirim supir, untuk menjemput Iman dan Afifah. Embun mengundang semua orang. Agar Rizal tidak curiga atau merasa canggung saat bertemu dengan Aira. Embun mengundang semua orang dengan alasan tasyakuran kelahiran putra pertama Rafan dan Hanna. Khusus malam ini, Rafan dan Hanna akan datang menginap.
Rencana makan malam yang Embun persiapkan. Terancam gagal, seandainya Rizal pulang sekarang. Embun merasa percuma, jika Aira tidak bisa bertemu dengan Rizal. Guru yang menyimpan rasa padanya. Abra sebenarnya sudah mengetahui rencana Embun. Namun Abra pura-pura tidak tahu. Abra ingin rencana Embun berjalan natural dan sempurna. Semua demi penyatuan yang mungkin terjadi antara Rizal dan Aira. Kebahagian terbesar Embun, ketika melihat Aira bersanding dengan orang yang tepat. Namun di balik semua harapannya. Embun tidak akan memaksa Aira. Sebab Aira berhak menentukan jalan hidupnya. Seperti yang diinginkan Rizal, jika Aira berhak bahagia dengan laki-laki yang mungkin bukan dirinya.
Makan malam akan dimulai pukul 19.30 WIB. Rafan dan Hanna sudah datang sejak sore. Mereka bintang pesta malam ini. Meski sesungguhnya ada bintang lain yang jauh lebih bersinar. Abdul Rizal Saputra, putra tunggal dan ustad ternama yang begitu dihormati oleh Embun. Iman dan Afifah dalam perjalanan. Sedangkan Arya sudah berangkats sejak satu jam yang lalu. Namun Arya berhenti di sebuah tempat, sekadar mencari hadiah untuk cicit pertamanya.
"Aku harus pulang kak, besok pagi aku ada acara di pesantren. Mungkin dua atau tiga hari lagi, aku akan datang bersama Umi dan Kanaya. Beliau ingin bertemu denganmu dan cucu pertamamu!"
"Kenapa mendadak?" sahut Embun dengan dinginnya. Abra hanya diam dengan tatapan datarnya. Abra sepenuhnya yakin, jika Embun bisa membuat Rizal tinggal. Tanpa sedikitpun bantuan darinya. Sebab Embun memiliki seribu cara, agar acara makan malamnya berjalan dengan baik.
"Kakak pura-pura lupa atau memang lupa. Bukankah aku sudah mengatakannya semalam. Jika aku akan pulang hari ini, lebih tepatnya aku pulang tadi siang. Berhubung mobilku rusak dan rapatku belum selesai. Terpaksa aku tinggal sampai malam. Sekarang sudah pukul 18.30 WIB. Jika aku pulang sepuluh menit lagi. Aku pasti kemalaman di jalan!"
"Kalau begitu pulang besok pagi!" sahut Embun dingin dan memaksa. Rizal menoleh ke arah Abra. Isyarat mata yang meminta bantuan Abra. Agar membujuk Embun dan mengizinkan dia pulang malam ini. Namun usaha Rizal sia-sia. Tatkala dia melihat, Abra mengangkat kedua bahunya. Isyarat Abra tidak mengenal dirinya.
"Kak, izinkan aku pulang malam ini!" bujuk Rizal menghiba, Embun diam tak menggubris perkataan Rizal.
Malah dengan santainya, Embun berjalan menjauh menuju dapur. Meninggalkan Rizal dan Abra yang terdiam. Rizal berjalan menghampiri Abra, tapi sikap Abra sama seperti Embun. Abra meninggalkan Rizal, terlihat Abra berjalan menuju ruang tengah. Dengan santainya, Abra duduk sembari membuka ponsel pintarnya.
__ADS_1
"Gus Rizal, tinggallah sebentar lagi. Setidaknya sampai acara tasyakuran putraku selesai. Aku ingin Gus Rizal yang mempimpin doa!" ujar Rafan, sembari berjalan menghampiri Rizal. Rafan keluar dari kamarnya, tepat ketika terjadi perdebatan diantara Embun dan Rizal.
"Jangan panggil aku Gus, panggilan itu hanya untuk santriku!" ujar Rizal sinis, seolah marah dengan panggilan Rafan. Namun sebenarnya, Rizal merasa risih dianggap istimewa. Jika dia berada diantara keluarga Embun. Rizal lebih suka dipanggil layaknya orang biasa.
"Baiklah om Rizal, tinggallah demi cucu tampanmu!" goda Embun lantang. Nampak Embun berjalan membawa hidangan untuk makan malam.
Rizal menghela napas, jelas Rizal tak berkutik. Dia harus pulang, tapi menolak permintaan Embun dan Rafan. Bukan hal yang benar dan terkesan tidak menghormati. Akhirnya Rizal mengangguk dengan sedikit rasa berat. Rizal memutuskan pulang setelah acara makan malam selesai. Setidaknya Rizal tetap menghargai permintaan Embun dan tidak mengecewakan kakak angkatnya.
"Itu baru adikku!" sahut Embun bahagia, Abra menoleh dengan sebuah senyum kemenangan. Abra sudah menduga, Rizal akan tinggal demi permintaan Embun.
"Tunggu, kamu mau kemana?" ujar Embun, ketika melihat Rizal berjalan menuju pintu.
Rizal menoleh ke arah Embun. Lalu dengan santainya, Rizal mengangkat kunci motor yang ada di tangannya. Embun mengeryitkan keningnya tak mengerti. Rizal menghela napas, dia melihat kasih sayang Embun yang seakan ingin mengurungnya. Namun Rizal tak merasa keberatan, sebaliknya Rizal terlihat bahagia dengan hangat sikap Embun padanya.
"Tidak perlu, kamu duduklah di dekat kak Abra. Rafan yang akan memasukkan motornya ke dalam garasi. Bisa saja kamu kabur, lalu pulang tanpa ikut acara makan malam ini!" sahut Embun, Rizal menatap tak percaya ke arah Embun. Rizal tak menyangka hanya demi makan malam. Embun mengurungnya, nampak Rizal menggelengkan kepalanya lemah.
"Rafan!" panggil Rizal, Rafan mengangguk pelan sembari menerima kunci motor yang dilempar Rizal.
"Sekarang kakak puas!" ujar Rizal lantang.
"Sangat puas!" sahut Embun lantang.
Rizal hendak berjalan menuju sofa, tapi langkah kakinya terhenti. Tatkala jantungnya berdetak begitu hebat. Rizal memegang dadanya pelan, dia merasa ada yang salah dengan debaran jantungnya. Seakan jantung Rizal akan berhenti berdetak dan napasnya berhenti berhembus. Rizal terdiam mematung, tubuhnya kaku tak mampu bergerak.
__ADS_1
Tap Tap Tap
"Siapa?" batin Rizal bingung, Rizal menoleh ke arah pintu masuk.
Pintu yang berada tepat di depannya. Rizal mampu mendengar, bahkan melihat siapa yang datang dari tempatnya berdiri. Seperti saat ini, Rizal bisa mendengar suara langkah kaki. Suara yang membuat jantungnya, seolah berhenti berdetak. Rizal terus menunggu, sampai sang pemilik langkah terlihat.
Deg Deg Deg
"Khumaira Nabila Ikhsani, bidadari dalam hatiku!" batin Rizal, sesaat setelah melihat Aira masuk ke dalam rumah Abra.
Rizal menekan jantungnya yang terus berdegub hebat. Berharap suaranya terhenti dan tenang kembali. Agar tak ada yang menyadari rasanya pada Aira. Gadis bercadar yang mengusik tenang dan sujudnya, selama delapan tahun terakhir.
"Dia adikku kandungku, kamu adik angkatku. Malam ini, aku akan menjadi kakak bagi kalian berdua. Aku akan menangatakan rasamu padanya. Namun di sisi lain, aku akan mendengarkan isi hatinya. Jika dia menolak rasamu, setidaknya rasamu menemukan akhirnya. Jika dia menerima rasamu, artinya dia siap menerima tanganmu. Tidak ada paksaan, semua akan berjalan dengan penuh keikhlasan!" ujar Embun, Rizal langsung menoleh.
"Kak!" sahut Rizal tak percaya, Embun mengedipkan kedua mata indahnya.
"Semua akan baik-baik saja!" sahut Embun, lalu meninggalkan Rizal yang terpaku.
"Assalammualaikum Guz Rizal!" sapa Aira lirih, seraya menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.
"Waalaikumsalam!" sahut Rizal terbata-bata. Pesona Aira membuat Rizal tak berkutik.
"Pesonamu membuat duniaku berhenti berputar!" batin Rizal kalut.
__ADS_1