KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kebenaran


__ADS_3

"Tuan Haykal, ada tuan Hanif. Beliau ingin bertemu!"


"Dimana beliau? Kenapa tidak kamu persilahkan masuk?" ujar Haykal, Fandy menoleh ke arah belakang. Haykal mengangguk mengerti, dia langsung berdiri Hanif.


Haykal berjalan menuju ruang tamu rumahnya. Haykal tidak mengerti arti kedatangan Hanif. Namun sesuatu yang membuatnya terkejut, bukan kedatangan Hanif ke rumahnya. Melainkan Hanif yang mengetahui alamat rumah barunya. Rumah yang sengaja dibangun, untuk hidup bahagianya bersama Kanaya. Rumah yang dibangun Haykal, tepat setelah pernikahan secara agamanya dengan Kanaya. Rumah yang dia persiapkan, untuk Kanaya wanita sempurna pilihan hatinya. Namun semua harapan dan asa bahagia berakhir. Tatkala Haykal harus pergi dan mengubur impian bahagianya bersama Kanaya.


Hanif yang sengaja datang ke rumah Haykal. Bukan tanpa alasan, dia datang untuk mencari kebenaran akan sebuah surat yang baru saja ditemukan oleh Hanif. Sebuah kertas yang penuh dengan air mata. Surat yang kertasnya terlihat lusuh dan tulisannya sedikit kabur. Tanggal yang tertera, menunjukkan surat tersebut ditulis lima tahun yang lalu. Surat yang menyimpan kebenaran dan rasa bersalah seorang kakek.


"Tuan Hanif, silahkan duduk!" ujar Haykal ramah, tatkala melihat Hanif berdiri mematung.


Hanif berdiri menatap sebuah foto keluarga yang begitu besar. Sebuah foto yang menyimpan kehangatan dari keluarga besar Haykal. Foto pernikahan Haykal dengan Kanaya yang diabadikan dalam sebuah kertas. Nampak Embun dan Abra berdiri berdampingan. Arya dan Iman duduk di tengah-tengah, diapit oleh Fitri dan Afifah. Sedangkan Kanaya dan Haykal berdiri tepat di belakang Arya dan Iman. Nampak Hanna dan Rafan di sisi yang lain. Semua terlihat gembira, dalam satu bingkai foto indah. Foto berukuran besar yang langsung menyapa para tamu. Tepat di bawahnya, ada beberapa foto dari keluarga besar Kanaya. Senyum hangat yang terlihat jelas dalam foto berbingkai indah.


"Cantik!" ujar Hanif lirih, sembari memegang sebuah bingkai foto berukuran kecil. Hanif menatap wajah yang tengah tersenyum di dalam foto. Haykal menunduk, mengerti arah perkataan Hanif. Seutas senyum terlihat di wajah Hanif, ada rasa sakit yang teramat. Ketika menyadari, tidak ada dirinya ikut dalam kenangan manis lima tahun yang lalu.


"Dia tidak hanya cantik, tapi senyumnya alasan ketenanganku!" sahut Haykal, Hanif mengangguk mengiyakan. Perlahan Hanif meletakkan kembali bingkai foto di atas meja. Hanif memutar tubuhnya, dia menatap nanar Haykal. Terlihat beberapa foto yang terpajang di dinding rumah besar Haykal. Bukan satu atau dua, hampir setiap dinding menempel foto Kanaya dengan senyum manisnya.


"Lantas, kenapa kamu hancurkan ketenanganmu?" ujar Hanif, Haykal terdiam membisu. Hanif menyadari arti diam Haykal.


Hanif duduk di sofa panjang nan besar di ruang tamu Haykal. Rumah megah nan mewah Haykal. Hadiah pernikahan yang dipersiapkan untuk Kanaya. Bahkan sertifikat rumah bukan atas nama Haykal, melainkan atas nama Kanaya. Rumah yang hanya akan menjadi milik Kanaya dan hanya Kanaya yang akan menjadi ratu dalam rumah megah ini.


"Kanapa kamu diam Haykal? Malam ini, aku datang bukan sebagai rekan bisnismu. Aku datang sebagai seorang paman. Adik dari ibu kandung Kanaya, paman yang seharusnya menjaga keponakannya sejak dulu. Namun kenyataannya, aku memiliki kesempatan menjaga Kanaya. Saat semua telah hancur dan terluka!"


"Maafkan Haykal, maaf!" ujar Haykal lirih, Hanif menggeleng lemah. Hanif memberikan sebuah surat yang tanpa sengaja dia temukan. Surat yang terselip diantara kenangan akan sosok ayah yang tak pernah dianggapnya. Surat yang membuatnya mengerti alasan kepergian Haykal. Menghancurkan hati Kanaya yang saat itu mencintainya.

__ADS_1


"Sebesar itukah cintamu pada Kanaya. Sampai kamu sanggup menghancurkan dirimu demi kesucian Kanaya!"


"Maksud tuan Hanif!"


"Panggil aku Hanif, usiaku tidak jauh beda denganmu. Hanya saja statusku lebih tinggi. Namun saat ini, aku paman dari Kanaya tapi teman bagimu!" ujar Hanif lirih, Haykal mendongak menatap Hanif. Haykal melirik ke arah surat lusuh yang diberikan Hanif padanya. Haykal membuka amplop yang menyimpan rasa bersalah dan kata maaf dari Iman. Ayah yang begitu disayangi Embun, pergi selamanya membawa rasa bersalah yang begitu besar. Haykal membaca kata demi kata yang tertulis. Setiap kata yang mengguratkan rasa bersalah dari seorang kakek. Tulisan tangan yang indah, menyimpan cinta yang begitu besar untuk cucu perempuannya.


"Haykal, aku mengetahui alasan kepergianmu lima tahun yang lalu. Kepergian yang didasari cinta suci dan pengorbanan akan hubungan dengan Kanaya. Namun, apapun alasan kepergianmu? Kenapa kamu memilih pergi tanpa mengatakan segalanya pada mereka?" ujar Hanif, sesaat setelah melihat Haykal menutup surat darinya. Haykal menghela napas, sebuah beban seolah terangkat dari pundaknya. Mungkin sebaliknya, sebuah rahasia yanh akan membuatnya gelisah.


"Kenapa surat ini ada padamu? Lagipula, tidak semuanya benar. Meski kakek Iman memang melakukan semua ini. Namun beliau tidak sepenuhnya salah!"


"Jika memang bukan papa yang salah, sekarang katakan kebenarannya padaku!" ujar Hanif lirih, ketenangan Hanif membuat Haykal membisu. Tak ada alasan Haykal menyimpan rahasia ini, tapi mengatakannya hanya akan menguak luka lama.


"Sesuatu yang sudah terkubur, lebih baik tetap terkubur. Tidak pantas kita menggalinya, jika nyatanya hanya akan meninggalkan bau tidak sedap!" ujar Haykal, Hanif tersenyum simpul.


"Apa yang ingin kamu ketahui?"


"Alasan kamu menuruti permintaan bodoh papa. Sebuah permintaan yang membuat hidup Kanaya berakhir. Permintaan bodoh yang akhirnya membuat papa sakit dan pergi dengan rasa bersalahnya. Aku ingin mendengar alasan bodohmu, suami yang melepas istrinya demi permintaan kakeknya. Orang yang mendukung pernikahan ini, tapi dia juga yang menghancurkannya!" ujar Hanif lantang dan tegas, Haykal membisu.


"Tepat di malam satu muharram, aku dan kakek bertemu di masjid kota. Kami ingin menghabiskan malam tahun baru islam dengan beribadah bersama. Sejak aku menikah dengan Kanaya. Aku merasakan hidup yang begitu sempurna. Aku memiliki papa yang selalu mengajarkanku bisnis, mama yang menuntunkun dengan bijak katanya, kakak yang merangkul selayaknya saudara kandung, kakak ipar yang mendukungku dengan diamnya dan dua kakek yang selalu mengajarkanku pada kebaikan dan cara menjadi seorang suami yang baik. Terutama kakek Iman yang selalu meluangkan waktunya untukku dan menganggapku selayaknya putra kandung!"


"Aku tahu itu, sebab putra kandung papa tak pernah mengakuinya. Kebodohan yang kini membuatku menyesal seumur hidup!" sahut Hanif, Haykal menunduk. Nampak kecemasan yang tersirat dari Haykal. Terlihat dari kedua tangan Haykal yang terus saling menggenggam.


"Maaf, bukan maksudku menyinggungmu. Hubunganku dengan kakek Iman, memang sangat dekat. Hubungan yang akhirnya membuatku merasa nyaman dan tenang. Mungkin kebodohan besar, ketika aku pergi meninggalkan Kanaya. Melepas status istri yang melekat padanya. Namun tak sedetikpun aku melepas cintaku pada Kanaya. Hanya satu nama yang ada dalam hembusan doa dan sujudku. Kanaya alasan kuatku bertahan dan kembali setelah lima tahun hidup dalam kegamangan. Kanaya satu-satunya alasan kebahagianku, tapi melihat sikap dinginnya. Aku tak lagi berharap lebih akan hubungan baik dengannya. Setidaknya uluran pertemanan, membuatku masih bisa menatapnya dan mendengar suara yang selalu kurindukan!"

__ADS_1


"Katakan, kenapa kamu menyetujui permintaan papa?"


"Itu bukan permintaan, tapi pemahaman akan kesalahan yang tanpa sengaja telah aku lakukan. Napsu memiliki Kanaya, membuatku buta dan tuli. Menganggap Kanaya sudah pantas menjadi seorang istri. Melupakan hukum yang ada dalam sebuah pernikahan. Aku yang bersalah dalam pernikahan ini, bukan mama atau papa yang menerima lamaranku. Sebab itu dengan berani, aku ikhlas hancur dalam cinta yang tak terpaut!" ujar Haykal, Hanif diam menatap Haykal. Menanti inti jawaban dari pertanyaan.


"Di malam satu muharram itu, aku mendapatkan sebuah fakta yang mencengangkan. Sebuah kebenaran, jika aku telah mempermainkan pernikahan. Aku bukan imam yang membawa Kanaya pada kebaikan. Namun napsu cintaku, telah menjerumuskan Kanaya pada dosa yang besar. Durhaka pada suami yang secara sah menjadi imam dunia akhiratnya. Penolakan Kanaya akan baktinya padaku, menjadi alasan besar Kanaya telah durhaka padaku. Meski aku tak pernah menganggapnya sebagai sikap durhaka. Namun agama kita telah menganggap Kanaya durhaka sebagai seorang istri. Alasan besar yang membuatku menyadari kesalahan. Keputusan menikah dengan Kanaya, membuatku memiliki cintanya. Namun cintaku alasan dosa besar yang harus ditanggung Kanaya!"


"Alasanmu tidak masuk akal!" sahut Hanif.


"Aku tidak berharap rasa percaya atau kata maaf dari Kanaya. Namun aku yakinkan, ini pengorbanan yang bisa aku lakukan untuk Kanaya. Melepaskan Kanaya dari tugas beratnya sebagai seorang istri. Menjauhkan Kanaya dari dosa yang tak terlihat dan tanpa sengaja dilakukan Kanaya. Meski akhirnya aku harus hidup dalam rindu yang membuatku tiada setiap detiknya!" ujar Haykal.


"Lalu, apa yang kamu harapkan sekarang? Kanaya telah mati oleh keputusanmu. Aku lupa cara tersenyum. Aku bahkan tidak bisa menangis. Semua karena keputusan sepihakmu yang tanpa alasan. Seandainya, kamu mengatakan alasannya padaku. Aku tidak akan membencimu, sebenci aku ketika menyadari aku telah mencintaimu!" tutur Kanaya dengan suara yang terisak.


"Kanaya!" ujar Haykal tak percaya.


"Kamu kejam, membunuhku tanpa harus menikamku. Cintamu membuatku bahagia, cintamu juga yang membuatku hancur. Hidup penuh warnaku, dalam sekejap kamu matikan dengan kepergianmu!"


"Kanaya, maafkan aku!" ujar Haykal, berlutut tepat di depan Kanaya. Tangannya menggenggam erat tangan Kanaya.


"Kenapa aku begitu mencintaimu? Kenapa?" teriak Kanaya histeris, suara Kanaya menggema di seluruh bagian rumah.


"Maafkan aku!"


"Menjauh dariku, jangan pernah mendekatiku lagi!" ujar Kanaya, sembari menekan dadanya yang terasa sakit. Kanaya mendorong tubuh Haykal, Kanaya berlari ke luar dari rumah Haykal.

__ADS_1


"Kanaya, maafkan aku!" teriak Haykal, ketika melihat Kanaya berlari pergi.


__ADS_2