
Setelah pertemuannya dengan Indira, Abra langsung pergi menuju rumah Haykal. Abra ingin bertemu dengan keluarga yang ditinggalkannya. Ada rasa sesal di dalam hati Abra, mengingat kehancuran keluarganya. Abra marah pada dirinya sendiri. Dengan egois, Abra meninggalkan keluarga yang membesarkannya. Abra mencari kebahagiaannya sendiri. Berpikir Haykal mampu menjaga keluarga tanpa dirinya. Namun semua tak sesuai harapannya. Haykal hancur tanpa sisa. Semua karena amarah Arya yang tak mampu dihadapi Haykal.
Tepat satu hari setelah kepergian Abra, Arya mengambil alih rumah yang ditempati Haykal. Rumah yang menjadi jaminan pinjaman bank. Dalam waktu semalam menjadi hak milik Arya. Sengaja Arya membeli rumah keluarga Abimata, semua demi kerinduannya pada Embun. Arya membuktikan pada dunia, seorang ayah mampu melakukan segalanya demi putri tercintanya.
Setelah rumah megah keluarga Abimata jatuh ke tangannya, Arya mengusir keluar keluarga Abimata. Arya memilih rumah itu kosong dan terbengkalai, daripada menjadi tempat tinggal Haykal dan keluarga. Akhirnya Haykal tinggal di sebuah rumah sederhana bersama Indira dan keluarganya. Setelah Haykal meninggalkan istananya. Arya terus memulai aksinya. Arya mengambil alih perusahaan Abimata. Menghancurkan karier seorang Haykal yang sombong dan angkuh. Arya menjadi pesaing Haykal dalam bisnis. Sampai akhirnya Haykal tak berdaya dan kehilangan segalanya. Beruntungnya Haykal masih memiliki Indira, istri yang setia menemani di kala usia senjanya.
Ibra putra yang begitu dibanggakan Haykal. Tak lebih dari laki-laki manja yang selama ini bergantung pada Abra. Aset yang ditinggalkan Abra, tak mampu membuatnya sukses. Ibra tak mampu berjuang di dunia bisnis. Walau Nissa membantunya, sikap angkuh Ibra yang merasa dirinya mampu tanpa bantuan Nissa. Membuat Ibra kehilangan segalanya. Ibra tak mampu menjaga amanah yang ditinggalkan Abra, Ibra hancur karena kebodohannya sendiri.
Naura Tria Abimata, tak lebih baik dari Ibra. Harta peninggalan Abra membuatnya lupa daratan. Hanya foya-foya yang dipikirkan Naura. Tanpa peduli kehancuran keluarganya, sampai akhirnya harta peninggalan Abra habis. Naura bak ikan tanpa air, Naura merasa sesak dan seolah enggan untuk hidup. Sampai akhirnya Naura frustasi dan mengalami depresi hebat. Sampai akhirnya Naura dirawat di sebuah rumah sakit jiwa. Akhir dari kisah Naura Tri Abimata, adik tercinta Abra. Kisah kehancuran keluarga Abimata yang begitu menyedihkan.
Braaakkkk
"Kenapa semua harus terjadi? Aku tidak menyangka, semua akan seperti ini!" ujar Abra lirih, sesaat setelah menghantam setir mobil. Abra marah mendengar cerita tentang kehancuran keluarganya. Tangis Indira pecah, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Indira merasa sedih dengan semua yang terjadi. Namun Indira harus kuat, semua demi setitik kebahagian yang pernah ada dalam keluarganya
"Maafkan mama Abra, mama terlalu lemah. Tak ada kekuatan mama menopang keluarga ini!" ujar Indira dengan tangis, Abra menunduk. Semua terasa menyakitkan, hanya penyesalan yang ada dalam hatinya.
"Abra, kita sudah sampai!" ujar Indira menghentikan mobil Abra. Kanaya duduk tenang di jok belakang. Tak sedikitpun Kanaya terusik atau tersentuh dengan kisah keluarga Abra. Hati Kanaya seolah mati, tak ada lagi hangat dalam hatinya. Kanaya terlalu sakit, mengingat kepedihan yang dirasakan Embun.
__ADS_1
Abra menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah rumah sederhana. Rumah sederhana yang tak pernah ada dalam bayangan Abra. Tak ada gerbang yang melindungi rumah. Pagar kayu yang mulai reyot termakan rayap. Abra melangkah perlahan memasuki halaman rumah Indira. Nampak sebuah pohon mangga, terdapat balai kecil tempat untuk duduk. Abra mengedarkan pandangannya, langkah kakinya tiba-tiba terhenti. Ketika dua mata indahnya menangkap sosok yang begitu dibanggakannya dulu. Entah kenapa lutut Abra terasa lemas? Tak ada kekuatan untuk terus melangkah maju. Seolah tulang belulangnya rapuh tanpa kekuatan.
Deg...nyuutt
Abra menekan dadanya pelan, detak jantungnya terhenti. Rasa sakit yang teramat terasa menusuk hatinya. Abra merasakan sesak, Abra tak mampu melihat kenyataan tentang keluarganya. Abra benar-benar tak menyangka, keluarga hancur tanpa sisa. Tangan Abra bergetar, saat menyentuh daun pintu yang mulai keropos termakan usia. Rumah yang tak lagi layak, tapi seakan menjadi tempat paling nyaman bagi keluarganya.
Duuuuukkk
Abra jatuh terduduk, kedua lututnya membentur lantai semen rumah Indira. Abra tak lagi mampu menopang tubuhnya. Abra jatuh tepat di belakang tubuh Haykal. Tubuh lemah yang dulu kuat melindunginya. Abra tak mampu berjalan menghampiri Haykal. Tatapan Abra seolah kabur, saat dia melihat kursi roda yang kini menjadi penopang tubuh Haykal. Tangan Abra tak mampu menggapai tubuh Haykal.
"Dua tahun lalu, papa mengalami kecelakaan. Papa tertabrak mobil, papa tertabrak dalam perjalanan menuju rumah sakit jiwa. Papa hendak menjenguk Naura. Namun takdir berkata lain, papa tak lagi bisa menemui Naura. Papa mengalami kelumpuhan, kedua kakinya tak mampu digerakkan. Pendarahan otak yang dialami papa, mengakibatkan papa lupa segalanya. Papa hanya ingat satu nama, yaitu namamu!" tutur Indira lirih, sembari menepuk pelan pundak Abra.
"Tidak mungkin, aku hanya bermimpi. Semua ini tidak nyata!" ujar Abra, sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Abra, kuatkan dirimu. Jangan biarkan papa lemah, dia butuh dukunganmu!" ujar Indira lirih, Abra mendongak. Dua mata Abra terlihat sembab, Abra tak percaya akan semua yang terjadi.
"Ibra, dimana dia?" ujar Abra, Indira menghela napas. Abra menggeleng, berharap tak ada lagi kenyataan pahit yang didengarnya.
__ADS_1
"Jangan lagi, aku tidak sanggup!"
"Ibra masih bekerja, dia kini bekerja dengan Fahmi. Sedangkan Nissa mengajar di sekolah dasar. Mereka yang kini menopang mama dan papa. Fahmi sering mengunjungi kami. Setiap kali Fahmi datang, mama berharap kamu ikut bersamanya. Fahmi juga yang membantu biaya pengobatan papa!"
"Abah dan papa Arya!"
"Sejak kepergianmu, hubungan kami memburuk. Kami tak pernah bertemu dengan mereka. Mama sempat bertanya pada Fahmi. Sekadar ingin tahu, apakah mereka baik-baik saja?" ujar Indira, Abra terdiam membisu. Semua terasa berat baginya. Abra berharap semua ini mimpi dan berakhir ketika dirinya terbangun.
Abra berdiri dengan sisa tenaganya. Dia memutar kursi roda, nampak Haykal dengan tatapan kosongnya. Haykal tak lagi sehebat dulu, dia lemah tanpa kemampuan. Abra meneteskan air mata, setetes bening air yang jatuh membasahi telapak tangan Haykal. Air mata putra kebanggaannya yang terasa dingin menembus kulit Haykal. Abra tak mampu menatap wajah Haykal, raut wajah pias Haykal terasa menyayar hati Abra. Haykal hidup seakan mati. Dia raga tanpa jiwa, tak ada binar dalam matanya. Haykal kosong dan sayu.
Cup
"Maafkan Abra pa!" ujar Abra dengan penuh rasa bersalah. Abra mencium lembut kening Haykal. Berharap Haykal mengingat dirinya. Putra kebanggaan yang tak lagi mampu menopangnya.
"Abra putraku!" ujar Haykal lirih, sembari menangkup wajah Abra. Sontak Abra mengangguk pelan. Abra memeluk kepala Haykal, menenggelamkan dalam dadanya.
"Papa akan sembuh, Abra janji!" ujar Abra lirih hampir tak terdengar.
__ADS_1