
"Masuklah, bersihkan dirimu!" ujar Rafan, sembari membuka pintu kamarnya.
Setelah dari tempat pemakaman kedua orang tua Hanna. Rafan membawa Hanna datang ke rumahnya. Rafan dan Hanna basah kuyub, hujan turun begitu deras. Sehingga payung yang mereka gunakan tidak mampu menghalau air hujan. Akhirnya keduanya kehujanan dan pulang dalam kondisi basah kuyub. Setelah menghubungi Embun, Rafan memutuskan membawa Hanna ke rumahnya. Embun sudah mengizinkan Rafan membawa Hanna pulang. Embun akan menghubungi Nur dan memintanya datang menjemput Hanna. Embun merasa dua keluarga sudah saatnya bicara.
"Tapi!" ujar Hanna ragu, Rafan mengedipkan kedua matanya.
"Aku akan pergi ke kamar tamu. Ini kamarku, aku sudah meminta mama meminjamkan gamis untukmu. Mungkin sebentar lagi tante Nur datang menjemputmu!" ujar Rafan, Hanna menunduk. Rafan melihat keraguan di wajah Hanna. Namun dengan sikap dewasanya, Rafan mencoba memahami keraguan Hanna. Sebagai bukti awal keseriusannya pada Hanna.
"Tenanglah Hanna, aku sengaja membawamu ke kamarku. Agar kamu merasa nyaman di kamar yang kelak akan menjadi kamarmu. Aku akan menggunakan kamar tamu, waktuku tidak banyak. Aku harus ke rumah sakit. Kamu bisa istirahat di kamarku. Mama akan menemanimu!" ujar Rafan, Hanna mendongak ke arah Rafan. Nampak dua bola mata penuh ketulusan. Hanna ragu bukan takut Rafan melakukan hal yang tidak baik. Namun Hanna terlalu takut berharap, jika akhirnya dia terluka.
"Aku saja yang menggunakan kamar tamu. Kakak tetaplah tinggal, lagipula kakak belum mengambil pakaian ganti!" ujar Hanna, Rafan diam menatap heran ke arah Hanna.
"Terserah, aku lelah berdebat!" ujar Rafan final, Hanna menunduk lesu. Dia merasa bersalah dengan penolakannya.
Rafan menoleh ke kanan dan ke kiri. Nampak Kanaya berjalan ke arah kamarnya. Sontak Rafan mengangguk, seolah dia menemukan sesuatu yang dicarinya. Hanna diam merasa bersalah, penolakannya membuat Rafan kembali dingin padanya. Seandainya waktu bisa diputar, Hanna tidak akan menolak permintaan Rafan.
"Kak!" sapa Hanna lirih, Rafan menoleh denga raut wajah datar. Hanna menghela napas, Rafan langsung membalikkan badan.
"Kanaya!" teriak Rafan memanggil Kanaya.
"Ada apa?" sahut Kanaya santai, dia melihat Rafan dan Hanna basah kuyub. Meski ada rasa heran, Kanaya memilih diam. Kanaya tidak ingin membangunkan singa tidur. Rafan tak pernah ingin urusannya dicampuri orang lain. Termasuk Kanaya adik kandungnya sendiri.
"Pinjamkan kamarmu pada Hanna. Dia harus segera berganti pakaian. Tubuhnya mulai menggigil!" ujar Rafan tegas, Kanaya mengangguk. Sedangkan Hanna menunduk, ada rasa bersalah telah menolak kebaikan Rafan.
"Kenapa tidak di kamar kakak?" ujar Kanaya santai, Rafan menoleh ke arah Hanna yang menunduk.
"Dia yang tidak bersedia masuk ke kamarku. Aku malas berdebat, sebentar lagi aku harus ke rumah sakit. Mama sudah mengetahui, jika Hanna ada di rumah ini!" ujar Rafan lirih, lalu masuk ke dalam kamarnya. Rafan masuk ke dalam kamarnya, tanpa berpamitan pada Hanna. Sekadar menoleh saja tidak.
BRAAAKKK
__ADS_1
Suara keras pintu kamar Rafan, seketika membuyarkan lamunan Hanna. Dia menyadari telah salah. Hanna menolak kebaikan Rafan. Sebuah permintaan tulus sebagai awal hubungan baik diantara mereka. Namun dengan mudahnya ditolak oleh Hanna. Sebuah penolakan yang sangat disesali oleh Hanna. Sebab telah menyia-nyiakan kebaikan Rafan. Kesempatan mengenal pribadi Rafan lebih jauh.
"Kak Hanna!" sapa Kanaya ramah, sembari menyenggol lengan Hanna. Suara Kanaya membuat Hanna tersadar dari penyesalannya. Hanna mulai menyadari, dirinya termenung dalam penyesalan tanpa akhir.
"Maaf!" sahut Hanna dengan wajah tersipu malu. Kanaya menggelengkan kepalanya pelan, seolah Kanaya tidak keberatan dengan sikap Hanna.
"Tidak apa-apa? Aku hanya penasaran, kenapa kakak bisa menolaknya? Padahal masuk ke dalam kamar kak Rafan itu kesempatan langkah. Aku adik kandungnya, tak pernah sekalipun melihat isi di dalam kamar kak Rafan!" ujar Kanaya tak percaya, sontak Hanna menoleh. Dia merasa tak percaya, ketika Kanaya mengatakan sesuatu yang sangat tidak mungkin.
"Tidak mungkin!"
"Aku serius kak, kamar kak Rafan itu tidak untuk umum. Aku sempat tak percaya, kalau kak Rafan memintamu masuk ke dalam. Aku semakin tak percaya, kakak menolak kesempatan yang aku inginkan sejak dulu!" ujar Kanaya dengan kepolosannya.
"Kenapa kamu tidak masuk saat kak Rafan kerja?"
"Kak Hanna, lihat itu!" ujar Kanaya, sembari menunjuk ke arah kamera kecil yang ada tepat di atas pintu kamar Rafan.
"Kakak menyesal!" ujar Kanaya, Hanna mengangguk pelan.
"Aku juga menyesal!" ujar Kanaya, Hanna menoleh tak mengerti.
"Kenapa?"
"Aku menyesal tidak melihat raut wajah kak Rafan. Raut wajahnya pasti seperti kepiting rebus. Kak Rafan tidak pernah ditolak, apalagi mengalah pada keputusan orang lain. Aku sangat menyesal telah melewatkan kesempatan itu!" ujar Kanaya santai, Hanna menggelengkan kepalanya pelan. Hanna melihat sisi lain Rafan dari Kanaya. Sisi yang tak pernah dia bayangkan.
"Sampai kapan kalian berdiri di depan kamarku?"
"Kak Rafan!" sahut Kanaya dan Hanna hampir bersamaan. Kanaya dan Hanna terkejut melihat Rafan yang tiba-tiba keluar dari kamarnya.
Rafan keluar dengan pakaian formal. Tubuh Rafan tak lagi basah. Nampak tangan kanan Rafan memegang jas putih kedokterannya. Hanna menatap penuh kagum, penampilan Rafan mampu membius para kaum hawa. Ada sedikit rasa sakit, ketika menyadari akan ada banyak mata yang menganggumi pesona Rafan.
__ADS_1
Plokkk Plookk Plookk
"Kenapa malah diam? Kamu kesurupan!" ujar Rafan dingin, sesaat setelah bertepuk tangan di depan wajah Hanna.
"Maaf kak Rafan!" sahut Hanna lirih, Rafan menghela napas.
Rafan menarik tangan Hanna, membuka telapak tangan Hanna. Sentuhan Rafan membangkitkan hasrat penuh cinta di hati Hanna. Rafan seolah memberikan kebahagian di dunia kepadanya. Genggaman tangan Rafan, seolah menghentikan aliran darah Hanna. Rafan menerbangkan Hanna tinggi, membawa Hanna terbang menggapai bahagia.
"Ini kunci kamarku, jika kamu tidak ingin berada di kamar Kanaya. Istirahatlah di kamarku, mama akan menemanimu. Aku harus pergi sekarang. Kamu jaga diri baik-baik, Kanaya akan menemanimu!" ujar Rafan hangat, Kedua mata Kanaya tak berkedip. Kanaya melihat kehangatan Rafan pada Hanna. Hangat yang tak pernah diperlihatkan Rafan pada siapapun? Hanya pada Hanna, Rafan peduli dan percaya. Rafan membiarkan Hanna masuk ke dalam kamarnya. Wanita pertama yang masuk ke dalam kamar, bahkan mungkin hati dingin seorang Rafan.
"Kak Rafan!" ujar Hanna ragu, tangannya bergetar menerima kunci yang diberikan Rafan padanya.
"Segera ganti bajumu, kamu bisa masuk angin. Aku tidak selamanya berada di sampingmu. Jadi dewasalah, belajar mandiri dan menjaga diri sendiri. Sarapanlah bersama Kanaya dan yang lain. Jangan menungguku, aku mungkin tidak pulang!" cecar Rafan hangat, Kanaya terdiam terpaku. Dia tak percaya, Rafan begitu perhatian pada Hanna. Perkataan Rafan, bak sebuah pesan cinta untuk istri tercintanya.
"Tutup mulutmu Kanaya, takut lalat masuk!" ujar Rafan, sembari menutup mulut Kanaya. Sontak Kanaya menjerit, Rafan terkekeh melihat jeritan penuh kekesalan Kanaya.
"Kaka Rafan jahat!" ujar Kanaya, sembari mengelus mulutnya yang sakit.
"Ingat Kanaya, kakak mengizinkanmu masuk ke dalam kamar. Hanya untuk menemani Hanna, tidak lebih!" ujar Rafan mengingatkan Kanaya.
"Siap bos!" sahut Kanaya dengan tawa.
"Hanna!" panggil Rafan beberapa langkah di depan Hanna.
"Iya!" sahut Hanna, seraya menoleh ke arah Rafan.
"Jaga dirimu, aku tidak ingin melihatmu sakit!" ujar Rafan hangat, Hanna tersipu malu mendengar hangat yang ditunjukkan Rafan.
"Terima kasih calon imam dunia akhiratku. Aku mencintaimu dengan iman!" batin Hanna penuh rasa haru dan bahagia.
__ADS_1