
"Kak, ayo berangkat!" Ujar Embun riang, Abra menoleh tanpa menyahuti. Nampak Embun memakai tas punggung ukuran sedang.
Abra sontak berdiri, dia melihat penampilan Embun yang berbeda. Ponsel yang sejak tadi menyita perhatian Abra. Seketika teralihkan dengan penampilan Embun yang berbeda. Tas yang tengah dipakai Embun. Sedikit membuat Embun terlihat lebih muda. Bahkan mungkin tidak ada yang mengira. Jika Embun sudah menikah, bukan lagi wanita lajang. Senyum manis yang terutas di wajah cantiknya. Semakin membuat Embun terlihat manis.
"Kenapa dia bisa semanis itu? Awas saja, kalau ada yang berani menggodamu. Akan kupastikan, orang itu terakhir bekerja di perusahaanku. Senyum itu, kenapa terlihat begitu menggoda? Menyesal aku, mengizinkan kamu bekerja di kantor. Jika tahu kamu akan berpenampilan seperti ini!" Batin Abra kesal, Embun menghampiri Abra.
"Ayo kita berangkat!" Ajak Embun, sembari bergelayut manja di lengan Abra.
"Begitu inginnya kamu bekerja di kantor. Beruntung kantor ini milikku, jika ini milik orang lain. Pasti akan ada yang berani menggodamu!" Ujar Abra dingin, Embun menoleh melihat ke arah Abra. Seolah heran dengan perkataan Abra.
"Tunggu, kakak harus berjanji satu hal!"
"Apa?"
"Jangan istimewakan aku, kalau bisa kakak pura-pura tidak mengenalku!" Ujar Embun, Abra langsung menggeleng.
"Tidak akan pernah, kamu harus berada dekat denganku. Kalau perlu, kamu bekerja di ruanganku. Aku tidak akan membiarkanmu jauh dari pengawasanku!" Ujar Abra lantang, Embun seketika menekuk wajahnya. Namun Abra tak peduli. Dia akan tetap pada perkataannya. Embun akan bekerja di bawah pengawasannya.
"Aku mohon!" Ujar Embun sembari menangkupkan kedua tangannya. Abra tetap menggelengkan kepalanya. Keputusannya final dan tidak bisa diganggu gugat.
"Sesuai aturanku atau tidak bekerja!"
"Baiklah!" Sahut Embun setuju, Abra tersenyum penuh kemenangan.
Sejak semalam, Abra sudah gelisah memikirkan Embun akan bekerja di kantornya. Bukan Abra tidak ingin melihat kesuksesan Embun. Namun membiarkan semua mata menatap Embun penuh kekaguman. Jujur, Abra tidak akan sanggup dan tidak akan pernah rela. Hubungannya dengan Embun selalu penuh konflik. Apalagi jika sampai ada laki-laki lain yang masuk dalam hubungan mereka. Tentu semua akan semakin sulit.
"Kak!"
"Ada apa?" Sahut Abra dingin, seolah Ibra datang di waktu yang tidak tepat.
__ADS_1
"Aku hari ini libur. Aku masih sangat lelah!" Ujar Ibra, Abra tidak menolak atau mengiyakan perkataan Ibra. Saat Abra merasa Ibra sudah selesai bicara. Abra langsung berjalan melewatinya. Sikap dingin Abra jelas menunjukkan ada yang membuatnya kesal.
"Ibra, kamu yakin ingin libur. Kucing manismu turun gunung. Dia akan bekerja denganku di kantor selama dua hari!"
"Maksud kakak ipar?"
"Nur, si kucing manis!" Goda Embun, Ibra tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Wajahnya tersipu malu, ketika Embun menyinggung tentang Nur.
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak? Kami akan menjadi tim yang hebat!" Ujar Embun, Ibra menoleh ke arah Abra.
"Apa? Tidak perlu bertanya lagi, dia sudah menyombongkan diri dihadapanmu!" Sahut Abra, ketika melihat Ibra menoleh ke arahnya. Isyarat Ibra menunggu jawaban dari Abra.
"Serius, kakak ipar akan bekerja di kantor!" Ujar Ibra tak percaya, Embun mengangguk mengiyakan.
"Hanya dua hari, tidak lebih!" Ujar Abra dingin dan tegas, lalu berjalan keluar dari rumah megah keluarga Abimata.
"Tidak jadi cuti!" Goda indira, Ibra menggelengkan kepalanya. Lalu berlari menuju kamarnya. Ibra ingin segera bersiap, dia tidak ingin terlambat datang ke kantor.
"Sayang!" Ujar Abra, saat berada di dalam mobil. Embun yang terlihat begitu bahagia, langsung menoleh. Namun sekilas Embun menangkap, ada rasa khawatir dalam diri Abra.
"Ada apa kak?"
"Kamu benar-benar bahagia bisa bekerja. Apa semua ini demi uang atau kesuksesan?" Ujar Abra, Embun menunduk sembari meremas ujung hijabnya. Embun benar-benar tidak tahu harus menjawab apa? Banyak pertimbangan dalam langkahnya. Dia takut jika jawabannya akan melukai hati Abra.
"Bicaralah, apapun alasanmu ingin bekerja?"
"Aku bekerja hanya demi sebuah pembuktian. Jika wanita desa, bisa melakukan sesuatu yang sama dengan wanita kota. Dalam kesederhanaanku ada sisi istimewa yang ingin aku ungkapkan. Kelebihan yang aku harap bisa membuatmu hanya menoleh ke arahku, bukan ke arah wanita lain. Memang niatku salah, merasa aku bisa menyamakan diri dengan Clara yang notabene wanita anggun dan pintar!"
__ADS_1
"Kamu masih tidak percaya, jika aku dan Clara tidak ada hubungan apa-apa?"
"Aku percaya kak, sangat percaya. Namun ada saatnya aku harus menjadi lebih baik. Agar semua orang menghargaiku. Cukup sekali aku melihat, kakak bersandar dan mengatakan keraguan akan diriku pada wanita lain. Aku tidak ingin kakak meragukanku, meski itu hanya sekali. Aku bekerja bukan semata demi uang atau sukses. Namun harga diri yang ingin kupertahankan dan semua itu demi cintaku padamu!" Tutur Embun tegas, Abra diam sembari menatap lurus jalan yang dilaluinya.
"Maaf, jika malam itu hatimu begitu sakit. Namun ketakutan akan hubunganmu dengan tuan Arya, membuatku lupa akan kepercayaan. Aku takut kehilanganmu, tuan Arya jauh lebih mapan dariku. Demi dirimu dia siap kehilangan segalanya. Sedangkan aku terus bertahan dengan papa yang tak pernah menghargaimu. Hanya karena aku takut kehilangan keluargaku!" Ujar Abra, Embun menunduk memikirkan perkataan Abra. Sebuah pemikiran yang menjadi alasan kesalahpahaman.
"Kak!"
"Iya sayang!" Sahut Abra mesra, Embun menarik tangan kiri Abra. Lalu menempelkan tangan Abra tepat di depan dadanya. Embun memegang erat tangan kiri Abra. Sedangkan tangan kanan Abra tetap memegang kemudi mobilnya.
"Sampai detik ini, dalam hati ini hanya tertulis satu nama. Dalam benakku, hanya ada satu bayangan. Dalam pikirku, hanya ada satu harapan. Dalam hidupku, hanya ada satu tujuan. Dalam langkahku, hanya ada satu izin. Satu dari semua yang ada dalam diriku, itu hanya kamu. Achmad Abra Abimata, laki-laki yang membuatku percaya. Jika cinta itu ada, bukan karena persamaan status. Melainkan cinta itu ada, karena hati yang memilih. Jadi jangan pernah berpikir, ada nama selain dirimu!"
"Maaf, jika aku membuatmu sedih. Aku tidak pernah meragukanmu, tapi ingatan akan kejadian malam itu. Saat dimana tuan Arya dengan lantang membelamu? Mempertaruhkan segalanya demi dirimu. Nyata mengusik jiwa kelakianku. Dengan dua mataku, aku melihat seorang laki-laki hebat menantang semua orang hanya untuk membela harga dirimu. Dengan dua telingaku, aku mendengar seorang laki-laki kuat, berteriak mempertaruhkan segalanya demi kehormatanmu. Salahkah, jika aku merasa rendah diri? Ketika menyadari, istriku memiliki sandaran yang jauh lebih kokoh dariku!" Ujar Abra lirih, Embun menggelengkan kepalanya.
"Kakak tidak salah, tapi sekokoh-kokohnya sebuah benteng. Kelak akan rapuh termakan usia, akan hancur saat badai menghantamnya. Namun selemah-lemahnya pohon, tidak akan tumbang tanpa membawa ranting dan daun bersamanya. Aku tidak butuh benteng kokoh yang hanya melindungi, tapi tak pernah mengayomi. Sebab benteng tak lebih dari benda mati tanpa hati. Aku butuh pohon rapuh yang akan selalu meneduhkan dan takkan meninggalkan daun. Sampai daun yang jatuh meninggalkannya!"
"Artinya kamu akan pergi meninggalkanku kelak!"
"Aku tidak tahu, sebab jatuhnya daun terjadi karena kehendak-NYA. Tidak ada yang bisa menentang ketetapan-NYA. Saat ini aku menjadi tulang rusukmu, mungkin kelak aku akan menjadi tulang punggung bagi putraku. Semua masih menjadi rahasia-NYA. Sebagai hamba kita hanya bisa menjalankan jalan yang tertulis!"
"Jangan pernah tinggalkan aku!"
"Aku akan selalu bersamamu, selama tidak ada keraguan dalam hatimu. Lagipula, apapun yang diberikan tuan Arya? Sebesar apapun pengorbanannya untukku? Sekuat apapun dua membelaku? Meski dia mempertaruhkan seluruh harta dan hidupnya? Tuan Arshan Arya Adiputra tidak akan pernah bisa mengembalikan, apa yang telah diambilnya dariku? Dia tidak akan sanggup mengganti sesuatu yang telah direnggutnya dariku. Alasan yang membuatku takkan pernah memilih dirinya dan mengacuhkan dirimu!" Tutur Embun lirih, lalu menoleh ke luar jendela mobil Abra.
Abra langsung menoleh, saat mendengar isak tangis yang tertahan. Embun jelas menahan tangisnya, agar Abra tidak mendengar suara jerit hatinya. Abra melihat, Embun menyeka air matanya. Kerapuhan yang menelisik hati Abra. Meninggalkan rasa gelisah yang tak menemukan jawaban.
"Sayang, siapa sebenarnya tuan Arya dalan hidupmu?"
"Dia bukan siapa-siapa?" Ujar Embun tegas, tanpa menoleh ke arah Abra. Menyimpan air mata yang kini jatuh dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Siapapun dia? Aku akan menemukan jawabannya. Tidak akan kubiarkan, hadirnya mengganggu ketenanganmu. Hari ini aku melihat air matamu. Tidak lagi, aku melihat air mata jatuh dari dua mata indahmu. Aku akan membuatnya menyadari penolakanmu!" Batin Abra tegas, saat melihat air mata Embun.
"Aku selalu bersamamu!" Ujar Abra, lalu mencium telapak tangan Embun. Menempelkan tepat di dadanya. Memberikan kehangatan pada dingin hati Embun. Berharap ada ketenangan dalam gelisah hati Embun.