KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Keputusan


__ADS_3

"Embun, ini rujak yang kamu inginkan!" ujar Nur, sembari memberikan satu piring penuh rujak buah.


Embun tersenyum saat menerima rujak buah buatan Nur. Sejak pagi Embun merengek ingin dibuatkan rujak buah oleh Nur. Sebab itu sepulang dari kantor Abra. Nur langsung bergegas pergi ke pasar. Nur membeli beberapa buah lokal yang diinginkan Embun. Setelah menyiapkan semua bahan dan membuatkan bumbu, Nur akhirnya menyiapkan sepiring penuh untuk Embun.


"Sayang, jangan terlalu banyak. Takut perutmu sakit!" ujar Abra cemas, ketika melihat Embun begitu lahap memakan rujak buah buatan Nur.


Air liur Abra sampai menetes, ketika tanpa sadar dia merasakan asam mangga muda yang sedang dikunyah Embun. Bumbu kacang yang terlihat beberapa biji cabe. Jelas menunjukkan pedas rasa rujak yang dimakan Embun. Abra benar-benar cemas, ketika melihat Embun seolah lupa akan sekitarnya. Embun bak orang yang belum pernah merasakan rujak buah. Sangat lahap dan terkesan rakus. Sesekali Abra berusaha menghentikan Embun, tapi dengan sopan Embun menepis tangan Abra. Sedangkan Nur tersenyum haru, melihat sahabatnya begitu lahap. Dua mata Embun nampak binar penuh dengan semangat. Nur meneteskan air mata haru, ketika dia bisa membuat sahabatnya bahagia.


"Abra, biarkan Embun makan dengan tenang. Lagipula tadi dia sudah makan nasi. Setidaknya perutnya tidak dalam keadaan kosong. Abah sudah bertanya pada Afifah tentang ini. Dia mengatakan, Embun bisa memakan rujak buah. Selama itu tidak setiap hari dan dalam porsi yang besar!" ujar Abah Iman, Abra menghela napas panjang.


Kecemasan Abra bukan tanpa alasan. Dia hanya takut Embun jatuh sakit lagi. Mengingat Embun baru saja sembuh dari sakit. Kekhawatiran Abra layaknya rasa khawatir seorang ayah akan calon putranya. Namun Abra sedikit merasa lega, saat Iman sudah menanyakan resiko akan makanan yang tengah dikonsumsi Embun.


"Kak Abra, silahkan dicicipi. Rujak buah sangat segar, apalagi setelah makan malam!"


"Buatku mana?" ujar Ibra, Nur menoleh seraya mengutas senyum.


"Silahkan ambil sendiri di meja makan!" sahut Nur santai, lalu duduk tepat di sebelah Embun. Nur terus mengamati senyum yang sepintas terutas di wajah Embun. Jelas Embun bahagia bisa menikmati rujak buatan Nur.


"Embun makan perlahan!" ujar Nur penuh kasih sayang, Abra menatap haru persahabatan Nur dan Embun. Sesekali dia bersyukur dalam hati. Ketika menyadari, betapa beruntungnya Embun memiliki sahabat sebaik Nur.


"Nur, buka mulutmu!" ujar Embun lirih, lalu menyuapkan satu potong buah ke mulut Nur. Sesaat setelah Nur membuka mulutnya lebar-lebar.


"Terima kasih!" ujar Nur, Embun mengedipkan kedua mata indahnya.


"Nur, aku juga ingin rujak buahnya!"


"Kamu ambil sendiri, masih banyak di atas meja!"


"Tapi aku ingin kamu yang menyiapkannya!"


"Ibrahim tampan, rasa rujak buahnya tetap sama. Meski aku yang menyiapkannya untukmu. Jadi jangan manja, layani dirimu sendiri!" sahut Nur dingin, Ibra mengerucutkan bibirnya. Ibra kesal mendengar penolakan Nur. Apalagi Ibra melihat Nur menyiapkan rujak buah untuk Abra.


"Kenapa kalian ribut hanya demi sepiring rujak buah? Kalian tidak melihat, ibu hamil yang terus mengunyah tanpa henti!" ujar Indira lantang, Abra dan Ibra menoleh ke arah Indira.

__ADS_1


Indira datang ingin menjenguk Embun. Sengaja dia datang sendiri, sebab Haykal menolak ikut bersamanya. Sedangkan tuan Ardi sedang kurang sehat. Akhirnya Indira datang sendiri ke rumah Abra. Nampak Indira membawa sekotak besar kue coklat kesukaan Abra. Indira sengaja membuatkannya sendiri. Indira juga membuat puding buah untuk Embun. Kasih sayang seorang ibu yang akan mengerti keinginan putranya tanpa perlu diminta.


"Mama!" sahut Abra dan Ibra hampir bersamaan. Indira terkejut mendengar Abra memanggilnya mama. Seketika tubuh Indira bergetar, dia merasakan kebahagian yang tidak terkira.


"Mama, Nur mengacuhkanku!" ujar Ibra, Indira menoleh ke arah Nur. Seketika Nur menunduk, Ibra tersenyum ketika dia melihat Nur luluh pada Indira.


"Jangankan Nur, mama saja terkadang malas mengikuti kemauanmu. Kamu sudah dewasa, sudah seharusnya bersikap mandiri. Jika memang ingin sesuatu, berusaha sendiri dengan sekuat tenaga. Jangan langsung meminta bantuan orang lain!"


"Dasar manja, suka mengadu!" ujar Nur kesal, Ibra melongo mendengar umpatan Nur.


"Mama tidak akan membantumu. Kamu sudah dewasa, apa yang dikatakan Nur memang benar? Lagipula, seandainya kamu menyayangi Nur. Kenapa tidak langsung meminangnya? Kenapa harus mencari perhatiannya? Bukan terlihat tampan, kamu malah seperti anak kecil!" ujar Indira, lalu duduk di samping Nur dan Embun.


Indira meletakkan kue dan pudding yang dibawanya di atas meja. Nur dan Embun bergantian mencium punggung tangan Indira. Keduanya juga memeluk hangat Indira, ibu dari dua putra hebat pemilik hati Embun dan Nur. Abra dan Ibra melakukan hal yang sama. Keduanya mencium punggung tangan Indira bergantian. Setetes bening air mata Indira jatuh tepat di pelupuk matanya. Indira terharu menerima sikap sopan dan santun putra-putranya. Ada rasa bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya air mata sebagai perwujudan kebahagian Indira saat ini.


"Indira, Ibra sangat ingin menikah dengan Nur. Pinang Nur, sebelum Arya mendahului Ibra!" goda Iman, indira langsung menoleh ke arah Ibra dan Nur. Sontak Nur menunduk malu, sedangkan Ibra langsung tersenyum. Seolah dia mengiyakan perkataan Iman.


"Tidak mungkin Arya ingin menikah dengan Nur!"


"Kenapa tidak?" sahut Arya, sontak semua menatap Arya dengan tatapan tidak percaya. Hanya Nur yang terus menunduk, merasa malu dengan perkataan Arya.


"Memangnya kenapa? Nur masih sendiri, aku juga sendiri. Tidak ada yang berhak melarang pinanganku!" ujar Arya serius, Abra terdiam melihat kesungguhan Arya. Sedangkan Embun diam tidak peduli akan keinginan sang ayah.


"Mama, om Arya ingin merebut Nur dariku!"


"Sejak kapan aku menjadi milikmu? Sampai om Arya merebutku darimu!" ujar Nur sinis dan dingin.


"Nur, kenapa kamu jahat padaku?" ujar Ibra lirih, Nur mengacuhkan Ibra. Dia berdiri membawa kue dan pudding yang dibawa Indira.


"Nur akan menyiapkan kue dan puddingnya!" ujar Nur ramah, Indira mengedipkan kedua matanya.


"Terima kasih Nur sayang!" ujar Indira ramah, Nur mengangguk pelan.


"Nur lebih memilihku!" sahut Arya, Ibra menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


"Papa, sudah hentikan. Aku tidak peduli perasaan Ibra, tapi aku tidak tega melihat Nur menahan malu!" ujar Embun dingin pada Arya.


"Maaf sayang, papa hanya ingin melihat semangat berjuang Ibra!" sahut Arya, Embun menoleh ke arah Ibra.


"Cinta bukan sesuatu yang sulit diperjuangkan. Semuanya tergantung pribadi yang merasakannya. Jika memang Ibra takut dan tidak bisa menunjukkan kesungguhannya. Itu artinya dia tidak bisa menjadi imam yang baik untuk Nur. Kak Abra tidak pernah berjuang untukku, tapi lihat apa yang dilakukan kak Abra saat ini? Dia membuktikan dirinya mampu menjadi kepala keluarga yang baik. Dia menempatkan aku dan tuan Haykal pada dua sisi yang berbeda. Kak Abra sengaja membuat jalan yang berbeda untukku dan tuan Haykal. Agar tak ada gesekan yang akan melukai hatiku. Itulah bukti sebuah perjuangan mempertahankan keyakinan akan sebuah rasa yang tulus!"


"Kakak ipar!" ujar Ibra lirih, dia tidak percaya Embun mampu berkata sedingin itu.


"Aku mengenal Nur melebihi siapapun? Dia gadis periang yang bebas dan mandiri. Sangat disayangkan, jika kelak cinta yang kamu tawarkan pada Nur. Tak lebih dari penjara bersangkar emas yang akan membuat Nur kehilangan jati dirinya. Ketakutan Nur bukan karena sikap atau hinaan tuan Haykal. Sebaliknya dia ragu akan rasa tanpa dasar yang kamu tawarkan. Rasa yang penuh dengan hasrat ingin memiliki. Tanpa sedikitpun rasa percaya akan tulus rasa itu!"


"Aku serius menyayangi Nur!"


"Rasa sayang yang hanya memikirkan penyatuan, tanpa sebuah kepercayaan. Itu bukan keseriusan, tapi lebih kepada sebuah cinta penuh hasrat. Jika memang kamu menyayangi Nur. Penuhi harapan hatinya, jadilah laki-laki kuat yang mandiri. Seorang putra yang mampu membanggakan kedua orang tuanya. Seorang imam yang mampu menuntun Nur ke jalan yang lebih baik. Pelengkap dalam sepi hati Nur, tangan yang kelak melengkapi celah tangannya. Bergandeng tangan menyusuri jalan berliku hidup. Jika semua itu sudah kamu penuhi. Tidak perlu kamu mencari Nur, dia sendiri yang akan datang mengatakan selamat dan menawarkan ketulusan hatinya!" ujar Embun dingin dan tegas.


"Bukankah dia akan menerima pinangan laki-laki yang datang menemui kedua orang tuanya!" ujar Ibra lirih.


"Kalau begitu datang pada orang tuanya. Pinang Nur dengan kesungguhan dan nikahi dia dengan ketulusan. Diam Nur bukan sebuah penolakan, tapi persetujuan yang membutuhkan kepekaan hatimu. Hanya karena dia menolakmu sekali. Kamu sudah mundur dan bingung mencari bantuan. Seharusnya kamu maju tanpa takut ditolak. Percaya jika rasamu terbalaskan!" ujar Embun, lalu berdiri menyusul Nur ke arah dapur.


"Ibra, Nur menunggu ketegasan bukan sekedar perkataan!" ujar Embun lantang dari arah pintu dapur. Ibra menunduk berusaha mencerna perkataan Embun.


"Indira, tidak mudah mendapatkan calon menantu sebaik Nur. Dia gadis yang baik dan penuh kasih sayang. Mungkin dia lebih keras dan mandiri dari Embun. Namun dalam kerasnya, dia berhati lembut dan penyayang. Aku melihat dia tumbuh besar, ketulusan hatinya akan membuatmu merasakan kebahagian seorang ibu!" ujar Iman, Ibra mengangguk pelan.


"Sejak kapan Ibra menyukai Nur?"


"Aku sudah lama menyukainya, tapi Nur menolakku!"


"Memangnya kenapa dia menolakmu?" sahut Indira, Ibra langsung menunduk.


"Papamu!" ujar Indira lirih, Ibra mengangguk pelan.


"Kalau begitu dapatkan izin papamu. Agar Nur percaya akan kesungguhanmu!" ujar Indira tegas.


"Aku akan meminta izin papa. Jika dia tidak menyetujuinya. Aku akan tetap meminang Nur dan menikah dengannya saat aku mendapatkan kesuksesan!"

__ADS_1


" Itu baru adikku!" ujar Abra, sembari menepuk pelan pundak Ibra. Indira tersenyum bahagia melihat kedekatan Abra dan Ibra. Arya dan Iman mengangguk setuju dengan keputusan Ibra.


"Mama akan mendukungmu!"


__ADS_2