KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kesedihan Afifah


__ADS_3

"Abah, kenapa berada di luar? Malam semakin larut, udara malam tidak baik untuk kesehatan abah!" ujar Embun, Iman menoleh tanpa menyahut.


Sejak siang itu, Iman dan Afifah tinggal di rumah Embun. Keduanya pergi tanpa membawa apapun dari rumah megahnya. Hanya pakaian yang melekat di tubuh mereka. Harta yang mereka bawa dari rumah besar keluarga Adijaya. Embun membawa Iman dan Afifah sementara tinggal di rumahnya. Setelah renovasi rumah Iman yang ada di desa selesai. Embun akan mengantar Iman dan Afifah tinggal di sana. Embun melakukan semua itu, bukan karena keberatan menjaga Iman dan Afifah. Namun prinsip hidup Iman yang tak pernah ingin hidup menumpang pada putrinya. Pengertian yang mudah dilihat Embun, tanpa ada kata yang terucap dari binir Iman.


"Maafkan Embun, telah berbuat sejauh ini!" ujar Embun lirih, sembari menyandarkan kepalanya di pundak Iman. Embun merangkul hangat tangan kekar Iman. Tangan yang pernah mendekapnya erat, tapi tangan itu kini mulai lemah dan melemah.


"Kenapa semua harus berakhir seperti ini? Apa kesalahan yang pernah aku lakukan? Sampai aku hidup hanya untuk melihat kegagalanku mendidik Hanif. Aku tak pernah menyangka, kebenciannya padaku telah membuatnya buta dan tuli. Dia tak lagi melihat air mata Afifah. Ibu yang melahirkannya, ibu yang selalu membelanya dalam salah dan benarnya. Bahkan Hanif tak lagi bisa mendengar rintihan dan rasa kecewa Aira. Wanita yang tulus mencintainya dan kini meninggalkannya. Kegagalanku membuat Hanif semakin hancur dan terpuruk!" tutur Iman lirih, sembari menatap malam yang gelap.


Iman memilih duduk di taman samping rumah Embun. Taman kecil tempat Rafan dan Kanaya bermain. Sebuah taman yang sengaja di bangun Abra. Sebagai tempat Embun meluapkan amarah dan kegelisahannnya. Taman yang menghadap selatan, memungkinkan Embun bisa menoleh ke arah timur dan barat sekaligus. Menoleh ke arah timur, demi menyapa sang fajar pembawa cahaya terang nan hangat. Menatap ke barat, demi menanti senja yang penuh dengan warna jingga nan indah.


"Abah, semua belum berakhir. Embun berjanji akan membawa Hanif padamu. Dia putramu dan akan selamanya menjadi putramu. Kebenciannya bukan kegagalanmu, tapi ketidaktahuannya akan rasa sayangmu yang begitu besar. Sekali lagi maafkan Embun, jika harus memisahkan kalian berdua. Embun takkan mampu berperang melawan Hanif. Jika masih ada rasa bersalahmu menjadi perisainya. Aku takka sanggup keras padanya, jika tangis mama Afifah melindunginya. Hanif pribadi yang keras dan kejam, hanya dengan kekerasan aku bisa menundukkannya. Selama ini dia merasa tenang dan benar dengan sikapnya. Sebab abah terus mengalah akan kerasnya dan mama Afifah terus menerima kesombongannya. Seseorang seperti Hanif, hanya akan menyadari arti dari sebuah barang. Kala dia tak memilikinya dan tak mampu memilikinya lagi. Hanif akan menyadari kebodohannya, ketika dia merasakan kesepian tanpa abah dan mama Afifah. Harta akan membuatnya bahagia, tapi itu tidak akan lama. Sebab aku sudah mendirikan perusahaan yang akan menghancurkan dinding keangkuhannya!"


"Embun, kamu tidak perlu meminta maaf. Abah seharusnya berterima kasih padamu. Setidaknya diantara begitu banyak orang yang mengenal Hanif. Kamu kakak yang percaya, masih sisi baik di dalam hatinya. Kamu yakin, jika semua akan kembali membaik. Abah tidak menginginkannya kembali. Cukup dia menjadi pribadi yang lebih baik. Agar dia bisa bahagia bersama orang yang menyayanginya dengan tulus. Abah tak mampu menghapus sepi dan sendirinya. Setidaknya, ada seseorang yang mampu membuatnya bahagia!"


"Percayalah Abah, aku pasti bisa melakukannya. Aku akan membawanya padamu. Bersabarlah, seperti kesabaran yang pernah Abah miliki dulu. Kesabaran seorang ayah yang membesarkan dan mendidik putrinya yang penuh dengan luka!" ujar Embun, sembari terus bersandar pada pundak Abah Iman.


Iman mengangguk pelan, dia mengiyakan perkataan Embun. Setuju dengan sikap yang akan diambil oleh Embun pada Hanif. Terbersit bayangan Embun kecil yang pendiam dan tak ingin bergaul. Seorang anak kecil yang memilih diam mengurung diri di kamar. Melupakan semua keindahan alam yang ada di sekitarnya. Embun kecil yang terus merajuk, meminta sebuah keluarga kecil yang utuh. Embun yang selalu berdebat dengan Iman, mengharapkan sosok hangat bernama ibu. Iman tak pernah gentar menghadapi sikap kekanak-kanakan Embun. Sikap yang benar-benar menguji kesabaran Iman. Kini Embun mengingatkan Iman akan kesabaran yang sama, untuk menanti Hanif kembali dalam dekapan mereka.


"Terima kasih sayang, kamu pelita dalam hidupku!" ujar Iman lirih, sembari menatap wajah Embun yang tengah bersandar di bahunya.


Lama Iman dan Embun duduk di taman. Keduanya tersadar, ketika petir tiba-tiba menyapa. Embun mengajak Iman masuk ke dalam rumah. Afifah tengah berada di kamarnya. Kesedihan berpisah dengan Hankf membuatnya memilih mengurung diri di kamar. Iman pernah meminta Afifah kembali pada Hanif. Namun dengan tegas, Afifah menolaknya. Dia tidak ingin kembali bertemu dengan Hanif. Jika nyatanya dia hanya terluka dan mendengar keburukan tentang suaminya.


"Abah duduklah, Embun akan mengambilkan minuman!" ujar Embun, Iman mengangguk pelan. Iman menatap penuh haru dan bahagia punggung Embun. Putri kecilnya telah tumbuh dewasa dan kini menjaga dirinya. Iman tak pernah menyangka, jika akhirnya dia membebani Embun dengan lemahnya.

__ADS_1


"Abah, maaf Abra baru pulang!" sapa Abra, lalu mencium punggung tangan Iman. Abra yang datang bersama Haykal, lalu duduk tepat di depan Abah Iman.


"Kamu baru pulang, ada masalah di kantor?" ujar Iman berbasa-basi. Abra menggeleng lemah, Haykal terlihat sedang bermain dengan ponsel pintarnya. Namun jelas dia terlihat gelisah. Haykal takut bertemu dengam Kanaya. Meski sejujurnya, melihat Kanaya menjadi alasannya datang ke rumah Abra.


"Kebetulan kami baru pulang dari luar kota. Aku sengaja memintanya mampir, selain ingin mendiskusikan sesuatu. Aku ingin mengajaknya makan malam!"


"Dia siapa?" sahut Iman, Abra menoleh ke arah Haykal. Perlahan Abra memukul pundak Haykal.


"Di sahabat Rafan, mantan guru di sekolah Kanaya dan kini menjadi rekan kerjaku!" ujar Abra tegas dan bangga, Iman mengangguk tanpa banya bicara. Embun datang membawa dua cangkir kopi dan segelas susu hangat untuk abah Iman.


"Kanaya, kemana kamu membawa makanan itu?" sapa Embun heran, ketika melihat Kanaya membawa makanan di atas nampan.


"Aku ingin memberikannya pada nenek Afifah. Sejak pagi, dia tidak makan dengan baik. Aku takut kesedihannya membuat nenek Afifah sakit!"


"Pergilah, tapi jangan paksa nenek Afifah memakannya. Dia perlu waktu menyembuhkan lukanya!" ujar Embun mengingatkan, Kanaya mengangguk tanpa ragu.


"Dia lagi, dia lagi!" batin Kanaya kesal.


"Haykal, silahkan diminum!"


"Terima kasih tante!" sahut Haykal, Embun tersenyum menyahuti perkataan Haykal.


"Sayang, aku tidak ditawari!" ujar Abra menggoda Embun, nampak perlahan Embun menghampiri Abra. Embun mengambil secangkir kopi untuk Abra.

__ADS_1


"Kak Abra sayang, silahkan diminum!" ujar Embun mesra, Abra tersenyum simpul.


"Sayang, kamu menggodaku!"


"Mama, makan malam sudah siap!" ujar Hanna lirih, Embun menoleh dan mengangguk. Embun mengajak semua orang menuju meja makan. Nampak Iman lesu, menyadari Afifah tidak ikut bersamanya.


"Abah, percayalah pada Kanaya. Dia putriku yang istimewa. Ketulusan hatinya mampu mengkikis hati yang keras seperti batu. Sekarang makanlah, selama ada Kanaya. Mama Afifah tidak akan lapar, bahkan mungkin mama Afifah tidak akan bersedih lagi!" ujar Embun, Iman diam tak menyahuti.


Nampak Kanaya datang dengan nampan yang sudah kosong. Embun tersenyum bangga, dia sudah yakin Kanaya mampu membujuk Afifah. Setelah meletakkan piring kotor di dapur. Kanaya duduk tepat di depan Haykal. Kanaya mengambil makanan kesukaannya. Kanaya terlihat santai, meski Haykal terua mengawasi gerak-geriknya. Sedikitpun Kanaya tak merasa risih akan kehadiran dan tatapan penuh kekaguman Haykal padanya.


"Kanaya, mama Afifah sudah makan malam!" ujar Embun, Kanaya mengangguk tanpa ragu.


"Apa yang kamu katakan? Sampai mama Afifah bersedia menyantap makan malamnya!"


"Aku tidak bicara apa-apa? Namun suara perut laparku yang terdengar nenek Afifah!"


"Maksudmu!" sahut Embun tidak mengerti.


"Aku belum makan sejak pagi, jadi perutku keroncongan tadi. Nenek Afifah mendengarnya, sebab itu dia bertanya. Kenapa perutku keroncongan?"


"Lalu, apa jawabanmu? Satu hal lagi, kenapa kamu tidak makan? Kalau sakit bagaimana?" ujar Embun kesal, Kanaya menoleh seraya tersenyum.


"Aku tidak bisa makan, ketika nenek Afifah tidak makan. Nenek Afifah ibu bagi mama, artinya dia ibuku juga. Aku merasa malu, ketika aku bisa makan dengan kenyang. Sedangkan ibuku merasa kelaparan. Sebab itu aku memilih tidak makan. Jika seorang ibu bisa menahan lapar demi putranya. Kenapa aku tidak bisa menahan lapar demi nenek Afifah? Aku teringat ketika mama merasa lapar, setelah aku menyusu pada mama. Sama halnya nenek Afifah yang pernah merasa lapar, setelah menyusui om Hanif. Aku tidak sanggup melihat seorang ibu menahan lapar. Hanya karena merindukan putranya. Seorang putra yang bahkan tak pantas mendapatkan kerinduannya. Jangan rasa rindu, bahkan kebencian nenek Afifah tak pantas untuk om Hanif dapatkan. Putra yang penuh keangkuhan akan hancur oleh ketamakannya sendiri!" ujar Kanaya kesal dan emosi. Seketika semua orang meletakkan sendoknya. Mereka merasa malu dengan sikap acuh mereka akan rasa sakit Afifah. Iman menunduk terdiam.

__ADS_1


"Kakek, maafkan Kanaya!" ujar Kanaya lirih.


"Tidak, kakek yang salah telah gagal mendidik Hanif!" ujar Iman lirih.


__ADS_2