
"Maaf, aku terlambat. Ada pasien gawat darurat. Terpaksa aku harus merawatnya terlebih dulu!" ujar Afifah, dia baru datang bersama Via. Keduanya baru pulang dari tugas malam.
Iman langsung mempersilahkan Afifah dan Via duduk. Iman yang datang pertama kali, tidak ada lagi orang yang datang. Rencana makan malam bersama. Entah kenapa menjadi terasa sunyi? Tak ada satu orangpun yang datang. Meja yang sengaja dipesan Iman, saat ini hanya terisi tiga orang dari sembilan orang yang seharusnya datang.
"Tidak perlu meminta maaf, kamu menjadi orang pertama yang datang setelah aku!" ujar Iman santai, Afifah menoleh ke kanan dan ke kiri. Afifah baru menyadari, ternyata yang dikatakan Iman memang benar.
"Kemana yang lain? Kenapa belum ada yang datang? Arya biasanya datang lebih dulu, jarang sekali dia datang terlambat!" ujar Afifah, Via yang duduk tepat di samping Afifah. Mengalihkan perhatiannya pada ponsel pintarnya. Via mencoba tidak peduli akan Arya atau hal lain.
"Entahlah, kemana semua orang pergi? Mereka membiarkan laki-laki tua ini menunggu!" ujar Iman dengan nada bercanda.
"Mereka tidak setuju dengan pertemuan ini!" ujar Afifah lirih, sontak Iman mendongak. Tatapannya tak percaya mendengar perkataan Afifah.
"Sejak kapan kamu punya pikiran sepicik itu? Kamu sendiri mendengar, bagaimana bahagianya mereka melihat hubungan diantara kita? Pantaskah, kamu berpikir seburuk itu tentang mereka!" ujar Iman dingin, sontak Afifah menunduk. Ada rasa bersalah, melihat amarah Iman.
"Maaf, aku salah berpikir seburuk itu!"
"Sudahlah Afifah, kamu tidak salah. Aku yang salah memilih hari. Lebih baik kita segera pesan makanan. Kamu pasti lelah setelah bekerja!" ujar Iman tegas tanpa basa-basi.
"Via, silahkan pesan makanan. Kamu pasti lapar, setelah bekerja seharian!" ujar Iman, Via mendongak menatap Iman. Via mengikuti permintaan Iman. Dia memesan makanan, Afifah terdiam membisu. Suasana hangat yang awalnya tercipta, berubah menjadi canggung. Hanya karena satu pemikiran yang terucap tanpa sengaja.
"Abah, maaf kami terlambat!" ujar Abra, Embun berjalan bersama Nur tepat di belakang Abra. Fahmi dan Ibra berjalan sedikit jauh di belakang Abra. Mereka berlima datang dengan satu mobil.
"Kemana saja kalian? Jam segini baru datang!"
"Salahkan Fahmi, dia yang mengemudikan mobilnya sangat lambat. Maklum abah, Fahmi tidak fokus menatap jalan. Dia lebih fokus menatap spion. Memandang wajah cantik yang terpantul di cermin!" ujar Abra, sontak Fahmi menatap Abra dengan tatapan kesal.
"Jangan percaya abah, jelas aku berjalan lambat. Jalanan macet, sebab hari ini malam minggu!" sahut Fahmi membela diri.
"Berisik!" sahut Embun dingin, Abra dan Fahmi langsung terdiam.
"Abah, maaf kami terlambat!" ujar Embun, lalu mencium punggung tangan Iman. Embun menghampiri Afifah yang sejak mereka datang hanya diam. Dugaannya salah, Afifah merasa malu akan perkataannya. Embun langsung menarik tangan Afifah. Mencium lembut punggung tangan Afifah. Nur melakukan hal yang sama. Dia mencium tangan Afifah sama seperti Embun.
__ADS_1
"Diakah Via yang dikatakan oleh papa. Cantik dan pintar, pantas papa menyukainya!" batin Embun, sesaat setelah dia mengutas senyum pada Via.
"Tidak apa-apa sayang? Lebih baik terlambat, daripada tidak sama sekali!" sahut Iman, Afifah semakin menundukkan kepalanya. Via mencoba berbaur dengan calon keluarga baru Afifah.
"Sayang, kamu ingin makan apa?" ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Nur tersenyum melihat gelengan kepala Embun. Entah kenapa tangan Nur langsung menyentuh perut Embun? Nur mengusap lembut perut Embun yang masih rata.
"Anak manis keponakan tante, kamu tidak lapar. Kenapa bundamu menggelengkan kepala?" ujar Nur lirih, seraya mengusap perur Embun.
"Tante Nur yang cantik, tadi aku sudah makan. Kalau terlalu kenyang, nanti bisa muntah!" sahut Embun, menyahuti Nur yang terus menggodanya. Nur selalu memaksa Embun untuk makan. Sebab itu tubuh Embun terlihat lebih berisi.
"Nur!" sapa Ibra lantang, seketika Nur menoleh ke arah Ibra.
"Kakak ipar saat hamil sangat menyusahkan. Padahal dia selalu mandiri dan menolak bantuan orang lain. Aku tidak bisa membayangkan, jika kamu yang hamil. Bisa-bisa kak Fahmi berhenti bekerja dan hanya menemanimu di rumah!" ujar Ibra santai, Nur langsung mengambil sendok yang ada di depannya.
Thuuukkkk
"Awwwwssss!" teriak Ibra, saat sebuah sendok melayang tepat ke arah keningnya. Ibra meringis kesakitan sembari mengusap keningnya yang memerah.
Buuugghh
"Jangan menggodanya terus, jika tidak ingin melihat piring terbang!" ujar Fahmi, sesaat setelah menepuk pelan pundak Ibra.
"Kak Abra, kak Fahmi memukulku!" rengek Ibra, Abra menatap tajam Ibra.
"Diam Ibra, ada dokter Afifah dan keponakannya. Jangan bersikap seperti anak kecil. Kamu yang memulainya, kenapa aku yang harus mengakhirnya!" ujar Abra lantang, Ibra menoleh ke arah Embun.
"Kakak Ipar!"
"Kak Abra benar, salah sendiri menggoda Nur. Sudah tahu Nur tidak bisa diajak bercanda!" sahut Embun lirih, Ibra menghela napas.
"Kalian menindasku!" teriak Ibra lantang, seketika semua orang tertawa. Tidak terkecuali Via yang merasa aneh melihat sikap Ibra.
__ADS_1
"Sudah cukup kalian bercanda, ingat ada tamu. Jangan sampai dia merasa bosan melihat kalian yang selalu ribut!" ujar Iman tegas, seketika semua terdiam. Iman pribadi yang disegani. Tak ada yang berani membantah perkataannya.
"Alvia Maulida Zahro, keponakan dokter Afifah!" ujar Iman mengenalkan Via. Semua orang mengangguk sembari tersenyum. Satu per satu mengenalkan diri. Tidak terkecuali Embun yang akhirnya melihat sendiri Via. Wanita muda yang mengusik hati Arya.
"Embun, dia seumuran dengan Nur. Jadi kalian bisa berteman!" ujar Afifah lirih, Embun mengangguk pelan.
"Embun, dia Via yang kamu ceritakan!" bisik Nur, Embun mengangguk mengiyakan.
"Cantik dan berpendidikan, pantas papa jatuh hati!" bisik Nur lagi, sekali lagi Embun hanya mengangguk. Pertemuan yang membuatnya semakin yakin. Jika ada rasa antara Arya dengan Via. Hubungan yang jelas akan menjadi sangat berbeda. Melihat perbedaan yang begitu besar diantara Arya dan Via.
Akhirnya semua orang menyantap makan malam dengan sangat lahap. Hanya Embun yang memilih memesan jus buah. Dia sudah makan malam. Suasana ribut berganti hening, hanya ada suara garpu dan sendok. Waktu bergulir begitu cepat. Hampir setengah jam mereka menyantap makan malam.
"Embun, kamu yakin tidak ingin memesan sesuatu!" ujar Afifah hangat, sikap penuh kasih sayang seorang ibu pada putrinya. Embun menggelengkan kepalanya.
"Jus ini sudah cukup!" sahut Embun, Iman menoleh ke arah Fahmi. Ada yang berbeda dengan sikap Fahmi yang lebih pendiam.
"Fahmi, apa Nur sudah menolak lamaranmu? Sampai aku harus melihat raut wajahmu yang sedih tanpa semangat!" ujar Iman, sontak Nur dan Fahmi menoleh bersamaan. Gelengan kepala keduanya, isyarat mereka tidak setuju akan perkataan Iman.
"Artinya Nur menerima lamaranmu!" sahut Arya dari arah belakang.
"Terlambat Arya, kami sudah selesai makan!" sahut Iman, Arya tersenyum simpul. Arya berdiri tepat di belakang Embun.
"Aku datang karena ingin bertemu Embun!" ujar Arya, lalu mengecup lembut puncak kepala putrinya.
"Dia putri om Arya!" batin Via, Arya melirik ke arah Via. Tatapan yang tanpa sengaja bertemu dengan tatapan Via.
"Kamu ingin bertemu Embun atau Via!" goda Iman, Arya langsung terdiam. Sedangkan semua orang menatap heran, mereka tidak percaya dengan perkataan Iman.
"Via dan om Arya, tidak mungkin!" ujar Ibra dengan lantangnya.
"Diam kamu!" sahut Arya ketus, Ibra langsung menunduk.
__ADS_1