
"Abra, kamu yakin akan pindah!"
"Meski aku tidak yakin, tapi aku tetap harus pindah. Ketenangan Embun harus terjaga. Tinggal di kediaman Abimata, hanya akan membuat Embun tertekan. Belum.masalah dengan keluarganya. Jujur Fahmi, aku tidak sanggup melihat hancur Embun. Kami menikah dengannya, agar dia bahagia. Bukan malam tertekan dengan masalah yang tak penting!" tutur Abra lirih, Fahmi mengangguk. Tatapan kosong Abra jelas mengatakan, semua terlalu berat dipikulnya.
"Baiklah, aku percaya keputusanmu benar. Namun rumah yang kamu pilih, apa tidak terlalu kecil? Rumah itu hanya setengah dari kediaman Abimata!" ujar Fahmi, Abra menatap Fahmi lekat. Perkataan Fahmi terasa lucu terdengar di telinga Abra.
"Rumah yang kamu pikir kecil, malah terlalu besar untuk Embun. Selama aku menikah dengan Embun. Aku belajar satu hal, nyaman dan bahagia. Tidak diukur dari kemewahan dan kekayaan kita. Rumah kecil akan terasa begitu nyaman. Ketika menghuninya dengan orang yang kita sayangi. Rumah kecil akan terasa bak istana. Saat kita bisa menghargai, siapa yang ada bersama kita? Memang harta takkan bisa terlepas dari gaya hidup. Namun semua tergantung cara kita mensyukurinya. Menerima semua yang ada, tanpa mengeluh atau berlebihan!"
"Bijaknya sahabatku, jadi ingin punya istri seperti Embun!" ujar Fahmi, Abra mengedipkan kedua matanya.
"Ada satu, sangat mirip dengan Embun. Mereka bak pinang di belah dua. Wajah, sikap, kepribadian, cara pandang dan gaya hidup keduanya sama. Bahkan mereka sama-sama memiliki kemampuan yang tidak bisa diragukan lagi. Arsitek yang berhasil membuat tuan Arya terkesima!" tutur Abra lirih, Fahmi langsung menatap tajam Abra. Seakan ingin mengenal wanita yang dimaksud oleh Abra.
"Aulia Nur Hikmah!"
"Siapa dia? Kenalkan aku padanya!" pinta Fahmi menghiba, Abra tersenyum simpul.
"Sahabat Embun, wanita yang dicintai Ibrahim Dwi Abimata!" sahut Abra santai, Fahmi langsung menunduk lesu. Saat dia mendengar nama Ibra disebut.
"Nasibku mungkin, mencintai wanita yang sama dengan penerus keluarga Abimata. Lebih baik aku mundur, daripada aku patah hati!"
"Pengecut!" ujar Embun lantang, Abra dan Fahmi langsung menoleh.
Mereka melihat Embun dan Nur datang bersamaan. Nur yang menjadi topik pembicaraan, seketika menundukkan kepalanya. Nur malu saat dirinya menjadi bahan pembicaraan Abra dan Fahmi. Jika boleh memilih, Nur lebih baik tidak ikut dengan Embun. Nur merasa tak berdaya, ketika Embun memelas padanya. Agar Nur menemani Embun masuk ke dalam rumah barunya.
"Bu bos!"
"Panggil aku Embun!" ujar Embun kesal, Fahmi tersenyum simpul.
"Maaf, Embun yang cantik!" ujar Fahmi, Abra langsung memukul lengan Fahmi.
Buuggghh
"Kamu bisa memanggil namanya, tapi tidak memujinya. Ingat, dari pujianmu bisa membuatmu jatuh hati lagi pada Embun!" ujar Abra kesal, Embun menghampiri Abra. Lalu merangkul tangan Abra, bersandar pada lengan Abra.
"Meski dia yang bertemu pertama kali denganku. Nyatanya aku hanya milikmu, dirimu yang akan selalu menjadi sandaranku. Terima kasih telah memberi hadiah terindah dalam hidupku!"
"Hadiah!" sahut Abra tak mengerti, Embun mengangguk.
"Putra buah hati kita dan rumah yang akan menjadi istana keluarga kecil kita!" ujar Embun, sembari bergelayut manja pada Abra. Sontak Abra menoleh, dia melihat kebahagian yang selalu ingin dilihatnya. Abra seakan bermimpi, ketika Embun mengatakan kebahagiannya.
__ADS_1
CUP
"Terima kasih, sudah bersabar demi diriku!" ujar Abra, sesaat setelah mengecup puncak kepala Embun. Abra menarik Embun dalam pelukannya. Mendekap erat tubuh Embun dalam hangat cintanya.
"Maaf tuan dan nyonya, bisa tidak bermesraannya di tunda. Kalian tidak melihat, ada dua hati yang merana. Setidaknya hargai kesedirian kami!" goda Fahmi, Nur menggeleng lemah. Isyarat dia tidak sependapat dengan Fahmi.
"Nur, apa kamu bersedia menikah dengan dia? Sudah lama dia hidup sendiri, takutnya kalau terlalu lama kesepian. Dia bisa kehilangan akal!" ujar Abra menggoda Fahmi.
"Tidak!" sahut Nur lantang.
Embun tersenyum mendengar jawaban Nur. Sebaliknya Fahmi menatap tajam Abra. Fahmi kesal mendengar Abra tengah mengolok-oloknya. Embun sudah menyadari rasa yang ada untuk Ibra di hati Nur. Namun ada ketakutan yang begitu besar, menjadi alasan Nur tidak ingin rasa itu bertahan.
"Bercanda Fahmi, lagipula kamu terlambat. Ibra sudah memberi sinyal pada Nur. Jadi untuk sementara waktu, lebih baik kamu berdiri di samping!" ujar Abra, Embun melepaskan pelukan Abra. Dia berjalan ke arah Nur, merangkul tangan sahabatnya.
"Nur, kamu akan terus diam!" ujar Embun santai.
"Aku hanya akan menikah dengan laki-laki yang datang pada orang tuaku!"
"Siapapun dia?" ujar Fahmi, Nur mengangguk pelan. Fahmi tersenyum, seolah dia masih memiliki kesempatan.
"Siapapun dia? Dengan syarat dia imam yang bertanggungjawab!" ujar Nur lirih.
Abra, Embun dan Fahmi memilih menjauh. Mereka tidak ingin ikut campur. Rasa yang dimiliki Ibra nyata untuk Nur. Namun ketakutan Nur akan keangkuhan dan hinaan Haykal juga nyata. Rintangan yang mungkin menyatukan mereka atau malah menjauhkan keduanya.
"Aku tidak bohong!" sahut Nur lantang, Ibra menghampiri Nur. Berdiri tepat di depan Nur, Ibra menatap Nur sangat dekat. Sampai Ibra bisa merasakan hembusan napas Nur.
"Jelas kamu akan menikah. Kamu sendiri yang mengatakannya!" ujar Ibra lantang, Ibra benar-benar merasa kecewa. Ketika dia mengetahui, jika Nur telah membohonginya.
"Aku tidak bohong. Bukankah aku hanya mengatakan secepatnya. Artinya akan cepat, bila sudah ada calonnya!"
"Nur, kamu sengaja mengatakan semua itu. Sebab kamu ingin menolakku!"
"Iya!" ujar Nur singkat, Ibra berjalan mundur.
"Kenapa?"
"Kamu putra kedua tuan Haykal. Sama seperti Embun, aku tidak ingin menjadi bagian keluargamu. Cukup aku yang terhina, tapi bukan kedua orang tuaku. Mereka berjuang membesarkanku dengan keringat dan lelah. Takkan kubiarkan, ayahmu menghina mereka hanya karena status yang berbeda!"
"Tapi!"
__ADS_1
"Maaf Ibra, kamu laki-laki tampan dan mapan. Akan banyak wanita yang bersedia menjadi pasanganmu. Namun bagiku kesempatan yang kamu berikan. Tidak lantas membuatku bangga dan yakin. Jika akan ada bahagia diantara kita. Terima kasih atas rasa yang kamu tawarkan, tapi sekali lagi maaf. Aku tidak terlalu pantas, bersanding dengan penerus keluarga Abimata. Aku tidak terlalu tangguh, menerima hinaan dari ayahmu. Aku tidak terlalu kuat, merasakan sakit akan perbedaan status. Aku tidak akan mampu berjalan di sampingmu. Ketika aku menyadari, langkah kita jauh berbeda. Satu langkahmu, harus kukejar dengan dua langkahku. Mungkin satu hari, satu minggu atau satu bulan aku masih mampu mengejarmu. Namun kelak akan ada waktu, ketika kakiku lelah dan tak sanggup mengejarmu. Waktu dimana hanya akan ada air mata yang tersisa?"
"Kamu terlalu jauh berpikir!"
"Aku harus berpikir sejauh itu, jika tidak ingin hidupku hancur!" sahut Nur tegas, Ibra menggelengkan kepalanya tidak percaya. Nur mampu mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Kamu tidak ingin memberiku kesempatan!"
"Ibra, lihatlah rumah ini. Kak Abra sengaja membangun rumah ini demi kenyamanan Embun. Rasa tenang setelah banyak kegelisahan yang dia rasakan. Butuh hampir tiga bulan, kak Abra memutuskan semua ini. Seandainya yang terjadi pada kak Abra, terjadi padamu. Berapa lama kamu akan memutuskan hal yang sama?" ujar Nur, Ibra diam membisu. Nur tersenyum melihat dia Ibra.
"Itulah alasan ketidakyakinanku, bukan membandingkan dirimu dan kak Abra. Namun kasih sayangmu pada tuan Haykal terlalu besar. Saat ini mungkin kamu ingin bersamaku, tapi suatu saat kamu akan mengacuhkanku demi tuan Haykal!"
"Nur, aku akan menyakinkan papa. Aku akan berusaha membuat papa menerimamu!"
"Tidak perlu Ibra, dulu kita teman dan sekarang juga teman. Hubungan yang pantas ada diantara si kaya dan si miskin!"
"Aku mohon, beri aku kesempatan!"
"Maaf, kita berbeda!"
"Nur!" panggil Ibra, ketika melihat Nur pergi.
"Aku bangga padamu, tetaplah teguh memilih keluargamu. Sebab seorang laki-laki wajib mengayomi keluarganya. Jangan memilih pasangan yang kelak akan menjauhkanmu dari keluargamu!" teriak Nur, Ibra menunduk lesu.
Buuugghh
"Dia mencintaimu dengan tulus. Penolakan dan kata maaf darinya. Bukti dia sangat menyayangimu. Ibra, wanita yang tidak egois dan memintamu tetap bersama keluargamu. Wanita itulah yang akan menjaga keluargamu melebihi dirinya sendiri. Jangan mundur hanya karena satu penolakan. Pembisnis sejati tidak takut gagal, meski puluhan kali dia gagal. Jadilah laki-laki sejati, buktikan kemampuanmu pada papa. Setelah itu, kenalkan Nur sebagai calon makmummu. Berjuang menjadi lebih baik, demi wanita yang kamu sayangi!" tutur Abra, tepat setelah menepuk pelan pundak Ibra.
"Tapi dia sudah menolakku!"
"Satu kali penolakan, bukan akhir dari perjuangan!" ujar Abra, Embun berdiri tepat di samping Abra.
"Nur itu cahaya, dia akan menerangi hati yang gelap. Tanpa gelap membutuhkannya atau tidak. Penolakannya, ibarat setitik cahaya. Agar kamu berjuang mencapai sukses. Lalu berlari menggapai cahaya cintanya dengan sepenuh hati. Namun jika kamu takut, lebih baik mundur dan mengaku kalah. Nur sahabatku tidak butuh lakiz-laki lemah. Dia butuh penopang yang tangguh. Sebab langkah ke depan akan jauh lebih sulit dan terjal!" ujar Embun menimpali.
"Aku akan berjuang!" ujar Ibra lantang.
"Bagus, berjuanglah dan semoga sukses!" ujar Abra, lalu pergi bersama Embun.
"Selalu pergi, sebelum aku meminta bantuannya!" batin Ibra kesal.
__ADS_1