
"Assalammualaikum!" sapa Rizal ramah, Embun dan Abra menoleh hampir bersamaan.
"Waalaikumsalam!" sahut Abra dan Embun hampir bersamaan. Rizal mengangguk pelan, menyapa dengan penuh keramahan pada Abra. Laki-laki yang telah menjadi imam dunia akhirat kakak angkatnya.
Abra mengeryitkan keningnya, antara percaya dan tidak mengerti alasan kedatangan Rizal. Abra merasa heran, dengan sedikit rasa tidak suka melihat kedatangan Rizal. Sedangkan Embun berjalan menghampiri Rizal. Seutas senyum nampak di wajah cantik Embun. Rizal membalas dengan senyum yang jauh lebih mempesona. Ketampanan Rizal terbungkus sempurna di balik keimanannya. Putra tunggal pemilik pesantren yang biasa di panggil Gus Rizal. Pesona yang membuat para santri dan santriwati terpesona. Namun hati sang Gus telah terpikat pada satu hati. Sebuah hati yang sampai detik ini belum ingin diungkapkan jati dirinya.
"Apa kabar Rizal?" ujar Embun, Rizal mengedipkan mata indah nan teduhnya. Dengan senyum manisnya, dia mengisyaratkan tengah baik-baik saja. Abra yang melihat interaksi Embun dan Rizal. Spontan menarik tangan Embun, menghentikan langkah Embun semakin dekat ke arah Rizal.
"Ada apa kak?" sahut Embun heran, hanya gelengan kepala yang terlihat dari Abra. Gelengan kepala yang menutupi rasa cemburunya pada Rizal.
"Kak Embun, selamat telah menjadi seorang nenek!" ujar Rizal, sembari merentangkan tangan. Isyarat Rizal meminta sebuah pelukan dari Embun. Dua bola mata Abra langsung membulat sempurna. Abra langsung menghampiri Rizal. Dengan penuh rasa percaya diri, Abra memeluk Rizal. Menggantikan Embun dan menerima ucapan selamat dari Rizal. Sikap spontan yang memancing gelak tawa Rizal dan Embun.
"Kak Abra tidak pernah berubah!" ujar Rizal santai, sesaat setelah melepaskan pelukan Abra.
"Maksudmu!" sahut Abra dingin, Rizal menahan tawanya. Rizal menatap Embun dengan sebuah isyarat yang hanya bisa dimengerti Embun dan Rizal. Sebuah isyarat yang menjawab rasa heran Embun akan sikpa Abra yang aneh.
Rasa cemburu Abra terlihat menggelikan di mata Rizal. Embun menganggukkan kepala, ketika dia mulai menyadari maksud perkataan Rizal. Dengan penuh kasih sayang, Embun merangkul lengan Abra. Menyandarkan kepalanya pada bahu Abra. Embun menepuk pelan dada Abra, merasakan jantung Abra yang berdegub begitu cepat. Kala rasa cemburu menguasai hati Abra.
"Kak Abra, dia adik angkatku. Hubungan kami akan seperti itu, tidak akan ada hubungan lebih dari itu. Dia putra kyai besar dan aku hanya santri biasa. Alasan tak pernah akan ada hubungan yang spesial di antara kami. Satu hal lagi, aku sudah sangat tua. Aku seorang nenek, tak pantas bagiku memiliki rasa pada laki-laki tampan dan alim seperti Gus Rizal!" tutur Embun, sembari menempelkan tangan tepat di jantung Abra.
__ADS_1
Rizal mengangguk setuju dengan perkataan Embun. Bukan karena perbedaan status keluarga, tapi lebih karena rasa hormat Rizal pada Embun. Sejak usia belia, Rizal dan Embun memiliki hubungan baik sebagai kakak dan adik. Tak ada alasan Rizal memiliki rasa pada kakak angkatnya. Bagi kedua orang tua Rizal, Embun sudah seperti putrinya. Meski Embun bukan santri tetap di pesantren. Namun hubungan baik Iman dan Kyai pesantren, membuat Embun memiliki tempat spesial di hati para pengurus pesantren. Termasuk di hati dan hidup laki-laki belia bernama Abdul Rizal Saputra.
"Perkatan kak Embun benar, aku dan dia hanya adik dan kakak. Aku tidak setuju, jika dia mengatakan dirinya tak pantas untukku. Sebaliknya aku yang merasa terlalu lemah, untuk menanggung kelebihan yang dimiliki kak Embun. Aku tidak menyalahkan kak Abra yang cemburu padaku. Sebab pesona kak Embun mampu menundukkan mata kaum adam. Hanya saja kak Abra bisa tenang. Sebab kakak cantikku tidak akan terpikat dengan hati dan pesona laki-laki lain. Sebab dalam hidupnya hanya ada kakak!" ujar Rizal hangat penuh ketegasan, Abra diam membisu. Raut wajah Abra memerah, dia merasa tak berdaya dengan rasa cemburunya.
"Salahkah jika aku cemburu!" ujar Abra lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Seolah dia setuju akan rasa cemburu Abra. Embun menggenggam erat tangan Abra, lalu menempelkan tepat di dadanya. Embun menutup matanya sejenak. Abra merasakan hangat genggaman tangan Embun. Hangat yang menyusup ke dalam hatinya yang dingin.
"Kakak berhak cemburu dan aku bahagia melihat cemburumu. Namun jangan pernah biarkan rasa cemburumu menguasai hati dan pikiran kakak. Aku berharap, ketika hati kakak cemburu. Pikiran kakak akan terus percaya pada kesetianku. Sebaliknya saat pikiran kakak marah akan rasa cemburu. Biarkan hati kakak tetap yakin, jika ketulusanku hanya untukmu seorang!"
"Kak Embun benar, lagipula sangat aneh. Jika mertua dan menantunya cemburu padaku!" ujar Rizal santai, Abra menoleh ke arah Rizal. Merasa aneh dengan perkataan Rizal sebaliknya Embun menggelengkan kepalanya pelan. Seakan perkataan Rizal sesuatu yang tidak masuk akal.
"Siapa?" sahut Abra lirih, Rizal menoleh ke arah Haykal yang tengah berjalan di lorong rumah sakit.
"Haykal!" sahut Abra tak percaya, Embun dan Rizal mengangguk hampir bersamaan. Abra diam merenung, mencari alasan Haykal cemburu pada Rizal.
"Rizal!"
"Iya kak!" sahut Rizal ramah, ketika Embun memanggilnya.
"Kenapa kamu bisa ada di kota ini? Bagaimana dengan pesantren tanpamu? Kamu menginap dimana?" ujar Embun tanpa jeda. Kecemasan Embun membuat Abra terdiam.
__ADS_1
"Aku sedang mengejar cintaku!" ujar Rizal santai, Embun menggelengkan kepala tidak percaya.
"Aku serius!"
"Aku ada janji dengan tuan Arya. Dia juga yang mengatakan kelahiran Hanna. Sebab itu Rizal datang menuju rumah sakit. Sekadar mengucapkan kata selama pada Embun dan Abra.
"Baiklah Rizal, kita bicara nanti setelah kamu bertemu dengan Rafan dan Hanna. Pasangan yang baru menyandang status ayah dan ibu.
Tap Tap Tap
"Haykal, Rafan ada di dalam masuklah!" ujar Embun lirih, sesaat setelah Haykal mencium punggung tangan Abra dan Embun. Haykal mengangguk menyapa Rizal. Sekali lagi Rizal melihat tatapan cemburu dari mata seorang suami padanya. Abra mengangguk, kini dia memahami perkataan Rizal tadi.
"Menantumu tampan dan baik, pasti Kanaya bahagia memiliki suami sebaik dia!" ujar Rizal memuji Haykal.
"Anda berlebihan!" sahut Haykal lirih, Rizal menatap lekat Haykal. Dengan penuh keramahan, Rizal mengulurkan tangan ke arah Haykal. Uluran pertemanan yang mengikis rasa cemburu.
"Aku bukan sainganmu, sebaliknya anggap aku sebagai temanmu. Satu hal yang mungkin membuatmu tenang. Bukan Kanaya yang ada di hatiku, tapi wanita yang tengah berjalan kemari bersama kedua orang tuanya!" ujar Rizal lirih, sontak semuanya serempak menoleh.
"Aira!" ujar Embun tak percaya.
__ADS_1