
"Abra, kamu baru pulang!"
"Iya tante" Sahut Abra, Indira mengangguk pelan.
Indira mengambilkan segelas air putih untuk Abra. Nampak jelas Abra kelelahan, Indira mengenal Abra sejak pertama dia menampaki dunia bisnis. Sikap tegas dan disiplinnya yang mengantar Abra bisa sejauh ini. Abra pribadi yang sangat teguh pada tanggungjawabnya. Dia akan menyelesaikan semua pekerjaannya tepat waktu. Seperti saat ini, Abra masih terjaga dan baru pulang larut malam. Rasa lelah sudah tidak bisa dikatakan. Namun lelah Abra semakin terasa, ketika dia harus menahan rindu dan gelisah memikirkan Embun di waktu yang sama. Abra benar-benar tak bisa fokus, jika tak mendengar suara Embun.
"Embun!"
"Terakhir tante melihat Embun, saat dia mengantar Nur. Saat makan malam, Embun tidak turun. Tante sudah memanggilnya, tapi Embun menolak!" Ujar Indira lirih.
"Aku sudah menduganya, Embun tidak akan makan sebelum melihatku!" Ujar Abra dengan nada lemah. Seakan dia menyesal telah pulang larut malam.
Indira mengangguk pelan, lalu memberikan sepiring makanan. Abra menoleh tidak mengerti, seutas senyum nampak di wajah Indira. Senyum hangat yang akan selalu terutas di wajah seorang ibu. Saat putranya lugu dan polos.
"Bawa makanan ini, Embun tidak turun makan malam. Mungkin dia ingin makan malam denganmu. Meski kamu sudah makan malam di luar. Kamu harus berpura-pura belum makan. Setidaknya demi menyenangkan hati Embun!"
"Baiklah!" Sahut Abra, lalu berjalan menuju kamarnya.
"Sayang!" Ujar Abra memanggil Embun. Nampak Embun terlelap, tubuh mungilnya meringkuk di bawah selimut tebalnya. Abra meletakkan nampan, tepat di atas meja nakas. Sebelah tempat tidur Embun, lalu Abra membetulkan selimut Embun.
"Selamat malam sayang, maaf kamu lama menungguku. Sampai akhirnya kamu tidur dalam kondisi lapar!" Ujar Abra lirih, lalu mengecup lembut kening Embun.
Tak berapa lama, terdengar suara air dari kamar mandi. Sejak sore Abra belum membersihkan diri. Pekerjaan benar-benar menyitanya waktunya. Namun sebisa mungkin Abra harus melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim. Abra mulai belajar memenuhi tanggungjawabnya pada sang pencipta. Belajar mengerti rasa syukur akan nikmat yang diterimanya.
Kreeekkkk
"Kamu pasti lelah, sampai kamu tak menyadari kedatanganku. Maaf sayang, saat kamu membutuhkan waktuku. Aku malah sibuk dengan pekerjaan. Sampai aku tak sempat mengabarimu. Salahku, malam ini kamu harus tidur dengan perut kosong. Seandainya aku bisa, akan kutinggalkan semua pekerjaan itu. Namun ada tanggungjawab yang tidak bisa kulepaskan begitu saja. Aku janji, setelah masalah ini selesai. Aku hanya akan menjadi milikmu dan calon buah hati kita!" Batin Abra, sembari menatap Embun. Abra keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Wajah teduh Embun, seketika membuat Abra merasa bersalah.
Abra berjalan menuju balkon kamarnya. Abra berdiri menatap langit malam yang sedikit terang. Bulan purnama tak menampakkan wajahnya, tapi bintang menghiasi malam dengan begitu indahnya. Abra merasakan dingin angin malam yang menyentuh tubuhnya.
Malam semakin larut, jam di dinding menunjukkan tepat 23.00 WIB. Satu jam lagi hari mulai berganti, pagi bersiap menyapa. Namun Abra tak bisa memejamkan kedua matanya. Air dingin mengguyur tubuhnya, membuatnya semakin terjaga. Rasa lelah setelah bekerja seharian, tak mudah hilang dari tubuhnya. Semakin terasa berat dengan beban yang sekarang dipikulnya.
"Huufff!" Terdengar helaan napas Abra, rasa lelah yang bercampur dengan rasa cemas.
"Ada masalah dengan pekerjaan? Sampai kakak terlihat begitu gelisah!" Ujar Embun, seraya memeluk tubuh Abra dari belakang. Embun menyandarkan kepalanya pada punggung tegap Abra. Tangan mungil Embun tak mampu memeluk sempurna tubuh gagah Abra. Namun pelukan hangat Embun, nyata mengusik hasrat dalam diri Abra.
"Biarkan aku memelukmu seperti ini. Setidaknya untuk beberapa menit lagi. Aku tidak ingin melihat lemahmu!" Ujar Embun, ketika merasakan tubuh Abra yang hendak memutar.
Abra mengangguk pelan, membiarkan Embun memeluknya dengan sangat erat. Sedikit rasa gelisah Abra terobati. Hangat pelukan Embun, menghapus dingin yang menusuk tulang Abra. Lama keduanya berada pada posisi yang sama. Embun menutup mata, merasakan hangat cinta yang mengalir dalam dirinya. Sebaliknya Abra menggenggam erat tangan Embun. Abra seolah takut Embuh melepaskannya. Genggaman Abra begitu erat, terasa menguatkan tubuh Embun yang lemah.
"Sayang, sudah larut malam. Lebih baik kita masuk. Angin malam tidak bagus, untuk kesehatanmu!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya. Menolak ajakan Abra, Embun merasa nyaman dengan posisi memeluk Abra dari belakang.
"Aku ingin tetap seperti ini, aku merindukanmu. Seharian kakak melupakanku, kakak sibuk dengan pekerjaan. Sampai kakak tidak menghubungiku!"
"Maaf sayang, aku benar-benar sibuk. Aku janji, tidak akan terulang lagi!"
"Tidak perlu minta maaf, selama kakak tidak mengkhianatiku. Aku akan belajar memahami kesibukanmu. Namun, aku tetap wanita berhati lemah. Jangan salahkan hati ini, jika kelak akan ada rasa curiga dan cemburu. Percayalah, jika saat itu datang. Bukan aku tidak percaya padamu, tapi saat itu mungkin hati dan tubuhku mulai lelah menunggumu. Sebab tenangku hanya saat bersamamu!" Tutur Embun, Abra menganggukkan kepala. Meski anggukan kepalanya takkan bisa dilihat oleh Embun. Namun diam Abra, seolah mewakili suara hati terdalamnya. Suara hati yang juga takut kehilangan Embun.
"Sayang, kita masuk. Aku akan mengambilkan makanan untukmu. Kamu belum makan malam!"
"Aku tidak lapar!" Sahut Embun santai, Abra merasa tak sabar. Abra memutar tubuhnya, lalu menarik dalam dekapannya. Abra begitu cemas dengan kondisi Embun yang terus menurun.
Abra hanya bisa diam melihat penolakan Embun. Rasa lapar yang sesungguhnya dirasakan Embun. Gelisah yang mengusik hati Abra. Sepenuhnya kalah oleh rasa mual yang dialami Embun. Abra tak dapat memaksa Embun, sekali pernah Abra memaksa Embun untuk makan. Bukan tenaga yang didapatkan Embun, malah tubuhnya semakin lemah. Ketika semua makanan keluar tanpa sisa.
"Kamu menginginkan sesuatu!" Ujar Abra lirih, sembari memeluk erat Embun. Sesekali Abra mencium puncak kepala Embun.
__ADS_1
"Tenangmu, aku hanya ingin melihat itu!"
"Sayang!" Ujar Abra, seolah dia merasa Embun tengah mempermainkannya.
"Aku serius, aku hanya ingin melihat tenangmu. Bukankah sudah seharian kakak di kantor. Lalu, kenapa saat di rumah kakak masih gelisah memikirkan pekerjaan? Jika memang ingin membuatku bahagia. Hanya dengan tenangmu, aku bahagia!"
"Aku tidak memikirkan pekerjaan!"
"Aku memang wanita desa, tapi aku wanita yang kamu ikat dengan ijab qobul yang suci. Percaya atau tidak, janji suci yang kita ucapkan. Membuatku merasakan kegelisahanmu, tanpa aku harus mendengar alasannya!"
"Sumpah, aku tidak memikirkan apapun?" Sahut Abra mengelak, menutupi rasa gelisah yang menguasai hatinya.
"Kalau begitu, kakak tidak perlu cemas memikirkan laparku. Jika kakak mampu menutupi gelisah, kenapa aku tidak bisa menahan laparku? Ingat kak, putramu sedang lapar dan haus. Namun dia tidak akan makan, ketika dia merasakan papanya yang sedang gelisah!" Ujar Embun santai, Abra seketika terdiam.
Embun melepaskan pelukan Abra, lalu berdiri tepat di depan Abra. Kedua saling menatap penuh cinta. Embun mengalungkan kedua tangannya di pundak Abra. Dengan sedikit berjinjit, Embun mencium kening Abra dengan begitu mesranya. Malam gelap nan dingin, seakan menyambut hangat dua sejoli yang tengah saling menguatkan.
"Cinta itu sebuah pengertian dan kejujuran. Tak seharusnya kakak menyimpan duka. Jika nyatanya aku bisa merasakan sakitnya. Aku dan putramu ada bersamamu. Kamu tidak akan sendiri menghadapi setiap masalahmu. Mungkin dulu, lelah dan gelisahmu hanya kamu yang merasakannya. Namun saat ini ada aku dan dia yang merasakannya. Jika kamu gelisah, maka tidak akan ada tenang untukku dan dia!" Tutur Embun hangat, lalu menuntun tangan Abra mengelus lembut perutnya yang masih rata.
"Dia kak, dia yang akan menjadi penyemangatmu. Meski saat ini dia masih sangat kecil. Namun percayalah, dia ada sebagai penguat di kala rapuh kita!"
"Sayang, aku baik-baik saja!" Ujar Abra, lalu membungkuk mencium lembut perut Embun yang masih rata.
"Kakak diam, dia lapar. Sekarang aku masuk, mataku mulai mengantuk!" Ujar Embun final, lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Embun benar-benar teguh pada pendiriannya. Sebuah sikap yang memang ada sejak Embun belum mengenal Abra.
"Tunggu sayang!" Ujar Abra, sembari menahan tangan Embun. Sontak Embun menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Abra.
"Kamu akan makan, setelah aku jujur!"
"Kakak bicara, aku akan makan. Putramu tidak akan mengingkari janjinya!" Ujar Embun dengan senyum simpul nan manis.
"Baiklah, aku akan bicara. Dengan syarat, apapun yang kamu dengar? Tidak akan menjadi beban pikiranmu. Kehamilanmu sudah cukup membuat tubuhmu lemah. Aku tidak ingin melihat stres!" Ujar Abra, Embun mengangguk setuju.
"Kak!"
"Apa sayang? Kamu sudah janji tidak akan memikirkannya!" Ujar Abra tegas, Embun mengangguk mengiyakan.
"Lalu!"
"Aku hanya ingin mengatakan pendapatku!"
"Katakan, jika itu bisa membuatmu tenang!" Ujar Abra, Embun menghela napas. Lalu, dengan penuh kasih sayang Embun menggenggam tangan Abra.
"Kak, mungkin aku bukan pembisnis hebat sepertimu. Namun ada satu keahlianku yang belum kakak ketahui. Jujur kak, dalam diri wanita desa ini. Ada satu kemampuan yang mungkin bisa membantumu!" Ujar Embun penuh percaya diri, Abra menggelengkan kepalanya. Dia menolak bantuan Embun, tanpa bertanya apa yang bisa dilakukan Embun?
"Kamu janji hanya ingin tahu, tidak untuk memikirkannya!"
"Aku mohon, dengarkan aku sebentar saja!" Rengek Embun, Abra diam mendengar rengekkan Embun. Lalu terdengar helaan napas Abra. Isyarat Abra tak mampu menolak permintaan Embun. Sontak Embun bersorak gembira. Embun seakan mendapatkan mainan yang diinginkannya selama ini. Lebih tepatnya Embun mendapatkan kesempatan menunjukkan kemampuannya.
"Beri aku waktu dua hari, aku akan membuatkan cetak biru yang baru. Nanti kakak bisa mengajukannya pada investor. Jika desainku diterima, kakak harus membayarku secara profesional!"
"Tidak mungkin!"
"Kenapa tidak mungkin? Kakak meremehkanku!" Ujar Embun kesal, Abra menatap lekat Embun. Lalu mengangguk dengan begitu tegasnya. Embun langsung menekuk wajahnya, rasa kecewa dan kesal yang bercampur menjadi satu.
"Sayang, dua hari tidak mungkin bisa menyelesaikan satu cetak biru!"
__ADS_1
"Kalau aku bisa, bagaimana?" Tantang Embun, Abra menarik tangan Embun. Memeluk Embun, sampai Embun berdiri begitu dekat dengannya.
"Akan aku penuhi permintaanmu. Jangankan bayaran secara profesional. Apapun keinginanmu akan aku kabulkan?"
"Janji!"
"Hmmm!" Sahut Abra dingin, sembari mengangguk.
"Kita sepakat, besok aku akan bekerja sampai dua hari ke depan. Aku hanya butuh konsep dan tema yang diinginkan para investor. Aku juga ingin meninjau lokasi. Sebelum aku memulai bekerja!"
"Sayang, jika kamu kalah. Apa yang aku dapatkan?"
"Apapun yang kakak inginkan!" Ujar Embun lantang, lalu melepaskan diri dari pelukan Abra. Embun berjalan keluar dari kamarnya dan Abra mengikutinya dari belakang.
"Sayang, kita kemana?"
"Dapur!"
"Untuk apa? Ini sudah tengah malam. Semua orang sudah tidur!"
"Aku dan putramu kelaparan. Aku ingin makan ayam goreng!" Ujar Embun santai, sembari terus melangkah menurui tangga. Tepat di anak tangga terakhir, Embun menoleh ke arah Abra.
"Kenapa senyumnya begitu menakutkan? Apa yang sedang dia rencanakan?" Batin Abra gelisah, ketika melihat senyum Embun.
"Ada apa?" Sahut Abra dingin, Embun tersenyum simpul.
"Kakak yang akan menggoreng ayamnya dan membuat sambal untukku!"
"Aku tidak bisa!"
"Pasti bisa, demi aku dan putra kita. Aku akan membantumu!" Ujar Embun memaksa, Abra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sayang, kenapa semua yang kamu inginkan harus dipenuhi? Apalagi, alasannya pasti demi putra kita!" Ujar Abra kesal, Embun tertawa lirih.
"Itulah nikmat menjadi ibu hamil!" Sahut Embun santai, Abra diam menatap lekat Embun yang terlihat begitu bahagia.
"Meski kamu tidak hamil, aku akan memenuhi semua keinginanmu. Aku akan menjadi apapun seperti yang kamu inginkan. Asalkan aku terus melihat bahagiamu!" Batin Abra.
"Kamu baru pulang!" Sapa Abra, ketika melihat Ibra pulang masih dengan pakaian kantor. Ibra mengangguk mengiyakan, Embun mulai melihat kepedulian Abra pada Ibra.
"Jalanan macet, ada tanah longsor. Beruntung aku bisa pulang!"
"Baiklah, segera istirahat!" Pinta Abra, Ibra mengangguk. Ibra berjalan menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti saat mendengar panggilan Embun.
"Ada apa kakak ipar?"
"Kamu sudah makan, jika belum kita makan bersama. Kakakmu Abra akan memasak untukku!"
"Serius, memangnya kak Abra bisa!"
"Jika penasaran, ikut saja. Kapan lagi seorang CEO perusahaan besar? Membuatkan makan malam untukmu!" Goda Embun, Ibra mengacungkan jempolnya ke udara.
"Kak Abra, bisa masak?" Ujar Ibra tak percaya.
"Hmmmm!" Sahut Abra dingin, Ibra dan Embun langsung tertawa.
__ADS_1
"Tertawa sepuasnya, jika bukan demi putraku. Jangan harap aku membuatkan makan malam untuk kalian!"
"Akhirnya, aku merasa begitu dekat denganmu kak. Terima kasih Embun, kamu membuatku dekat dengan kakak yang aku rindukan. Aku memang kehilangan cinta pertamaku, tapi aku mendapatkan cinta yang kurindukan!" Batin Ibra bahagia.