KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Berjuang


__ADS_3

"Minum kak Fahmi!" sapa Embun ramah, seraya meletakkan secangkir kopi tepat di samping Fahmi.


Embun yang kebetulan melihat Fahmi duduk sendiri di ruang tengah rumahnya. Secara spontan membuatkan secangkir teh dan makanan ringan. Embun melihat kegigihan seorang Fahmi, laki-laki yang memilih mundur dari kisah cintanya dengan Nur sahabatnya. Embun merasa ada sesuatu yang mengganjal dan takkan mudah diungkapkan oleh Fahmi.


Nampak Fahmi begitu sibuk dengan layar laptop, tapi sesekali Embun melihat Fahmi termenung memikirkan sesuatu. Entah ini berhubungan dengan Nur atau tidak? Namun satu hal yang pasti, Nur dan Fahmi sama-sama merasakan cinta. Keduanya saling terikat dan memiliki ketulusan di dalam hatinya. Namun status keluarga Nur, membuat Fahmi merasa tidak mampu menjaga Nur.


"Terima kasih!" ujar Fahmi, Embun mengedipkan kedua matanya. Embun duduk tepat di depan Fahmi. Jarak yang pantas antara Embun dan Fahmi. Namun sebenarnya, sebelum Embun bertemu dengan Fahmi. Dia sudah meminta izin pada Abra. Ada sesuatu yang ingin dikatakan Embun pada Fahmi.


"Kak Fahmi, bisa kita bicara!" Ujar Embun, Fahmi langsung mendongak.


Nampak raut wajah heran Fahmi, melihat sikap hangat yang tiba-tiba ditunjukkan oleh Embun. Fahmi diam menatap Embun, lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar. Gerimis yang turun menambah syahdu hati Fahmi. Rasa gundah yang terasa nyata mengisi hatinya kini. Fahmi bingung dengan perasaannya saat ini. Hati dan keputusannya tidak sejalan. Meninggalkan kegundahan yang tak mudah ditenangkan.


"Jika semua ini tentang Nur, maaf aku tidak bisa!"


"Kenapa?" sahut Embun tidak mengerti.


"Sebab tidak ada yang harus dikatakan, aku tidak perlu mendengar atau mengatakan alasanku!"


"Sejak kapan seorang Fahmi Achmad Maulana menyerah sebelum berjuang?"


"Sejak sahabatmu mengusik hariku!" sahut Fahmi dingin, Embun tersenyum mendengar kejujuran Fahmi. Nampak jelas Fahmi gelisah memikirkan hubungannya dengan Nur.


"Lantas, kenapa kakak menolak rasanya?"


"Aku tidak ingin dia tersakiti. Meski aku percaya, Nur tidak pernah peduli akan status sosialku. Namun aku sangat peduli akan bahagianya. Kesempurnaan menjadi bagian dalam dirinya. Jika aku menyetujui hubungan ini, akankah dia mendapatkan kebahagian. Sudah cukup Nur terluka dengan masa lalunya. Haruskah aku menerima hubungan ini dan tanpa sengaja menyakitinya lagi. Aku peduli akan kebahagiannya, sebab hanya itu caraku mencintainya. Memberikan kehidupan mewah, jelas aku tidak akan mampu. Status sosialnya sudah membuatnya melebihi dariku!"

__ADS_1


"Itu bukan kepedulian Fahmi, tapi luka yang kamu torehkan padanya. Kamu menyiratkan luka dalam halus penolakanmu. Sungguh Fahmi, kamu membuatku tak percaya. Laki-laki sehebat kamu, mampu menyakiti tanpa melukai!" ujar Arya lantang, Abra yang berjalan tepat di belakang Arya hanya terdiam.


Abra sangat mengenal Fahmi, persahabatan mereka terjalin sangat erat. Abra tak mampu mengatakan isi hati Fahmi yang sebenarnya. Seberapa besar rasa sayang Fahmi pada Nur? Sedalam apa nama Nur tersimpan dalam hati Fahmi? Sikap yang tunjukkan Fahmi saat ini. Tak lebih dari rasa takut akan kehilangan Nur. Fahmi memilih sakit, daripada harus melihat Nur tersakiti.


"Tuan Arya!"


"Kenapa kamu berpikir Nur akan bahagia dengan keputusanmu? Aku malah meragukan ketulusan cintamu pada Nur!" ujar tuan Arya, Fahmi langsung mendongak. Dia menatap Arya dengan tatapan tajamnya. Seolah Fahmi marah dengan pemikiran Arya.


"Sudahlah papa, kak Fahmi punya pemikirannya sendiri. Biarkan kak Fahmi memilih jalan cintanya sendiri. Lagipula, dua minggu lagi Nur akan ke luar negeri. Dia akan menikah dengan imam pilihan orang tuanya!"


"Sayang, aku pikir kalian berdua bercanda. Jadi semua itu serius!" ujar Abra, Embun mengangguk tanpa ragu. Fahmi terdiam menunduk. Fahmi tidak percaya, jika Nur akan menikah secepat itu.


"Kak Fahmi, semoga kakak bahagia dengan keputusan ini. Aku kecewa mengetahui kakak memilih mundur. Sebab keputusan kakak yang kini membuatku jauh dari Nur sahabatku!" ujar Embun, lalu berjalan meninggalkan Fahmi bersama Abra dan Arya.


Fahmi menunduk, tangannya mengepal erat. Jelas Fahmi menyimpan beban yang tak biasa. Abra menepuk pelan pundak Fahmi. Memberikan semangat pada sahabat yang sudah selayaknya saudara. Fahmi tak mampu jujur pada semua orang. Namun Abra bisa memahami Fahmi, tanpa Fahmi mengatakan semuanya.


"Ada tuan Arya?"


"Kamu mencintai Nur?" ujar Arya, Fahmi mengangguk pelan.


"Kamu ingin menikah dengan Nur?" ujar Arya lagi, Fahmi mengangguk tanpa berani menatap Arya.


Braaakkk


"Ambil berkas itu dan buktikan pada Dirgantara. Kamu mampu menjadi imam putrinya!" ujar Arya, sesaat setelah melempar sebuah berkas tepat di atas meja.

__ADS_1


Fahmi mengambil berkas, dia mempelajari detail yang tertulis di dalam berkas. Abra sekilas melirik, berkas yang ada di tangan Fahmi. Bukan berkas biasa, melainkan mega proyek yang tengah di kerjakan oleh Dirgantara. Kebetulan perusahaan Arya yang mendapatkan proyek itu. Namun kasih sayangnya pada Nur, membuat Arya memilih menyerahkan proyek itu pada Abra dan Fahmi. Jika dengan status Fahmi tidak mampu menyamakan diri dengan Nur. Setidaknya Fahmi bisa membuktikan diri, dia mampu sukses dengan kerja kerasnya.


"Kenapa papa memberikan proyek ini pada kami?" ujar Abra tak mengerti. Abra merasa proyek yang diserahkan Arya bernilai fantastis. Keuntungan yang tak sedikit akan didapat Arya. Jika proyek ini selesai tepat waktu.


"Karena papa menyayangi kalian semua. Kamu imam dari putriku Embun dan Fahmi calon imam yang diimpikan putriku Nur. Sebagai ayah yang menyayangi putri-putrinya, aku mampu melakukan apapaun. Termasuk menyerahkan proyek sebesar itu. Rasa sayangku pada Embun dan Nur, lebih besar dari nominal rupiah yang akan aku dapatkan dari proyek itu. Kasih sayang yang takkan pernah aku gadai dengan harta!" ujar Arya tegas, Fahmi diam membisu.


Buuugh Buuugh Buuugh


"Fahmi, aku melakukan semua ini bukan untuk menghinamu. Aku menyayangi Nur dan aku ingin melihatnya bahagia. Hanya bersamamu dia bahagia. Berjuanglah Fahmi, selesaikan mega proyek ini. Agar kamu percaya, jika kamu mampu sukses tanpa bantuan siapapun? Kalian berdua akan mendapatkan keberhasilan, jika kalian saling mendukung. Jangan gadaikan rasa cintamu pada Nur. Dengan harta dan status yang tak sebanding dengan nilai cinta putriku Nur. Aku memang tidak mengenal Dirgantara, tapi aku percaya dia bukan seorang ayah yang kejam. Apalagi setelah menyadari, kebahagian Nur hanya ada bersamamu!" ujar Arya, tepat setelah dia menepuk pundak Fahmi. Sekilas nampak anggukan kepala Fahmi. Arya tersenyum melihat rasa percaya diri Fahmi yang telah kembali.


"Papa!" ujar Abra, Fahmi menatap haru Arya.


"Bangkit dan berjuanglah bersama, papa akan mendukung langkah kalian. Jangan pernah takut gagal, sebab kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Namun menyesallah, jika kalian gagal tanpa berjuang!"


"Tuan Arya, terima kasih!"


"Fahmi, aku percayakan kebahagian Nur!" ujar Arya tegas, Fahmi mengangguk lalu memeluk erat Arya.


"Tuan Arya, terima kasih!" ujar Fahmi, Arya mengangguk pelan.


"Belajarlah memanggilku papa, sebentar lagi kamu akan menjadi putraku sama seperti Abra!" ujar Arya, Fahmi mengangguk ragu.


"Abra, papa percayakan Fahmi padamu. Lakukan semua ini demi Nur, sahabat sekaligus saudara istrimu!"


"Siap pa!" ujar Abra lantang, Arya tertawa melihat Abra yang mengambil sikap hormat padanya.

__ADS_1


"Aku pergi menemui Rafan, kalian menyita waktuku!"


__ADS_2