KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kejujuran Haykal


__ADS_3

"Selamat malam tuan Hanif Adijaya!"


"Anda!" sahut Hanif kikuk, Embun mengangguk pelan. Sekilas nampak senyum di wajah Embun. Tersenyum pada adik yang tak pernah ingin mengenalnya. Bahkan mungkin sangat membencinya.


"Bagaimana kondisi perusahaan Adijaya? Aku harap semua baik- baik saja!"


"Kenapa anda bertanya?" ujar Hanif dingin, Embun menggeleng lemah.


"Aku hanya bertanya tanpa maksud apapun. Satu hal yang harus kamu ketahui, sekuat-kuatnya perusahaan Adijaya berdiri. Jika pondasinya mulai retak, lama-kelamaan perusahaan Adijaya akan runtuh. Hanya tinggal menghitung hari. Sebab keruntuhan perusahaan Adijaya akan segera terjadi!" ujar Embun sinis, Hanif menatap tajam. Seakan Hanif tidak suka dengan cara bicara Embun.


"Sekarang semuanya terlihat jelas. Kamu bukan orang baik, seperti perkataan Aira. Sebaliknya kamu sangat kejam, sampai kamu ingin melihat keruntuhan perusahaan keluargamu!"


"Aku tidak akan sekejam ini, seandainya kamu peduli akan rasa sakit ayah yang membesarkanku. Satu hal yang harus kamu pahami, keruntuhan perusahaan Adijaya. Bukan karena doa atau harapanku. Melainkan hilangnya satu tiang penyangga. Tiang kokoh yang tak pernah kamu anggap dan akhirnya kamu buang begitu saja. Seorang pewaris tunggal Adijaya yang selama ini memperkokoh perusahaan ini!"


"Maksudmu papa, dia laki-laki yang tak pernah bisa mempertahankan rumah tangganya. Seorang ayah yang tak pernah bisa membahagiakan putranya. Seorang kepala keluarga yang tak mampu melindungi anggota keluarganya. Laki-laki seperti itu, tidak lebih dari laki-laki tak berguna!" ujar Hanif dingin, Embun tersenyum sinis.


Embun berjalan menghampiri Hanif. Tak ada rasa sayang di mata Embun untuk Hanif. Sekarang dia ingin berperang dengan Hanif. Bukan demi harta atau pengakuan, tapi demi kehormatan ayah yang telah membesarkannya dengan cinta.


Embun mengedarkan pandangannya. Kebetulan malam ini diadakan pesta besar untuk keberhasilan Arya Arshan Adiputra. Pesta besar yang diadakan di sebuah hotel berbintang lima. Embun dan Hanif menjadi salah satu tamu undangan. Nampak Arya dengan penampilannya yang gagah. Fitri terus berada di samping Arya. Dengan wajah yang tertutup sempurna oleh cadar. Fitri terlihat anggun dan serasi menemani Arya. Sedangkan Aira terlihat duduk di salah satu meja. Aira memilih duduk sendiri, pribadi pendiamnya tak lantas membuat Aira mudah bergaul dengan para tamu undangan.


"Laki-laki tak berguna itu bukan abah Iman, tapi kamu. Laki-laki yang tak pernah menghargai cinta tulus, dia itu seburuk-buruknya laki-laki. Malam ini, kamu akan melihat seberapa tidak bergunanya dirimu. Di depan kedua matamu, kamu akan melihat orang yang pernah mencintaimu dengan tulus. Menemukan kebahagian sejatinya, menggenggam erat tangan laki-laki lain. Saat itulah, kamu akan merasa tak berguna. Jangankan melindungi perusahaanmu, menghargai orang yang mencintaimu kamu tidak sanggup!"


"Apa maksudmu? Apa sebenarnya rencanamu?"


"Kamu akan mengetahui jawabannya di waktu yang tepat. Fokuslah pada keluarga papa Arya, kamu akan menemukan jawaban dari rasa penasaranmu!" ujar Embun, sembari menatap lurus ke arah Aira.


Sebuah malam yang akan membuat Hanif kehilangan harapan cintanya. Malam yang takkan pernah dibayangkan, oleh Hanif ataupun Aira. Malam yang menghapus cinta diantara keduanya. Sebuah isyarat, rasa mereka takkan mudah bersatu. Bahkan mungkin takkam pernah menyatu dalam satu ikatan suci.


Embun melangkah dengan anggun menghampiri Abra. Nampak Abra berdiri diantara Arya dan Haykal. Iman sengaja tidak datang, dia tidak ingin terjadi kakacauan. Sebab Hanif pasti hadir sebagai salah satu tamu undangan. Embun menoleh ke arah Aira, terlihat Fitri menggendeng tangan Aira. Mengajak Aira menemui Arya. Aira terus tertunduk, menjaga pandangannya. Agar tak ada napsu yang menodai kesucian matanya.


"Haykal, dia putriku Khumaira Nabila Ikhsani. Kami biasa memanggilnya Aira!" ujar Arya lirih, Haykal menoleh ke arah Aira. Dengan seutas senyum Haykal mengiyakan perkataan Arya.


Haykal menangkupkan kedua tangannya. Menyapa hangat Aira yang tengah berdiri tepat di depannya. Aira mendongak, menatap hangat Haykal. Kedua tanggannya tertangkup, membalas keramahan Haykal. Sikap hangat dan nyaman yang tiba-tiba tercipta. Arya tersenyum penuh rasa bahagia. Sebuah senyum yang mungkin menjadi air mata putrinya. Abra dan Embun memilih diam, meski keduanya mengetahui rencana Arya. Embun dan Abra memilih tak ikut campur. Sedangkan Fitri percaya sepenuhnya dengan keputusan Arya.


"Putri tuan Arya cantik dan sopan. Wanita idaman setiap imam!" ujar Haykal memuji Aira, Arya mengangguk mengiyakan perkataan Haykal.


Arya mengajak semua orang duduk di satu meja besar. Sebuah keluarga besar yang tiba-tiba tercipta. Arya sengaja menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Termasuk satu meja besar, untuk satu keluarganya. Tak berapa lama, Kanaya datang dengan penampilan yang berbeda. Kanaya menjelma menjadi wanita anggun. Arya bahagia menyambut cucu perempuannya yang istimewa. Meski Arya menyadari, Kanaya lebih dekat dengan Iman. Namun itu tak lantas membuat Arya menjauh dari Kanaya.


"Assalammualaikum!" sapa Kanaya ramah, semua orang tersenyum.


"Waalaikumsalam!" sahut mereka semua serentak. Kanaya berjalan memutar, mencium satu per satu punggung tangan keluarga besarnya. Termasuk punggung tangan Aira, saudara perempuan Embun yang sudah selayaknya ibu baginya.

__ADS_1


Haykal tak berhenti menatap Kanaya. Gamis sederhana nan anggun, dipadukan dengan hijab panjangnya. Membuat Kanaya terlihat begitu sempurna. Kanaya bak wanita dewasa yang penuh dengan pesona. Harum parfum Kanaya yang tak sengaja tercium Haykal. Semakin membuat Haykal mabuk kepayang. Helaan napas Haykal terdengar begitu berat, ketika Kanaya melewatinya begitu saja. Nampak Kanaya menghampiri Abra yang duduk tepat di samping kiri Haykal. Sedangkan Arya duduk di samping kanan Haykal. Haykal merasa teralihkan, Kanaya tak sedikitpun peduli akan kehadirannya.


"Kanaya, kamu datang dengan siapa?" sapa Arya hangat, Kanaya menoleh dengan seutas senyum yang sejenak mengalihkan dunia Haykal. Pesona Kanaya membuat Haykal tak berdaya. Kekaguman yang semakin nyata, seiring kebencian Kanaya padanya.


"Kanaya datang sendiri menggunakan motor. Sebab tadi Kanaya berangkat dari rumah kakek Iman!" ujar Kanaya santai, Arya dan Haykal seketika terhenyak kaget. Keduanya tak percaya mendengar penjelasan Kanaya. Kegelisahan dan rasa takut akan terjadi sesuatu pada Kanaya.


"Kenapa tidak mengatakan pada kakek? Agar kakek bisa mengirim seseorang menjemputmu. Terlalu bahaya kamu pergi sendirian. Apalagi malam hari, kalau terjadi sesuatu padamu bagaimana?" ujar Arya kesal, Haykal mengangguk setuju dengan perkataan Arya. Kanaya menunduk, bukan karena merasa bersalah. Namun Kanaya terlalu malas meladeni amarah Arya.


"Embun, kenapa kamu biarkan Kanaya pergi sendirian?" ujar Arya dengan nada tinggi. Embun terdiam membisu, Abra menggenggam tangan Embun. Menguatkan Embun dari amarah sesaat Arya. Sebaliknya nada tinggi Arya, mematik emosi amarah Kanaya. Seketika Kanaya mengangkat kepalanya. Dengan tatapan tajam, Kanaya menatap Arya. Nampak jelas rasa kesal Kanaya.


"Kanaya, jaga sikapmu!" ujar Embun lirih, Kanaya langsung menunduk. Kala Embun menggelengkan kepala ke arahnya. Meminta Kanaya berhenti bersikap tak pantas pada Arya.


"Tapi ma!"


"Kakek Arya berhak marah, mendengar situasimu yang bahaya. Amarah kakek Arya, bukti dia menyayangimu. Pahamilah, tak semua orang percaya akan kemampuan kita. Sebaliknya tak semua orang sepaham dengan pemikiranmu. Hormati keputusan setiap orang, jangan menganggap kamu yang paling benar!"


"Sayang, maafkan kakek!" ujar Arya lirih, ketika menyadari Kanaya terluka dengan kekhawatirannya yang terbalut amarah.


"Papa, Kanaya yang salah. Jangan meminta maaf padanya. Ada kalanya Kanaya memahami posisinya. Sebelum dia menganggap semua orang bersalah. Meski Kanaya tidak sepaham, dia tidak pantas membantah perkataan orang yang lebih dewasa!" sahut Embun dingin, Kanaya menunduk semakin dalam. Tangannya menggenggam erat ujung hijabnya.


"Maaf, Kanaya tidak akan melakukannya lagi!" sahut Kanaya lirih, Arya diam menatap nanar cucu perempuannya. Jarak yang tak terlihat, kini semakin melebar. Arya merasa bodoh dengan amarahnya. Meski rasa sayangnya menjadi alasan amarahnya.


Kanaya tetap menunduk, terdiam menahan hatinya yang tiba-tiba terasa ngilu. Haykal menatap lekat Kanaya, terlihat Kanaya menyeka air matanya. Haykal merasakan sakit yang teramata dihatinya. Tangis tanpa suara Kanaya, bak sebilah pisau tajam yang menancap tepat di jantungnya. Haykal merasa tak berdaya, Haykal merutuki kelemahannya. Tangan kekarnya tak mampu menyeka air mata bening Kanaya. Tubuh tegapnya lemah tanpa tulang. Kala dia tak mampu menjadi sandaran Kanaya. Batasan yang tinggi membuatnya tak berdaya. Terbersit keinginan mengkhitbah Kanaya. Namun Haykal terlalu takut keputusannya malah menyakiti Kanaya.


"Haykal!"


"Iya tuan Arya!" sahut Haykal terkejut, suara Arya membuyarkan lamunan Haykal.


"Malam ini, sengaja aku mengundangmu. Selain karena acara perayaan ini, ada alasan aku mengundangmu datang!"


"Maksud tuan Arya!" ujar Haykal tidak mengerti, Arya tersenyum sembari menoleh ke arah Aira dan Embun.


"Haykal, mereka bertiga pelita dalam hidupku. Dua putri cantik yang sholeha dan istri yang selalu setia dalam suka dan dukaku. Aku hidup hanya demi mereka dan kebahagian mereka segalanya dalam hidupku!" tutur Arya, sembari menoleh ke arah Aira, Embun dan Fitri. Haykal menatap tak mengerti, perkataan Arya menyiratkan tanda tanya besar dalam hatinya. Haykal memilih diam, dia menanti kejelasan dari perkataan Arya.


"Aku sengaja memintamu datang, untuk memperkenalkan putriku Aira!"


"Maksud tuan Arya, bukankah tadi kami sudah berkenalan!" ujar Haykal tidak mengerti.


"Aku ingin menjodohkanmu dengan Aira!"


Deg

__ADS_1


Jantung Haykal berhenti berdetak, Aira langsung mendongak tak percaya. Keputusan besar Arya, menjadi keputusan yang tak pernah dibayangkannya. Aira menggeleng lemah, dia tak percaya mendengar Arya memutuskan menjodohkan dirinya dengan laki-laki yang tak pernah dikenalnya. Sama halnya dengan Aira, Haykal jauh lebih tak percaya.


"Haykal, tidak perlu menjawabnya sekarang. Kalian bisa saling mengenal, jika memang kalian merasa tidak cocok. Aku tidak akan memaksa!" ujar Arya, Haykal tak mampu bicara. Rasa kagetnya membuat mulut Haykal tertutup rapat.


"Papa, kenapa memutuskan semua ini tanpa bicara padaku?" ujar Aira lirih, Fitri menggenggam erat tangan Aira. Arya menoleh ke arah Aira, dia mencoba mencari alasan dari penolakan Aira.


"Kamu mempunyai kekasih atau ada laki-laki yang tengah dekat denganmu? Jika ada katakan, papa akan membatalkannya sekarang. Haykal laki-laki yang baik, bukan karena dia seorang pembisnis seperti papa. Namun penilaian kakakmu Embun tentang pribadinya yang membuat papa yakin mengatakan hal ini. Sekali lagi tidak ada paksaan, kalian bisa menolak atau mengiyakan perjodohan ini!" tutur Arya lirih, Aira dan Haykal kompak menunduk. Penolakan itu ada di ujung bibir mereka, tapi tak mampu terucap.


Kreeeekkk


"Maaf, Kanaya pergi mengambil makanan!" pamit Kanaya, Haykal langsung mendongak.


"Tunggu, jangan pergi!" cegah Haykal, Kanaya menoleh heran. Bahkan semua orang merasa heran, kenapa Haykal melarang Kanaya pergi?


"Kenapa anda butuh saran saya? Baiklah saya akan bicara. Tante Aira pribadi yang baik, dia penyayang dan berhati tulus. Kecantikan hatinya selaras dengan kecantikan hatinya. Anda sangat baik dan pintar, jelas kalian berdua akan menjadi pasangan yang sempurna!" tutur Kanaya santai, lalu memutar tubuhnya. Tepat di langkah pertamanya, Haykal terdengar menghampiri Kanaya.


"Haruskah aku menyetujui perjodohan ini?"


"Kenapa bertanya padaku?" sahut Kanaya sinis, tepat di depan Haykal.


"Jawab saja!"


"Jika menurutku iya, tapi jika mungkin sholat istikharah. Jawaban terbaik akan ada, ketika kita berdoa dan bersujud pada-NYA!" ujar Kanaya datar, Haykal mengangguk pelan. Haykal menoleh seraya tersenyum, dia menatap wajah semua orang.


"Tuan Abra, maaf jika saya lancang. Namun percayalah, semua yang akan aku katakan bukan omong kosong. Ini kejujuranku, suara hati terdalamku dan puncak kekagumanku akan satu sosok yang mengusik ketenangan hati dan tidurku!" ujar Haykal tegas dan lantang.


"Haykal, ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?"


"Tuan Abra, malam ini aku ingin mengkhitbah putrimu Kanaya. Wanita yang membuat pandanganku tak beraliha darinya. Bukan karena wajahnya, tapi sikap dan sifat baiknya. Ketenanganku pergi, tergantikan rindu dan tawanya yang mengusik hariku. Baru saja anda mendengar, bagaimana dia mengingatkanku dalam kebaikan? Alasan yang membuatku tersadar, dia yang membuatku jatuh hati dan hanya bersamanya aku akan bahagia. Sesungguhnya, aku ingin mengkhitbah Kanaya tepat di hari kelulusannya. Namun rasa ini tak lagi bisa aku tahan!" tutur Haykal lirih, Kanaya berjalan mundur. Dia tak percaya mendengar perkataan Haykal.


"Tuan Arya, maafkan saya. Namun hati ini telah memilih!" ujar Haykal lirih, Haykal menoleh ke arah Kanaya yang menjauh darinya.


Duaaarrr Duaaarrr Duaaarr


"Kanaya!" panggil Haykal, ketika melihat Kanaya berlari menjauh dari Haykal.


"Kanaya, maafkan aku!" batin Haykal, lalu berlari mengejar Kanaya.


"Sayang, kenapa secepat ini aku mendengar seseorang meminta putriku?" ujar Abra lirih, Embun menepuk pelan pundak Abra.


"Kita bicarakan di rumah!"

__ADS_1


__ADS_2