
"Embun, sedang apa kamu di sini? Kembalilah ke kamar, takutnya Abra mencarimu!"
"Kak Abra baru saja tidur, semalaman dia menjagaku. Aku hanya ingin menyegarkan tubuhku!" Ujar Embun ramah, Indira mengangguk.
Indira mengerti beban yang tengah dipikul Embun. Rasa sakit dan kecewa akan sikap Haykal. Membuat Embun takut bertemu dengab Haykal. Sebab itu Embun menghindari Haykal. Embun sengaja keluar dari rumah, dia ingin mengenal lingkungan sekitar rumah Abra.
Embun keluar dari kamarnya tepat pukul 05.00 WIB. Sang fajar belum menyapa, dingin kabut masih terasa menusuk tulang. Asapnya menutupi jalan yang masih begitu sepi. Embun terus melangkah keluar dari gerbang rumah megah keluarga Abimata. Perumahan mewah yang dibangun dengan keindahan alam yang indah. Perumahan yang berbatasan langsung dengan perkampungan. Embun terus melangkah, mengelilingi kompleks perumahan mewah tempatnya tinggal beberapa minggu terakhir.
Langkah Embun terhenti tepat di sebuah taman. Embun duduk berselonjor di atas rumput hijau. Tatapannya mengunci sang fajar yang mulai mengintip. Menghapus kabut dan menggantikannya dengan embun yang menyejukkan. Embun menyentuh rumput yang basah oleh embun pagi. Sejenak Embun merasa tenang dan damai. Embun menemukan alasan bahagianya. Sederhana arti bahagia dalam hidup Embun.
"Apa kabar Embun?" Sapa Clara ramah, Embun terhenyak melihat Clara berdiri tak jauh darinya. Nampak Clara menggunakan pakaian olahraga. Pelipis Clara basah oleh keringat, napas yang sedikit memburu. Nampak Clara baru saja melakukan lari pagi.
"Nona Clara!"
"Tidak perlu heran, rumahku ada di blok F!" Sahut Clara seraya mengutas senyum. Embun mengangguk mengerti, seakan Embun tidak peduli akan kenyataan rumah Clara yang masih satu lingkungan dengannya.
Clara menghampiri Embun, dia duduk tepat di samping Embun. Ada rasa heran melihat Clara berada di lingkungan rumah Abra. Namun semua itu hanya sebatas pemikiran, tanpa Embun ingin mengetahui kebenarannya. Embun menunduk menatap tanah basah yang ditinggal kabut. Sebaliknya Clara melempar beberapa batu kerikil. Clara mencoba mengalihakn rasa tidak nyamannya.
"Aku selalu duduk di taman ini, setiap kali aku lari pagi. Taman ini tak pernah berubah, kolam kecil yang selalu penuh dengan ikan mas. Taman yang penuh dengan bunga mawar. Tempat paling favorit aku dan Abra, ketika kami mulai lelah dengan kegiatan sekolah!" Ujar Clara santai, Embun terdiam mendengar kisah diantara Abra dan Clara.
"Kalian begitu dekat!" Ujar Embun lirih, Clara mengangguk tanpa ragu. Embun terdiam tanpa kata. Anggukan kepala Clara, mengguratkan rasa yang tak biasa di hati Embun.
"Sejak kecil kami tumbuh bersama. Hampir setiap hari, aku berangkat sekolah bersamanya. Dimana ada Abra? Di situ pasti ada aku. Kami selalu bersama-sama, sampai akhirnya aku pindah ke luar kota. Sedangkan Abra memutuskan pindah ke luar negeri. Sejak itu, kami kehilangan kontak. Sempat aku melihat berita kesuksesannya, tapi saat itu aku tidak bisa datang menemuinya. Sekadar mengucapkan kata selamat. Sampai akhirnya aku mendengar berita pernikahannya!" Tutur Clara lirih, Embun menunduk menatap tanah.
"Seandainya, nona Clara datang lima menit sebelum dia mengenalku. Mungkin saat ini, akulah yang akan mengucapkan kata selamat pada kalian!" Ujar Embun, Clara menoleh dengan tatapan heran.
"Embun, kamu salah paham. Aku dan Abra hanya sahabat. Aku menceritakan padamu, tanpa maksud apapun?"
"Nona Clara tidak perlu khawatir, aku tidak marah atau kecewa mendengar kisah kedekatan diantara kalian. Percayalah, hatiku tidak serapuh itu. Sampai aku menyesal telah menikah dengan kak Abra. Dalam setiap hati seseorang, akan ada satu nama sebelum nama yang terakhir. Jika nyatanya nama nona yang ada sebelum namaku. Bukan berarti aku harus kecewa. Sebab jauh di dalam hidupku, ada nama lain yang pernah aku kenal!"
"Embun!"
"Iya nona Clara, setiap hati berhak menyimpan satu nama. Setiap jiwa berhak memilih satu raga. Setiap hidup berhak mengenal satu cinta. Tidak ada yang berhak mengambil hak itu darimu atau kak Abra. Hanya saja, seandainya nona Clara datang lebih cepat dariku. Mungkin imamku takkan sebimbang ini!"
__ADS_1
"Maaf, jika aku melukai hatimu!"
"Nona Clara tidak salah, sekarang atau nanti. Aku pasti akan mendengar kisah kalian. Entah luka atau ikhlas yang aku dapatkan setelah mendengarnya? Satu hal yang pasti, saat ini hanya bahagianya yang aku harapkan!" Ujar Embun lirih, Clara diam seribu bahasa.
Clara melihat cinta yang tersirat dari dua mata indah Embun. Cinta tulus tanpa rasa takut kehilangan. Rasa sakit akan cinta yang tertahan demi tenang dan bahagia pemilik hati. Clara memang mencintai Abra, tapi dia tidak akan sanggup berkorban sebesar Embun. Ketenangan Embun kala mendengar kedekatan Abra dengannya. Seolah menunjukkan, betapa luas hati Embun? Cinta suci yang takkan pernah bisa dimengerti oleh orang lain.
"Bagaimana kamu bisa setenang ini?" Ujar Clara lirih, Embun menoleh seraya mengutas senyum.
"Sudah siang, aku harus pulang. Kak Abra pasti bingung mencariku. Sebab tadi saat aku pergi, dia masih tertidur!"
"Aku juga harus pulang, sebentar lagi aku berangkat ke kantor!" Sahut Clara, Embun berdiri menjauh dari Clara.
"Sesakit inikah cemburu? Sampai aku tak mampu bernapas. Kenapa aku begitu sakit mendengar kedekatan mereka? Mungkinkah hatiku mulai merasakan cinta untuknya. Diakah imam yang dipilih hatiku. Sanggupkah aku menahan rasa sakit ini. Jika nyata, mereka selalu dekat dalam segala hal!" Batin Embun.
Embun berjalan perlahan menuju rumah megah keluarga Abimata. Sepintas Embun mendongak menatap sang fajar. Hangat sinarnya menenangkan hati Embun yang gelisah. Tanpa terasa, Embun sudah berada di depan gerbang rumah keluarga Abimata. Sesak yang terasa di dada Embun, membuat Embun termenung. Lupa sejenak akan waktu yang berputar di sekelilingnya.
"Aaaa!" Teriak Embun, saat dia merasa ada tangan yang menariknya. Tubuh Embun terhuyung, dia hampir jatuh. Embun merasa kaget, sejenak jantung berhenti berdetak. Dia takut, saat menyadari ada yang ingin memeluknya.
"Sayang, kemana saja kamu? Aku bingung mencarimu, aku hampir gila mencarimu!" Ujar Abra, seraya mendekap erat tubuh Embun. Sepintas terdengar helaan napas Embun. Dia merasa lega, ketika mengetahui Abra orang yang memeluknya.
"Jangan lagi pergi tanpa pamit!" Ujar Abra lirih, sembari mendekap erat Embun. Menempelkan kepala Embun tepat di dadanya.
"Aku bertemu Clara, dia banyak bercerita tentang kedekatan kalian!" Ujar Embun lirih, Abra langsung menarik tubuh Embun.
"Apa yang dia katakan?"
"Bukan apa-apa?"
"Sayang!" Ujar Abra, sembari menarik tangan Embun. Saat Embun melangkah menjauh darinya. Embun seakan ingin menghindar dari rasa penasaran Abra. Sebaliknya Abra merasa takut, seandainya Embun mengetahui masa lalunya. Abra tidak ingin ada terjadi kesalahpahaman dengan Embun.
"Ada apa lagi? Aku harus masuk!"
"Apa yang dikatakan Clara?" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Apa kakak begitu ingin mendengarnya?" Ujar Embun santai, Abra mengangguk tanpa ragu.
"Aku mendengar, jika dalam hatimu ada nama dan kenangan orang lain. Masa dimana ada senyum bahagiamu bersama wanita? Kenyataannya wanita itu bukan aku!" Ujar Embun, Abra menggelengkan kepalanya lemah.
"Sayang, itu hanya masa lalu!"
"Jika memang masa lalu, kenapa kakak begitu takut aku mengetahuinya?"
"Sayang!"
"Kita masuk atau kakak akan tetap di sini. Menanti nona Clara datang!" Ujar Embun menggoda, lalu berjalan masuk ke dalam rumah.
"Sayang, aku mohon percayalah!" Teriak Abra, Embun tersenyum sendiri. Embun bahagia melihat kebingungan Abra. Setidaknya Embun melupakan sejenak rasa sakitnya.
"Aku percaya!" Sahut Embun lantang, tanpa menoleh ke arah Abra.
"Apa dia cemburu?" Batin Abra.
"Ayolah sayang, apapun yang kamu dengar itu hanya masa lalu!"
"Kak Abra!" Ujar Embun mengalihkan pembicaraan.
"Ada apa?"
"Aku ikut ke kantor!" Ujar Embun lirih, Abra menatap penuh rasa heran.
"Sayang, kamu sedang tidak sehat!" Ujar Abra, Embun langsung menekuk wajahnya.
"Kalau begitu lupakan!" Ujar Embun dingin, Abra mengusap wajahnya kasar. Ada rasa bingung menghadapi perubahan sikap Embun yang tiba-tiba.
"Baiklah, kamu ikut ke kantor!"
"Lupakan, aku sudah tidak berminat!" Ujar Embun singkat.
__ADS_1
"*Belum selesai masalah yang tadi, sekarang ada masalah lagi. Sayang, sikap merajukmu membuatku bahagi*a. Meski aku tahu, tidak akan mudah membujukmu!" Batin Abra, lalu berlari mengejar Embun.
"Kenapa kepalaku pusing?" Gumam Embun lirih.