KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Malam yang Tertunda


__ADS_3

"Embun, kenapa kamu begitu teguh berada di samping Abra?"


"Karena dia memiliki hati yang tulus!"


" Termasuk tinggal di rumah yang hanya peduli akan status, menerima penghinaan yang terucap!" Ujar Indira, Embun mengangguk pelan.


"Rumah yang aku pijak, bukan hanya sebuah rumah. Banyak kenangan yang terukir di rumah ini. Demi kenangan indah suamiku, aku akan tinggal disini!"


"Sayang!"


"Sejak kapan kakak berdiri disana?" Ujar Embun kikuk, Abra diam tak menyahuti perkataan Embun. Dengan langkah tegap, Abra menghampiri Embun. Abra mendekap erat Embun, Abra mencium puncak kepala Embun.


"Terima kasih, bersedia bertahan di sisiku!"


"Aku akan bertahan demi dirimu. Sebab rumahmu, istanaku. Kasih sayangmu, hidupku. Cintamu, napasku. Tidak ada alasan aku pergi, sampai waktu yang memintaku pergi!"


"Akan kulawan waktu, seandainya dia merebutmu!" Ujar Abra lantang, Indira menatap penuh haru. Abra dan Embun, mengajarkan arti peduli dalam cinta.


"Lebih baik aku pergi!" Pamit Indira, sembari menyeka air matanya.


"Tante Indira!"


"Ada apa Abra?"


"Terima kasih!" Ujar Abra ramah, Indira mengangguk pelan.


Abra dan Embun melihat langkah pergi Indira. Dengan penuh kehangatan, Indira menyapa Embun. Meski ada jarak, setidaknya Indira bersedia menerima Embun. Abra menarik masuk Embun, dengan kasar Abra menutup pintu kamarnya. Embun kaget mendengar suara bantingan pintu. Suara yang jelas ingin mengatakan. Hanya ada dirinya dan Abra di dalam kamar yang luas nan megah ini.


"Sayang!" Ujar Abra, Embun menoleh tepat di depan wajah Abra.


Cup

__ADS_1


Satu kecupan manis mendarat sempurna di bibir Embun. Tangan kekar Abra memeluk sempurna tubuh ramping Embun. Hembusan napas Embun, terdengar begitu keras. Sekeras debar jantung Abra. Hasrat terpendam Abra langsung membuncah. Abra tak mampu mengendalikan. Darahnya mendidih, setiap hembusan napas Embun. Membangkitkan gairah penuh cinta dalam diri Abra.


"Sayang!" Ujar Abra lirih, tepat di telinga Embun. Abra mengusap lembut pipi Embun dengan bibirnya.


Embun terdiam, tubuhnya membeku. Tulangnya terasa lunak, seakan tak mampu berdiri. Tubuhnya terasa lemas tanpa tenaga. Desiran hangat mengalir dalam nadinya. Sentuhan Abra seakan membius tubuh Embun. Dengan mata tertutup Embun merasakan hangat sentuhan Abra.


Abra terus bergerilya di atas tubuh Embun. Menyalurkan hasrat yang menguasai hati dan pikirannya. Bukan satu atau dua kali kecupan. Setiap inci tubuh Embun tak luput dari kecupan mesra Abra. Lalu, perlahan Abra membuka hijab instan Embun. Abra melepas ikat rambut Embun, menampakkan indah rambut panjang Embun.


Abra menyibak rambut hitam legam Embun. Mencium lembut tengkuk Embun, meniup perlahan daun telinga Embun. Abra benar-benar larut dalam gairah cinta. Tak lagi ada jarak diantara Embun dan Abra. Hanya sehelai pakaian yang masih menempel. Menjadi pemisah dua tubuh yang ingin bersatu.


"Sayang, aku menginginkanmu!" Ujar Abra, Embun menunduk malu. Dengan penuh cinta, Abra mengangkat dagu Embun. Mencium lembut bibir mungilnya. Detik berganti menit, Abra terus mencium mesra bibir Embun.


Tangan Embun mulai bergetar, hasratnya mengalir menguasai tubuhnya. Tak ada penolakan, Embun menerima semua cinta yang diberikan Abra. Cinta yang diyakini Embun, mampu membuatnya bahagia. Abra terus bermain, lalu dengan sopan Abra membaringkan Embun. Abra membuka gamis Embun, meminta dengan penuh cinta hak yang dimilikinya. Embun membisu, isyarat dia siap melakukan kewajibannya.


Dug Dug Dug


Sayub terdengar bedug berbunyi, diiringi dengan suara azan. Seketika Embun menahan tubuh Abra. Embun menutup dirinya dengan selimut. Abra langsung mengusap wajahnya kasar. Marah dan kecewa, tapi bukan pada azan yang tiba-tiba berkumandang. Melainkan pada hasrat yang datang tidak tepat. Abra berdiri meninggalkan Embun.


"Aku tahu sayang, kita bisa melakukannya lain kali!"


"Tapi!" Sahut Embun, terhenti ketika Abra menggelengkan kepalanya pelan. Embun langsung tertunduk malu. Ada rasa kecewa yang tersirat dari raut wajah Embun. Kekecewaan Embun yang tak terlihat oleh Abra.


Suara azan selesai berkumandang, menandakan waktu berserah bagi hamba yang taat. Embun hanya bisa pasrah, ketika mendengar suara air kran yang menetes begitu deras. Air yang mencoba mendinginkan panas hasrat Abra yang tak tersalurkan. Embun duduk termenung di atas tempat tidurnya. Menutup wajahnya dengan kedua lengannya, bertopang pada dua kaki lemahnya. Embun menyembunyikan rasa kecewanya. Menenangkan hati yang tengah bergejolak. Tetes demi tetes air mata Embun, seakan ingin mengatakan penyesalannya.


"Sakit, kenapa hatiku sesakit ini? Ya Rabb, mungkinkah hamba mulai lupa akan iman padamu? Kenapa hamba merasa menyesal telah menolak permintaannya? Salahkah hamba, seandainya hati ini sakit menerima penolakannya. Ya Rabb, kewajiban mana yang harus aku dahulukan? Menjadi hamba yang taat atau menjadi istri yang berbakti? Dilema apa ini? Kenapa aku benar-benar kacau? Aku goyah, tanpa pegangan!" Batin Embun galau.


Kreeekkk


Abra membuka pintu kamar mandi. Abra keluar dengan rambut yang masih basah. Perlahan Abra mengusap rambutnya dengan handuk kering. Wajah Abra terlihat lebih segar, harum shampo tercium dari rambut basahnya. Embun semakin menenggelamkan wajahnya. Menutupi kekecewaannya jauh dalam hati. Embun tidak ingin Abra melihat kegalauannya.


"Sayang, bersihkan dirimu. Kita sholat bersama!" Ujar Abra, Embun terdiam membisu.

__ADS_1


Abra menoleh, ketika menyadari tak ada sahutan dari Embun. Abra langsung melempar handuk basahnya sembarangan. Abra gelisah, ketika menyadari Embun suara tangisan Embun. Isak tangis yang begitu lirih, tapi terdengar begitu nyaring di telinga Abra. Ketakutan Abra tak lagi bisa dibendung. Dia melihat Embun, rapuh tanpa sisa.


"Sayang!" Ujar Abra cemas, kedua tangannya memegang tubuh Embun. Berharap Embun mengangkat wajahnya, mengatakan jika dia baik-baik saja


"Sayang, aku mohon!" Ujar Abra, lama Embun diam. Lalu, perlahan Embun mengangkat wajahnya. Abra melihat dua bola mata indah Embun memerah. Abra semakin risau, tangis Embun terasa menusuk jantungnya.


"Sayang, ada apa?" Ujar Abra, Embun menatap nanar Abra.


"Maafkan aku!"


"Sayang, apa yang terjadi? Katakanlah, aku mohon bicaralah!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.


Embun turun dari tempat tidur, Embun memakai hijabnya. Dengan langkah perlahan, Embun pergi menuju kamar mandi. Embun ingin melupakan kejadian paling pahit dalam hidupnya. Abra menatap penuh tanya, Embun menjadi orang yang tak mudah dipahami. Namun jelas Abra melihat rasa sakit Embun. Entah sakit yang disebabkan oleh siapa atau apa?


"Tunggu!" Teriak Abra, Embun menghentikan langkahnya.


"Sayang, jika ini tentang kejadian tadi. Aku mohon, jangan dipikirkan. Aku minta maaf, jika penolakanku membuatmu tersakiti. Percayalah, aku hanya memikirkan dirimu!"


"Aku tahu!" Sahut Embun dingin, lalu berlalu meninggalkan Abra. Namun Abra menahan tangan Embun, menghentikan langkah Embun.


"Sayang, aku tidak ingin menjadi pelemah imanmu. Sebaliknya, bersamaku akan menguatkan imanmu. Hasratku mampu menunggu siap dan ikhlasmu, tapi kewajiban akan iman tidak boleh menunggu. Sebab napas takkan selamanya berhembus!"


"Jangan katakan lagi!" Ujar Embun lirih, sembari menutup mulut Abra dengan telapak tangannya.


"Bersihkan dirimu, semakin lama kamu ada di depanku. Akan membangkitkan gairah yang tadi aku tunda!"


"Hmmm!" Sahut Embun, Abra memutar tubuh Embun. Abra memeluk Embun dari belakang. Menyadarkan kepalanya tepat di pundak Embun. Dengan penuh kehangatan, Abra mengecup tengkuk Embun yang tertutup hijab.


"Sayang, sekarang kamu bisa tenang. Nanti malam, dirimu dan setiap inci tubuhmu hanya milikku. Aku akan meminta hakku dan takkan aku biarkan kamu mengelak!" Bisik Abra, Embun langsung menunduk malu.


"Aku mencintaimu!" Bisik Abra mesra.

__ADS_1


__ADS_2