
"Bagaimana keadaan papa?" ujar Iman cemas, Afifah tersenyum simpul.
Tepat setelah makan malam, tubuh lemah Dewangga Adijaya terjatuh. Tubuh lemah yang tak lagi mampu berdiri di atas kedua kakinya. Semua orang langsung panik, tidak terkecuali Embun dan Abra. Sofia langsung menangis histeris, melihat tubuh lemah sang ayah. Arya langsung menghubungi dokter keluarga Adijaya. Dokter rumah sakit yang dibangun oleh Dewangga Adijaya.
"Dia sudah lebih baik, kabar bahagia yang di dengarnya. Sejenak membuat tekanan darahnya meningkat. Mungkin terdengar aneh, tapi tuan Dewangga selalu lupa meminum obat. Jika dia sedang bahagia dan saat melihatmu. Aku sudah bisa menebak, jika beliau sedang bahagia!" ujar dokter Afifah Khayra, Iman langsung menunduk.
Khayra menulis beberapa resep obat, lalu memberikannya pada Iman. Dengan tangan yang sedikit bergetar. Iman menerima secarik kertas yang diberikan Afifah. Dokter cantik yang sedikit lebih muda dari Iman. Dokter cantik yang pernah ada dalam daftar nama wanita yang mengenal Iman. Afifiah hanya tersenyum, melihat diam Iman. Laki-laki yang sudah puluhan tahun tak pernah dilihatnya.
"Dimana dia?" ujar Afifah lirih, Iman mendongak seolah tidak mengerti maksud perkataan Afifah.
Dokter Afifah tersenyum melihat keterkejutan Iman. Kecantikan yang masih jelas terlihat di usia yang menginjak 40 an. Wajah cantik yang terbalut indah dengan hijab instan. Penampilan seorang dokter yang penuh dengan kepintaran. Sejenak menghipnotis mata yang memandang. Namun hati sang dokter cantik tetap suci. Tidak terikat dan ternoda oleh cinta yang ditawarkan para kumbang jantan.
"Bayi mungil yang membuatmu memilih pergi jauh dariku. Gadis cantik yang mengalahkanku dan membuatku harus ikhlas kehilanganmu!"
"Dia!"
"Iya, Embun Khafifah Fauziah. Bayi mungil yang menggetarkan hatiku. Berharap akulah wanita yang dipanggilnya ibu. Namun kamu tak memberiku kesempatan itu. Kamu membawanya pergi jauh dari hadapanku!"
"Afifah, jelas kamu tahu alasan kepergianku. Tidak ada maksudku menyakiti hatimu!"
"Aku tahu Iman, semua sudah terjadi. Aku bahagia melihatmu ada di dekat tuan Dewangga saat ini. Puluhan tahun aku menjadi dokter pribadinya. Hanya namamu yang terucap dari bibir tuanya. Dua mata senjanya merindukan menatap wajahmu. Semua pengabdianku telah menemui akhir!"
"Dokter Afifah!"
"Panggil aku Afifah!" sahut Afifah lirih, sembari memasukkan alat-alat medis ke dalam tasnya.
Afifah berjalan keluar dari kamar Dewangga. Iman mengikuti langkah pelan Afifah. Langkah anggun Afifah nampak jelas di mata Iman. Langkah yang pernah membuatnya bimbang akan mengasuh Embun atau menelantarkannya. Iman hanya bisa terdiam, ketika hari ini tanpa sengaja mereka harus bertemu. Puluhan tahun pergi tanpa kabar dan kini Iman berdiri tepat di depan Afifah.
"Abah, bagaimana kondisi tuan Dewangga?" ujar Embun, Iman menoleh ke arah Embun.
Afifah menoleh ke arah yang sama dengan Iman. Dia melihat Embun tengah berdiri tidak jauh dari mereka. Afifah tersenyum menyapa Embun, dibalas senyum dan anggukan kepala oleh Embun. Sofia yang melihat Afifah keluar dari kamar Dewangga. Langsung menerobos dan menabrak Embun. Hampir saja Embun terjatuh, jika seandainya Afifah tidak cepat menopang tubuh Embun yang terhuyung ke depan.
"Kamu cantik seperti ibumu!"
__ADS_1
"Dokter mengenal mama!" ujar Embun lirih, Afifah mengangguk pelan.
"Lesung di kedua pipimu, ciri khas yang dimiliki Almaira. Dua mata jernih yang nampak di matamu. Sama persis dengan mata elang sahabatku. Almaira dan aku bersahabat sejak SMU, tapi kami terpisah ketika Almaira memilih fakultas hukum dan aku fakultas kedokteran!"
"Ternyata sahabat mama orang-orang hebat!" ujar Embun lirih, Sofia tersenyum sinis.
"Dia hebat, tapi terpaksa tunduk di bawah kaki Arya. Laki-laki yang mengubur cita-citanya. Memilih menjadi ibu rumah tangga dan menjauh dari ilmu hukum yang ditekuninya!"
"Sofia, jaga bicaramu. Ingat ada Afifah, permasalahan keluarga kita tidak sepantasnya menjadi konsumsi publik!" ujar Iman kesal, Sofia mendengus marah.
"Kakak selalu membela dia. Nyatanya memang Almaira memilih mrnjadi ibu rumah tangga. Meski akhirnya dia dicampakkan oleh keluarga yang begitu dibelanya!"
"Sofia!" teriak Iman, Afifah langsung memegang tangan Iman. Sontak Iman mundur beberapa langkah.
Afifah spontan memegang tangan Iman, berharap mampu menenangkan amarah Iman. Namun penolakan Iman, seolah jarak yang sengaja ditunjukkan oleh Iman. Puluhan tahun berlalu dengan kisah yang tak pernah dimengerti Afifah. Begitupun Iman yang dulu dikenalnya kini tak lagi sama. Iman tak lagi mengumbar pandangannya. Iman menjaga pandangan dan napsu yang terus mengusik ketenangan hatinya. Ketenangan yang mulai hilang, tepat setelah dia melihat wajah Afifah sang wanita cantik pengetuk hati.
"Maaf, aku tidak sengaja!"
"Jangan salah paham Afifah. Penolakanku hanya ingin menjaga harga dirimu!" sahut Iman dingin, Afifah mengangguk mencoba memahami yang terjadi.
"Abah, Embun dan kak Abra pamit pulang. Maaf, Embun tidak menginap. Rumah ini terlalu asing bagi Embun!" ujar Embun lirih, Iman mengangguk pelan.
Embun berjalan menghampiri Iman dan Afifah. Secara bergantian Embun mencium punggung tangan Iman dan Afifah. Ada setitik rasa hangat menelisik ke hati Afifah. Hembusan hangat napas Embun, menggetarkan hati Afifah yang sepi. Puluhan tahun, Afifah mencari arti bahagia. Namun semua berakhir pada satu penantian yang sama. Penantian akan satu nama yang tak kunjung datang menemuinya.
"Afifah!" ujar Iman lirih, membuyarkan lamunan Afifah. Seketika Afifah mengusap setitik bening air mata yang menetes tepat di pelupuk matanya.
"Dia begitu cantik dan manis, wajahnya meneduhkan hatiku!"
"Maafkan aku Afifah, bertemu dengannya hanya akan membuka luka lama hatimu. Maaf, jika saat itu aku memilih pergi bersamanya!" ujar Iman lirih, Afifah menggelengkan kepalanya pelan.
Afifah melangkah menuju pintu keluar. Namun langkah kakinya terhenti tepat di ruang tengah kediaman Adijaya. Nampak sebuah foto keluarga berukuran sangat besar. Afifah dan Iman berdiri berjejer tepat di depan sebuah foto. Ada dirinya dalam foto keluarga Adijaya. Sekilas nampak Afifah menunduk, menghapus air mata yang mulai turun di balik kacamata minus yang dipakainya.
"Foto terakhir sebelum kejadian malam itu. Kenangan manis saat pertunangan kita. Malam terakhir kebersamaan kita dan berganti dengan perpisahan tanpa akhir!"
__ADS_1
"Afifah!" ujar Iman lirih, Afifah menunduk semakin dalam.
"Kenapa semua harus terjadi Iman? Perpisahan yang tak seharusnya terjadi. Pernikahan kita yang hanya ada dalam anganku. Impian seorang wanita yang hancur tanpa sisa. Semua terjadi hanya karena kesalahpahaman semata. Cintaku kalah oleh kasih sayangmu pada Almaira!"
"Maaf, hanya itu yang bisa aku katakan!"
"Iman, jujur aku bahagia bertemu denganmu. Namun hatiku sakit mengingat kamu baik-baik saja bersama Embun. Aku cemburu Iman, kamu memilih pergi dengannya tanpa diriku. Membesarkan Embun, tanpa berpikir ingin melibatkanku. Semua hanya karena pendapat bodohmu yang tak ingin melihatku hidup susah bersamamu. Nilai cintaku yang begitu rendah dihadapanmu!"
"Afifah, semua hanya masa lalu. Nyatanya kamu sekarang bahagia!"
"Aku tidak pernah bahagia, impian dan harapanku semua musnah bersama kepergianmu. Aku sengaja mengabdi pada tuan Dewangga. Bukan semata demi karier dan masa depan. Aku ingin menjaga beliau layaknya ayah kandungku. Agar aku bisa melihatmu dalam senyumnya!"
"Tidak mungkin Afifah, puluhan tahun sudah berlalu!"
"Puluhan tahun yang berlalu, tak lantas membuatku melupakanmu. Setiap detik aku berharap kamu kembali. Meminta diriku ikur denganmu, menjaga dan membesarkan Embun bersama. Namun semua harapan sia-sia, ketika tahun demi tahun kulalui tanpa kepastian. Kamu tak pernah kembali dan akhirnya membuktikan padaku. Jika kamu baik-baik saja tanpaku!" ujar Afifah lirih, Iman menunduk lemah.
"Sudahlah Iman, semua sudah terjadi. Air mata yang terlanjur menetes. Takkan bisa kembali, kini melihatmu baik-baik saja. Sudah cukup membuatku bahagia. Embun tumbuh menjadi gadis sopan nan cantik. Tidak sia-sia kamu meninggalkanku, demi bisa membesarkannya!" ujar Afifah final, lalu pergi melewati Iman yang tertunduk.
"Afifah, menjadi orang tua dari putri orang lain itu tidak mudah. Air matamu selaras dengan kesepianku. Jujur Afifah, aku terlalu takut kehilanganmu saat itu. Namun membayangkan Embun harus tumbuh dalam belaian seorang ibu sambung. Aku tidak sanggup, ketakutan itu membuat memilih. Cintaku atau kasih sayangku pada Embun. Selamanya seorang ibu sambung tidak sebaik ibu kandung. Embunku telah kehilangan ibu kandungnya. Jauh dari kasih sayang ayah kandungnya. Tak pernah mengenal keluarga besarnya. Semua itu cukup membuat Embunku rapuh, tidak lagi dia hancur. Ketika dia harus mengetahui, kehadirannya alasan hancurnya cinta kita!"
"Kamu egois Iman!"
"Maaf Afifah, pergi tanpa harta. Hanya akan membuatmu hidup dalam keterbatasan. Aku tidak ingin membuat orang yang aku cintai hidup kekurangan. Kebahagianmu menjadi alasan aku mengubur asa bersamamu. Aku harap kamu memaklumi itu!" ujar Iman tegas, lalu meninggalkan Afifah sendiri menahan tangis.
"Kamu selalu memutuskan, tanpa sekalipun bertanya pilihanku. Aku begitu menyayangimu, tapi cintaku tak sehebat itu. Sampai mampu mengalahkan teguh pendirianmu. Setelah puluhan tahun Iman, puluhan tahun aku menjaga hati ini. Kamu masih tetap sama. Berpikir semua demi kebahagianku. Meski jelas, bahagiaku hanya ada bersamamu. Kamu kejam Iman, kamu egois!" batin Afifah pilu.
"Dokter Afifah!"
"Embun!" sahut Afifah, seraya mendongak. Nampak Embun sudah berdiri di hadapannya.
"Maafkan aku, kehadiranku alasan kesedihanmu!" ujar Embun lirih, seraya menangkupkan kedua tangannya tepat di depan dada. Afifah terkesima, dia terkejut mendengar permintaan maaf Embun.
"Tidak perlu, kamu jangan salah paham. Apapun yang kamu dengar? Semua hanya masa lalu!"
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan aku!" ujar Embun lirih, Afifah menarik tubuh Embun dalam dekapannya.
"Semua akan baik-baik saja!" bisik Afifah tegas.