
"Pak Fahmi, bisa kita bicara!" sapa Nur ramah, Fahmi menoleh ke arah Nur.
Fahmi memilih duduk sedikit menjauh dari kerumunan. Pertemuan tak terduganya dengan Dirgantara, seketika membuat tubuhnya kaku. Kenyataan siapa sebenarnya Nur? Nyata mengusik ketenangan jiwa Fahmi. Status yang nyata berbeda dan tak lagi sama diantara keduanya. Membuat jarak yang tak mudah dilewati. Fahmi merasa tak berdaya dengan kenyataan yang sekarang ada di depan matanya.
"Sedang apa kamu di sini? Kalau tante Fitri atau ayah kandungmu melihat. Semua akan menjadi masalah, lebih baik kamu bergabung dengan mereka!" ujar Fahmi sopan, sembari menatap ke arah Abra dan Embun.
Nur menggeleng lemah, Fahmi menunduk menatap tanah tempatnya berpijak. Fahmi merasa kacau dengan perasaannya. Tak ada lagi ketenangan, semua menghilang dalam sekejap. Tertelan oleh fakta yang tak pernah terbayangkan dalam benak siapapun?
"Aku sudah meminta izin mama Fitri dan papa Arya. Mereka mengizinkan aku bicara, selama mereka masih bisa melihatku!" ujar Nur lirih, Fahmi diam menunduk. Seakan perkataan Nur tak mampu membuat hatinya tenang.
"Kenapa kamu meminta izin mereka? Sedangkan ada orang tua kandungmu!" ujar Fahmi tak mengerti, Nur diam membisu. Ada banyak rahasia yang tersimpan jauh dalam hati Nur. Rahasia yang ingin dikatakan Nur pada Fahmi malam ini.
"Secara biologis memang mereka orang tuaku, tapi secara jiwa mama Fitri dan papa Arya yang menjadi orang tuaku!"
"Jangan berkata seperti itu, bagaimanapun mereka itu orang tuamu? Seburuk apapun mereka, jangan pernah mengumbar aib mereka!" sahut Fahmi dingin, Nur menoleh dengan tatapan tak percaya.
"Sebab itu aku datang menemuimu, ada yang ingin aku katakan tentang orang tuaku. Sebuah kisah yang mungkin akan merubah rasamu padaku!"
"Kenapa kamu harus mengatakannya padaku? Aku tidak ingin mendengarnya!"
"Pak Fahmi, anda harus mendengarnya!" ujar Nur lantang, Fahmi berdiri menjauh.
"Apa yang kubicarakan? Bukan sebuah aib, tapi luka menganga yang ada di dalam hatiku. Nur yang terlihat ceria dan penuh canda tawa. Tak lebih dari tubuh yang penuh dengan luka. Luka yang aku sembunyikan dari semua orang, bahkan dari Embun sekalipun!"
"Lalu, kenapa kamu ingin mengatakannya padaku?" sahut Fahmi, seraya menoleh ke arah Nur.
"Karena pak Fahmi yang menyayangiku dan bersedia menjadi imamku. Aku hanya ingin menjadi makmum, bagi imam yang mengetahui lukaku. Agar rasa suciku tak ternoda oleh masa laluku!" ujar Nur, sembari menunduk. Fahmi menghampiri Nur, lalu duduk di samping Nur.
"Ceritakan!" sahut Fahmi dingin, Nur menghela napas. Tangannya meremas ujung hijabnya, lalu dengan penuh ketenangan. Nur mulai mengatakan semua yang terjadi. Sebuah kisah beberapa tahun lalu, kisah yang membuatnya melangkah pergi dari keluarga besarnya.
FLASH BACK
"Nur!" Sapa Dirgantara, seketika Nur menoleh.
Dia menatap tajam Dirgantara yang berdiri tepat di bawah anak tangga terakhir. Pertengkaran Dirgantara dan Mira semalam masih teringang di telinga Nur. Mungkin Nur tidak berhak ikut campur. Namun diam menonton pertengkaran orang tuanya, bukan cara yang benar. Dia putri buah hati Dirgantara dan Mira. Kehadiran Nur mampu menjadi tali pengikat keduanya.
"Kenapa papa memanggil Nur?"
"Papa ingin bicara dengan Nur. Setidaknya Nur harus mendengar penjelasan papa. Tidak semua yang Nur lihat itu benar. Terkadang ada kebaikan di dalamnya!" Ujar Dirgantara lembut, Nur mengangguk seraya berjalan menuju ruang kerja Dirgantara.
"Sayang, papa mohon!"
"Kita bicara di ruangan papa. Aku tidak ingin ada yang mendengar pembicaraan kita!" Sahut Nur ramah, Dirgantara mengangguk seraya mengikuti langkah Nur. Keduanya berjalan beriringan menuju ruang kerja Dirgantara.
Nur membuka pintu dengan perlahan. Ruangan besar yang berada di pojok adalah ruang kerja Dirgantara. Sedangkan di sisi kirinya, terdapat ruangan yang sama. Ruangan yang digunakan Mira sebagai ruang kerjanya. Keluarga dengan pasangan pembisnis hebat. Pantas memiliki ruangan kerja yang berbeda.
__ADS_1
"Nur, maafkan papa. Semalam papa khilaf, sungguh papa tidak bermaksud memukul mama. Namun sikap mama sangat keterlaluan. Tanpa papa sadari, amarah sudah mengusai papa!" Tutur Dirgantara lirih, Nur menunduk terdiam.
Dia melihat kakinya yang berayun tanpa henti. Kegelisahan hati Nur jelas tergambar nyata. Kepedihan yang dirasakannya, tak lagi mampu terbendung. Nur merasa hancur sehancurnya. Ketika bukan hanya hidup sendiri. Nur harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Teriakan dan perdebatan menjadi hal biasa yang terdengar di telinga Nur. Satu tamparan Dirgantara yang mendarat sempurna di pipi Mira. Layaknya belati tajam menusuk hati Nur. Sakitnya tak mampu Nur tahan. Sampai akhirnya di memutuskan keluar dari rumahnya.
"Bukan padaku seharusnya papa meminta maaf, pada mama kata itu pantas terucap. Dia yang merasakan sakit tamparan papa. Mama yang menangis menahan rasa sakit. Aku hanya seorang anak yang bimbang dan tak berarah!" Ujar Nur tanpa menatap Dirgantara.
Helaan napas Dirgantara terdengar nyata menggema di ruangan. Nur meremas ujung gamisnya erat. Tak ada kata yang mampu keluar dari bibir mungilnya. Dirgantara menatap sendu putri yang semakin jauh darinya. Terlalu banyak waktu berharga yang hilang darinya. Kebersamaannya dengan Nur terlewati begitu saja. Kedewasaan Nur terlampaui tanpa sedikitpun kenangan.
"Sayang, papa minta maaf. Papa sudah meminta maaf pada mama. Namun mama diam membisu. Hanya kamu yang bisa membuat mama melupakan kejadian semalam!" Ujar Dirgantara, Nuur menggeleng lemah.
"Seandainya mudah melupakan, mungkin aku tidak akan pergi menjauh. Namun kenyataannya, melupakan kejadian semalam itu sulit. Aku tidak mungkin membalut luka mama. Ketika tanganku sendiri terluka!"
"Setidaknya kamu masih bisa memaafkan papa. Satu harapan papa, kamu bisa memahami lelah papa. Kesepian papa tanpa mama. Jauh darimu, kehilangan banyak waktu bersamamu!"
"Waktu tidak pernah hilang, kita saja yang terlalu menganggapnya mudah. Sampai kita tak pernah menyadari arti waktu sesungguhnya. Aku mungkin memahami papa, sebab sepi yang sama kurasakan kini!" Ujar Nur lirih, Dirgantara menggeleng lemah. Seakan ingin meminta maaf pada Nuur. Berharap Nuur melupakan semua yang terjadi.
"Aku sepi tanpa kasih sayang kalian. Aku menangis tanpa siapapun menjadi sandaranku? Uang yang selalu menggantikan kalian disisiku. Bertahun-tahun aku mengeluh, merasa Allah SWT tidak pernah adil padaku. Namun kini aku mulai belajar, hidupku masih jauh lebih sempurna. Adakalanya seorang anak harus kehilangan keluarga dan tak berharta!"
"Sayang, papa mohon cukup kamu bicara. Perkataanmu menunjukkan betapa tak bergunanya papa. Seorang ayah yang lupa akan tanggungjawab pada putrinya!"
"Papa, aku tidak pantas menilai. Papa tidak pernah salah. Namun satu hal aku pinta padamu. Jangan pernah bertengkar di depanku. Cukup aku kehilangan kasih sayang kalian. Jangan biarkan aku sakit melihat pertengkaran kalian. Lakukan apapun saat aku tidak ada. Agar aku tidak membenci salah satu diantara kalian!" Ujar Nur, lalu berdiri meninggalkan Dirgantara.
Nur berjalan menuju salah satu sudut ruang kerja Dirgantara. Berdiri menatap sebuah foto di atas meja kecil. Sebuah foto dirinya dengan kedua orang tuanya. Setiap foto yang diambil setiap tahunnya. Berharap akan ada kenangan yang tertinggal dari tahun sebelumnya.
"Papa!"
"Lihatlah senyum palsu keluarga kita. Berapa tahun sudah senyum itu ada? Tidakkah papa dan mama lelah dengan kepalsuan ini. Sampai kapan aku harus ikut dalam sandiwara kebahagian ini?"
"Apa maksudmu?" Sahut Dirgantara heran.
"Jika memang papa dan mama lelah. Kenapa tidak mengakhiri hubungan kalian? Hubungan yang tidak mengharapkan penyatuan!" Ujar Nur dingin tanpa ragu. Dirgantara menoleh dengan terkejut.
Dirgantara melihat ketenangan di wajah Nur. Seakan dia tidak terluka dengan perpisahan kedua orang tuanya. Namun air mata Nur tak pernah bisa dilihat siapapun? Termasuk Dirgantara ayah kandungnya sendiri. Nur sangat pintar menyimpan duka dihatinya. Seolah air mata Nur bisa terhenti sesuai keinginanannya.
"Kamu tidak terluka!"
"Tangisku tidak akan membuat kalian bersatu. Sebaliknya senyum palsuku akan ada mengiringi perpisahan kalian. Kebahagian kalian yang aku harapkan!"
"Lantas, apakah kamu bahagia?" Ujar Dirgantara lirih, Nur terdiam menatap sebuah foto masa SD.
Nur menatap seorang anak perempuan 7 tahun, menggunakan seragam SD. Dengan perlahan Nur mengambil foto tersebut. Nampak Nur tersenyum bahagia dalam gendongan sang ayah. Sedangkan ibunya berada tepat di sebelahnya. Bergelayut manja pada lengan papanya. Nur mencium lembut foto yang dipegangnya. Setetes air mata bening jatuh membasahi pipinya.
"Kebahagianku terbingkai indah di foto ini. Tak ada lagi harapan yang aku inginkan saat ini. Hanya kebahagian kalian yang aku harapkan, meski itu dengan perpisahan. Aku tak pernah bisa membuat kalian bahagia. Mungkin merelakan perpisahan kalian, bisa membuatku menjadi putri yang berbakti!"
"Sayang, cukup kamu bicara. Papa dan mama tidak akan pernah berpisah!" Sahut Dirgantara, seraya menggelengkan kepalanya lemah.
__ADS_1
Tangan Dirgantara hendak menarik tubuh Nur. Namun seketika terhenti di udara, kala dia menyadari Nur tak lagi gadis kecilnya. Apalagi sikap Nur yang semakin dingin padanya. Membuat Dirgantara mengurungkan niatnya. Nur menoleh ke arah Dirgantara. Terutas senyum tulus penuh arti. Nur mulai belajar ikhlas melepas kedua orang tuanya.
"Kalian tidak akan berpisah, tapi tidak akan menyatu!" Ujar Nur, lalu berlalu tanpa menoleh ke arah Dirgantara. Nur berjalan dengan berlinang air mata. Menangisi kebahagian yang telah menjauh dari hidupnya.
"Maafkan papa sayang, papa salah telah mengkhianati ikatan suci diantara papa dan mama!" ujar Dirgantara lirih, mengiringi langkah Nur keluar dari rumah megahnya.
Langkah yang tak lagi ingin masuk ke dalam keluarga Sanjaya. Meninggalkan segala kemewahan demi menjadi pribadi yang lebih baik. Terutama demi ketenangan hati, agar tak lagi merasakan sakit melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Nur memutuskan menjauh, ketika kebersamaannya dengan kedua orang tuanya tak lagi bisa menyatukan.
"Apa yang kamu sesalkan Dirgantara? Bukankah kamu sudah menyadari, jika semua ini akan terjadi. Sebagai seorang ayah, kamu telah menghancurkan hati putrimu. Sedangkan sebagai seorang suami, kamu mengkhianati ikatan diantara kita. Dengan alasan yang terkesan mengada-ada!"
"Aku menyadari kesalahanku, tapi tidak adakah kesempatan kedua untukku. Satu kesempatan dan kata maaf dari kalian!"
"Seandainya semua bisa dilupakan, ingin aku melupakan pengkhianatanmu. Putra lain yang lahir dari cinta sejatimu, kini nyata menjadi saudara putriku Nur. Cahaya cinta diantara kita pergi bersama dengan kepergian Nur putriku!" ujar Mira, Dirgantara menunduk merasa malu dengan perbuatannya.
"Mira, Nur cahaya cinta yang pernah ada diantara kita. Nur cahaya yang akan menerangi pernikahan kita yang gelap!" Ujar Dirgantara sembari berjalan meninggalkan Mira.
"Kamu benar Dirgantara, Nur memang cahaya cinta kita yang mulai padam. Akankah cahaya Nur mampu membuat hati kita terang seperti dulu. Sehingga cinta itu kembali ada. Menerangi pernikahan kita, agar tak lagi gelap tanpa bercahaya. Atau sebaliknya pernikahan kita akan selamanya gelap, bersama dengan kepergian Nur!" ujar Mira, sembari menatap punggung suami yang sudah lama tak menganggapnya.
FLASH BACK OFF
"Sekarang, pak Fahmi bisa mengambil keputusan. Jangan memaksa menikah denganku, seandainya pak Fahmi tidak bisa menerima masa laluku!"
"Nur!" sapa Fahmi ramah, Nur mendongak menatap Fahmi.
"Seandainya kamu bukan siapa-siapa? Tidak perlu menunggu besok malam aku melamarmu. Namun status sosialmu, kini menjadi hal paling menakutkan bagiku. Meski aku percaya, kamu tidak sama dengan wanita kaya kebayakan. Namun kenyataan keluargamu bukan keluargamu biasa, tentu mereka akan berpikir dua kali atau mungkin puluhan kali untuk menikahkanmu denganku!"
"Kenapa pak Fahmi berkata seperti itu?"
"Aku hanya memiliki rasa sayang untukmu, tapi tak berharta. Cinta tak harus aku memiliki, tapi kebahagian harus aku wujudkan!"
"Artinya kamu menolak rasa putriku!" sahut Dirgantara, Fahmi langsung berdiri. Nur dan Fahmi berdiri tepat di depan Dirgantara.
"Maaf tuan Dirgantara, putrimu berlian murni dan tanganku terlalu lusuh memilikinya!" ujar Fahmi lirih, Nur terdiam membisu. Fahmi sudah mengambil keputusan dan Nur tidak bisa memaksanya.
"Jika aku tetap merestui hubungan kalian, meski aku mengetahui statusmu tak selevel dengan keluarga kami. Namun dengan syarat, kamu harus bekerja pada perusahaan dan meninggalkan perusahaan abimata!"
"Sekali lagi terima kasih, Nur terlalu sempurna untuk tubuh lemah ini. Tidak ada yang bisa aku berikan pada Nur. Tentang syarat tuan Dirgantara, maaf saya tidak bisa menerimanya. Sebagai seorang imam, aku hanya ingin menafkahi istri dengan usahaku. Sedikit apapun rupiah yang aku hasilkan? Selama itu murni dari keringat saya, insya allah saya bahagia. Sebab sebagai seorang laki-laki saya berusaha sampai titik terendah!"
"Kamu mundur dari lamaran ini!"
"Nur, kamu berhak mendapatkan laki-laki yang jauh lebih mapan dariku!" ujar Fahmi, lalu pamit meninggalkan Dirgantara. Fahmi mengulurkan tangan, mencium punggung tangan Dirgantara. Fahmi memilih menjauh dari kisah yang tak setara.
"Mungkin aku lahir di keluarga kaya, tapi tak berarti aku bahagia dengan kemewahan. Memang aku putri tunggal keluarga Sanjaya, tapi aku tak lebih dari wanita yang akan menjadi makmum. Kebahagian seseorang bukan dinilai dari kaya atau miskin pasangan kita? Namun seberapa besar laki-laki itu menghargai kelebihan dan kelemahanku. Jujur aku kecewa mendengar keputusanmu, tapi aku bangga pernah mengenalmu. Sebab kamu satu-satunya orang yang memikirkan bahagiaku sebelum bahagiamu!" ujar Nur lantang, Fahmi menoleh ke arah Nur.
"Seandainya aku terlahir kaya, mungkin aku akan meminangmu malam ini. Namun aku menyayangi Nur yang sederhana dan aku bahagia dengan hidupku saat ini. Aku menyayangimu!"
__ADS_1
"Laki-laki sejati!" ujar Dirgantara tegas.