KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Cetak Biru


__ADS_3

"Kamu marah!" ujar Ibra cemas, Nur menoleh dengan tatapan heran.


"Marah, kenapa aku harus marah?" sahut Nur santai, Ibra menghela napas. Jelas jawaban santai Nur, layaknya dingin es yang membekukan tulang-tulangnya.


"Sikap papa padamu. Dia membuatmu malu di depan semua orang!"


"Aku tidak marah, apalagi malu dengan perkataan tuan Haykal. Nyatanya memang aku seorang gadis desa. Tidak ada alasan aku marah, sebab semua perkataan tuan Haykal benar adanya!"


"Papa mengatakannya, karena ingin membuatmu malu!"


"Tidak penting tujuannya berbicara seperti itu. Aku tidak keberatan dia merendahkanku. Kelak bukan aku yang akan merugi, biarkan waktu yang menjawab. Siapa diantara aku dan tuan Haykal yang akan kalah?"


"Maksudmu!"


"Tidak ada, aku hanya sekadar bicara. Jangan diambil hati, kamu akan mengerti saatnya tiba!" sahut Nur santai, lalu berjalan keluar dari dapur.


Ibra menatap dingin Nur, perkataan Nur menyimpan banyak makna. Sebuah kata yang tidak mudah dipecahkan. Entah apa yang dipikirkan Nur? Jelas Ibra menangkap sebuah persaingan yang mulai digaungkan oleh Nur. Isyarat sebuah pembuktian akan kemampuan dan status Nur sebagai seorang wanita.


"Silahkan roti dan teh!" ujar Nur ramah, semua orang mengangguk mengiyakan tawaran Nur.


Nur memilih duduk di sudut sofa. Sengaja dia tidak mendekat pada orang-orang. Dia memilih duduk sendirian. Sebab Embun masuk ke dalam kamar. Kepala Embun terasa pusing, jadi dia izin untuk masuk ke dalam kamar. Akhirnya Nur duduk sendirian, meski Nur mengenal semua orang. Namun masih terasa canggung, jika tanpa Embun.


"Nur!"


"Iya tante Indira!" sahut Nur seraya mendongak. Nur meletakkan laptop yang sedang di pangkunya. Sejak duduk di sofa, Nur sibuk dengan laptopnya. Melupakan sejenak keramahan yang ada di sekitarnya.


"Sejak tadi tante perhatikan kamu sibuk dengan laptop. Memangnya ada pekerjaan penting, sampai kamu lupa istirahat? Lagipula, besok hari libur!" ujar Indira hangat, Nur tersenyum.


"Maaf tante Indira, ada pekerjaan yang harus selesai malam ini!"


"Pekerjaan, memangnya siapa bos yang membuatmu bekerja sampai malam?" sahut Arya, sembari melirik ke arah Iman.


"Kenapa menatapku?" sahut Iman sinis, Arya terkekeh mendengar kekesalan Iman.


"Maaf papa Arya, ini pekerjaan sambilanku. Jadi tidak ada hubungannya dengan perusahaan abah Iman atau perusahaan kak Abra!"


"Kamu kerja sambilan, memangnya kamu sedang kekurangan!" sahut Ibra cemas, lalu duduk di sebelah Nur. Raut wajah Ibra langsung cemas, takut Nur dalam kesusahan.


"Jika memang dia sedang kesusahan, apa kamu bisa membantunya?" ujar Abra, Ibra menelan ludahnya kasar. Nur menunduk malu, ketika Ibra duduk begitu dekat dengannya.


"Setidaknya aku bisa memberikan gajiku padanya!" sahut Ibra lirih, Abra tersenyum mendengar jawaban polos adiknya.

__ADS_1


"Tidak perlu Ibra, aku masih mampu memenuhi kebutuhanku. Aku kerja sambilan, bukan karena aku kekurangan uang!"


"Lalu!"


"Aku mengambil pekerjaan ini, sebab aku mencintai pekerjaanku. Selama ini, aku bekerja bukan semata demi uang. Ada rasa bahagia, ketika aku bisa melakukan pekerjaanku tepat waktu!" sahut Nur ramah, Ibra menghela napas lega.


"Kamu dengar itu Ibra, Nur selalu melakukan pekerjaannya tepat waktu. Tidak sepertimu yang selalu telat menyelesaikan semuanya!" ujar Abra sinis, Ibra langsung menatap Abra dengan raut wajah kesal.


"Mama, kakak mengejekku!" ujar Ibra lantang, Indira menggelengkan kepalanya mendengar rengekan Ibra.


"Diam Ibra, tidak pantas kamu bersikap seperti itu. Apalagi Nur ada di sampingmu!" sahut Indira, Arya dan Iman terkekeh. Abra menepuk pelan keningnya. Dia tidak percaya, Ibra bisa bersikap semanja itu pada Indira.


"Nur, lebih baik kamu mencari calon imam yang lain. Ibra belum siap menjadi imam sepenuhnya!" sahut Iman, Ibra langsung menggelengkan kepalanya tidak setuju.


"Kamu benar Iman, nanti papa yang akan mencarikan calon untukmu. Papa akan mengenalkan rekan bisnis papa!" ujar Arya menimpali, Ibra langsung menoleh ke arah Nur. Ibra menggelengkan kepalanya, berharap Nur menolak tawaran Iman dan Arya.


"Nur, jangan katakan iya. Aku mohon tolak tawaran mereka. Aku janji akan berubah, aku akan menjadi orang sukses!" ujar Ibra lantang dan tegas, Nur menatap nanar Ibra. Menatap sebuah kesungguhan yang ada di dua mata Ibra.


"Ibra, terima kasih kamu begitu peduli akan diriku. Jujur Ibra, aku tidak butuh calon imam yang kaya atau sukses. Aku tidak mengharapkan keluarga kaya dan terpandang. Aku tidak pernah bermimpi menjadi seorang nyonya besar. Bahkan aku tidak pernah membayangkan hidup dengan kemewahan. Satu hal yang selalu ada dalam doa dan sujudku. Aku mendapatkan seorang imam yang mampu menuntunku, membimbingku dan jika perlu menegurku. Imam yang mampu membuatku yakin, bersamanya aku akan merasakan bahagia dunia akhirat. Bukan kekayaan duniawi yang hanya sementara dan akan hilang bila sang pemilik mengambilnya. Jadi jangan pernah menjanjikan apapun padaku? Sebab aku tidak pernah menginginkan semua itu!" tutur Nur lirih, Ibra terdiam membisu. Perkataan Nur langsung menusuk ke dalam hatinya. Menyadarkan Ibra, jika Nur tidak hanya cantik wajahnya. Nur memiliki hati yang suci dan murni.


"Indira, dia wanita yang akan membuat putramu bahagia!" bisik Afifah lirih, Indira mengangguk sembari terus menatap Nur. Seorang wanita yang tiba-tiba mengetuk hatinya. Menyakinkan dirinya, jika dia menantu terbaik.


"Bohong, jika seorang wanita tidak mengharapkan kemewahan!" ujar Sofia sinis, Arya langsung menoleh.


"Iya memang bohong, jika wanita itu adalah kamu. Dalam hidupmu hanya ada foya-foya. Kamu akan menangis, ketika semua telah habis dan tidak ada lagi yang mampu memberikanmu kemewahan!" sahut Arya dingin, Iman mengangguk setuju.


"Indira, segera pinang Nur. Sebelum ada lamaran baik yang mendahuluimu!" ujar Iman, Indira mengacungkan kedua jempolnya setuju .


"Segera aku akan datang ke rumahnya!" sahut Indira, Ibra langsung tersenyum bahagia.


"Nur, aku akan segera meminangmu!" bisik Ibra, Nur hanya diam tak menyahuti perkataan Ibra.


"Tunggu, aku belum menyetujuinya!" ujar Haykal lantang dan dingin. Haykal yang baru saja bergabung, langsung berbicara begitu dingin dan pesimis akan hubungan Nur dan Ibra.


"Papa!" ujar Indira, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Isyarat Indira tidak ingin Haykal meneruskan perkataannya.


"Kenapa Indira? Aku berhak bicara, dia putraku!" sahut Haykal lantang, menolak permintaan Indira.


"Kenapa papa harus mempersulitku?" ujar Ibra lirih, Haykal menoleh dengan tatapan dingin.


"Ingat Ibra, papa berhak mengutarakan pendapat. Kamu putra papa, tidak ada yang lebih berhak daripada papa!" ujar Haykal dingin, Abra hanya bisa menggelengkan kepalanya tidak percaya. Haykal mampu bersikap sedingin itu pada Ibra.

__ADS_1


"Sekarang, katakan apa keinginan papa? Aku akan melakukan apapun? Agar papa bisa menerima Nur sebagai calon istriku!" ujar Ibra lantang, Haykal menggelengkan kepalanya. Dia menolak tawaran yang diberikan Ibra.


"Lantas, apa yang kamu inginkan sebenarnya Haykal? Sebagai orang tua seharusnya kamu bahagia mendengar kesungguhan hubungan mereka!" sahut Arya kesal, Iman langsung menahan tangan Arya. Seolah tidak ingin Arya melampiaskan amarahnya.


Amarah Arya benar-benar terpancing. Dia tidak suka mendengar Haykal terus merendahkan putri angkatnya. Nur sudah dianggap seperti putri bagi Arya. Persahabatan Nur dengan Embun, menjadi alasan terbesar Arya meminta Nur menjadi saudara angkat Embun.


"Haykal, katakan dengan jelas keinginanmu. Agar hubungan Nur dan Ibra jelas ke depannya. Jika memang kamu menolak hubungan mereka. Maka aku sendiri yang akan melarang hubungan mereka. Aku tidak ingin Nur terus berharap pada sebuah tangkai yang rapuh!" ujar Iman tegas, Ibra menunduk menatap lantai marmer. Hatinya gelisah mendengar isyarat ketidaksetujuan Iman akan cintanya pada Nur.


"Aku akan menyetujui hubungan mereka. Jika wanita itu bisa menyelesaikan cetak birunya besok pagi. Aku ingin melihat kemampuannya, sehingga pantas menjadi menantuku!" ujar Haykal, Ibra langsung mendongak.


"Papa, ini hidupku dan aku yang menjalaninya. Kenapa papa campuradukkan dengan pekerjaan?" sahut Ibra kesal, Nur diam membisu. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


"Kamu kehilangan akal, ketamakanmu tidak akan pernah berubah!" sahut Arya kesal, Haykal tersenyum sinis.


"Itu tantangan yang harus dipenuhi oleh wanita itu!" ujar Haykal sinis.


"Nur, jangan pernah buktikan apapun? Kita seorang wanita harus diperjuangkan, bukan berjuang demi laki-laki. Jaga harga dirimu, tunjukkan pada Haykal. Jika kamu mampu membuat Ibra tiada dengan rasamu. Sekali kamu menuruti permintaan Haykal. Selamanya dia akan menganggapmu pantas diperlakukan rendah!" ujar Afifah sinis, Iman langsung menoleh ke arah Afifah. Tatapan mereka bertemu di udara. Sebuah isyarat yang hanya bisa dimengerti oleh keduanya.


"Iman, kode keras!" bisik Arya, Iman langsung menyenggol lengan Arya.


"Diam kamu!" sahut Iman kesal, Arya terkekeh mendengar perkataan Iman.


Nampak Nur berjalan menuju meja di sudur ruang tengah. Nur mengambil kertas panjang di dalam tasnya. Semua orang terdiam, menatap nanar punggung Nur. Wanita penuh ketulusan yang terus terhina oleh Haykal. Status sosial yang selalu dipertanyakan dan diragukan oleh Haykal.


"Kak Abra, tolong berikan ini pada tuan Haykal. Itu cetak biru yang baru, sedangkan konsepnya akan aku kirim melalui email!" ujar Nur lirih, Iman langsung berdiri. Dia mengambil gulungan dari Abra. Iman membukanya, lalu melihat dengan seksama cetak biru yang diberikan Nur.


"Tidak mungkin kamu bisa menyelesaikannya dalam sehari!" ujar Iman, lalu memberikan gulungan kertas pada Haykal.


"Tuan Haykal, terima kasih atas tawaran restu yang anda berikan. Namun dengan setulus hati aku menolaknya. Hubungan antara aku dan Ibra belum terjalin dan tidak perlu anda memikirkannya. Temukan saja wanita yang pantas menjadi menantumu. Nikahkan dia dengan Ibra putra kebanggaanmu. Jangan pernah menganggap hubungan diantara aku dan Ibra serius!"


"Lalu, kenapa kamu mengerjakan ini?" ujar Haykal dingin.


"Semua demi Embun, aku hanya membantu sahabatku. Tentang tantangan yang anda katakan tadi. Tidak perlu anda penuhi, sebab aku menyelesaikan cetak biru itu murni sebuah kewajiban. Tidak ada sangkut pautnya dengan rasa yang ditawarkan putramu!" ujar Nur, lalu pamit meninggalkan semua orang.


"Nur!" sapa Ibra lantang.


"Satu hal lagi tuan Haykal, sekali saja anda pahami suara hati putramu. Jangan biarkan ketamakan dan kesombonganmu membuat mereka jauh dari hidupmu!"


"Ibra, jangan pernah mengingat namaku. Orang tuamu tidak akan pernah memilihku, dalam hati dan pikiran mereka. Hanya ada mewah dan kseuksesan. Rasamu terlalu murni, jika harus tergadai. Apalagi dengan cetak biru yang murah!" ujar Nur, lalu berjalan menuju lantai atas. Kebetulan malam ini dia menginap. Nur masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Ibra yang terdiam tanpa kata.


"Kamu kalah Haykal, kamu kalah oleh ketulusan wanita desa!" bisik Indira lirih, lalu menghampiri Abra.

__ADS_1


__ADS_2