KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Tamparan


__ADS_3

Seminggu sudah Embun dan Abra tinggal di rumah baru mereka. Keputusan besar yang sengaja diambil Abra. Ketika menyadari Haykal tidak akan pernah menerima Embun. Abra merasa pergi dan tinggal berdua. Akan membuat semua menjadi lebih baik. Setidaknya Embun tidak akan tertekan dan Haykal akan merasa nyaman tinggal tanpa wanita desa.


Nur tidak lagi menetap di desa. Dia memilih tinggal di kota menemani Embun. Keduanya bekerja bersama, menjadi arsitek di perusahaan Abra. Namun Nur yang lebih banyak di kantor. Sedangkan Embun memilih berada di belakang meja. Embun bersifat membantu, sedangkan Nur yang akan menangani semuanya sendiri.


"Sayang, kamu hari ini ke kantor!"


"Tidak!" sahut Embun, seraya menggelengkan kepalanya lemah.


"Sayang, kamu sakit!" ujar Abra cemas, lalu menyentuh kening Embun. Namun tak terasa demam, hanya saja wajah Embun terlihat sedikit pucat.


"Kepalaku pusing, mungkin karena sejak tadi pagi aku muntah. Aku sudah menghubungi Nur, dia yang akan menggantikanku!"


"Kita pergi ke rumah sakit. Takut terjadi sesuatu padamu!"


"Tidak perlu kak, hal seperti ini biasa pada trimester pertama. Aku memang lemas, tapi aku masih kuat berdiri. Kalau aku sudah tidak kuat, kakak bisa membawaku ke rumah sakit!" ujar Embun santai tanpa beban.


"Kalau begitu, aku yang akan bekerja dari rumah!" ujar Abra tegas, Embun menggelengkan kepalanya. Menolak ide yang terucap dari bibir Abra.


"Kenapa?" sahut Abra heran, meski dia tahu. Jika Embun akan menolak keinginannya.


"Kakak seorang pemimpin, tidak pantas rasanya jika cuti hanya karena aku!"


"Aku juga kepala keluarga, jadi sangat pantas. Kalau aku memilih tetap di rumah!" sahut Abra menimpali, Embun diam membisu.


"Baiklah, kita pergi ke kantor. Aku akan berganti pakaian!" ujar Embun, seraya berdiri. Lemah tubuh Embun, membuatnya sedikit berusaha untuk berdiri. Abra yang melihat Embun kesulitan, langsung menahan tubuh Embun agar tida jatuh.


"Baiklah, aku akan pergi ke kantor. Dengan syarat, kamu akan menghubungiku. Kalau nanti terjadi sesuatu!" ujar Abra tegas, Embun mengangguk sembari mengacungkan jempolnya ke udara.


"Kenapa kamu begitu keras kepala? Sedangkan aku selalu menuruti keinginanmu dan terpaksa mengalah dengan keputusanmu!" Gumam Abra, Embun tersenyum. Lalu merangkul lengan Abra mesra.


"Karena kakak akan selalu lunak padaku. Bukan kakak takut padaku, tapi kakak menghargaiku dan hanya ingin melihat bahagiaku. Terima kasih sudah bersedia mengalah, tapi percayalah kak. Aku hanya peduli akan kehormatanmu!" ujar Embun, Abra mengedipkan kedua matanya.


"Sayang, jika kamu ingin pulang ke desa. Katakan saja, aku akan mengantarmu. Namun hanya beberapa hari, setelah itu kamu pulang kemari. Aku tidak bisa jauh darimu untuk waktu yang lama!"

__ADS_1


"Aku tidak ingin pulang, sebab kakak membuatku lupa segalanya. Suasana di rumah ini sudah menghapus rindu untuk desaku. Kakak tahu cara mengalahkanku, dengan menyerang titik lemahku!"


"Aku belajar semua itu darimu. Kamu membuatku diam dengan sabarmu. Sekarang aku menguasai hatimu, dengan membawa desamu dalam istana kita. Jadi tidak akan ada desa atau kota. Istana kita memiliki keduanya, karena kita lahir di dua tempat yang berbeda dan berakhir di istana yang sama!" tutur Abra bijak, Embun mengangguk pelan.


"Terima kasih, aku semakin menyayangimu!" ujar Embun, Abra mengedipkan kedua matanya. Lalu menarik tubuh Embun ke dalam pelukannya.


"Seandainya aku tidak harus ke kantor. Aku akan menerima tantanganmu!"


"Tantangan!" ujar Embun tidak mengerti.


"Perkataanmu tanpa sadar membangkitkan gairahku!" ujar Abra santai, sontak Embun meronta. Abra malah semakin erat memeluk Embun.


"Awwwwsss!" teriak Embun, Abra terkejut lalu melepaskan pelukannya.


"Sayang, dimana yang sakit? Aku memelukmu terlalu kuat!" ujar Abra cemas, Embun tersenyum.


"Aku bohong!" ujar Embun, lalu berlari menghindar dari Abra.


Embub berlari menghindari Abra, sebaliknya Abra mengejar Embun dengan rasa cemas. Akhirnya langkah kaki Embun terhenti tepat di depan pintu. Sedangkan langlah Abra terhenti, ketika ponselnya berdering. Embun yang melihat Abra tengah sibuk dengan ponselnya. Memilih menunggu Abra di depan pintu. Embun duduk di kursi teras depan rumah.


"Embun!"


"Naura!" sahut Embun lirih, seraya berdiri tepat di depan Naura.


Naura adik perempuan Abra berdiri dengan angkuh tepat di depan Embun. Raut wajahnya penuh amarah, menampakkan kemarahan yang seolah tersimpan dalam diri Naura. Embun terdiam, saat menyadari Naura melihatnya dengan penuh amarah.


Plaaakk


"Beraninya kamu meminta kak Abra pergi dari rumah. Kamu tidak berhak membawanya!" ujar Naura penuh amarah. Embun terkejut seraya menyentuh pipinya yang terasa panas.


Suara tamparan Naura terdengar begitu keras. Abra menoleh terkejut, saat mendengar suara. Namun Abra mengacuhkannya, berpikir Embun bercanda seperti tadi. Sedangkan Embun mencoba menenangkan hatinya. Naura membuat jantung Embun berdetak hebat.


"Naura, apa yang kamu lakukan? Aku tidak pernah meminta kak Abra keluar dari rumahmu!"

__ADS_1


"Buktinya, kamu membawa kakakku pergi. Apa kamu tahu? Rumahku sekarang dingin, kak Abra pergi membawa separuh hidup papa. Mama hanya bisa menangis, ketika dia menyadari asanya harus berakhir!"


"Aku tidak pernah tahu, kak Abra membeli rumah ini. Aku tidak pernah memintanya, walau aku memang ingin keluar dari rumahmu!"


"Kamu memang benalu, kamu menghancurkan ketenangan keluargaku!" ujar Naura kesal, tangannya mulai terangkat. Namun Embun sigap menangkan tangan Naura. Lalu menghempaskan ke udara.


"Jangan pernah mengangkat tanganmu lagi. Aku tadi diam, karena aku masih menghargaimu. Namun tidak untuk kedua kalinya. Jangankan kamu, kakakmu Abra tidak berhak menamparku. Bahkan seluruh keluarga Abimata tak memiliki hak itu!" ujar Embun lantang, Naura mematung. Dia ketakutan melihat amarah Embun. Sikap yang tak pernah dia bayangkan. Berpikir Embun akan tetap diam, meski Naura bersikap kasar.


"Ingat Naura, aku tidak pernah meminta atau memaksa kakakmu pergi. Dia pergi atas keinginannya sendiri. Kamu tidak seharusnya menyalahkanku, sebaliknya belajarlah untuk mengakui kesalahanmu sendiri. Seorang anak tidak akan pergi, jika orang tuanya menghargai keputusan dan bahagia atas senyum putranya. Seorang kakak tidak akan meninggalkan adiknya. Seandainya sang adik, sedikit saja memahami isi hatinya. Abra bukan anak kecil yang akan luluh dan patuh. Ketika aku membujuknya dengan mainan atau kasih sayang. Dia sudah terlalu dewasa, untuk mematuhi perkataan orang lain. Seharusnya kepergian kak Abra, membuatmu menyadari kesalahan. Bukan menyalahkanku yang akan membuat hubungan diantara kalian semakin memburuk!"


"Diam kamu!" teriak Naura.


"Jangan berteriak, ini rumahku bukan kediaman Abimata. Bukan aku yang harus menjaga sikap. Kamu yang seharusnya sadar diri. Aku akan menyambutmu dengan hangat, jika kamu datang dengan sopan. Sebaliknya, aku akan bersikap kasar. Jika kamu datang hanya untuk menyulut api pertengkaran!" ujar Embun lantang dan tegas. Bahkan Embun terkesan membentak Naura.


"Beraninya kamu membentakku!" ujar Naura kesal, lalu mengangkat tangannya. Embun menangkisnya, lalu berbalik mengangkat tangan ke arah Naura.


Plaakk


"Jangan melangkahi batasmu Naura. Ayah yang membesarkanku dengan keringatnya. Tak pernah sekalipun mengangkat tangannya. Kamu hanya anak manja keluarga Abimata. Mungkin harga diriku tak berharga di matamu. Namun tak lantas membuatmu berhak bersikap kasar padaku!" ujar Embun, Naura memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan Embun benar-benar membuat Naura tak berkutik.


"Sayang, ada apa?"


"Kakak, dia menamparku!" rengek Naura, lalu berhambur memeluk Abra. Seketika Abra menoleh ke arah Embun. Tatapan yang seolah ingin mengatakan, jika perkataan Naura benar adanya.


"Kenapa kamu menamparnya?" ujar Abra lirih, Embun diam. Lalu memutar tubuhnya masuk ke dalam rumah.


"Sayang, jawab aku!" ujar Abra, sembari mendekap erat Naura yang sedang ketakutan. Jelas Naura takut melihat amarah Embun. Tamparan Embun nyata, membuat Naura berpikir dua kali untuk menyakiti Embun.


"Tanyakan alasanku, saat hati dan pikiranmu tenang. Percuma aku mengatakan alasannya sekarang. Jika seandainya, dalam hatimu hanya percaya perkataan Naura. Maaf kak, aku masuk lebih dulu. Tenangkan Naura, tamparanku jelas membuatnya kesakitan!"


"Sayang!"


"Aku baik-baik saja, adikmu lebih membutuhkanmu!" sahut Embun lirih, Abra diam menatap punggung Embun yang pergi meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2