KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Pulang Tengah Malam


__ADS_3

"Papa Arya!" sapa Abra, sesaat setelah dia masuk ke dalam rumahnya.


Abra merasa heran, melihat mobil Arya ada di halaman rumahnya. Bukan Abra melarang Arya datang ke rumahnya. Namun di waktu selarut ini, sungguh Abra heran melihat Arya bertamu di rumahnya. Abra melirik jam di dinding rumahnya. Waktu menunjukkan pukul 23.00 WIB, hampir tengah malam. Sebab itu Abra merasa tak percaya melihat Arya duduk santai, sembari mengutak-atik laptop.


"Kamu baru pulang!" sahut Arya, Abra mengangguk pelan.


Sebenarnya Abra ingin langsung pulang setelah sholat isya. Namun Abra enggan masuk ke dalam rumah. Ketika mengetahui Embun tidak ada di dalam rumah. Embun belum pulang, mobil Iman terjebak macet. Ada kecelakaan yang membuat jalanan macet. Sebab itu Abra memilih mampir ke rumah keluarga Abimata. Dia ingin menanyakan langsung masalahnya pada Haykal. Namun Abra tidak pernah menduga, jika Arya ada di rumahnya. Jelas Arya menunggu Abra sudah sangat lama.


"Maaf, Abra tidak mengetahui papa datang. Jika Abra tahu, tentu Abra akan langsung pulang!"


"Kamu menemui Haykal!" ujar Arya, Abra mengangguk pelan.


"Abra, papa ingin bicara!" ujar Arya, tanpa banyak berpikir. Abra langsung duduk di depan Arya.


"Iman sudah menghubungiku, dia menceritakan kesalahpahaman diantara dirimu dan Embun!"


"Papa, Abra tidak pernah bermaksud menuduh papa. Percayalah, Embun salah paham!" ujar Abra mencoba menjelaskan, Arya mengangguk sembari menepuk pelan tangan Abra.


"Tenanglah Abra, dengarkan papa bicara. Tanpa kamu menjelaskan, papa sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Satu hal lagi, kedatanganku bukan untuk menyalahkan atau marah padamu. Papa hanya ingin menjelaskan masalah yang terjadi. Lagipula, selama Embun baik-baik saja. Papa tidak keberatan kamu berpikir seburuk apapun tentang papa. Kita dua laki-laki yang sama-sama menyayangi Embun. Hanya tenang dan bahagianya yang menjadi tujuan hidup kita!"


"Maafkan Abra!"


"Tidak perlu meminta maaf, sudah papa katakan. Papa datang ingin menjelaskan masalah yang terjadi. Bukan mencari siapa yang benar dan siapa yang salah?" ujar Arya tegas, Abra menunduk bingung. Dia merasa bodoh telah mengatakan pemikiran yang tidak masuk akal. Namun semua terlanjur terucap, tidak ada yang bisa memutar waktu.


"Abra, masalah yang dialami Haykal. Tidak ada sangkut pautnya dengan perusahanku. Kerjasama yang ditandatangani Haykal, itu mega proyek milik papa Dewangga. Keserakahan Haykal yang membuatnya tamak dan lupa akan kemampuan perusahaannya. Haykal tidak menyadari resiko yang harus ditanggungnya. Jika sampai mega proyek itu tidak sesuai target. Iman sudah berusaha membantu, dengan mengambil alih proyek dari papa Dewangga. Namun sebagai seorang pembisnis, papa Dewangga melarang Iman ikut campur. Papa dengan tegas meminta Iman tidak ikut campur. Mungkin papa Dewangga memiliki rasa marah pada Haykal. Namun kerugian yang dialami Haykal, murni akibat ketamakan dan kesombongannya!"

__ADS_1


"Maafkan aku pa, aku telah menuduh papa!" ujar Abra lirih, Arya menggelengkan kepalanya pelan.


"Papa mengerti perasaanmu, sebagai seorang anak. Tentu kamu sakit melihat orang tuamu terluka. Layaknya Embun yang bersikap kasar padamu. Ketika hatinya sakit, mendengar tuduhanmu padaku. Embun tidak pernah ingin merendahkanmu, sebagai seorang anak Embun merasa kecewa. Saat kamu sebagai orang yang paling dekat dengannya. Begitu mudah berpikir buruk tentang keluarganya. Kalian berdua tidak salah, ego dan sikap keras kepala yang membuat kalian selalu berbeda!"


"Mungkin aku yang terlalu emosi, sampai Embun merasa kecewa denganku!"


"Tidak Abra, kamu tidak salah. Emosimu wajar dalam kondisi seperti itu. Malah papa bangga padamu Abra. Kamu selalu tenang menghadapi keras Embun. Kamu tidak bersikap berlebihan yang akhirnya membuat pernikahan kalian berakhir. Sikap jantan seorang laki-laki yang terus memahami, tanpa berpikir tersakiti. Terima kasih Abra, kamu bersedia mengalah dengan sikap keras Embun. Satu hal yang sangat penting, berkat dirimu dan tuduhanmu. Papa merasa bahagia, amarah dan rasa kecewa Embun. Bukti dia sudah menerima papa dan menyayangi papa!"


"Papa!"


"Sebab itu aku tidak marah, kesalahpahaman kalian membuatku bahagia!" ujar Arya sembari tertawa. Abra langsung menghela napas lega. Akhirnya kesalahpahaman yang terjadi berakhir. Kini hanya menunggu Embun pulang. Menjelaskan yang terjadi, dengan sebuah pengertian dan kasih sayang.


"Abra, Embun ada di mobil. Dia tertidur dalam perjalanan. Tadi sempat Embun muntah-muntah dan akhirnya dia lemas!" ujar Iman, Abra dan Arya langsung berdiri. Mereka cemas mendengar kondisi Embun.


"Bagaimana kondisi Embun sekarang?" ujar Abra cemas.


Abra langsung membuka mobil, dia melihat Embun tertidur dipangkuan Afifah. Nampak Embun meringkuk dalam pelukan Afifah. Abra terharu melihat kedekatan Afifah dan Embun. Sepintas Abra bersyukur, dia bahagia melihat Embun merasakan kasih sayang seorang ibu. Suara dengkuran halus Embun, jelas menunjukkan rasa nyaman Embun dalam pelukan Afifah.


"Kamu belum mengantarnya pulang. Jangan katakan, kamu akan meminta Afifah menginap. Ingat Iman, dia bukan mukhrimmu!" bisik Arya, Iman menoleh dengan tatapan tak marah.


"Kamu lihat sendiri, Embun tidur di pangkuan Afifah. Jika aku mengantarnya pulang, sama saja aku membangunkan Embun!"


"Kamu hanya mencari alasan!" sahut Arya, Iman menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak akan memintanya menginap, Afifah akan kuantar pulang!"

__ADS_1


"Kalian berdua di dalam mobil!"


"Tentu tidak, kamu akan ikut bersamaku. Ingat kamu itu adik iparku. Jadi bersikap patuhlah padaku!" ujar Iman tegas, Arya terkekeh mendengar perkataan Iman.


"Dokter Afifah, silahkan masuk. Kita makan tengah malam bersama. Kebetulan aku belum makan!"


"Terima kasih, aku sudah makan malam!" sahut Afifah ramah, Iman menoleh ke arah Arya. Seakan ingin mengolok-olok Arya yang gagal meminta Afifah masuk ke dalam rumah.


"Iman, aku pulang dulu!"


"Tunggu Afifah, masuklah ke dalam. Nanti aku yang akan mengantarmu pulang. Setidaknya malam ini, kita begadang bersama. Lagipula besok kamu libur!" ujar Iman, Afifah mengiyakan tanpa banyak bicara.


"Iman, kamu mencatat jadwal kerjanya!" goda Arya, Iman mengangguk pelan. Lalu memeluk Arya, mengajaknya masuk ke dalam rumah. Afifah mengikuti langkah Arya dan Iman. Ketiganya berjalan perlahan menuju ruang tengah rumah Abra.


"Aku bahkan sudah membuat jadwal kencan dengannya!" sahut Iman, balas menggoda Arya.


"Tidak mungkin!" sahut Arya lantang, Afifah yang mendengar pembicaraan Arya dan Iman hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Jangan teriak, ingat Embun sedang istirahat!" ujar Afifah lirih, Arya dan Iman kompak mengangguk bersama.


Sejak melihat kedatangan Embun, Abra tidak peduli lagi pada Arya dan Iman. Abra hanya fokus pada Embun. Apalagi setelah mendengar kondisi Embun. Sontak Abra membawa Embun masuk ke dalam kamarnya. Dengan hati-hati Abra menggendong Embun. Meletakkan Embun di tempat tidur dan menyelimuti Embun dengan penuh kasih sayang.


"Maaf!" ujar Embun lirih, dengan mata terpejam. Abra terkejut mendengar Embun mengigau. Setetes air mata Embun jatuh di pelupuk matanya. Embun menangis dalam tidurnya, Abra merasakan ngilu teramat melihat Embun terluka. Abra menyeka air mata Embun, lalu mengusap lembut pipi Embun.


Cup

__ADS_1


"Tidurlah sayang, aku akan menjagamu!" ujar Abra sesaat setelah mengecup lembut kening Embun.


"Aku tidak akan pernah bisa marah padamu. Maafkan aku yang telah menyakiti hatimu. Meski aku melakukannya tanpa sengaja. Jangan pernah menangis sayang, air matamu terlalu berharga. Aku mencintaimu, terima kasih telah hadir mengisi hidupku. Aku akan belajar memahamimu. Meski butuh waktu kamu memahamiku!" batin Abra, lalu mengecup lembut punggung tangan Embun.


__ADS_2