
"Embun!" Sapa Nur lirih, saat melihat dua mata Embun perlahan terbuka.
Hampir tiga jam lebih, Nur menemani Embun. Namun tak ada tanda-tanda Embun akan tersadar. Nur mulai gelisah, saat menyadari Embun telah tertidur begitu lama. Namun perawatan yang diterima Embun. Sudah sangat baik, sehingga Nur berpikir Embun akan baik-baik saja. Akhirnya Nur tetap memutuskan menemani Embun. Setidaknya sampai Embun tersadar dari tidur panjangnya.
Jam terus berdetak, detik berganti menit dan menit berganti jam. Waktu tak lagi pagi, siang mulai menyapa dengan terik mataharinya. Nur mulai gelisah, bukan takut akan kondisi Embun. Sebab Embun sudah mendapatkan perawatan terbaik. Nur mulai resah, ketika sayub terdengar suara azan ashar. Waktu yang menunjukkan tidak lagi siang. Sore yang datang, hendak menyambut malam. Waktu terakhir Nur berada di rumah Embun. Sebab akan sulit baginya pulang. Jika senja menyeruak di ufuk barat.
Namun saat Nur berpamitan pada Embun. Perlahan dua mata sayu sahabatnya terbuka. Nur tersenyum lega, dia melihat sahabatnya sadarkan diri. Bangun dari tidur dan seakan mengatakan aku baik-baik saja. Sesungguhnya Embun terbangun, ketika dia merasakan setetes air mata. Terasa dingin menyentuh kulitnya yang tipis. Saat dia membuka mata, nampak Nur tengah berada di sampingnya.
"Nur!" Sapa Embun, membalas sapaan penuh kasih sayang Nur.
"Akhirnya aku bisa pulang dengan tenang!" Ujar Nur lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Nur menatap heran, seolah dia merasa Embun tengah memintanya tinggal.
"Ada apa Embun?"
"Tinggallah, aku mohon!" Ujar Embun lemah, Nur diam membisu. Tetap tinggal, artinya dia harus menginap di rumah Abimata. Nur merasa tidak nyaman jika harus menginap. Namun seandainya Embun memaksa, suka tidak suka Nur harus menginap.
"tapi!"
"Aku mohon, temani aku malam ini saja. Sudah lama kita tidak bertemu!" Pinta Embun menghiba, Nur akhirnya mengangguk. Dia merasa tidak tega menolak permintaan Embun.
Nur akhirnya menghubungi orang tuanya. Dia memutuskan untuk menginap. Nur sebenarnya enggan, tapi demi Embun. Nur bisa melakukan apapun? Termasuk tidur di tempat yang asing baginya. Sekarang bagi Nur, melihat kesembuhan Embun yang paling penting.
"Embun, kamu ingin apa?" Ujar Nur cemas, ketika melihat Embun berusaha bangun dari tidurnya.
"Bantu aku duduk, tubuhku sakit terlalu lama tidur!" Ujar Embun, Nur mengangguk pelan.
Embun menoleh ke arah tangannya. Dia melihat selang infus yang tertancap di tangannya. Sontak wajah Embun pucat pasi. Sejak kecil, Embun takut akan jarum suntik. Embun akan langsung ketakutan, jika melihat jarum suntik ada di depannya. Nur yang mengetahui ketakutan Embun, sontak tertawa. Dia sangat mengenal Embun, tegar dan kuat Embun akan kalah hanya dengan jarum suntik.
"Nur, aku mohon!" Ujar Embun, seraya mengulurkan tangannya. Embun mengalihkan pandangannya, dia terlalu takut melihat jarum infus.
"Tidak bisa, kamu masih sakit!" Ujar Nur, sembari menahan tawa. Embun menggelengkan kepalanya lemah, Embun mengibas-ngibaskan tangannya. Berpikir jarum infus akan terlepas begitu saja.
"Embun, hentikan. Jika kamu terus melakukannya. Bukan jarumnya yang terlepas, tapi darahmu yang mengalir!" Ujar Nur mulai khawatir. Embun tidak peduli, akhirnya Nur menahan tangan Embun. Berharap Embun menghentikan sikap kekanak-kanakannya.
"Suster Via!" Teriak Nur, suara lantangnya menggema sampai keluar dari kamar Embun.
Abra dan Indira mendengar teriakkan Nur, langsung berlari menaikki tangga. Mereka bergegas menuju kamar Abra. Ada rasa takut yang begitu besar. Ketika mendengar teriakkan Nur, mereka berpikir kondisi Embun mungkin memburuk. Suster Via yang berjaga di luar kamar Abra. Langsung berlari masuk ke dalam kamar Abra. Via melihat Nur tengah kewalahan menahan tangan Embun. Setetes darah mulai keluar, jelas jarum infus mulai bergeser. Via langsung menahan tangan Embun. Berharap Embun menghentikan perbuatannya.
"Embun, aku mohon hentikan!" Ujar Nur cemas, ketika melihat darah Embun mulai menetes. Tubuh Embun mulai bergetar, jelas ketakutan Embun benar-benar nampak. Nur yang semula merasa lucu melihat ketakutan Embun. Kini menjadi sangat khawatir, ketika Embun tak bisa mengendalikan ketakutannya.
"Lepaskan sekarang!" Teriak Embun sekuat tenaga, tangan kanannya hendak meraih selang infus. Namun ditahan oleh Nur, sedangkan suster Via masih berusaha melepas selang infus.
__ADS_1
"Embun, ada apa sayang? Kenapa kamu berteriak?" Teriak Abra cemas, sesaat setelah masuk ke dalam kamarnya.
Indira histeris melihat darah segar Embun yang menetes. Abra langsung pucat, melihat darah Embun. Abra takut terjadi sesuatu pada Embun. Abra langsung menghampiri Embun, mendekap erat tubuh Embun. Nur yang melihat Abra datang, langsung minggir.
"Sayang, tenanglah!" Ujar Abra, Embun seketika terdiam. Entah kenapa tubuhnya tiba-tiba membeku? Ketakutan Embun berganti dengan dingin yang membekukan. Nur melihat jelas, rasa kecewa Embun pada Abra.
"Sayang, suster Via akan melepas selang infusnya!" Ujar Abra lirih, sembari mendekap erat tubuh Embun.
Embun diam membisu, hati dan tubuhnya membeku. Hanya dingin yang kini ada dalam diri Embun. Arba merasakan jarak yang sengaja dibuat oleh Embun. Namun demi ketenangan Embun, apapun akan Abra lakukan? Termasuk berpura-pura tidak merasakan penolakan Embun akan kehangatan yang diberikannya.
"Nur sayang, ikut tante ke dapur. Kita siapkan makanan untuk Embun!" Ujar Indira, Nur mengangguk pelan.
Nur mengerti isyarat yang ditunjukkan Indira. Nur pergi mengikuti langkah Indira. Sedangkan suster Via kembali ke rumah sakit. Setelah memastikan kondisi Embun baik-baik saja. Kini tinggallah Abra dan Embun, hanya diam yang tercipta dari pertemuan Embun dan Abra.
"Sayang!" Sapa Abra lirih, Embun menunduk. Abra mengusap wajahnya kasar. Seolah sikap Embun membuatnya hancur tanpa sisa.
"Sayang, jangan dingin padaku. Maafkan semua salahku, marah dan maki aku. Jika itu membuat hatimu tenang. Jangan menyiksa dirimu!"
"Kak, aku butuh waktu sendiri. Aku janji, saat hatiku tenang. Aku akan mengatakan semuanya padamu. Saat ini, bukan hanya hatiku yang sakit. Tubuhku lemah, jiwaku rapuh. Tak ada yang bisa aku katakan!"
"Sayang, malam itu aku dan Clara tidak ada apa-apa?"
"Kak Abra, aku mohon!"
"Sayang, kita harus bicara. Agar masalah ini tidak berlarut. Aku bukan suami sempurna, tapi aku yakinkan dirimu. Aku bukan pengkhianat yang akan menyakiti hatimu!"
"Kak Abra tidak salah, aku yang salah. Aku mohon, biarkan aku sendiri!"
"Kita harus bicara!"
"Maaf!" Ujar Embun lirih, Abra menggeleng tak percaya.
"Kamu egois Embun, kamu terus menyiksa diri. Seakan akulah penyebab semua sakitmu. Namun sesungguhnya kamu yang melukai hatiku. Memang aku salah, ketika aku bersama Clara. Aku salah, ketika mencari rasa tenang dalam pertemanan kami. Namun sekali saja Embun, kamu intropeksi diri. Semua yang terjadi, keraguan yang terucap dari bibirku. Semua terucap, karena sikap angkuh dan kuatmu. Tak sekalipun kamu percaya padaku. Membagi sedikit luka yang ada dalam dirimu. Bahkan sekadar membagi kebahagian akan kehamilanmu padaku, kamu tidak melakukannya. Bukan aku yang meragukanmu, tapi kamu yang terus mengacuhkan cintaku. Kamu menganggap diriku tak berarti, bahkan Ibra dan Nur yang lebih memahamimu. Sedangkan aku tak pernah memiliki kesempatan itu. Aku akui, pernikahan kita hanya karena perjodohan. Lantas, tidak berhakkah aku belajar memahamimu. Katakan Embun, aku harus bagaimana? Agar kamu menerima cinta tulusku!" Tutur Abra penuh emosi, Embun menunduk. Tangannya mulai bergetar, Embun ketakutan melihat amarah Abra.
"Sayang!" Ujar Abra lirih, seolah menyesal dengan amarahnya. Embun menyingkir, ketika Abra hendak memegangnya.
"Kenapa kak? Apa salahku dalam hubungan ini? Kenapa aku harus terluka? Sakit kak, hatiku sakit mendengar tawa bahagiamu. Aku datang menemuimu. Aku ingin mengatakan padamu tentang kehamilanku. Namun, saat yang bersamaan aku mendengar keraguanmu akan hubunganku dengan tuan Arya. Aku tidak serendah itu kak, sampai aku begitu peduli pada harta tuan Arya. Dia mungkin sempurna bagi wanita yang gila harta. Namun aku bukan wanita seperti itu. Aku tak seanggun Clara, aku tak sepintar Clara, bahkan aku tak sekaya Clara. Namun aku bukan wanita murah yang peduli akan ketampanan dan harta tuan Arya. Jangan harta tuan Arya, harta dan statusmu aku tidak peduli. Seharusnya aku sadar, selamanya wanita desa hanya akan dipandang sebelah mata!" Tutur Embun, Abra terdiam membisu.
"Sayang, tidak ada maksudku berpikir seperti itu. Kamu salah paham, maafkan aku!"
"Aku wanita berhati keras, tak sepintar Clara yang mengerti akan tata krama. Namun seburuk apapun aku? Tak pernah aku memanfaatkan kebaikan orang padaku. Selama ini aku diam tentang hubunganku dengan tuan Arya. Bukan karena aku tidak percaya padamu. Sebaliknya aku yang masih tidak ingin mengakui hubungan diantara kami!"
__ADS_1
"Sayang!"
"Iya kak, memang ada hubungan diantara aku dan tuan Arya. Hubungan yang mungkin akan membuatku membencinya dan seluruh keluarga Adiputra. Hubungan yang akan menghilangkan kemurnian cinta kita. Kesucian cintaku akan tergadai, dengan harta dan status yang dimiliki tuan Arya. Katakan padaku, salahkah diamku? Jika dengan diamku, aku tetap menjadi Embun wanita desa!" Tutur Embun, Abra menggelengkan kepalanya lemah.
"Sayang, aku mohon tenangkan dirimu. Aku salah sayang, aku yang salah. Tak seharusnya aku memaksa berbicara denganmu!" Ujar Abra cemas, ketika melihat Embun mulai tak terkendali. Abra melihat Embun yang mulai tak tenang.
"Aaawws!" Rintih Embun, seraya memegang perutnya yang kram. Abra semakin ketakutan, dia mencoba menenangkan Embun. Namun luka terpaksa terkuak. Darah terlanjur menetes. Embun mulai kehilangan ketenangan.
"Embun!" Teriak Indira dan Nur, sontak keduanya berlari. Indira langsung menarik tubuh Embun, mendekap erat tubuh putri yang mulai mengisi hatinya. Nur memegang tangan Embun erat, meletakkan tepat di atas dadanya.
"Embun, aku mohon tenanglah!" Ujar Nur lirih, Embun menatap nanar Nur. Seolah dia meminta dukungan dari Nur.
Abra berjalan mundur, dia melihat amarah Embun. Amarah yang mungkin membuat dirinya jauh dari Embun. Nur mengedipkan kedua matanya. Berharap Embun tenang dan percaya semua akan baik-baik saja.
Buuuggh
"Abra!" Sapa Ardi, sesaat setelah menepuk pelan pundak Abra.
"Jangan salahkan Embun atas hubungannya dengan Arya. Dia tidak salah, diamnya hanya sebagai cara Embun melupakan sakitnya. Kehadiran Arya dalam hidup Embun, sudah terlalu berat. Sekarang kamu tanpa sengaja meragukan kesucian cintanya. Tentu Embun hancur dan mulai tak percaya akan cintamu. Embun layaknya tetesan embun di pagi hari. Kita bisa menikmati sejuknya, kita membayangkan indahnya, kita bisa merasakan dinginnya. Namun kita tidak akan bisa mengerti dan menggenggam dukanya. Sejatinya embun pagi yang tercipta, ketika hangat sang fajar menerpa kabut. Seperti itulah seharusnya kamu, percaya jika akan ada waktu. Embun mengatakan semuanya, tanpa kamu mengutarakan keraguan!"
"Kakek, aku salah!"
"Kamu tidak salah, cinta kalian masih terlalu rapuh untuk mengerti. Sekarang biarkan Embun tenang, saat semuanya sudah kembali tenang. Kamu bisa menemuinya, Embun mungkin sudah siap menghadapimu!"
"Tapi, Embun sedang sakit!"
"Lihatlah itu, kehangatan Indira membuat Embun tenang. Kasih sayang sahabatnya, akan membuat Embun bangkit dan kuat. Percayalah Abra, semua akan baik-baik saja!" Ujar Ardi, lalu membawa Abra keluar dari kamarnya.
"Nur, jaga Embun. Tante akan mengambil susu!"
"Iya tante!" Sahut Nur, Indira berjalan perlahan keluar dari kamar Embun.
"Nur!" Panggil Embun, tangannya terjulur ke arah Nur.
"Ada apa?"
"Aku mencintainya, aku sangat mencintainya!" Ujar Embun lirih, Nur mengedipkan kedua matanya.
"Aku tahu Embun, dia juga mencintaimu. Tenangkan dirimu, saat semuanya tenang. Katakan semuanya, kalian perlu waktu untuk saling intropeksi. Aku percaya, cinta kalian tak serapuh benang layangan. Keponakanku yang akan menguatkan tali cinta kalian!" Ujar Nur, Embun mengedipkan kedua matanya.
"Tidurlah, aku akan menjagamu!" Gumam Nur, sembari menatap wajah teduh Embun.
__ADS_1
"Cintamu begitu besar Embun. Abra juga sangat mencintaimu. Kalian akan bahagia, aku percaya itu!" Batin Nur lirih.