
"Assalammualaikum!"
"Waalaikumsalam, kamu baru pulang!" sapa Embun, Rafan mengangguk pelan.
Rafan menghampiri Embun, dengan penuh kasih sayang Rafan mencium punggung tangan Embun. Embun mengusap lembut kepala Rafan, lalu dengan hangat Embun membungkuk mencium puncak kepala Rafan putranya. Rafan putra kebanggannya, putra kecil yang kini beranjak dewasa. Rafan yang telah bekerja sebagai dokter magang. Usia Rafan masih sangat muda, tapi kepintarannya membuat Rafan mencapai semua ini. Bukan menjadi pembisnis cita-cita Rafan. Sebaliknya Rafan ingin menjadi dokter, agar dia bisa membantu orang lain. Terutama Embun ibu yang sangat disayanginya.
"Mama, papa tidak pulang!" ujar Rafan lirih, sembari tidur di pangkuan Embun.
Sikap manis Rafan yang mampu menggetarkan hati Embun. Usia Rafan bukan lagi anak kecil, tapi sikap Rafan masih sangat manja. Hampir setiap pulang dari bekerja atau sekolah, Rafan akan tidur dipangkuan Embun. Semua dilakukan Rafan, sekadar ingin menghilangkan lelah. Bagi Rafan tidak ada bantal ternyaman, kecuali pangkuan Embun. Rafan merasa nyaman dan tenang dalam hangat pangkuan Embun. Rasa sayang seorang putra yang mampu membuat Embun terharu.
"Belum!" sahut Embun datar, Rafan mengedipkan kedua matanya. Sebenarnya Rafan sudah mengetahui, jika Abra tidak pulang ke rumah.
Hampir satu minggu, Haykal menjalani perawatan. Abra melakukan segala cara, demi kesembuhan Haykal. Walau sesungguhnya semua itu tak terlalu membantu. Ibra merasa malu pada Abra, sebagai seorang anak. Dia tak mampu menjaga keluarganya. Ibra merasa tak berdaya, ketika satu per satu ujian datang menyapa. Ibra merasa lega, sekaligus bahagia melihat Abra telah kembali.
"Mama, besok pagi kakek akan dioperasi. Gumpalam darah yang ada di kepala kakek akan diangkat. Mungkin karena itu papa tidak pulang!"
"Mungkin Rafan, mama doakan semuanya berjalan lancar. Agar kakekmu cepat sembuh!" ujar Embun lirih, Rafan diam sembari menutup kedua matanya.
Dua mata indah yang tertutup oleh kacamata. Ketampanan Abra menurun pada Rafan. Kacamata yang melekat di kedua mata indahnya. Menambah pesona Rafan tak terbantahkan. Julukan dokter muda idola, tersemat indah di belakang nama Rafan. Julukan yang diberikan staf rumah sakit pada Rafan yang dingin.
"Mama, jika kakek dan nenek tinggal di rumah ini. Aku akan membawa mama tinggal di apartement!" ujar Rafan lirih, sontak Embun terkejut. Nampak kecemasan dalam lirih suara putranya. Embun merasa Rafan takut Embun terluka dengan kehadiran Haykal. Walau sebenarnya tak sekalipun Embun mengatakan traumanya akan sikap Haykal. Naluri seorang anak yang takut ibunya tersakiti. Membuat Rafan berpikir sejauh itu.
"Rafan, kita akan tetap tinggal bersama papa. Jika papa membawa kakek, itu haknya dan kita tidak boleh mengacuhkannya. Ingat Rafan, mama tidak pernah mengajarkan padamu kebencian. Sakit hati itu wajar, tapi dendam itu jangan. Jika sulit memaafkan, maka menjauh dan diam. Agar hati tidak tersakiti dan menyimpan dendam!"
"Mama!"
"Iya!" ujar Embun lirih, Rafan membuka kedua matanya. Rafan mendongak menatap Embun, manatap wajah cantik ibu kebanggaannya.
"Mama, siapa dokter Fitri Hanum Fauziayah?" ujar Rafan lirih, Embun diam menatap nanar Rafan.
Deg
Detak jantung Embun terhenti, ketika satu nama indah terucap dari bibir Rafan. Embun memegang dadanya yang berdetak begitu cepat. Setetes air mata jatuh dari dua mata indahnya. Kerinduan yang tiba-tiba mengusik hatinya. Nama indah yang membuatnya merasakan kerinduan yang mendalam. Rafan menyeka air mata Embun, tangan kekarnya menyentuh lembut pipi Embun.
"Mama merindukannya!" ujar Rafan, lalu duduk tepat di samping Embun. Rafan menatap nanar wajah Embun.
__ADS_1
"Darimana kamu mengetahui tentang dokter Fitri?"
"Dokter Fitri, dia dokter yang membantu proses kelahiranku. Dia dokter hebat yang menjadi ibu sambung mama. Tadi aku bertemu dengannya, beliau masih sangat cantik. Dokter Fitri tidak mengenaliku!"
"Kamu bertemu mama Fitri, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Beliau datang sebagai dokter bantu, ada pasien yang butuh bantuan beliau. Dokter Fitri tidak lagi aktif di rumah sakit. Beliau datang saat ada yang membutuhkan. Beliau datang bersama dengan putrinya. Dia cantik seperti mama!" ujar Rafan, Embun menunduk membisu. Rafan bersandar pada pundak Embun.
"Kenapa mama tidak menemui mereka? Papa sudah bertemu dengan keluarganya. Mama juga berhak bertemu dengan mereka. Orang-orang yang mama sayangi dan tentu menyayangi mama!" ujar Rafan, Embun menggelengkan kepalanya pelan
"Mama telah menghancurkan hati mereka. Mama tidak berhak mengganggu kebahagian mereka. Sekarang papa Arya dan mama Fitri sudah bahagia!" ujar Embun lirih, lalu berdiri menghindar dari pertanyaan Rafan. Kanaya putri yang selalu ingin tahu, sedangkan Rafan putra yang tak pernah ingin melihat air mata Embun. Sebab itu Embun memilih menjauh, agar tak ada drama tanpa akhir.
"Mama juga bahagia bersama kami!" teriak Kanaya, lalu berhambur memeluk Embun.
"Kanaya, mama hampir jatuh!" teriak Rafan dingin, saat melihat tubuh Embun terhuyung ke belakang. Kanaya melompat tanpa aba-aba, sontak saja tubuh Embun tidak siap menerima pelukan Kanaya.
"Maaf!" ujar Kanaya lirih, lalu melepaskan pelukannya.
"Dasar ceroboh, awas saja kalau sampai mama tadi terjatuh. Lagipula kamu itu perempuan, kenapa sikapmu seperti laki-laki? Ingat Kanaya, kakak tidak akan memaafkan. Jika kamu melakukan kesalahan!" ujar Rafan dingin dan tegas, seketika Kanaya mengerucutkan bibirnya. Kanaya kesal sekaligus bahagia, ketika mendengar Rafan memarahinya. Biasanya Rafan hanya diam, takkan Rafan peduli pada sikap Kanaya yang sembarangan.
"Aku ikut!" teriak Kanaya, Rafan menatap tajam Kanaya. Isyarat Kanaya tidak boleh ikut.
"Mama!" rengek Kanaya.
"Kita pergi bertiga, setelah dari rumah sakit. Mama akan membawa kalian melihat rumah kakek Arya dan kakek Iman!"
"Aku sayang mama!" teriak Kanaya riang, lalu memeluk Embun erat.
"Dasar manja!" ujar Rafan ketus pada Kanaya.
"Kakak yang beruang kutub!" ujar Kanaya lirih, takut Rafan mendengar umpatannya. Embun hanya menggeleng lemah. Melihat kedua buah hatinya selalu berselisih. Meski sebenarnya mereka saling menyayangi.
"Kanaya manja, aku mendengarnya!" sahut Rafan tepat di anak tangga pertama menuju kamarnya.
"Upppsss!" ujar Kanaya, sembari menutup mulutnya.
__ADS_1
Braaaaakkkk
"Embun Khafifah Fauziayah, dimana kamu sekarang?" teriak Nur lantang, sesaat setelah dia membuka paksa pintu rumah Embun.
"Nur!" ujar Embun lirih, ketika dia melihat sahabat terbaiknya berdiri tepat di depannya.
Nur berlari berhambur memeluk Embun. Nur langsung datang menemui Embun, ketika dia mengeatahui sahabatnya telah kembali. Nur benar-benar bahagia, akhirnya dia bisa bertemu dengan Embun. Air mata Nur yang tersimpan, kini menetes tanpa bisa dibendung lagi. Nur menangis dalam pelukan Embun sahabatnya.
"Embunku, akhirnya kamu kembali!" ujar Nur di sela isak tangisnya. Nur menangkup wajah Embun, Nur menatap haru wajah yang dirindukannya selama ini.
"Maaf!" ujar Embun, Nur menggeleng lemah.
"Aku tidak butuh kata maafmu, aku hanya ingin menatapmu. Aku sangat merindukanmu!" ujar Nur, sembari memeluk erat tubuh Embun.
"Aku sudah kembali, jangan menangis!" ujar Embun, Nur mengangguk pelan. Kanaya memilih berdiri sedikit menjauh. Dia melihat Embun dan Nur butuh ruang yang cukup untuk saling melepas rindu.
"Mama, Kanaya memakai kemejaku lagi!" teriak Rafan dari lantai dua. Kanaya langsung bersembunyi di balik sofa. Sikap usil Kanaya yang membuat Rafan kesal pada adik cantiknya.
"Kanaya!" panggil Embun, sesaat setelah dia melepas pelukan Nur.
"Maaf!" ujar Kanaya dari balik sofa.
"Nur, itu putraku Rafan!" ujar Nur, Embun mengangguk pelan.
"Putraku tampan, aku ingin memeluknya!" ujar Nur antusias, lalu berjalan menghampiri Rafan. Namun langkah Nur terhenti, dia menoleh ke arah Embun. Nampak Embun menggelengkan kepala, meminta Nur tidak melakukannya. Rafan langsung masuk ke kamarnya. Ketika dia melihat Nur hendak memeluknya.
"Kenapa?" ujar Nur lirih.
"Tante cantik, kak Rafan itu beruang kutub. Dia akan marah bila disentuh. Kak Rafan dingin pada orang lain dan hangat pada mama seorang!" sahut Kanaya, Nur menoleh ke arah Embun.
"Kanaya Fauziyah Abimata, putriku!"
"Kalau begitu tante peluk kamu saja!" ujar Nur lantang, lalu memeluk Kanaya erat.
"Tante, aku tidak bisa bernapas!" ujar Kanaya lirih.
__ADS_1
"Maafkan tante!" ujar Nur lirih.