KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Khairunnisa Azka Saniya


__ADS_3

"Abra, ada yang harus kamu tandatangani!" ujar Fahmi, sembari masuk ke ruangan Abra. Fahmi masuk tanpa melihat ke dalam ruangan. Fahmi berjalan sembari menunduk, fokus terhadap berkas yang akan ditandatangani Abra.


"Pak Fahmia!" sapa Nur ramah, Fahmi langsung mendongak. Dia terkejut melihat Nur ada di dalam ruangan Abra.


"Maaf, nanti aku kembali!" ujar Fahmi, sembari memutar tubuhnya.


"Tunggu, silahkan pak Fahmi menunggu. Aku sudah selesai dengan pak Abra. Kebetulan pak Abra sedang mengantar Embun. Sebentar lagi beliau akan datang!" ujar Nur, lalu berdiri dari sofa.


Nur membereskan berkas yang ada di meja. Nur berjalan melewati Fahmi. Tanpa sedikitpun dia melihat ke arah Fahmi. Sedangkan Fahmi berdiri termangu, ada rasa canggung saat bertemu dengan Nur. Bahkan semalam, Fahmi mulai menghindar dari Nur. Sebaliknya Nur yang merasa ada jarak dengan Fahmi. Memilih menghargai sikap yang dipilih oleh Fahmi.


"Nur!"


"Iya pak Fahmi!" sahut Nur yang langsung menoleh ke arah Fahmi.


"Wanita semalam itu!" ujar Fahmi ragu, Nur mengedipkan kedua matanya.


"Khairunnissa Azka Saniya, siapapun dia dalam hidup pak Fahmi? Tidak perlu pak Fahmi menjelaskan pada saya!" ujar Nur ramah, Fahmi menoleh dengan tatapan heran.


"Kamu mengenalnya!"


"Dia sahabat yang pergi jauh tepat, sehari sebelum kelulusan. Hubungan kami terpisah, aku bahagia semalam bisa melihatnya!" ujar Nur ramah penuh senyum. Lalu berjalan menjauh dari ruangan Abra. Meninggalkan Fahmi yang tengah galau memikirkan hatinya.


"Tapi dia sepupuku, bukan kekasihku. Aku hanya ingin mengatakan itu!" batin Fahmi gundah, seraya menatap punggung Nur yang berjalan anggun menjauh darinya.


"Fahmi, dimana Nur?"


"Dia baru saja kembali ke ruangannya!" sahut Fahmi dengan nada terkejut. Abra tersenyum melihat sikap Fahmi yang kebingungan.


"Kamu kenapa? Apa yang terjadi denganmu? Nur membuatmu kehilangan akal!"


"Diam kamu!" sahut Fahmi dingin, Abra terkekeh.


"Fahmi, ingat aku bos di sini!" ujar Abra tegas, Fahmi mengangguk pelan. Seolah mengiyakan perkataan Abra.


"Sudahlah, lupakan semuanya. Cepat tandatangani berkas ini!" ujar Fahmi, Abra langsung mengambil berkas dari tangan Fahmi.

__ADS_1


Jelas Abra melihat gelagat Fahmi yang berbeda. Selama ini Fahmi tidak pernah ragu, ketika mendekati wanita. Namun sikapnya berbeda, ketika berhubungan dengan Nur. Fahmi seolah benar-benar berpikir, seolah Fahmi tidak ingin menyakiti atau tersakiti dengan rasa tulusnya.


"Fahmi, Nur wanita baik-baik. Dia begitu tulus dalam setiap langkahnya. Jika memang kamu yakin akan rasamu. Yakinkan Nur dengan ketulusanmu. Namun jika masih ada keraguan dalam hatimu. Lebih baik lupakan Nur, biarkan dia menemukan imam terbaiknya!"


"Kamu benar Abra, aku tidak pantas menjadi imamnya!" ujar Fahmi lirih, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Fahmi, tidak ada kata pantas atau tidak dalam hubungan hati. Jika memang cinta itu ada, ungkapkan ketulusanmu. Kita tidak pernah tahu, siapa pemilik tulang rusuk kita? Jika memang Nur yang terbaik untukmu, tidak ada yang bisa memisahkan kalian!" ujar Abra lantang, Fahmi diam membisu.


"Ibra!"


"Aku tidak akan memihak diantara kalian. Ibra adikku, dia mungkin tulus pada Nur. Namun sikap papa tidak akan berubah. Nur hanya akan menerima hinaan dalam hidupnya. Kecuali Ibra mampu bersikap tegas pada papa. Sebaliknya kamu sahabat yang sangat baik dimataku. Aku tahu setulus apa rasamu untuk Nur? Namun masa lalu yang pernah ada dalam hidupmu. Jelas tidak mudah terlupakan begitu saja. Aku menganggap Nur seperti saudara, aku berharap yang terbaik untuknya!"


"Artinya kamu tidak percaya aku mampu membahagiakan Nur!" ujar Fahmi, Abra menggeleng seraya tersenyum.


"Sebaliknya Fahmi, aku percaya kamu mampu menjaga dan melindungi Nur. Namun sebelum hubungan kalian berlanjut. Selesaikan semua masa lalu kelam dalam hidupmu. Berubah menjadi lebih baik, agar mampu menjadi imam terbaik. Bukan demi pantas bersanding dengan Nur. Namun lakukan semua itu demi dirimu sendiri. Agar kamu bisa memahami arti tanggungjawab!"


"Bijaknya!" sahut Fahmi, Abra tersenyum simpul.


"Semua tergantung kamu, menganggap ini nasehat atau candaan. Namun aku tegaskan sekali lagi. Jangan pernah permainkan hati Nur. Dia terlalu baik dan tak pantas tersakiti. Namun aku ragu kamu mampu melakukan semua itu. Semalam saja kamu sudah pergi dengan wanita!"


"Sepupu, kamu serius!"


"Hmmm, bahkan dia sahabat Nur. Silahkan tertawa sampai puas!" ujar Fahmi kesal, lalu meninggalkan ruangan Abra.


"Fahmi, dua matamu mengatakan cinta yang besar untuk Nur!" teriak Abra, Fahmi tak peduli dengan perkataan Abra. Dia terus berjalan menuju ruang kerjanya.


Fahmi berjalan perlahan menuju ruangannya. Tepat di depan ruangan Nur, dia melihat Nur yang tengah fokus pada laptopnya. Keseriusan yang ditunjukkan Nur, membuat Fahmi merasa rendah diri. Nur bukan hanya wanita sholeh, tapi dalam sikap santunya. Tersimpan kepintaran yang tak pernah bisa dilupakan begitu saja.


"Jaga padangan, takut khilaf yang akhirnya meninggalkan dosa!"


"Bu bos!" sahut Fahmi, Embun tersenyum. Fahmi melihat Embun yang berdiri tepat di sampingnya. Embun baru saja kembali dari kantin. Nampak dua buah cangkir kopi ada di tangannya.


"Kenapa hanya memandang? Jika memang cinta, temui orang tua Nur. Jadikan rasa tulus pak Fahmi, sebagai rasa penuh keyakinan!"


"Jika semudah itu, mungkin aku tidak akan sebimbang ini!" ujar Fahmi lirih, Embun menatap kesungguhan yang ada di mata Fahmi.

__ADS_1


"Tidak ada yang sulit, semua mungkin dalam ketulusan!" ujar Embun, Fahmi menoleh heran.


"Jujur pak Fahmi, sejak pertama aku dijodohkan dengan kak Abra. Tidak pernah terbersit dalam benakku akan hadirnya cinta diantara diriku dan kak Abra. Bahkan aku tidak pernah ingin menjadi bagian dalam hidup kak Abra. Seandainya bukan demi abah, aku mungkin menolak dan pergi jauh dari kota ini. Namun aku teringat akan jasa abah Iman. Sangat bodoh, jika aku membalasnya dengan rasa malu. Sebab itu aku memutuskan menerima pernikahan ini. Aku tulus dan ikhlas menjadi istri kak Abra. Semua berawal dari ketulusan, akhirnya aku bahagia bersama kak Abra!"


"Tidak mungkin ada wanita yang mampu menolak pesona Abra. Namun hari ini, aku menyadari satu hal. Ketampanan dan kekayaan Abra, tidak lantas membuatnya pantas menjadi idola!"


"Aku bukan wanita sempurna, tapi aku memiliki hak untuk bahagia. Sejak awal aku mengetahui nama laki-laki yang akan dijodohkan dengan diriku. Aku berusaha mencari tahu segalanya dan akhirnya fakta itu muncul. Namun kini, aku berusaha menutup mata dan telinga. Agar aku bisa berjalan bersama dengan kak Abra!"


"Embun, pantaskah aku bersanding dengan Nur!"


"Pantas, jika rasa pak Fahmi tulus. Jangan biarkan masa lalu menghalangi rasa itu. Jujurlah pada Nur, sebab jujur awal sebuah hubungan!" ujar Embun, Fahmi mengangguk pelan.


"Nissa!" teriak Fahmi, Embun langsung menoleh ke arah Nissa.


"Khairunnissa Azka Saniya!" ujar Embun lirih, Fahmi menoleh ke arah Embun.


"Bu bos mengenal Nissa!" ujar Fahmi, Embun mengangguk pelan.


"Nissa, wanita yang tanpa sengaja terluka olehku!" ujar Embun lirih, Fahmi heran dengan perkataan Embun.


"Kak Fahmi, maaf aku terlambat!" ujar Nissa menyapa Fahmi. Embun menunduk, takut menatap wajah Nissa. Sedangkan Fahmi menggelengkan kepala, isyarat keterlambatan Nissa tidak masalah.


"Nissa, dia bu bos!" ujar Fahmi mengenalkan Embun, Nissa menoleh ke arah Embun. Nissa mengulurkan tangannya, hendak berjabat tangan.


"Senang bertemu dengan anda!"


"Apa kabar Nissa?" sapa Embun, seraya mendongak dan langsung menerima uluran tangan Nissa.


"Kamu!" ujar Nissa dingin, Fahmi langsung menarik tangan Nissa.


"Nissa, jaga sikapmu. Dia istri pemilik perusahaan ini!" ujar Fahmi kesal.


"Pak Fahmi, lebih baik aku meninggalkan kalian!" pamit Embun, lalu menoleh ke arah Nissa.


"Senang akhirnya kita bertemu. Maaf atasa luka yang kamu rasakan!" ujar Embun, lalu masuk ke dalam ruangan Nur.

__ADS_1


__ADS_2