
Hampir dua bulan Abra fokus merawat Haykal. Sedikit demi sedikit kondisi Haykal mulai membaik. Walau kedua kakinya tak mungkin lagi sembuh. Abra tetap berharap Haykal membaik dan bisa berjalan kembali. Namun Abra tak memungkiri, jika harapannya terlalu tinggi. Kedua kaki Haykal mengalami patah tulang, sehingga akan sulit berdiri di kedua kakinya lagi. Abra mulai ikhlas dengan kondisi kaki Haykal. Baginya Haykal sembuh seperti dulu, itu sudah lebih dari cukup.
Setelah hampir dua bulan Abra menjauhkan Embun dari Haykal. Malam ini Abra ingin mempertemukan kembali, menantu dan ayah mertua yang tak pernah satu kata. Abra ingin membawa Embun menemui Haykal. Bukan semata demi rasa egonya, tapi Abra ingin Rafan dan Kanaya mengenal orang tuanya. Abra berharap kedua buah hatinya menjadi penyemangat dalam lemah Haykal. Jika mungkin menjadi alasan rasa suka Haylal pada Embun.
Tepat pukul 19.00 WIB, Abra membawa Embun masuk ke dalam rumah Abimata. Rumah yang lama terbengkalai, akhirnya kembali indah. Abra membeli rumah masa kecilnya, dia memperbaiki semua kerusakan yang ada. Abra merasa kembali ke rumahnya dulu. Meski bukan kenangan Indah, Abra berharap kenangan masa kecilnya akan selalu ada. Abra sengaja memilih malam ini, sebab malam ini bertepatan dengan tanggal pernikahannya dengan Embun. Jika dulu pernikahannya diadakan di rumah masa kecilnya Embun. Malam ini, Abra ingin merayakannya di rumahnya sendiri.
"Kita masuk!" ajak Abra lirih, saat melihat Embun menghentikan langkahnya.
Abra memahami ketakutan Embun, kenangan pahit yang pernah dirasakan Embun. Tentu membuat Embun trauma dan takut bila menginjakkan kakinya di rumah Abimata. Rumah yang tak pernah ingin menerimnya. Embun terlihat ragu melangkah lebih jauh ke dalam rumah Abimata. Abra yang merasakan kecemasan Embun, langsung merangkul tubuh ramping Embun. Anggukan kepala Abra, seolah mengatakan semua baik-baik saja. Embun mengedipkan kedua mata indahnya.
"Kak Abra, aku tidak akan marah. Meski tuan Haykal menghinaku atau menolak kedatanganku. Namun tidak di depan kedua buah hatiku, terutama Rafan. Aku tidak berharap mereka melihatku terhina. Kakak harus memastikan itu!"
"Percayalah padaku sayang, aku akan memastikan semua itu. Papa tidak seperti dulu, dia sudah berjanji akan menerimamu dengan tangan terbuka!" ujar Abra, Embun menatap nanar Abra. Lalu perlahan Embun menganggukkan kepala.
"Aku harap perkataan kakak benar!" ujar Embun, lalu melangkah masuk ke dalam rumah megah Abimata. Abra merangkul hangat istri tercintanya. Abra tersenyum merasa bahagia, melihat Embun bersedia ikut dengannya. Memberikan kesempatan sekali lagi pada keluarga Abimata untuk mengenal Embun kembali.
"Sayang, dimana Rafan dan Kanaya?"
"Mereka akan menyusul, Rafan pergi mengantar Kanaya ke toko buku. Setelah itu, mereka akan datang kemari!"
"Terima kasih sayang!" ujar Abra, lalu mengecup lembut kening Embun lembut.
Abra mencurahkan rasa sayangnya pada Embun. Ada rasa terima kasih dalam kecupan Abra. Terima kasih telah membawa Rafan menemui keluarganya. Jarak tak kasat mata diantara Abra dan Rafan. Membuat keduanya saling mengenal, tapi tak saling menyapa. Abra dan Rafan tak pernah berselisih, tapi bersikap hangat satu dengan yang lainnya. Keduanya sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah. Rafan menghargai Abra selayaknya anak terhadap ayahnya. Namun tak sekalipun Rafan bergantung pada Rafan. Sekadar mengatakan kegelisahan yang ada di hatinya. Abra tak pernah mempermasalahkan sikap Rafan. Selama tak ada kebencian di hati Rafan padanya.
"Selamat datang Embun, mama bahagia bisa bertemu denganmu!" sapa Indira ramah. Embun mengutas senyum membalas, keramahan yang ditunjukkan Indira padanya. Keduanya saling berpelukan, melepas rindu yang selama ini tersimpan rapat. Embun tak pernah membenci keluarga Abimata. Bahkan terhadap Haykal, orang yang tak pernah mengakuinya.
"Embun juga bahagia, melihat mama sehat dan awet muda!" ujar Embun lirih, Indira mengangguk pelan.
Keduanya berjalan menuju meja makan. Nampak Haykal duduk di kursi paling ujung. Nampak sebelah kiri Ibra, sedangkan Nissa duduk di sebelah Ibra. Abra duduk tepat di samping Haykal. Embun mengangguk pelan menyapa semua orang. Ibra dan Nissa tersenyum menyambut kedatangan Embun. Sebaliknya Haykal hanya diam menatap tajam ke arah Embun. Tak ada sikap manis, tapi Embun tak mempermasalahkan sikap Haykal. Setidaknya Haykal tidak menghinanya dengan kata-kata.
Abra melihat sikap dingin Haykal pada Embun. Dengan isyarat, Abra meminta Haykal menghentikan sikapnya. Sebelum mempertemukan Embun dan Haykal. Abra sudah meminta Haykal bersikap baik. Jika Haykal tetap seperti dulu. Abra akan menjauh sekali lagi dan takkan pernah kembali.
"Apa kabar kak? Aku bahagia bisa bertemu denganmu!" sapa Nissa, Embun mengangguk. Seutas senyum nampak di wajah Embun. Sikap ramah yang ingin ditunjukkan Embun pada Nissa. Dulu mereka bersahabat dan kini sebagai kakak beradik.
"Aku baik Nissa, terima kasih!" sahut Embun.
__ADS_1
"Abra, dimana kedua cucuku? Kamu berjanji akan membawa mereka!" ujar Haykal lirih, Embun menunduk terdiam. Sedangkan Abra langsung menoleh ke arah pintu rumah. Berharap Rafan dan Kanaya segera datang.
"Sabar pa, sebentar lagi mereka datang!" ujar Indira menenangkan Haykal. Abra menganggum setuju dengan perkataan Indira. Embun terlihat begitu tenang, kecemasan Haykal sedikitpun tak mengusiknya.
"Sayang!" ujar Abra lirih, Embun menoleh. Nampak raut wajah Abra cemas, menanti kedua buah hatinya yang tak kunjung datang. Embun yang mengerti ketakutan Abra, sontak menggenggam erat tangan Abra. Menyakinkan Abra, jika Rafan dan Kanaya akan datang. Takkan mereka mengecewakan Embun dan Abra. Kedipan mata Embun terlihat di kedua mata indahnya. Berharap Abra tenang dan percaya Rafan akan segera datang.
Ting Tong
"Mereka datang!" ujar Embun lirih, Abra menghela napas lega.
Haykal berusaha duduk di kursi rodanya. Dia hendak menyambut kedatangan Rafan dan Kanaya. Abra yang melihat Haykal hampir terjatuh, langsung memeluk dan menuntun Haykal menuju kursi rodanya. Abra mendorong kursi roda Haykal menuju pintu utama. Mengekor langkah kecil Indira yang akan membukakan pintu.
"Assalammualaikum!" ujar Rafan lirih.
"Waalaikumsalam!" sahut Indira ramah, lalu mempersilahkan Rayan dan Kanaya masuk ke dalam rumah.
Rafan dan Kanaya mencari sosok Embun. Setelah menyapa Indira, Rafan dan Kanaya masuk ke dalam rumah Abimata. Rafan dan Kanaya hanya ingin bertemu Embun. Sedangkan Abra dan Haykal, hanya bisa diam melihat rafan menyapa Haykal dengan sangat singkat. Kanaya menyadari sikap Rafan, tapi dia tidak bisa berkutik. Rafan memiliki alasan sikap dinginnya.
"Mama!" sapa Rafan dan Kanaya. Keduanya mencium pungung tangan Embun, lalu memeluk erat tubuh Embun.
"Baiklah!" sahut Rafan, lalu menarik tangan Kanaya menghampiri Haykal.
Rafan dan Kanaya menghampiri Haykal. Keduanya menyapa Haykal dengan sangat ramah. Rafan dan Kanaya bergantian mencium punggung tangan Haykal. Tak lupa mereka melakukan hal yang sama pada Abra. Bahkan Rafan memeluk Abra dengan hangat. Kanaya menatap tak percaya, tapi semua memang terjadi. Rafan menunjukkan hubungan hangat diantara ayah dan anak.
"Kamu tampan seperti Abra, penampilanmu jelas mengatakan ada darah keluarga Abimata yang mengalir dalam darahmu!" ujar Haykal, Rafan langsung menoleh.
"Kakek benar, darah Abimata yang mengalir dalam tubuhku. Namun putri keluarga Adijaya yang membesarkanku!" sahut Rafan sinis, Haykal diam tak percaya. Sikap hangatnya berbalas sikap dingin.
"Rafan, jaga bicaramu!" ujar Embun, Rafan menunduk sembari berjalan menghampiri Embun. Rafan duduk tepat di samping Embun. Ibra melihat putra saudaranya, dia begitu bahagia melihat keluarganya berkumpul.
"Mama, tadi kakak bertemu kak Hanna. Mereka berdua memilih buku bersama. Bahkan aku mendengar, kak Rafan akan menjemput kak Hanna di kampus!" ujar Kanaya santai, Rafan langsung melotot. Embun diam tak menanggapi perkataan Kanaya. Bukan mengacuhkan perkataan Kanaya, tapi Embun percaya Rafan menyadari yang pantas dan tidak pantas dilakukannya.
"Diam kamu manja!" ujar Rafan dingin, sembari mencubit tangan Kanaya.
"Awwwwsss!" teriak Kanaya, Embun langsung menoleh ke arah Rafan dan Kanaya. Tatapan tajam yang penuh dengan makna. Sontak Rafan dan Kanaya menunduk, Abra melihat pengaruh Embun yang begitu besar pada kedua buah hatinya.
__ADS_1
"Kak Rafan yang salah!" ujar Kanaya, Rafan hanya menunduk. Jelas dia merasa bersalah, sekaligus ada rasa takut pada amarah Embun.
"Hanna yang kalian maksud, Hanna putri kak Fahmi!" ujar Nissa ragu-ragu, Kanaya langsung mengangguk tanpa ragu. Rafan tak lagi mempermasalahkan perkataan Kanaya. Rafan sangat mengenal Kanaya, kepolosan Kanaya membuatnya selalu bicara jujur apa adanya?
"Rafan akan menikah dengan Hanna!" ujar Nissa tak percaya, Haykal langsung menatap tajam Rafan. Jelas Haykal tidak menyukai rencana yang terucap dari bibir Nissa.
"Kanaya, ingat sopan santunmu. Kita sedang bertamu, ada hal-hal yang hanya bisa kita bicarakan di rumah!" ujar Embun dingin, Kanaya diam membisu. Satu kata dari Embun, membuat Kanaya sadar telah melakukan kesalahan besar.
"Kanaya, bicaralah sesuka hatimu. Ini rumah papamu, kalian bukan tamu di sini. Kalian bagian dari keluarga Abimata. Dia tidak berhak melarangmu bicara!" ujar Haykal dingin, Abra langsung menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya menggenggam erat tangan Haykal. Berharap Haykal berhenti memprovokasi Rafan dan Kanaya.
"Kenapa kamu melarang papa? Aku bicara benar, Rafan dan Kanaya bagian dari keluarga Abimata. Mereka berhak bicara sesuka hatimu dan bahkan berteriak di rumah ini!"
"Papa cukup, jangan memulai mengobarkan api yang mulai padam. Papa tidak mengenal Rafan dan Kanaya. Jika papa merasa mampu melihat api amarah mereka. Percayalah, papa tidak akan mampu. Jangan sampai malam ini menjadi malam terakhir mereka mengenal papa!" ujar Abra tegas, Haykal langsung terdiam. Dia merasa sakit mendengar peringatan yang keluar dari bibir putra kebanggaannya.
"Lebih baik kita makan!" ujar Indira mengalihkan pembicaraan.
"Kenapa kalian begitu takut padanya? Dia hanya wanita biasa, bukan seseorang berdarah biru!" ujar Haykal dingin, Embun tersenyum sinis. Lalu menoleh ke arah Haykal, seolah ingin menantang Haykal.
"Aku memang wanita biasa, tapi aku satu-satunya wanita yang mampu membuat putramu pergi jauh. Meninggalkan keluarganya dalam kehancuran!"
"Kamu!" ujar Haykal menahan amarah.
"Papa, kita akan makan malam atau akan mendengar perdebatan tanpa henti!" ujar Rafan lirih, Abra diam membisu.
"Kita makan, jangan pedulikan kakek. Dia masih dalam masa pemulihan!" ujar Abra, Indira mengangguk setuju. Indira menyajikan masakan kesukaan Abra. Satu per satu mengambil makanan, bersiap hendak menyantap makan malam.
"Abra, jangan biarkan Rafan salah memilih pasangan. Ingat bibit, bebet dan bobot!" ujar Haykal santai, Abra menggeleng tak percaya. Haykal tetap sama dengan pemikiran kuno dan ketamakannya. Rafan menoleh, seolah merasa tersindir dan marah mendengar cara pandang Haykal. Namun amarahnya mereda, ketika tangan hangat Embun menyentuhnya.
"Papa!" ujar Abra lirih, meminta Haykal menghentikan perkataannya.
"Kamu harus memikirkannya Abra, jangan sampai dia mengambil keputusan yang membuat Rafan cucuku sengsara!" ujar Haykal sinis.
"Siapa yang akan menjadi menantuku? Juga bukan hak anda ikut campur. Jangan pernah mencampuri urusan putraku. Selama ini aku diam, tapi demi putraku aku siap melawan semua orang. Satu hal lagi, Hanna memang hanya anak angkat. Namun Hanna bukan orang lain, dia masih memiliki hubungan darah dengan menantumu. Lagipula, tak ada lagi masa. Harta lebih kuat dari cinta. Buktinya cintaku kuat dan bertahan. Sedangakn Harta anda rapuh dan runtuh!" tutur Embun tegas.
"Papa!" ujar Abra lirih, sembari menggenggam lengan Haykal. Menghentikan amarah yang siap meledak.
__ADS_1
"Demi Abra, aku mohon diamlah!" ujar Abra, Haykal langsung menunduk.