
Kanaya sampai di sekolah lebih awal dari biasanya. Hampir seminggu lebih, Kanaya datang lebih awal. Kanaya datang menggunakan angkutan umum. Rafan sudah menawarkan diri mengantar Kanaya. Namun selalu ditolak oleh Kanaya, dengan alasan Kanaya bisa berangkat sendiri. Kanaya pribadi mandiri, sejak awal dia tidak pernah bangga dengan harta keluarganya. Kanaya merasa nyaman dengan kesederhanaan. Seperti pribadi Embun yang sederhana dan tak bergantung pada kekayaan keluarganya. Kanaya seolah ingin menjadi seperti Embun, karena itu dia merasa biasa saja. Kala Embun menarik semua fasilitas yang Kanaya miliki.
Kanaya melihat pak Diman sedang menyapu lorong. Dengan cekatan Kanaya mengambil sapu dari tangan beliau. Kanaya mengganti sapu dengan sekotak sarapan. Sedangkan Kanaya mulai menyapu lorong kampus. Selama seminggu terakhir, Kanaya selalu membantu pak Diman. Kanaya juga menyempatkan diri membuatkan bekal makanan untuk pak Diman. Ketulusan hati seorang Kanaya yang lebih mementingkan orang lain. Rasa tulus membantu sesama.
Pak Diman tersenyum bahagia melihat Kanaya yang selalu membantunya. Hampir setiap hari Kanaya sengaja datang, untuk membantu menyapu lorong. Sebab jika datang sedikit siang, akan banyak murid yang berlalu lalang. Sehingga akan sulit untuk menyapu dan membutuhkan waktu yang lama. Kanaya merasa tidak tega, jika pak Diman menyapu bersamaan dengan datangnya para murid. Tubuh tuanya tak lagi bisa menyapu dengan cepat. Sebab itu Kanaya membantu pak Diman menyapu di lorong sekolah.
Kebetulan pagi ini, Haykal datang lebih pagi. Haykal akan mengadakan ujian dadakan di kelas Kanaya. Haykal sengaja datang lebih pagi, dia akan mempersiapkan lembar ujian di ruang guru. Haykal tipe guru yang teliti, dia tidak ingin ada kesalahan. Ketika Haykal berjalan menuju ruang guru. Haykal melihat Kanaya sedang menyapu lorong. Haykal mengingat perkataan Silvi. Sekali lagi Haykal melihat kebaikan hati Kanaya yang penuh ketulusan. Haykal menyadari kebaikan Kanaya yang sebenarnya.
"Kanaya!" sapa Haykal ramah, Kanaya mendongak menatap ke arah Haykal. Kanaya tersenyum sinis, lalu melanjutkan menyapu. Kanaya tak peduli akan kehadiran Haykal. Sikap dingin Kanaya semakin menjadi, Haykal terdiam membeku melihat sikap dingan Kanaya padanya.
Kanaya terus saja menyapu, dia tidak menghiraukan keberadaan Haykal. Setelah hampir seluruh lorong selesai. Kanaya memberikan sapu pada pak Diman. Tanpa Kanaya sadari, Haykal tidak beranjak dari tempatnya. Haykal memperhatikan Kanaya tanpa berkedip. Haykal tak percaya melihat Kanaya. Putri keluarga kaya, menyapu lorong Sekolah. Semua demi menggantikan pak Diman yang sudah tua. Jika mengingat derajat Kanaya. Takkan mungkin Kanaya melalukan semua ini. Kanaya hanya tinggal memerintah, akan ada ART yang melakukannya. Sisi lain putri keluarga terpandang yang berbeda dari putri kaya lainnya. Kanaya yang rendah diri dan tulus, tapi menyimpan rasa benci pada ketampanan dan nama Haykal.
"Ini minumlah, kamu pasti haus setelah menyapu seluruh lorong sekolah" ujar Haykal lirih, sembari menyodorkan sebotol air mineral.
Tanpa canggung Kanaya menerima botol mineral dari tangan Haykal. Kanaya meminum air sampai habis tak tersisa. Haykal menatap lekat Kanaya, pribadi yang sangat sederhana dalam kemewahan. Haykal semakin tak berkutik, kekaguman demi kegumannya pada Kanaya. Seolah mengalihkan dunia Haykal, bahkan Haykal lupa akan status keduanya. Status guru dan murid yang takkan mudah diganti. Meski Haykal ingin menggantinya, apalagi sikap dingin Kanaya. Isyarat sebuah penolakan Kanaya akan sebuah kekaguman Haykal padanya.
"Terima kasih airnya. Saya harus pergi sekarang!" ujar Kanaya, Haykal mengangguk pelan. Kanaya mengembalikan botol kosong pada Haykal. Seketika Haykal terdiam, Kanaya membuat Haykal tak berkutik.
"Kanaya, aku ingin meminta maaf!"
"Untuk!" sahut Kanaya dingin, Haykal menatap Kanaya. Haykal melangkah lebih dekat, sebaliknya Kanaya berjalan mundur. Kanaya jelas membuat jarak dengan Haykal.
"Tanpa sengaja, aku menempatkanmu dalam masalah!"
"Tidak perlu meminta maaf, sebab kita sudah seimbang. Bapak menempatkanku dalam masalah, tapi baru saja bapak menyelamatkanku dari kehausan. Jadi tidak ada lagi masalah diantara kita. Aku tidak ingin mengenal bapak lebih dari guru di sekolah. Jika mungkin, jangan mendekat ke arahku. Terkecuali untuk tugas sekolah!" ujar Kanaya tegas dan dingin.
"Tapi…!"
"Tapi kenapa? Kita sudah seimbang, tidak ada yang dirugikan. Aku harap bapak menjauh dariku!" ujar Kanaya, lalu berjalan menjauh dari Kanaya.
Kanaya berjalan menghampiri pak Diman. Lalu memberikan amplop berwarna putih. Rasa penasaran Haykal membuatnya terus memperhatikan gerak-gerik Kanaya. Sikap dingin Kanaya, tak membuat Haykal menyerah. Kanaya terlanjur mengetuk hatinya. Entah sebagai seorang murid atau seorang wanita yang penuh pesona?
"Pak Diman, lebih baik istirahat di rumah. Periksakan diri bapak ke rumah sakit. Uang dalam amplop itu, untuk biaya berobat. Pak Diman tidak perlu khawatir. Pihak sekolah tidak akan memecat bapak, aku akan bertanggungjawab penuh!" tutur Kanaya, pak Diman mengangguk ragu. Namun tubunya memang lemah, pak Diman tak mungkin melanjutkan pekerjaannya.
Kanaya meninggalkan pak Diman, dia berjalan menuju kelasnya. Haykal berjalan perlahan menuju ruang Guru. Haykal melihat sebuah kebaikan yang akan sulit menemukannya di masa sekarang. Lagi dan lagi Kanaya membuat Haykal terdiam. Kanaya mengajarkan arti ketulusan yang sesungguhnya. Sebuah kebaikan yang tak perlu pengakuan orang lain.
"Kanaya!" teriak Daffa, sembari melempar tas tepat di depan Kanaya.
Buggghh
Terdengar suara tas yang menghantam meja dengan sempurna. Kanaya dan Dilla terkejut, sekaligus heran milihat sikap Daffa. Kanaya mengeryitkan alisnya, tanda dia tidak mengerti maksud kemarahan Daffa. Sebaliknya Dilla terkekeh setelah sadar alasan dibalik kekesalan Daffa.
"Kenapa pagi-pagi berteriak? Kamu pikir aku tuli!" ujar Kanaya ketus, Daffa maju menatap wajah Kanaya. Kedua matanya mengunci sosok Kanaya. Seolah amarah Daffa siap membakar tubuh Kanaya.
"Kamu akhir-akhir ini selalu berangkat lebih dulu? Aku jadi kesepian tanpamu. Seharusnya kamu tunggu aku, kita bisa berangkat bersama!" cerocos Daffa, Kanaya menggeleng-gelengkan kepala. Dia tidak mungkin berangkat bersama Daffa. Sejak pagi Cindy sudah berada di rumah Daffa. Apalagi Kanaya sedang mendapat hukuman. Kanaya tidak mungkin merepotkan orang lain.
"Daffa, bukankah tadi ada Cindy. Aku melihat mobilnya terparkir manis di depan rumahmu. Aku sudah pernah mengatakan. Kalau sudah bosan dengan Cindy, baru kamu cari aku. Sekarang duduk di mejamu. Aku tadi pagi sudah sangat lelah, bertemu dengan guru favorit kalian. Sekarang aku harus melihat playboy sepertimu!" tutur Kanaya kesal, Daffa mendengus kesal ketika Kanaya menyuruhnya pergi.
Dilla hanya melihat interaksi dua sahabat. Satu mencintai dan yang lain mengacuhkan. Dilla menggeleng-geleng seraya tersenyum, "Persahabatan yang aneh!" Batin Dilla. Daffa akhirnya duduk tidak jauh dari Kanaya. Dilla terus melihat cinta diam Daffa untuk Kanaya. Cinta yang tak pernah dan takkan pernah Kanaya sadari.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Haykal masuk, setelah menyapa para muridnya. Haykal membagikan kertas ujian yang sudah dia siapkan. Seperti biasa Haykal selalu memperbolehkan, siapa yang lebih dulu selesai keluar? Haykal mencoba memahami cara belajar muridnya. Terutama Kanaya yang selalu antusias dengan metode ini. Dia yang selesai pertama. Antara Kanaya memang pintar dan rasa tidak suka Kanaya akan Haykal. Membuat Kanaya ingin selalu keluar dari kelas Haykal.
"Permisi pak Haykal, saya sudah selesai!" Ujar Kanaya, sembari memberikan kertas pada Haykal. Seketika Haykal mendongak terkejut, dia menerima kertas dari Kanaya. Sekilas Haykal meneliti, ternyata hasilnya diluar dugaan. Haykal menggelengkan kepala tak percaya.
"Secepat ini!" ujar Haykal tidak percaya, Kanaya diam mengacuhkan keterkejutan Haykal. Dengan santai, Kanaya berjalan menjauh. Kanaya tidak ingin berdiri terlalu dekat dengan Haykal. Nampak Haykal memeriksa hasil ujian Kanaya. Anggukan kepala Haykal, menandakan Kanaya mendapat nilai baik.
"Kanaya, kenapa aku semakin yakin? Kamu tidak ingin berada di kelasku. Aku merasa sebisa mungkin kamu keluar dari kelasku. Jika alasan kebencianmu, hanya karena ketampanan yang aku miliki. Sungguh Kanaya, kamu terlalu berlebihan!"
"Terserah apa pendapat bapak? Sekarang katakan, apa saya diizinkan keluar sekarang?"
"Kenapa terburu-buru? Apa kamu takut terpesona dengan ketampananku?" ujar Haykal menggoda Kanaya.
"Hidup saya terlalu berantakan. Jadi saya tidak akan terpesona pada siapapun? Jika akhirnya membuat hidup semakin rumit. Saya ingin menikmati hidup yang hanya sekali. Dengan orang-orang yang jauh lebih berarti. Bukan orang-orang yang hanya gila akan popularitas!" ujar Kanaya dingin, lalu pergi meninggalkan Haykal.
"Kanaya, ikutlah denganku sepulang sekolah Kamu akan mengetahui arti kata orang-orang yang berarti. Seandainya setelah kamu ikut denganku. Kamu merasa pemikiranku salah. Aku akan membebaskan dirimu dari mata pelajaranku. Aku akan memastikan nilaimu tetap baik!" ujar Haykal, Kanaya menoleh seraya mengangguk.
Kanaya pergi dari ruang kelasnya. Interaksi Kanaya dan Haykal tidak luput dari perhatian sepasang bola mata hitam legam. Daffa melihat kedekatan antara guru dan murid yang tidak biasa. Ada rasa cemburu di hati Daffa. Rasa tersisih, ketika Kanaya bersikap hangat pada laki-laki selain dirinya.
"Sepertinya Kanaya akan menemukan cahaya cintanya. Sudah siapkah kamu kehilangan dia. Melihat Kanaya bahagia bersama orang lain. Sesuatu yang tidak mudah kamu terima!" Bisik Dilla, Daffa menoleh pada Dilla yang sedang tersenyum. Daffa menunduk memahami perkataan Dilla. Tidak ada yang salah dengan perkataan Dilla. Sejak Daffa menyadari cintanya takkan pernah bersambut.
"Akankah aku bisa melihatmu bersama orang lain. Mampukah aku mengubur rasa yang sudah lama terpendam? Hari ini kedua mataku melihatmu berbicara dengan pak Haykal. Sudah mampu membuatku frustasi. Seandainya kamu bersamanya, apa yang akan terjadi padaku?" batin Daffa pilu.
" Kanaya cintaku!" sapa Daffa lantang, Kanaya mendongak ke arah Daffa.
Terlihat Daffa sedang berjalan menghampirinya. Kanaya tak pernah marah atau risih, saat Daffa memanggilnya seperti itu. Sebab seluruh sekolah sudah mengetahui persahabatan diantara keduanya. Menurut teman-temannya sangat tidak mungkin ada cinta diantara keduanya. Kanaya yang berantakan tidak mungkin bisa membuat Daffa sang idola sekolah terpikat. Namun sepertinya dugaan mereka salah. Bukan Kanaya yang terpikat akan pesona Daffa, sebaliknya Daffa yang terpikat oleh kabaikan dan kesederhanaan Kanaya.
Daffa melihat Kanaya sedang memakan semangkok bakso. Dilla baru saja datang dari perpustakaan. Dilla duduk tepat di samping Kanaya. Dilla selalu ada dimanapun Kanaya berada? Keduanya selalu bersama saat di kampus. Meski penampilan mereka berbeda, tak pernah mereka risih satu dengan yang lainnya. Dilla pribadi yang tenang. Sebaliknya Kanaya pribadi yang ramai. Kedua sahabat yang saling melengkapi satu sama lain.
Daffa menelan ludahnya kasar, saat melihat Kanaya menikmati semangkok bakso. Dilla terkekeh melihat raut wajah Daffa. Air liur Daffa seolah siap menetes. Melihat betapa Daffa menginginkan makanan Kanaya. Memang sejak dulu bakso selalu menjadi makanan favorit Kanaya dan Daffa.
Tanpa basa-basi Daffa merebut bakso dari tangan Kanaya. Daffa langsung memakan bakso sisa Kanaya. Dilla yang melihat sikap Daffa, langsung bergidik geli. Daffa memakan bakso sisa Kanaya. Bahkan menggunakan sendok yang sama dengan Kanaya. Dilla tercengang tak percaya, jika Daffa bisa melakukan semua itu.
"Daffa, kamu habis terbentur dimana? Kamu memakan bakso bekas Kanaya. Apa kamu tidak jijik? Kalian berdua menggunakan sendok yang sama!" ujar Dilla tidak percaya, Daffa menggeleng sembari terus mengunyah bakso.
Kanaya meminum air, sembari mengangkat kedua bahunya, saat Dilla melihat kearahnya. Kanaya tidak keberatan, Daffa memakan bakso miliknya. Kanaya menganggap semua itu biasa. Sebaliknya Daffa merasa bahagia, saat bisa berbagi segalanya dengan Kanaya Meski kebahagiannya tak pernah Kanaya anggap.
"Kenapa kamu yang pusing? Biarkan saja dia memakannya. Lagipula aku dan Daffa berteman sudah lama!" ujar Kanaya santai, Dilla menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Setelah pulang sekolah, kalian ikut denganku!"
"Kemana?" sahut Daffa singkat, Kanaya mengangkat kedua bahunya.
"Memangnya kita akan pergi kemana? Jangan lama-lama, sebab aku harus mengerjakan tugas dari pak Haykal!" ujar Dilla, Kanaya tersenyum seraya mengangguk.
"Siap!" sahut Kanaya, sembari mengacungkan jempol ke udara. Daffa dan Dilla tersenyum simpul.
Sengaja siang ini Kanaya ingin mengajak Daffa dan Dilla pergi. Dia ingin pergi bersama Haykal. Kanaya tidak ingin pergi berdua saja dengan Haykal. Bukan canggung, tapi Kanaya merasa risih bila berdua dengan seorang laki-laki. Apalagi Haykal laki-laki yang membuatnya kesal beberapa hari ini.
"Memangnya kamu mengajak kita kemana? Biasanya setiap kali aku mengajakmu. Kamu selalu mencari alasan, agar kita tidak pergi!" ujar Daffa sembari terus mengunyah bakso.
__ADS_1
Kanaya tersenyum mendengar perkataan Daffa. Tak berapa lama ada notifikasi di ponsel Kanaya. Setelah membaca pembaca pesan yang tertulis. Kanaya mengambil tas, lalu berdiri mengajak Dilla dan Daffa pergi. Tanpa banyak bertanya keduanya mengekor langkah Kanaya. Mereka tidak akan menolak pergi kemanapun bersama Kanaya? Kesempatan yang jarang mereka dapatkan.
"Memangnya kita kemana?" tanya Dilla penasaran, Kanaya merangkul tubuh mungil Dilla. Tangannya menarik lengan Dilla pelan. Agar Dilla berjalan tanpa banyak bertanya. Kanaya terlihat begitu tenang, meski dalam hatinya menyimpan rasa sakit yang takkan pernah terlihat oleh siapapun?
"Kita akan pergi bersama pak Haykal. Aku ada janji pergi dengannya. Malas saja kalau pergi berdua, sebab itu aku mengajak kalian berdua. Semakin banyak orang, bukankah semakin ramai!" ujar Kanaya santai, sontak Daffa dan Dilla saling menoleh. Mereka berdua mengedipkan kedua matanya berkali-kali.
Antara kaget dan tidak percaya, mendengar Kanaya akan pergi dengan pak Haykal. Guru yang belum sebulan mengajar di sekolahnya. Meski Daffa dan Dilla heran, mereka tetep mengikuti langkah cepat Kanaya. Mereka percaya ada alasan yang tepat dibalik kepergian Kanaya dengan pak Haykal
Sekitar satu jam lebih Kanaya mengemudikan mobil Daffa. Sengaja Kanaya mengemudi mobil Daffa dan menolak satu mobil dengan Haykal. Daffa membiarkan Kanaya mengemudikan mobilnya. Sedangkan Haykal mengemudikan mobilnya sendiri. Kanaya lebih nyaman berada satu mobil dengan Daffa dan Dilla.
Mobil Haykal berhenti di sebuah rumah yang jauh dari keramaian. Rumah bertingkat dengan halaman yang lumayan luas. Di sekitar rumah terdapat beberapa kebun sayuran. Ada sebuah mushola tepat di depan rumah. Arena bermain tak jauh dari rumah. Jika dilihat sekilas, rumah tersebut seperti rumah singgah. Pemiliknya tentu seseorang yang kaya. Fasilitas yang disediakan tidak tanggung-tanggung. Kanaya merasa hangat, ketika melihat rumah yang tertata begitu rapi.
Kanaya turun hampir bersamaan dengan Haykal. Dilla dan Daffa turun, lalu menghampiri Kanaya. Sejenak mereka merasa heran, kenapa mereka datang kemari? Namun mereka tetap diam mengikuti keinginan Kanaya. Hanya Daffa yang datang dengan sedikit kesal. Dia tidak suka melihat kedekatan Kanaya dan Haykal. Ada rasa cemburu yang jelas tak bisa ditutupi Daffa.
"Kalian masuklah, ini rumah singgah milik kakakku. Aku dan dia mendirikan rumah singgah ini berdua. Silvi juga ikut dalam pengelolaan rumah singah ini. Mereka anak-anak yang butuh perhatian lebih!" Tutur Haykal menerangkan, Kanaya terdiam menatap lekat anak-anak yang sedang bermain. Ada rasa ngilu di hatinya, tawa yang terdengar di kedua telinganya. Seolah tamparan keras akan keluhannya. Padahal Kanaya jauh lebih beruntung, daripada mereka.
Mereka tidak memiliki keluarga yang utuh. Mereka tidak memiliki harta. Mereka hidup hanya dari belas kasih orang. Sedangkan Kanaya memiliki segalanya. Keluarga yang utuh, hidup yang tak pernah kekurangan. Namun Kanaya selalu merasa kesepian dan kekurangan. Sebaliknya anak-anak itu mampu tersenyum. Kanaya tertegun mengetahui dirinya sangat angkuh dan tidak pernah bersyukur. Jauh dari kata ikhlas, untuk menerima apa yang sudah tertulis. Setetes air bening jatuh membasahi pipinya. Dengan cepat Kanaya menghapus air matanya. Agar Daffa dan Dilla tidak melihatnya.
"Anak manis, siapa namamu? Kenapa sendirian disini? Semua temanmu sedang bermain!" sapa Kanaya ramah, anak tersebut hanya diam membisu. Dengan tatapan ragu dia melihat Kanaya yang sedang duduk di sampingnya.
"Kenapa diam saja?" ujar Kanaya ramah, sang anak diam tak bergeming. Ada rasa takut membalas sikap hangat Kanaya.
Kanaya menyapa seorang anak yang duduk sendirian di bawah pohon mangga. Saat Kanaya mengedarkan pandangannya. Dia melihat seorang anak kecil sedang duduk sendirian di bawah pohon. Entah kenapa Kanaya berjalan menghampiri gadis kecil itu? Kanaya seakan melihat dirinya dulu. Selalu merasa kesepian dan sendiri, ketika Rafan tak pernah bermain dengannya.
"Nama kakak Kanaya, namamu siapa? Kakak juga kesepian dan sendirian. Kamu bersedia tidak menjadi teman kakak!" ujar Kanaya ramah, lagi dan lagi anak itu tidak merespon. Hanya diam membisu, seolah Kanaya itu jahat dan kejam.
Tanpa Kanaya sangka, anak itu tiba-tiba memeluk tubuhnya. Seketika Kanaya mendekap erat sang anak. Dengan lembut Kanaya mengusap kepala anak itu yang tertutup hijab. Ada rasa hangat menelisik di hati Kanaya. Ketika tangannya memeluk tubuh mungilnya. Kehangatan yang tak pernah Kanaya rasakan sebelumnya. Hangat yang tercipta, ketika dia merasa berarti untuk orang lain
"Namaku Fitri, yang artinya suci. Aku merindukan kakakku. Namanya sama dengan kakak. Dia meninggal beberapa bulan yang lalu. Dia mengalami kecelakaan!" ujar Fitri, Kanaya mengangguk mengerti. Dia menenggelamkan kepala Fitri lebih dalam. Mencoba menenangkan Fitri, berharap Fitri tidak lagi mengingat kakaknya yang meninggal.
Kanaya memahami bagaimana rasanya kehilangan? Sakitnya merindukan seseorang. Kanaya sangat memahami rasa sakit itu. Dengan penuh kasih sayang, Kanaya mendekap tubuh Fitri. Memberikan pelukan seorang kakak yang dirindukannya. Pelukan hangat seorang kakak yang juga dirindukan oleh Kanaya.
"Anggaplah aku sebagai kakakmu. Mulai saat ini Fitri menjadi adik Kanaya Fauziah Abimata. Jadi sekarang kamu tidak sendirian. kamu harus ingat ada kak Kanaya. Jadi tertawalah, sekarang bermainlah bersama teman-temanmu. Jangan duduk sendirian, selama ada teman di sampingmu. Suatu saat kamu akan mengerti arti kehadiran mereka!" tutur Kanaya lirih, lalu mencium lembut kepala Fitri.
Pertama kali Kanaya merasa dirinya berarti, untuk orang lain. Hatinya hangat saat dia memeluk Fitri. Ada rasa nyaman saat Fitri mengangguk setuju menganggapnya sebagai seorang kakak. Kanaya tak lagi merasa kesepian. Kini dia memiliki seorang adik perempuan dan kakak kandung laki-laki.
Haykal dan Daffa melihat kehangatan Kanaya pada gadis kecil itu. Sikap hangat yang mengusik hati dan pikiran mereka. Dilla melihat kedua laki-laki yang mulai terpesona oleh kesederhanaan Kanaya. Dilla menggeleng tak percaya, saat semua orang memberikan kasih sayangnya. Kanaya malah sibuk menjauh dan mencari jati dirinya.
"Sepertinya akan ada dua hati yang mencinta dalam satu hati milik Kanaya!" sindir Dilla, Haykal dan Daffa menoleh hampir bersamaan. Dilla terkekeh melihat Haykal dan Daffa kelabakan, saat Dilla mengetahui arti tatapan mereka.
"Jangan banyak bicara, kalian ingin masuk atau tidak!" ujar Haykal dingin, Dilla dan Daffa mengangguk. Lalu tiba-tiba Dilla menghentikan langkah Daffa. Dilla menunjuk ke arah Kanaya. Sontak Daffa menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Dilla.
"Lihat Daffa, Kanaya kita sedang bersama siapa? Akankah kamu tetap diam, melihat Kanaya bersama laki-laki lain!" ujar Dilla tegas, Daffa melihat Kanaya sedang berdebat dengan seseorang.
"Mungkin antara aku dan Kanaya hanya akan ada persahabatan. Aku tidak ingin kehilangan Kanaya. Lebih baik menjadi sahabat, daripada mencintainya tapi menjadi musuhnya. Aku sudah cukup bahagia bisa melihat senyumnya. Aku merasa berarti, saat aku masih bisa melindunginya. Setidaknya Kanaya akan merasa nyaman bersamaku. Meski hanya sebagai sahabat!" tutur Daffa, Dilla mengangguk sembari memukul pundak Daffa pelan. Haykal mendengar jelas pembicaraan antara Daffa dan Dilla.
"Daffa, aku bangga pada prinsipmu. Kelak akan ada Kanaya lain, yang mampu membuatmu bahagia. Namun kamu tidak perlu pesimis, sebelum Kanaya memilih. Masih ada kesempatanmu menjadi imam dunia akhiratnya!" ujar Dilla, Daffa mengangguk pelan.
"Begitu banyak yang menawarkan cinta padamu. Namun kenapa kamu begitu acuh? Kanaya, hatimu lembut penuh ketulusan. Sama halnya Daffa yang memilih menjadi sahabatmu. Aku juga ingin menghapus cinta ini, tapi nyatanya semakin aku mengenalmu. Semakin aku sulit menjauh dari bayanganmu!" batin Haykal.
__ADS_1