
"Sore!"
"Assalammualaikum!" sahut Kanaya ramah dengan suara merdu nan lembutnya.
"Waalaikumsalam!" ujar Galuh, seraya tersenyum. Nampak Galuh menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Galuh merasa malu dan canggung, melihat sikap hangat Kanaya padanya.
Galuh terlihat malu, ketika mendengar sapaannya dibalas salam oleh Kanaya. Galuh semakin malu, tatkala Kanaya mencium punggung tangannya. Kanaya menyapa Galuh dengan rasa hormat dan bakti. Usia Kanaya empat tahun lebih tua dari Galuh. Namun usia yang lebih tua, tak lantas membuat Kanaya lupa akan status Galuh sekarang. Seorang suami yang harus dia hargai dan hormati.
"Maaf, aku lupa kalau istriku seorang ustazah!"
"Pa!" ujar Kanaya kesal, Galuh tersenyum lebar. Galuh menarik tangan Kanaya, tubuh Kanaya terhuyung ke depan. Dengan sigap Galuh menangkap tubuh Kanaya. Galuh mendekap erat tubuh Kanaya. Galuh memeluk erat tubuh Kanaya dari belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak Kanaya.
"Sayang, panggil aku sekali lagi!" bisik Galuh mesra, Kanaya menoleh ke arah Galuh. Merasa heran dengan permintaan Galuh. Namun tatapan Galuh mengisyaratkan permintaan yang sungguh-sungguh.
"Papa!" ujar Kanaya lantang, Galuh mengangguk penuh rasa bahagia.
"Terima kasih!" sahut Galuh, Kanaya menghela napas. Kanaya merasa aneh dengan panggilan Galuh. Namun permintaan sang suami yang membuatnya setuju dengan panggilan itu.
"Oh iya, kenapa menjemputku? Ada masalah atau urusan penting!" ujar Kanaya, Galuh menggeleng sembari tetap mendekap erat Kanaya.
"Lalu!"
"Aku merindukanmu!"
"Hmmm!" sahut Kanaya dingin dan santai.
"Aku serius!" sahut Galuh, Kanaya mengangguk sembari melepaskan pelukan Galuh.
"Aku percaya!" ujar Kanaya, lalu berjalan menjauh dari Galuh. Kanaya berjalan menuju pintu mobil.
"Kanaya sayang, aku tidak bohong!" teriak Galuh menyakinkan dengan mimik wajah layaknya anak kecil. Kanaya mengangguk mengiyakan, tapi Galuh tetap tak percaya.
"Kita pulang sekarang atau tetap di sini!" ujar Kanaya, Galuh diam tak bergeming. Galuh tetap duduk di depan mobilnya.
__ADS_1
"Papa tampan, kita pulang sekarang!" ujar Kanaya, membujuk Galuh sembari bergelayut manja pada tangan Galuh. Sontak tubuh Galuh bergetar, sentuhan Kanaya mengalahkan amarah dan kekesalan Galuh dalam sekejap. Kekesalan yang sejenak mengisi hatinya. Sontak lenyap tak berbekas, tergantikan rasa panas yang membakar tubuhnya.
"Baiklah!" sahut Galuh, lalu turun dari mobilnya.
Kanaya berjalan ke sisi kiri mobil, sedangkan Galuh berjalan ke sisi kanan mobil. Tanpa menoleh ke arah Kanaya, Galuh masuk ke dalam mobil. Sekilas Kanaya tersenyum di balik cadarnya. Kanaya merasa geli melihat sikap Galuh yang kekanak-kanakan. Berbanding terbalik dengan pesona dan kharisma Galuh saat di kampus. Idola yang dikagumi para hawa, tak lebih dari anak kecil yang manja di depan Kanaya.
Galuh mengemudikan mobilnya, menyusuri jalan raya yang padat merayap. Semua orang mengejar waktu kembali ke rumah. Bukan hanya satu atau dua kendaraan, puluhan kendaraan berlomba menyusuri jalan raya yang sangat padat. Langit tak lagi biru, tergantikan jingga. Seiring sang matahari yang bersembunyi di ufuk barat. Keramaian jalan raya, tak lantas membuat kesunyian di dalam mobil Galuh terusik. Sejak masuk ke dalam mobil, Kanaya dan Galuh sama-sama diam membisu. Tak ada suara, hanya helaan napas keduanya yang terdengar. Entah kenapa keduanya terdiam?
Galuh memilih fokus mengemudikan mobilnya, meski sesekali Galuh melirik ke arah Kanaya. Menatap sendu Kanaya, wanita yang kini menjadi bagian hidupnya. Sebaliknya, Kanaya memilih menutup kedua matanya. Kanaya merasa lelah, setelah seharian mengajar. Tak ada lagi tenaga Kanaya berdebat dengan Galuh. Sebab itu, Kanaya memilih mengistirahatkan hati dan tubuhnya.
Tepat di lampu merah, mobil sport Galuh berhenti. Sejenak Galuh melirik ke arah Kanaya. Mata yang terus terpejam, terlihat begitu lelah. Berkali-kali Galuh meminta Kanaya berhenti mengajar. Berkali-kali pula, Kanaya menyakinkan Galuh. Jika dia baik-baik saja dan bahagia dengan pekerjaannya. Galuh tak bisa memaksa Kanaya. Sejatinya kecemasannya, tak lantas membuat Galuh egois dan merenggut alasan kebahagian Kanaya.
"Kenapa terus menatapku?" ujar Kanaya lirih, tatkala dia merasa Galuh terus menatapnya.
Kanaya mengerjapkan kedua mata indahnya. Sinar jingga menerpa wajahnya, silau jingga membuat Kanaya terjaga. Kanaya ingin melihat lukisan alam, guratan jingga yang meneduhkan. Galuh tersadar dan langsung mengalihkan pandangannya. Dengan gugup Galuh menatap lurus ke depan. Menatap jalan raya yang padat.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" ujar Kanaya lagi, Galuh menoleh. Tatapan heran Galuh, seolah mengiyakan suara hati Kanaya akan rasa penasaran Galuh.
"Katakan!" ujar Kanaya ketiga kalinya, kala Galuh hanya diam membisu. Kanaya menoleh ke arah Galuh. Lalu, dia menoleh ke arah luar mobil. Jalan yang padat oleh kendaraan, senja yang menyeruak. Menyambut sang petang menyapa. Sayub terdengar murrotal masjid, panggilan syahdu hati yang beriman.
"Maksudnya?" sahut Kanaya tidak mengerti dan kaget.
"Karena Haykal?" sahut Galuh, mengabaikan rasa heran Kanaya.
"Tunggu, kenapa kamu menyebut namanya? Apa hubungan pertanyaanmu dengannya?" ujar Kanaya lantang, nada tinggi Kanaya mengisyaratkan rasa tidak suka akan perkataan Galuh. Kanaya merasa Galuh tengah meragukan ketulusannya. Galuh menyebut nama yang tak seharusnya ada dalam hubungan antara dirinya xengan Galuh.
"Bukankah dulu kamu tidak menggunakan cadar. Setelah menikah dengannya kamu menggunakan cadar. Mungkin kamu takut laki-laki lain menatapmu. Kecantikanmu hanya untuk dia seorang!"
"Kamu bertanya atau meragukanku!"
"terserah pemikiranmu!" sahut Galuh lirih, Kanaya mengangguk pelan. Perlahan Kanaya mengangkat tangannya. Kanaya melepas tali yang mengikat cadar. Kanaya melepas cadar tepat di depan Galuh. Kanaya menoleh ke arah Galuh, sontak Galuh terkejut. Galuh terpana akan kecantikan Kanaya. Teduh dan menenangkan, Galuh terdiam tak berkutik.
Tin Tin Tin
__ADS_1
Suara klason mobil membuyarkan lamunan Galuh. Dengan hati yang tak karuan, Galuh mengemudikan mobilnya. Kanaya terus menoleh ke arah Galuh. Kanaya membuat tubuh Galuh membeku. Hasrat menggebu, membuncah dalam diri Galuh.
"Kenakan cadarmu, kenapa kamu melepasnya?"
"Jika kamu berpikir aku menggunakan cadar demi dia. Maka demi dirimu, aku siap melepasnya. Kamu imamku, kamu pemimpinku, kamu jalan ridhoku dan surgaku. Tak ada alasanku membuat hatimu gelisah. Ketakwaan dan keimananku, ada pada tuntunanmu. Demi ridho-NYA, aku menjadi makmummu. Dengan menyebut nama-NYA, aku menerima pinanganmu. Hanya karena-NYA, kita bersatu dan dengan kasih sayang-NYA, aku belajar mencintaimu!"
"Kanaya!" ujar Galuh lirih, nada sendu dan haru terdengar begitu nyata di telinga Kanaya. Galuh terkejut dan tak pernah membayangkan. Kanaya mengatakan sesuatu yang membuatnya begitu bahagia. Merasa sempurna sebagai seorang laki-laki.
"Iya, aku siap melepasnya. Seandainya kamu berpikir, aku menggunakannya demi dia. Mungkin pemikiranmu benar, tapi itu dulu saat aku menjadi istrinya. Namun bukan sekarang, kala aku telah menjadi istrimu!"
"Kamu mengakuiku sebagai seorang suami!"
"Memangnya kapan aku menolakmu menjadi suamiku? Bukankah sebaliknya, kamu yang terus mengabaikanku. Kamu yang tak pernah ingin menyentuhku. Kamu menjaga jarak denganku. Mengacuhkan ketulusan yang ingin aku serahkan padamu. Bahkan sikap manjamu, membuatku merasa malu. Aku seolah wanita tua yang tengah menjaga anaknya!" ujar Kanaya lantang dan tegas, Galuh menggeleng lemah.
"Tidak, jangan berkata seperti itu. Kamu segalanya bagiku!" ujar Galuh mencoba menjelaskan semuanya.
"Tapi itu yang aku rasakan!"
"Kanaya, tidak ada hal seperti itu!'
"Kita menikah hampir tiga bulan, tapi tak sekalipun kamu menyentuhku. Kamu menolak tidur di tempat tidur yang sama denganku. Mencari banyak alasan, demi menghindariku. Sikap manjamu, seakan ingin menunjukkan diriku yang lebih tua darimu!"
"Kanaya tidak seperti itu?" sahut Galuh dengan gelengan kepala.
"Kanaya, percayalah!" ujar Galuh lagi, seraya menggenggam tangan Kanaya. Galuh mencium tangan Kanaya, lalu menempelkan tangan Kanaya di pipinya.
"Sudah sampai, malam ini kita menginap di rumah mama!" ujar Kanaya, sembari menarik tangannya. Kanaya turun dari mobil, Galuh langsung keluar dari mobil.
"Kanaya, percayalah!" ujar Galuh.
"Buktikan, jika aku milikmu. Jangan biarkan keraguanku menjadi jawaban dari rasa sakitku!"
"Kanaya, aku mencintaimu!" teriak Galuh, Kanaya terus berjalan masuk ke dalam rumah Embun.
__ADS_1
"Aku menghindar darimu, bukan karena aku membencimu. Sebaliknya, karena aku sangat mencintaimu. Aku ingin putraku lahir dari ketulusan dan cinta kita. Bukan bakti dan paksaanmu. Aku manja padamu, bukan karena kamu lebih tua dariku. Namun sejujurnya, nyaman dan tenangku hanya ada dalam dirimu. Kedewasaanmu yang membuatku lemah dan selalu ingin bersandar padamu. Kanaya, aku sangat mencintaimu. Sangat mencintaimu!" batin Galuh pilu.