KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kakek


__ADS_3

"Abah, aku merindukanmu!" ujar Embun lantang, Iman menoleh sembari merentangkan kedua tangannya.


Embun sengaja mengunjungi Iman dan Afifah. Semenjak menikah, Iman jarang mengunjungi Embun. Sebab itu pagi ini sscara khusus Embun datang mengunjungi Iman. Embun datang bersama Rafan dan babysister yang khusus menjaga Rafan. Embun datang sebelum Iman berangkat ke kantor. Sedangkan Afifah tidak terlihat, mungkin sedang sibuk atau malah belum pulang dari rumah sakit.


"Embun sayang!" sapa Iman ramah, seraya memeluk Embun erat penuh kehangatan.


Iman menggendong Rafan dan mengajak Embun masuk ke dalam rumah utama Adijaya. Rumah megah tempat Almaira lahir dan dibesarkan. Embun melangkah ragu, tapi Iman menyakinkan Embun untuk tetap masuk ke dalam rumah Adijaya. Banyak alasan Embun ragu masuk ke dalam rumah Adijaya. Masa lalu dan keberadaan Sofia, membuat Embun takut melangkah ke dalam rumah Adijaya yang megah.


"Akhirnya kamu datang ke rumah orang tuamu!" sapa Sofia ketus, Iman menatap tajam Sofia. Embun menunduk mendengar sindiran Sofia. Rasa bersalah menelusup jauh ke dalam hatinya.


Semenjak Embun mengetahui fakta dirinya cucu tunggal keluarga Adijaya. Dia tidak pernah sekalipun datang menjenguk Dewangga kakeknya. Sofia sengaja menyindir Embun, agar Embun menyadari kesalahannya. Sebagai seorang cucu, dia melupakan kewajibannya merawat atau sekadar menjenguk Kakeknya. Iman tidak pernah meminta Embun datang. Sikap dingin Embun bukan pembangkangan, tapi lebih kepada trauma akan luka yang belum sembuh sepenuhnya.


"Aku tidak salah, dia memang tidak pernah datang. Dia terlalu peduli akan luka dan hidup orang lain. Namun lupa akan kerinduan dan duka seorang kakek tua di rumah ini. Seorang cucu yang seharusnya menjaga kakeknya, menggantikan kewajiban ibu yang melahirkannya. Namun sepertinya, dia lebih peduli keluarga lain dan meninggalkan keluarganya sendiri!"


"Sofia cukup!"


"Kakak yang harusnya mengingatkannya. Embun cucu tunggal keluarga Adijaya. Dia yang akan mewarisi seluruh harta keluarga Adijaya. Rafan putranya yang kelak meneruskan keluarga Adijaya. Sudah saatnya dia menjaga keluarga ini!" ujar Sofia lantang, Embun semakin merasa bersalah. Meski Embun belum sepenuhnya menerima keluarga Adijaya. Namun darah keluarga Adijaya mengalir dalam nadinya.


"Sofia, kakak mengetahui itu dengan jelas. Embun belum siap, biarkan dia memilih jalannya sekarang. Setidaknya hari ini dia datang bersama cucumu. Tidak perlu membahas masalah yang memang tak pernah ada!" ujar Iman final, Sofia langsung diam membisu.


"Embun, masuklah ke dalam. Papa selalu merindukanmu. Abah yang akan menjaga Rafan. Jika nanti papa menanyakan Rafan, abah yang akan membawanya masuk. Sejak beberapa hari yang lalu kondisi papa menurun. Napsu makannya mulai hilang, bahkan Afifah memasang selang infus ditangannya. Temui papa, dia ingin melihat Almaira dalam wajahmu!"


"Baiklah, aku akan menemuinya!" sahut Embun, Iman mengangguk pelan.


Iman dan Embun masuk ke dalam rumah Adijaya. Langkah yang terdengar menggema di rumah Adijaya yang megah. Rumah yang terlihat sepi tanpa penghuni. Rumah besar yang hanya ditinggali Sofia dan Dewangga. Sedangkan Iman dan Afifah memilih tinggal tepat di sebelah rumah Adijaya. Rumah yang dibangun Iman, bukan menjauhkan Afifah dari keluarganya. Sebaliknya, Iman ingin menciptakan ketenangan dalam keluarga kecilnya.


Kreeekkk


Embun membuka perlahan pintu kamar Dewangga. Kamar utama rumah keluarga Adijaya. Embun diam melihat ke seluruh ruangan kamar yang sedikit gelap. Nampak beberapa perabotan mewah yang tertata rapi. Embun berdiri terpaku, detak jantungnya seakan terhenti. Ada rasa takut bercampur keraguan. Entah kenapa Embun merasa ragu masuk ke dalam kamar Dewangga?

__ADS_1


"Masuklah!" ujar Dewangga lirih, suara pintu terbuka membuat Dewangga terbangun. Tubuh tua dan lemahnya, tak lagi mampu bangkit dari tempat tidur.


Semenjak Iman kembali dan mengambil alih perusahaan Adijaya. Dewangga memilih mundur dan tinggal di rumah. Dewangga merasa tubuhnya mulai lemah dan tak lagi mampu menanggung beban pekerjaan. Seolah tubuhnya mengiyakan keinginan Dewangga dan menolak untuk bekerja keras.


"Assalammualaikum!" ujar Embun lirih, Dewangga mengedipkan mata. Meski Embun tak melihat kedipan mata Dewangga. Namun Dewangga yakin, Embun merasakan kedipan matanya. Sikap hangat Dewangga yang menyapa sang cucu.


"Mendekatlah, tubuhku terlalu lemah untuk bangkit menyambutmu!" ujar Dewangga, Embun mengangguk pelan. Embun berjalan menghampiri Dewangga. Embun menyeka air matanya, saat dia melihat selang infus menempel di tangan kiri Dewangga.


"Embun sayang, nyalakan lampu utama. Kakek ingin melihat wajahmu. Indah matamu mengingatkan kakek akan Almaira. Putri kecilku yang tak pernah mengeluh, sampai napas terakhirnya!" ujar Dewangga lirih, Embun mendekat ke arah tempat tidur Dewangga.


Embun berdiri tepat di samping tempat tidur Dewangga. Embun menatap nanar Dewangga, ada rasa ngilu menusuk tepat ke jantung Embun. Ada rasa sakit yang teramat, seolah sakit dan luka Dewangga disebabkan olehnya. Embun. Dewangga tersenyum ke arah Embun, beberapa kali Embun mengalihkan pandangannya. Embun tak sanggup melihat lemah Dewangga. Entah kenapa Embun tak ingin melihat sakit Dewangga dan merasa sakit? Tepat saat Embun mengalihkan pandangannya, dia melihat sebuah foto berbingkai indah tepat di atas meja nakas.


Embun langsung menghampiri meja nakas yang ada tepat di sebelah tempat tidur Dewangga. Embun mengambil foto, menatap lekat wajah yang ada di dalam foto. Embun mengedarkan pandangannya, nampak beberapa foto yang sama. Namun dengan bingkai yang lebih besar. Foto yang menempel tepat di dinding, hampir di semua dinding kamar. Bukan hanya satu foto, hampir lima bahkan lebih foto yang terpajang. Semua dengan pose yang berbeda dan kebanyakan dengan senyum yang begitu indah.


"Mama!" batin Embun lirih, tangannya mengusap wajah yang ada di dalam bingkai.


"Almaira, putri yang paling cantik!" sahut Dewangga, saat melihat Embun mengusap foto Almaira.


"Kakek, kenapa bangun? Tidurlah kembali, tubuhmu masih sangat lemah!" ujar Embun cemas, Dewangga menggelengkan kepalanya pelan.


Dewangga menjulurkan tangannya, seolah dia tengah meminta foto yang ada di tangan Embun. Sontak Embun memberikan foto yang ada di tangannya. Dewangga menerima foto Almaira dengan senyum yang bahagia. Tangan keriput dan lemahnya, bergetar memegang foto putri tercintanya. Dewangga menunduk menatap lekat wajah cantik Almaira. Mencium foto Almaira berkali-kali, lalu meletakkan foto Almaira tepat di dadanya.


"Maafkan papa, maaf!" ujar Dewangga lirih, Embun menatap heran. Seakan dia tidak mengerti, kenapa Dewangga begitu menyesal?


"Embun, maafkan kakek. Aku kakek yang membuatmu terpisah selamanya dengan Almaira. Seorang ayah yang menuduh putrinya dengan sangat keji. Pelindung yang tak mampu menjaga buah hatinya sendiri. Aku ayah paling bodoh dan kejam. Seekor hewan saja sangat menyayangi anaknya dan takkan pernah mengusir atau membunuh anaknya. Sedangkan aku dengan dua tangan ini, mendorong putriku keluar dari rumah ini. Rumah yang kini menjadi penjara untukku. Tak ada lagi ketenangan dalam rumah ini, hanya keserakahan yang tersisa!" ujar Dewangga dengan suara lemahnya. Penyesalannya jelas terlihat dari raut wajah tuanya.


"Jika kakek begitu membenci mama. Kenapa kakek menyimpan foto mama? Tante Sofia putri kakek, kenapa hanya foto mama yang ada di kamar ini!"


"Aku tidak pernah membenci Almaira, bahkan aku sangat menyayanginya. Foto yang terpanjang di ruangan ini. Bukan sekadar foto tanpa makna. Foto-foto ini bayangan putriku Almaira. Putri yang meminta kebahagian, tapi bukan untuknya melainkan untuk saudara tirinya!"

__ADS_1


"Maksud kakek!"


"Semenjak aku menikah, Almaira memilih hidup tersisih. Sejak kecil dia tinggal jauh dariku. Almaira menjauh dariku, dia tinggal sendiri di desa kelahiran ibunya. Almaira tak pernah mengeluh, dia tak pernah meminta apapun dariku. Semua dilakukannya hanya demi ketenangan keluarga kecilku. Iman tak pernah hidup bersama Almaira. Sebab dia tinggal di luar negeri sejak SMP. Hubungan darah yang terpaksa terpisah tanpa arah. Sampai akhirnya Almaira tinggal di rumah ini. Satu tahun sebelum dia menikah dengan Arya!"


"Kakek!"


"Iya!"


"Kenapa kakek mengusir mama?" ujar Embun dingin.


"Maafkan kakek, maaf!" ujar Dewangga, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa?" sahut Embun dingin dan lemah.


"Karena rasa sayang kakek pada Almaira!"


"Tidak mungkin!"


"Embun, kakek memilih jalan yang salah. Kakek sengaja mengusir Almaira dari rumah ini, karena nenek sambungmu atau ibu kandung Sofia sangat kejam. Dia tidak akan membiarkan Almaira tenang. Apalagi setelah luka yang ditorehkan Almaira pada Sofia. Pernikahan Almaira dengan Arya, membuat Sofia frustasi dan hampir mengakhiri hidupnya. Sedangkan aku bak remaja yang takut kehilangan cinta. Aku menurut begitu saja dan berpikir Almaira akan baik-baik saja!" ujar Dewangga jujur, Embun langsung menunduk. Seakan dia sakit mendengar semua perlakuan Dewangga pada Almaira.


"Penyesalan yang ada dalam diriku, terbingkai indah di tiap foto Almaira. Aku merasa purtriku selalu menemaniku. Senyum dan indah mata Almaira, mengobati rinduku padanya. Kelak saat aku bertemu dengannya, aku ingin meminta maaf padanya dan mengatakan padanya. Jika putrinya sangat cantik!"


"Kakek!" ujar Embun lirih, Dewangga merentangkan kedua tangannya.


"Embun, sekali saja peluk tubuh lemah ini. Kerinduanku pada Almaira membuat tubuh lemah ini semakin lemah!"


"Kakek!" sahut Embun, lalu berhambur memeluk Dewangga.


"Terima kasih!" ujar Dewangga, sembari memeluk erat tubuh Embun.

__ADS_1


"Almaira, papa sedang memeluk putrimu. Dia sama persis denganmu. Dua mata indah miliknya, mengingatkan papa padamu. Wajahnya cantik sama sepertimu. Almaira, kini papa siap bertemu denganmu. Sebab papa telah menemukan putri kecilmu. Almaira putri kecilku, putrimu baik-baik saja. Dia sudah menemukan kebahagiannya. Sekarang, papa akan menemanimu!" batin Dewangga, lalu melepaskan pelukannya.


__ADS_2