
"Embun, aku pulang dulu!" Pamit Nur, Embun mengangguk pelan.
Sudah dua hari satu malam, Nur tinggal di rumah Abra. Nur menginap demi menemani Embun, sekadar membuat Embun merasa tenang. Agar Embun bisa segera pulih dan fokus pada kehamilannya. Sahabat terkadang menjadi obat paling ampuh. Di kala rapuh dan lemah hati seseorang.
"Tante Indira, Nur pulang dulu. Terima kasih, tante Indira sidah baik menerima saya!" Ujar Nur sopan, lalu mencium punggung tangan Indira.
Nur memeluk Embun dengan begitu erat, setetes air mata jatuh tepat di pelupuk mata Embun. Nur yang melihatnya, langsung menyeka air mata Embun. Nur mengedipkan kedua matanya, seolah mengatakan semua akan baik-baik saja. Entah kenapa Embun begitu rapuh? Tak ada yang bisa memahami isi hati Embun. Namun Nur percaya, semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada masalah tanpa akhir. Begitu juga yang terjadi pada Nur. Semua akan ada akhirnya, Embun akan menemukan titik tengah dalam permasalahannya.
"Air matamu tak seharusnya menetes. Ingat Embun, aku tetap sahabatmu. Namun rumah dan seluruh penghuni rumah ini keluargamu. Jangan kamu lari mencariku, jika nyatanya ada keluarga yang selalu dekat denganmu. Bukan aku melarangmu tetap dekat denganku. Namun alangkah bijaknya, jika kamu mulai percaya pada mereka. Orang-orang yang tinggal di bawah atap yang sama denganmu. Mereka yang menghirup udara dan berbagi tempat denganmu. Aku mengenal pribadimu, aku percaya kamu mampu mengalahkan egomu. Agar kamu bisa percaya pada mereka!"
"Nur!"
"Aku tahu Embun kegelisahan dan rendah dirimu. Namun aku juga percaya, Embunku tak serapuh itu. Sampai dia kalah sebelum berjuang. Clara wanita berkelas, berbeda dengan kita wanita desa. Clara wanita anggun dan mempesona, sedangkan kita wanita tak menarik dan kucel. Clara wanita karier, sebaliknya kita wanita biasa. Namun aku tidak mengerti satu hal. Sejak kapan kamu peduli akan pendapat dan perbedaan itu? Bukankah Embun selalu menjadi dirinya sendiri. Embun akan membuka mata dunia, jika dia bisa menaklukkan semua tantangan. Mengembalikan hinaan menjadi pujian. Bangkitlah Embun, kamu harus berjuang. Abra mungkin memilihmu, tapi angkuhmu akan membuat Abra menjauh. Satu hal lagi, Clara hanya satu diantara sekian banyak wanita yang mengharapkan cinta Abra. Jika satu Clara sudah membuatmu tumbang. Bagaimana kamu bisa bertahan dengan cinta serapuh benang?"
"Kamu menyalahkanku!" Ujar Embun lirih, Nur menggelengkan kepalanya lemah.
"Tak pantas aku menyalahkanmu, kamu selalu lebih bijak daripada diriku. Jelas diammu, tidak lain untuk menutupi air mata Abra. Namun kamu harus tahu, terkadang semua akan semakin jelas. Jika ada kata, bukan hanya diam yang terus menghancurkan. Katakan isi hatimu pada Abra. Lupakan harga diri dan gengsi, dalam cinta tidak ada nilai. Semua sama, karena kalian ada untuk saling melengkapi!"
"Nur, sejak kapan kamu pandai bicara?"
"Sejak aku melihat cinta Abra padamu. Seadainya Ibra memiliki sedikit ketulusan Abra. Mungkin aku sudah berlari mengatakan cinta padanya!" Ujar Nur menggoda Embun, sontak Embun menatap tak percaya ke arah Nur.
"Aku bercanda, tidak mungkin aku menyukai Ibra. Sejak dulu kami selalu berselisih paham. Satu hal yang membuat kami sepaham, jika itu menyangkut dirimu. Jadi jangan salah artikan perkataanku!"
__ADS_1
"Hanya semalam kamu menginap, tapi seolah kamu mengenal kak Abra!"
"Tidak perlu waktu bertahun-tahun untuk melihat cinta Abra padamu. Cukup aku melihat air matanya saat sakitmu. Semua sudah membuatku percaya, jika ada cinta tulus untukmu!"
"Kak Abra menangis!" Ujar Embun tak percaya, Nur mengangguk tanpa ragu.
"Aku melihat jelas air matanya, saat pertama kali aku datang ke rumah ini. Bukan sedetik atau satu menit aku melihat air mata beningnya menetes. Aku melihat jelas, Abra menangis di sampingmu hampir setengah jam. Tangis tanpa suara, membuktikkan betapa hatinya sakit melihat lemahmu. Tangis yang membuatnya tak berdaya, luka tanpa nanah yang takkan pernah bisa dilakukan oleh laki-laki manapun? Sebab laki-laki hanya bisa marah, tapi tidak bisa mengungkapkan sakitnya!"
"Nur, apa yang harus aku lakukan? Aku membuat suamiku menangis, aku telah menyakiti hatinya!"
"Jujur, hanya itu yang perlu kamu lakukan. Pasrahkan bahagia dan sedihmu pada Abra. Katakan alasan tawa dan gundahmu padanya. Biarkan dia menjadi orang pertama yang menyadari kuat dan lemahmu. Abra butuh rasa percaya dan kejujuranmu. Ingat Embun, sebelum kamu menikah dengan Abra. Kamu menyerahkan hidupmu di tangan Abah Iman. Sekarang, saat tangan Abra yang menggenggammu. Kenapa kamu malah tak percaya padanya? Wanita seperti Clara tidak hanya satu di sekeliling Abra. Namun laki-laki seperti Abra, mungkin hanya satu. Laki-laki yang tidak malu meneteskan air matanya demi dirimu!" Tutur Nur tegas, Embun mengangguk terdiam. Nur menepuk pelan pundak Embun, lalu merangkul tangan Embun. Menyandarkan kepalanya di lengan Embun, sembari menatap langit biru.
"Jika menjadi wanita biasa kamu merasa tak pantas bersama Abra. Kenapa kamu tidak mencoba menjadi wanita hebat demi Abra? Jika Abra mampu mengalah demi sama denganmu, kenapa kamu tidak bisa berubah demi kata sepadan dengan Abra?"
"Sifatmu keras dan merasa benar sendiri, salah satu alasan jarak tercipta diantara kalian berdua. Katakan pada Abra, diizinkan atau tidak? Semua akan terjawab, ketika Abra mengetahuinya.Tidak perlu berpikir terlalu keras, jika nyatanya semua bisa dibuat santai!" Ujar Nur, Embun menatap langit yang sama dengan Nur.
"Aku memang egois!" Ujar Embun lirih, Nur mengangguk tanpa ragu.
"Baru sadar!" Sahut Nur santai, sembari mengutas senyum tulus.
"Aulia Nur Hikmah!" Panggil Embun dengan nada kesal. Nur mengutas senyum, lalu merangkul erat Nur sahabatnya.
"Embun, aku harap bahagia selalu ada bersamamu. Mungkin tubuhku jauh dari pandangmu. Namun percayalah, doaku selalu ada untukmu. Kita tumbuh di desa yang sama, kita bermain di jalan yang sama, kita mandi di sungai yang sama. Persamaan yang kini berbeda, ketika jarak memisahkan kita. Embun, kamu bukan hanya sahabat bagiku. Kamu saudara yang tak pernah aku miliki. Aku lahir tanpa saudara, kamu tumbuh tanpa orang tua yang lengkap. Saat aku bersamamu, tak ada sepiku tanpa saudara. Ketika bersama keluargaku, kamu lupa akan kurangmu. Dulu kita saling bergandeng tangan, melengkapi dalam segala hal. Kini tanganmu tak lagi pantas kugenggam. Abra orang yang berhak menggenggam tanganmu. Keluarga Abimata yang kini menjadi keluargamu. Jujur Embun, aku merasa tersisih dan teracuhkan. Namun kini aku sadar, persaudaraan kita tak serapuh itu. Sampai patah ketika harta dan mewah memutusnya. Tenangmu masih ada bersamaku, nyamanmu masih denganku. Terima kasih Embun, kamu mengingat diriku dalam setiap napasmu. Kita hanya tinggal di tempat berbeda, tapi tetap di bawah langit yang sama!" Batin Nur lirih.
__ADS_1
"Apa Embun sayang?"
"Sampai kapan kamu bersandar? Tubuhku terlalu lemah menahan tubuh gemukmu!" Ujar Embun menggoda Nur.
"Embun!" Teriak Nur kesal, ketika Embun mengatakan Nur gemuk.
"Nur jelek, jangan berteriak. Suaramu membuat telingaku sakit!" Ujar Ibra lantang, Nur menoleh menatap Ibra kesal.
"Siapa yang peduli akan sakitmu?" Teriak Nur menyahuti perkataan Ibra.
"Jangan terlalu membencinya, nanti kamu mencintainya!" Ujar Embun.
"Ibra dan aku, bak kucing dan tikus. Kami bersama, tapi hanya untuk bertengkar!" Sahut Nur, Embun mengangguk seraya tersenyum.
"Terserah apa katamu?" Ujar Embun, lalu memeluk Nur. Pelukan terakhir sebelum Nur pulang kembali ke desa.
"Dia benar, aku dan dia bertemu hanya untuk bertengkar!" Ujar Ibra, lalu membukakan pintu untuk Nur.
"Terima kasih pak supir yang tampan!" Ujar Nur, Ibra tersenyum kesal mendengar perkataan Nur.
"Ingat Nur, hari ini aku menjadi supirmu. Lain kali, kamu yang akan menjadi pendampingku!" Ujar Ibra, menggoda Nur.
"Terserah!" Sahut Nur tidak peduli.
__ADS_1