
"Nur, sahabat terbaikku!" teriak Embun lantang, Nur langsung memutar tubuhnya 180°. Nampak Embun merentangkan kedua tangannya. Berharap pelukan hangat dari sahabat yang baru saja mengubah status menjadi istri Fahmi.
"Rafan, keponakan tante Nur yang tampan!" teriak Nur, sembari berhambur memeluk Rafan.
Nur mengambil Rafan dari gendongan Abra. Embun yang berdiri tepat di samping Abra. Seketika cemberut, Embun merasa teracuhkan. Bibir Embun terlihat maju beberapa centimeter ke depan. Nur seolah tidak peduli akan kekesalan Embun. Dengan santainya Nur mencium pipi gembul Rafan. Nur seolah tidak bosan mencium pipi Rafan.
"Nur, kamu mengacuhkanku!" ujar Embun dingin, Nur menoleh seraya tersenyum. Sebuah senyum yang sekana tengah menertawakan Embun.
Rafan mulai merasa tidak nyaman dalam gendongan Nur. Sesekali Rafan meronta ingin melepaskan diri dari gendongan Nur. Bahkan Rafan sempat menangis, Rafan tidak ingin berada dalam gendongan Nur. Abra memilih menemui Fahmi, sahabat yang sudah seperti saudaranya. Abra ingin mengucapkan kata selamat. Bukan hanya sebagai sahabat, tapi juga saudara.
"Via, ambil Rafan dari Nur. Bukannya menenangkan Rafan, dia malah membuat Rafan menangis!" ujar Embun lirih dan ramah pada Via. Babysister yang menjaga Rafan dengan penuh kasih sayang. Embun sudah menganggap Via seperti adiknya sendiri. Walau Via memilih tetap menjaga batasannya dengan Embun. Via tidak ingin memanfaatkan kebaikan Embun. Via cukup sadar diri dengan statusnya.
Via langsung menghampiri Nur. Dengan penuh kasih sayang, Via menggendong Rafan. Embun meminta Via duduk di ruangan yang sedikit lebih tenang. Embun melihat wajah Rafan yang sedikit mengantuk. Rafan butuh ruangan yang tenang, agar dia bisa tidur. Embun mengajak Nur keluar, sekadar mencari udara segar dan menatap langit malam ini.
"Nur, lihatlah bulan purnama yang begitu terang. Cahaya membuat langit malam yang gelap menjadi begitu indah. Bintang menghiasi langit dengan cahaya kecilnya. Menambah keindahan malam yang sangat penting dalam hidupmu!" tutur Embun lirih, Nur menatap langit malam yang begitu terang.
__ADS_1
Tepat tanggal 15 bulan muharam, langit akan terlihat begitu indah dan cantik. Tak nampak gelap menghiasi malam. Awan terlihat begitu cantik, seolah menjadi lukisan indah di malam penuh cahaya bulan. Satu malam diantara tiga puluh hari penanggalan jawa. Dimana bulan bersinar begitu terang dan akan meredup keesokan harinya. Malam yang menjadi saksi ijab qobul Fahmi dan Nur.
"Kamu benar Embun, langit terlihat begitu terang dan cantik. Seterang hatiku saat ini, begitu terang sampai aku merasa takut. Jika gelap akan menyapa dan membuat hatiku gelap kembali!" ujar Nur lirih, sembari merangkul tangan Embun.
Nur menyandarkan kepalanya di bahu Embun. Menatap langit yang begitu terang, bulan terlihat bulat sempurna. Cahaya bulan seakan menelan gelap dan menggantinya dengan cahaya terang. Embun dan Nur menatap langit tanpa berkedip. Keduanya merasa bahagia, sekaligus bersyukur bisa melihat keindahan malam yang tidak ada tandingannya.
"Nur, kamu ibarat bulan malam hari ini. Kamu cahaya terang dalam gelap malam. Bulan yang terus bersinar mengalahkan malam gelap. Tak ada kata lelah tuk bersinar, walau bulan menyadari hanya satu hari saja dia akan menang. Sama seperti dirimu yang terus berjuang menghapus masa lalu yang kelam. Mencoba bertarung dengan trauma dan rasa sakit. Mencari ketenangan dalam kegelisahan tanpa akhir. Mencoba memahami, tapi hati terus tersakiti. Namun kamu Nur yang tak pernah menyerah, kamu terus bersinar dengan tawa dan bahagiamu. Menghapus air mata semua orang dan melupakan air matamu sendiri. Malam ini Nur sahabatku menang, dia membuktikan pada dunia. Jika Nur akan bahagia dan melupakan masa lalu!"
"Embun, bulan tak pernah lelah dan putus asa. Sebaliknya aku pernah putus asa dan memilih mengakhiri semuanya. Namun di saat yang sama, kamu bak embun pagi yang menyejukkan hati gersangku. Embun yang menetes menggantikan kabut, tetesan air bening yang mendinginkan dahaga iman dalam hatiku. Kamu mengajarkanku arti bertarung, mengubah Aulia yang penuh luka, menjadi Nur yang penuh cinta. Kamu mengubah gelap dalam hatiku, menyakinkan diriku aku mampu menjadi cahaya. Layaknya arti namaku, cahaya terang. Kamu yang mengubah diriku, bukan aku yang berani berjuang!"
"Embun, kenapa aku yang salah?"
"Jelas kamu yang salah telah pergi menjauh dari tante Mira. Dia wanita yang tersakiti, tapi bukan pengertian yang kamu tunjukkan. Namun kamu malah menambah luka dengan pergi tanpa kabar!"
"Aku memang salah, mama terluka tapi aku menjauh dengan meninggalkan luka yang lebih dalam. Aku hanya berharap, kak Fahmi tidak seperti papa!" ujar Nur lirih, Embun mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Selama kamu mampu memahami diam dan tatapannya. Kak Fahmi tidak akan mengecewakanmu. Sebab dia begitu menyayangimu, satu sikap kasar darimu. Akan membuatnya kecewa dan merasa bersalah. Dia laki-laki hebat tanpa kesombongan. Aku bersyukur cinta kalian menang dan akhirnya menyatu dalam ikatan pernikahan yang suci!" ujar Embun final, lalu menatap langit indah bersama Embun.
"Nur!"
"Hmmm!" sahut Nur lirih, Embun menatap langit malam yang indah. Dua mata indahnya seolah tidak bosan menatap langit yang terlihat begitu indah.
"Kita beruntung menikah dengan dua laki-laki hebat. Kak Abra dan kak Fahmi, laki-laki yang membuat kita percaya. Jika cinta itu ada di hati segelap atau segersang apapun. Mereka mengajarkan kita, bahwa hidup itu penuh warna. Jujur Nur, aku takut kehilangan kak Abra. Aku tidak ingin jauh darinya, bahkan aku ingin menjadi bayangan yang terus mengikuti langkah kakinya Namun semua itu hanya mimpi yang akan hilang. Ketika kita terbangun dan kembali pada dunia nyata. Namun selama tanganku bisa menggenggam tangan kak Abra. Aku akan berusaha terus menjaga hubungan ini. Aku tidak akan meninggalkannya, kecuali kak Abra yang memintanya!"
"Kamu benar Embun, kak Fahmi satu-satunya orang yang membuatku takut sendirian. Hanya tangannya yang ingin aku genggam. Bersamanya aku ingin melangkah melewati hidup ini. Hanya bersamanya Embun, kak Fahmi yang membuatku percaya akan adanya ketulusan!" ujar Nur lirih, Embun mengangguk mengiyakan.
"Sayang, aku tidak akan pernah melepas tanganmu. Kita akan membesarkan Rafan bersama. Jangan pernah berpikir pergi, meski hatimu ingin pergi. Tanganku akan menggenggam erat tanganmu. Akan kupastikan tidak ada yang bisa melepasnya!" ujar Abra, seraya menggenggam erat tangan Embun. Abra berdiri tepat di samping Embun. Menggenggam erat tangan Embun, menatap langit yang sama dengan Embun.
"Kak Abra!" sahut Embun lirih dan hangat.
"Aku juga tidak akan meninggalkanmu. Tidak ada janji dalam cintaku, tapi aku akan berusaha membahagiakanmu!" ujar Fahmi, sembari menggenggam tangan Nur. Mereka berempat menatap langit malam yang indah.
__ADS_1
"Terima kasih!" sahut Nur.