
"Abah!" sapa Embun lirih, Iman menatap nanar putri kecilnya. Wajah teduh yang pernah menjadi embun pagi dalam hidupnya. Membawa kebahagian dalam sepi dan sendirinya.
Embun membawa masuk Iman ke dalam ruangan CEO perusahaan Adijaya. Ruangan yang paling luas dan mewah diantara ruangan yang lainnya. Sebuah ruangan yang menjadi saksi bisu lahirnya pemimpin-pemimpin hebat keluarga Adijaya. Perusahaan yang dibangun dengan keringat dan kerja keras. Sebuah perusahaan besar dengan cara kepemimpinan yang berbeda dari tiap generasinya.
Berawal dari sang pemimpin, Dewangga Adijaya yang keras dan tegas dalam kepemimpinannya. Selama kepemimpinannya perusahaan Adijaya menjadi yang terhebat diantara lainnya. Tak ada satupun perusahaan yang berani bermain-main dengan ketegasan Dewangga Adijaya. Sosok pemimpin hebat yang penuh dengan ambisi dan amarahnya. Dewangga menjadi orang yang tak kenal kata persaudaraan. Hanya keuntungan dan nama besar yang menjadi impiannya.
Iman Ayyun Khumanni, laki-laki sederhana yang penuh kebijakan dalam setiap pemikirannya. Pemimpin yang bijak dan tenang dalam memutuskan segalanya. Seorang pemimpin tanpa ambisi, tak pernah ada amarah dalam setiap persaingan bisnis. Iman selalu diam, ketika pesaing bisnisnya bisa mengalahkannya. Namun dengan sikap bijak dan tenangnya, perusahaan Adijaya menjadi perusahaan yang disegani. Tak ada yang berpikir ingin menghancurkan perusahaan Adijaya. Persahabatannya dengan Arya pemilik perusahaan Adiputra Group. Semakin membuat para pembisnis segan kepada Iman. Jika dalam kepemimpinan Dewangga Adijaya, perusahaan Adijaya sukses dan ditakuti. Sebaliknya, di bawah kepemimpinan Iman Ayyun Khumanni. Perusahaan Adijaya mendapatkan nama besar dan disegani dalam bisnis.
Kini, setelah dua pemimpin terhebat perusahaan Adijaya tumbang. Perusahaan mulai goyah dan berada di ambang keruntuhan. Tak ada lagi kesuksesan, semua menghilang tak tersisa. Tak terdengar nama besar perusahaan Adijaya, hanya keruntuhan yang mulai menggema. Kedatangan Embun bak sang fajar yang memancarkan hangat di kala dingin mulai menyapa. Iman berharap kedatangan Embun menjadi awal kebangkitan perusahaan Adijaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Hanif bisa sekasar itu? Dia putra kandungmu, darah dagingmu. Tidak mungkin Hanif bisa melakukan semua itu. Katakan abah, apa yang terjadi saat aku pergi?" ujar Embun lirih, Iman diam membisu.
Embun menggenggam erat tangan Iman. Tangan yang dulu kuat menggendong tubuh kecilnya, kini lemah tak berdaya. Sekadar menggenggam tangan Embun, seolah tak mampu. Tubuh yang dulu tangguh melindunginya, kini terlihat rapuh tanpa penopang. Embun mencium lembut punggung tangan Iman. Menempelkan tepat di pipi kanannya. Setetes air mata jatuh membasahi tangan Iman. Air mata kepedihan akan hinaan yang diterima Iman.
"Abah, katakan pada putrimu. Percayalah abah, semua akan baik-baik saja!" ujar Embun lagi, saat dia merasa Iman tetap diam membisu.
__ADS_1
Iman menghela napas, helaan yang terdengar begitu berat. Lalu, perlahan Iman melepaskan tangannya dari Embun. Iman berdiri dengan bertumpu pada tongkat kayu. Iman berjalan menuju kursi CEO yang berada tak jauh darinya. Nampak Iman menepuk perlahan kursi, seakan ada harapan yang tersimpan dalam kursi. Iman berjalan menghadap ke luar jendela. Berdiri tepat di depan kaca, menatap langit yang begitu cerah. Imam seakan mencari kata dalam setiap inci ruangan. Iman mencari ketenangan, agar kata yang terucap dari bibirnya hanya kebenaran bukan kepalsuan.
"Embun!" sapa Iman lirih, seketika Embun berjalan menghampiri Iman. Embun berdiri tepat di samping Iman. Keduanya menatap langit dari balik kaca. Langit yang akan tetap tinggi, walau mereka berdiri di atas gedung yang tinggi.
"Sayang, kepuasan seorang manusia. Itu ibarat menggapai langit yang tinggi. Kita akan terus berusaha menggapainya, walau tanpa sadar kita sudah berada di puncak yang paling tinggi. Padahal bukan kita yang semakin tinggi, tapi langit yang memang tak pernah ada batasnya. Sama halnya kepuasan yang tak pernah ada batasnya. Sikap arogant yang akhirnya membuatku kehilangan segalanya!" tutur Iman lirih, lalu menunduk menatap lantai marmer. Embun menatap nanar Iman, sosok yang begitu dikagumi karena keimanan dan kebijaksanaannya. Kini tak lebih dari sosok yang penuh dengan rahasia.
"Embun, tahun-tahun pertama kepergianmu. Abah berusaha melupakanmu dan tak ingin mengingatmu. Abah bekerja siang-malam, berpikir tangis dan tawamu akan menjauh dari telingaku. Puncak kesuksesaan yang aku raih dengan kerja keras, semakin membuatku lupa. Aku terus bekerja tanpa henti, demi mengejar kepuasan yang sejatinya takkan pernah ada akhirnya. Malah aku lupa akan kata syukur dan terima kasih. Aku menjelma menjadi sosok yang penuh amarah dan napsu. Sampai akhirnya aku lupa akan tanggungjawab sebagai seorang ayah dan suami. Aku kehilangan masa kecil Hanif, hanya kebahagian materi yang aku berikan padanya. Sebagai balasan atas waktunya tanpaku!" ujar Iman lirih, Embun menunduk. Ada rasa bersalah menyergap dalam hatinya. Kepergiannya tidak hanya meninggalkan luka, tapi menghancurkan sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Tepat lima tahun yang lalu, saat tubuhku mulai melemah dan harus istirahat total. Saat itulah aku menyadari, waktuku telah hilang bersama Afifah dan Hanif. Aku merasakan sikap dingin mereka. Tak ada kecemasan akan sakitku, seperti aku yang tak pernah peduli akan sepi dan air mata Afifah istriku. Aku semakin rapuh dan tak berdaya, mengingat betapa bodohnya aku yang telah mengacuhkan masa kecil Hanif. Sampai akhirnya aku menyadari, Hanif kecilku tumbuh tanpa didikan dan kasih sayangku. Hanif semakin tak terkendali, ketika dia merasa memiliki segalanya. Hanif tak pernah menghormatiku, seperti aku yang tanpa sadar tak menganggapnya ada. Kebencian seorang anak yang pantas aku terima di masa tuaku!"
"Afifah memang istriku, tapi dia ibu dari Hanif Eka Adijaya. Rasa baktinya padaku, kalah oleh kasih sayang dan ketakutan akan kehilangan Hanif. Aku tak pernah marah, ketika Afifah memihak Hanif atau diam melihat sikap kasar Hanif. Rasa sakit yang aku torehkan, tak sebanding dengan diamnya. Aku cukup bahagia, melihat Afifah tetap berada di sampingku. Aku percaya, kelak akan ada seseorang yang mampu mengendalikan kebencian Hanif!"
"Tapi!" ujar Embun, Iman menoleh dengan seutas senyum.
"Embun sayang, sekarang kamu kembali. Tidak ada yang abah cemaskan lagi. Dua tangan ini menghiba padamu. Meminta haknya yang selama ini belum abah dapatkan!"
__ADS_1
"Maksud abah!"
"Sayang, di depanmu sekarang berdiri seorang ayah dari satu putri dan satu putra. Seorang ayah yang berharap putrinya bersedia mengambil alih beban di pundak lemahnya. Seorang ayah yang berharap putrinya bersedia mendidik adik laki-lakinya. Tubuh yang dulu kuat, kini lemah tanpa tubuhmu sebagai penopang. Kamu harapan dari laki-laki tua ini. Embun yang menyejukkan dalam gersang hati adikmu. Tunjukkan padanya, arti keluarga dan kasih sayang!"
"Abah, Embun akan melakukannya. Namun Hanif tak mudah dihadapi. Jika aku bertarung dengannya, mama Afifah akan terluka!" ujar Embun lirih.
"Afifah sangat menyayangi Hanif, tapi dia sedih melihat sikap kasar dan keras putranya. Abah percaya, sebuta-butanya kasih sayang Afifah. Dia akan melihat ketulusanmu, tidak mungkin dia berpikir kamu ingin menghancurkan putranya!" ujar Iman tegas dan hangat, Embun mengangguk mengiyakan.
"Sayang, abah berharap kamu bisa memperbaiki kesalahan yang telah aku lakukan. Hanif berhak bahagia, dia pantas mendapatkan hangat kasih sayang. Jangan biarkan dia merasa sepi, walau ada banyak orang yang menyayanginya. Abah sangat menyayanginya, tapi abah malu karena telah mengacuhkannya!"
"Abah, Embun akan memenuhi permintaan abah. Dengan segala cara, Embun akan memenuhi harapan abah!" sahut Embun lantang, lalu memeluk Iman.
"Embun berjanji!" bisik Embun lirih, sembari memeluk tubuh lemah Iman.
"Terima kasih sayang!" sahut Iman.
__ADS_1