
Hari minggu telah tiba, hari istirahat bagi semua orang. Kebanyakan orang memilih berlibur atau diam di dalam rumah. Minggu hari yang paling dinanti dalam satu minggu. Sebab minggu hari libur untuk semua orang. Termasuk Kanaya yang libur sekolah dan Rafan yang tidak ada jadwal pergi ke rumah sakit. Minggu yang menjadi hari berkumpulnya keluarga Abra.
Biasanya Rafan memilih diam di dalam rumah, tapi hari ini dia tidak sendiri. Hanna ada di sampingnya, menemani hari liburnya. Berbeda dengan Kanaya yang ceria, dia selalu memiliki rencana sendiri. Kanaya bebas melakukan apapun? Selama Kanaya mampu mempertanggungjawabkannya. Baik Abra dan Embun, tak pernah melarang kegiatan Kanaya. Sebab putri kecilnya memiliki sifat dan karakter yang berbeda dari Rafan. Kanaya pribadi yang ceria dan bebas. Embun mampu membuat Kanaya diam, tapi Embun tak pernah bisa membuat Kanaya menurut seperti keinginannya. Namun Embun selalu mengawasi kegiatan di luar rumah. Termasuk pergaulan Kanaya dengan dunia motor sportnya.
"Mama, ada berita panas!" ujar Rafan lantang, Hanna yang baru saja datang. Langsung duduk tepat di samping Rafan. Embun merasa heran dengan perkataan Rafan.
Hanna pergi ke dapur, membuatkan minum dan mengambil makanan kecil. Kebetulan ada Haykal yang tengah datang berkunjung. Haykal tersenyum menyapa Embun, ini pertama kalinya Haykal bertemu dengan Embun. Sebab itu Embun merasa heran, melihat Haykal yang datang bertamu.
"Selamat pagi tante, saya Haykal sahabat Rafan!" ujar Haykal ramah, Embun tersenyum menyahuti sapaan Haykal. Embun menerima Haykal dengan tangan terbuka. Sejak dulu, Embun tak pernah melarang atau mengekang Rafan dan Kanaya, untuk berteman dengan siapa saja?
"Pagi, senang bertemu denganmu!" sahut Embun ramah, Haykal mengangguk pelan.
"Rafan, apa berita yang ingin kamu katakan pada mama? Jangan hanya berteriak, tapi tidak ada isinya!" ujar Hanna lirih, Rafan tersenyum mendengar perkataan Embun. Rafan sangat mengenal Embun, tidak ada main-main dalam hidup Embun.
"Tunggu Rafan, kamu janji untuk tutup mulut. Kenapa kamu ingin mengatakannya pada tante?" ujar Haykal mencegah Rafan bicara, Rafan menoleh dengan tatapan tak peduli. Rafan sudah bertekad mengatakan semuanya pada Embun. Semua yang dikatakan Haykal, akan menjadi kabar paling menghebohkan dalam keluarga Abra.
"Apa yang sedang kalian sembunyikan? Katakan sekarang atau mama akan mencari tahunya sendiri. Ingat Rafan, akan berbeda hasilnya kalau mama mencari tahu sendiri!" ujar Embun dingin, sontak Haykal menelan ludahnya kasar. Haykal tak percaya, betapa dingin dan tegas sikap Embun? Layaknya sikap Kanaya yang dingin padanya. Bahkan jauh lebih dingin dan tegas.
"Maaf tante, bukan maksud Haykal berbohong pada tante. Namun alangkah baiknya, jika tante mendengarnya langsung dari Kanaya. Kalau tante mendengarnya dari saya. Kanaya akan semakin kesal dan dingin pada saya!" ujar Haykal ramah, Embun mengeryitkan dahinya tak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai-sampai Kanaya ikut terlibat.
Embun menatap tajam Haykal, Rafan menunduk sembari menggenggam erat tangannya. Kecerobohan Rafan akan menjadi bom waktu bagi adiknya. Rafan sebenarnya hanya ingin bercanda dengan Haykal. Namun tanggapan Embun berubah serius. Secara otomatis, Rafan harus mengatakan semua yang terjadi. Pergaulan Kanaya yang bebas, akan menjadi tamparan keras atau mungkin titik balik hidup Kanaya. Mengingat sikap Embun yang dingin dan tegas.
"Terserah siapa yang akan bicara? Telinga mama terlanjur mendengar dan perasaan mama terlanjur gelisah. Sekarang katakan semuanya, tanpa ada yang ditutupi!" ujar Embun dingin, Haykal dan Rafan terdiam. Hanna datang membawa nampan berisi minuman dan makanan kecil. Nampak Abra berjalan perlahan, menghampiri Rafan dan Haykal. Abra duduk tepat di samping Embun, menggenggam erat tangan Embun. Seolah ingin memberikan ketenangan akan sesuatu yang belum pasti adanya.
"Tante, sebenarnya aku bertemu Kanaya kemarin malam. Aku melihat Kanaya…!" ujar Haykal terhenti, ada keraguan yang membuat bibir Haykal terdiam. Embun menatap lekat Haykal, menanti kejujuran yang terlihat sulit dikatakan oleh Haykal.
"Haykal!" sapa Embun, isyarat Embun menanti kejujuran Haykal.
"Sebenarnya…!" ujar Haykal, sembari mengingat pertemuannya dengan Haykal. Pertemuan yang membuat Haykal tak percaya akan pribadi Kanaya yang lain. Bukan hanya dingin dan pintar, tapi Kanaya memiliki kemampuan dalam dunia otomotif. Dunia yang lebih digemari oleh laki-laki. Haykal menghela napas, lalu dia mulai mengatakan semuanya pada Embun.
FLASH BACK
Malam semakin larut, bulan berdiam manis diperaduannya. Kebetulan malam ini bulan purnama, sinarnya terlihat begitu terang. Menembus celah-celah ranting pohon. Menghasilkan bayangan yang terlihat nyata dan indah. Cahaya terang yang menyinari langit, menampakkan awan yang selama ini bersembunyi di balik gelap malam.
__ADS_1
Bintang bertebaran melukis langit malam ini. Cahaya kecil yang seolah ingin melawan terang cahaya bulan. Walau sang bintang menyadari, cahaya kecilnya takkan mampu mengalahkan terang cahaya bulan. Namun kehadiran bintang membawa arti berbeda, sebab redup cahaya bintang menamah indah dan menakjubkan lukisan langit.
Kanaya menatap langit malam ini tanpa berkedip. Keindahan yang mampu membuatnya nyaman. Tak pernah Kanaya merasakan kedamaian seperti ini. Kehidupan Kanaya terlalu sempurna dan datar. Sampai Kanaya merasa jengah akan hidupnya yang lurus tanpa rintangan. Keluarga yang begitu sempurna, meski terkadang ada masalah yang menerpa. Namun semua terselesaikan tanpa banyak bicara. Kanaya seolah menemukan hidup barunya, dengan berbantalkan tangan kanaya menatap lurus indahnya langit malam. Kanaya tidur di atas rumput liar, sisi lain seorang Kanaya yang bebas tanpa batas.
"Kanaya, sudah larut malam. Aku harus pulang sekarang. Mama melarangku pulang terlambat. Lagipula, besok ujian sekolah. Aku takut mengantuk di kelas. Pak Haykal tidak akan tinggal diam. Jika ada muridnya yang tertidur di kelas!" Ujar Dilla panjang lebar, Kanaya bangun dari posisi tidurnya. Tangan Kanaya menahan pergelangan tangan Dilla. Memohon pada Dilla, untuk tetap tinggal.
Dilla sahabat terbaik Kanaya, dia sahabat yang selalu menemani Kanaya. Bahkan saat Kanaya bermain dengan bahaya. Seperti malam ini, Kanaya tengah mengikuti acara balap mobil. Acara yang diikuti oleh kaum anak muda. Kanaya bukan pertama kalinya ikut balapan, tapi kebanyakan itu balapan resmi. Seperti malam lainnya, Kanaya mengikuti balapan resmi. Kanaya mengikuti bukan demi menang dan kalah. Kanaya seolah mencari cara menghibur dirinya yang terlalu tenang. Kanaya yang manja, terlihat berbeda di arena balap.
Kanaya melarang Dilla pulang lebih dulu. Dia duduk di samping Dilla, menyadarkan kepalanya dibahu sahabatnya. Hanya Dilla yang mengerti Kanaya. Dukungan Dilla yang paling diharapkan Kanaya. Meski ada satu sahabat lain yang mendukung Kanaya. Sahabat yang menyimpan rasa pada dirinya, tapi terlalu takut mengatakannya. Sebab persahabatan yang terjalin, jauh lebih berharga dari sekadar cinta semu.
"Aku hanya akan mengikuti satu putaran, kalah menang aku tidak peduli. Setelah itu aku sendiri yang akan mengantarmu pulang. Aku janji, hanya satu putaran. Kamu tidak akan pulang terlambat. Jika diperlukan, aku akan meminta izin pada orang tuamu!" ujar Kanaya menyakinkan Dilla. Nampak Dilla menggelengkan kepala, dia memberi isyarat semua akan baik-baik saja. Dilla akan menemani Kanaya sampai acara balap selesai.
"Selesai atau tidak, satu jam lagi aku pulang!" ujar Dilla tegas, Kanaya mengangguk mengiyakan. Kanaya memeluk erat tubuh sahabatnya. Seandainya saja Rafan belum menikah dengan Hanna. Mungkin Kanaya akan meminta Rafan menikah dengan Dilla sahabatnya.
"Dimana Daffa?" ujar Kanaya, Dilla menunjuk ke satu arah. Nampak seorang pemuda tengah duduk berdua di bawah sinar terang bulan. Daffa sahabat yang siap menjaga Kanaya dengan seluruh hidupnya. Demi cinta tulus yang ada di hatinya. Cinta yang takkan pernah Kanaya sadari, bahkan Kanaya takkan mungkin mengetahuinya.
Kanaya mengikuti arah yang ditunjuk Dilla. Seketika bulu kuduk Kanaya merinding. Daffa sedang dirangkul manja oleh Cindy. Salah satu teman sekelas Kanaya. Daffa terkenal sebagai seorang playboy. Bukan satu atau dua hati yang patah oleh cinta semu Daffa. Cinta yang seolah permainan menyenangkan bagi Daffa. Pemandangan yang sangat dibenci oleh Kanaya. Bukan cemburu akan kisah cinta Daffa, kanaya sangat tidak nyaman melihat sepasang kekasih mengumbar kemesraan di depan umum. Alasan Kanaya membenci ketampanan seseorang, kecuali ketampanan Daffa sahabatnya.
"Kenapa Daffa mengajaknya? Merusak suasana hatiku saja. Aku jadi malas untuk bertanding!" ujar Kanaya kesal, Dilla menoleh manatap tak percaya Kanaya. Seakan perkataan Kanaya bukti ada rasa cemburu di hatinya. Rasa cemburu yang tidak mungkin ada di hati Kanaya untuk Daffa atau laki-laki manapun?
"Kenapa?" sahut Kanaya santai, Dilla tersenyum simpul. Dilla menggelengkan kepalanya, seolah dia tak setuju dengan pemikirannya sendiri.
Selama persahabatan mereka bertiga, sedikitpun Kanaya tak pernah memandang Daffa sebagai laki-laki sejati. Daffa hanya playboy yang takkan pernah dipegang perkataannya. Sebab itu tak sedikitpun Kanaya peduli dengan kehadiran Daffa di sekitarnya. Kanaya hanya menganggap teman dan takkan pernah lebih dari itu. Kanaya kesal melihat Daffa dekat dengan para gadis. Sebab dia terlalu lelah, melihat Daffa yang terus bermain hati dengan mereka. Kanaya takut, jika kelak Daffa merasakan sakit yang sama dengan gadis-gadis yang pernah disakitinya.
"Kamu cemburu!" sahut Dilla singkat, Kanaya menggeleng tanpa ragu. Dilla terkekeh, lalu bergelayut manja pada tangan Kanaya.
Daffa mendekat pada Kanaya, tentu saja Cindy mengekor di belakangnya. Balapan akan segera dimulai, biasanya Daffa akan ikut serta. Namun kali ini berbeda, balapan hanya antara Kanaya dan penantangnya. Awalnya Kanaya menolak tantangan ini, tapi Kanaya merasa perlu melemaskan otot-ototnya yang kaku. Apalagi setelah bertemu Haykal dan akan bertemu kembali dengan Haykal di sekolah besok pagi.
Sisi lain Kanaya Fauziah Abimata, pembalap malam yang tak terkalahkan. Kanaya tak pernah peduli menang atau kalah, yang terpenting baginya dia bahagia. Bahkan dia tidak peduli pada hadiah yang didapatkan. Balapan yang dilakukan Kanaya berizin, meski dilakukan malam hari. Pihak panitia khusus menyewa sirkuit. Malam ini Kanaya menerima tantangan seseorang. Seperti malam-malam biasanya, Kanaya hanya ingin merasakan kebebasan. Sengaja malam ini dia membawa mobil sport pemberian Abra. Mobil yang jarang dia gunakan, hanya sesekali Kanaya memakainya. Pribadi sederhana yang menyimpan banyak rahasia, termasuk dari keluarga besarnya.
"Dia datang!" ujar Daffa, Kanaya berdiri. Seketika dia menggunakan jaket dan topi yang selalu dipakainya. Dia memakai semua itu agar terlihat seperti seorang laki-laki. Kanaya menyimpan jati dirinya dengan sangat rapi. Khusus malam ini, Kanaya menggunakan hijab segi empat yang bisa dimasukkan ke dalam bajunya. Kanaya tak ingin siapapun mengenal pribadinya yang santun.
"Dasar lambat, aku lelah menunggunya. Dilla tetaplah di sini, tunggu sebentar lagi. Aku sendiri yang akan mengantarmu pulang!" ujar Kanaya Dilla mengangguk pelan. Kanaya berjalan menuju mobilnya. Daffa menatap punggung Kanaya, Dilla memperhatikan gerak-gerik Daffa. Dilla berdiri tepat di samping Daffa. Menatap haru sahabatnya yang menyimpan cinta, demi persahabatan sejati dan abadi.
__ADS_1
"Sampai kapan Daffa? Sampai kapan kamu akan menyimpan rasamu? Apakah kamu akan diam? Melihat Kanaya bahagia bersama orang lain!" bisik Dilla, sontak Daffa menoleh. Dilla tersenyum, keterkejutan Daffa. Pembenaran akan kecurigaan Dilla.
"Dia menyadarinya?" sahut Daffa lirih, Dilla menggelengkan kepalanya. Dilla menepuk pelan pundak Daffa. Menyakinkan Daffa, jika Kanaya tak pernah menyadari rasanya.
"Tenang saja, hanya aku yang tahu. Dia tidak akan pernah menyadari perasaanmu. Namun kamu juga harus siap, jika kelak dia bersama yang lain. Konsekuensi dari keputusan besarmu, menyimpan rapat rasa untuk Kanaya. Aku bisa menyadari perasaanmu, sebab rasa itu terlihat jelas dalam tatapanmu padanya!" ujar Dilla, Daffa menunduk membisu.
Balapan dimulai Daffa dan Dilla menunggu disamping sirkuit. Kanaya melajukan mobilnya secepat mungkin, dia meluapkan semua kegelisahan dan rasa sepinya. Kanaya mengemudikan mobilnya tanpa berpikir menang atau kalah. Balapan terjadi sampai setengah jam lebih, kedua mobil sama-sama kuat. Namun diputaran terakhir Kanaya tersalip, akhirnya sang penantang yang memenangkan balapan hari ini. Kanaya terlihat santai, tak ada rasa kecewa. Sebab sejak awal, Kanaya tak pernah berpikir akan menang atau kalah.
Kanaya turun dari mobilnya, berjalan menghampiri Dilla di sisi samping sirkuit. Kanaya melepas topi dan jaketnya. Dia melempar ke dalam mobil. Kanaya membetulkan hijab yang dipakainy. Kecantikan Kanaya terpancar nyata, tak ada lagi yang menutupi. Dengan santainya Kanaya melewati sang pemenang, tanpa menoleh sedikitpun. Sebaliknya sang pemenang terlihat tak percaya. Seseorang yang ditantangnya ternyata seorang wanita.
"Kanaya Fauziah Abimata" sapa Haykal, sontak Kanaya menoleh ke arah Haykal. Seketika Kanaya berhenti, dia melihat Haykal sang guru baru berdiri di samping sang pemenang. Dilla dan Daffa menghampiri Kanaya, mereka berdua tak percaya melihat Haykal berdiri di depan Kanaya.
"Pak Haykal!" sapa mereka bertiga serentak, Haykal menatap ketiga muridnya berada di arena balap. Tatapan yang takkan pernah dipercaya, apalagi melihat Kanaya yang ikut menjadi peserta balapan.
"Kalian juga ada di sini. Jadi pembalap tadi itu kamu. Apa kalian tidak memikirkan bahaya mengikuti balapan seperti ini?" ujar Haykal emosi, Kanaya menatap lekat Haykal dan pembalap disampingnya. Dengan santai Kanaya mendekat pada Haykal, sikap dingin yang sama ditunjukkan Kanaya pada Haykal.
"Anda guru di sekolah, bukan di sini. Tidak ada hak anda mengatur saya. Jika di sekolah? saya akan menghargai anda. Namun jika di luar sekolah, kita sama. Satu hal lagi, saya datang dengan resiko yang sudah saya pikirkan. Maaf jika itu telah membuat anda khawatir. Saya permisi dulu!" ujar Kanaya dingin, Haykal terdiam membisu. Lagi dan lagi Kanaya membuatnya terdiam.
FLASH BACK OF****F****
"Jadi, Kanaya balapan lagi!" ujar Embun, sesaat setelah mendengar perkataan Haykal.
"Mama!" ujar Rafan, takut Embun marah pada Kanaya.
"Sayang, tenangkan dirimu!" ujar Abra menenangkan.
"Kanaya!" teriak Embun lantang, suara Embun menggema di seluruh bagian rumah.
Tap Tap Tap
"Kenapa mama memanggilku?" ujar Kanaya lirih, Embun meminta Kanaya duduk.
"Dia ada di rumahku, jangan-jangan dia sudah menceritakan tentang balapan kemarin malam!" batin Kanaya kesal, ketika melihat Haykal duduk tepat di depannya.
__ADS_1
"Kanaya, kamu balapan lagi!" ujar Embun dingin dengan nada sedikit emosi. Sontak Kanaya menoleh ke arah Haykal.
"Dasar pengadu!" batin Kanaya kesal dan marah.