
"Mama!" teriak Hanif, Afifah terus berjalan tanpa menoleh.
"Kamu penyebab semua ini!" teriak Hanif marah.
"Sekarang nikmatilah harta tanpa kedua orang tuamu. Setelah ini, kamu akan merasakan kesepian yang mampu membunuhmu. Harta yang kamu pilih, takkan bisa menyayangimu setulus mereka kedua orang tuamu. Bersiaplah tuan Hanif, kehancuranmu dihitung mundur!" ujar Embun dingin, lalu keluar dari ruangan Hanif.
"Aku telah salah menyimpan rasa ini untukmu!" ujar Aira lirih penuh dengan rasa kecewa, Hanif mendongak sembari menggelengkan kepalanya.
Hanif berjalan perlahan dan tertatih menghampiri Aira. Wanita bercadar yang dengan tulus menyimpan rasa untuknya. Namun ketulusannya hancur tak bersisa. Tatkala kedua telinganya mendengar, betapa serakahnya Hanif imam impiannya? Kedua matanya melihat dengan jelas. Keangkuhan dan kesombongan Hanif yang tak lagi bisa termaafkan. Aira merasa tak percaya, dia menyimpan rasa tulus pada Hanif. Seseorang yang takkan pernah bisa memahami kerinduan kedu orang tuanya sendiri.
"Aira, kamu salah paham padaku. Dia sengaja menjebakku, aku tak sekejam itu. Percayalah, aku tidak akan mengorbankan mama demi harta yang tak sebanding ini!" ujar Hanif membela diri, Aira berjalan mundur. Dia tidak ingin berada dekat dengan Hanif.
Hanif menatap nanar wajah Aira, rasa kecewa Aira membuat Hanif tak berkutik. Semua menatap Hanif dengan rasa kecewa. Tak ada rasa iba akan rasa sakit Hanif. Semua mata merasa jijik akan sikap sombong dan serakah Hanif. Tidak terkecuali Aira, wanita berhati baik yang selama ini menyimpan ketulusan untuknya. Berharap kelak hubungan mereka menjadi satu dalam ikatan pernikahan yang suci.
__ADS_1
"Aku tak perlu melihat, siapa yang benar atau salah? Seandainya semua ini hanya jebakan. Sangat bodoh, jika seorang Hanif Eka Adijaya bisa terperangkap. Kecuali dalam hatimu, hanya harta dan harta yang tengah kamu pikirkan. Bahkan tangis tante Afifah, tak mampu menyejukkan hatimu yang gersang. Tatapan penuh cahaya kedua mata tante Afifah, tak mampu menghapus gelap dalam jiwamu. Hanif yang ada di depanku, tak lebih dari tubuh berhati gersang dan berjiwa gelap. Setulus apapun rasa yang ditawarkan padamu. Hanya akan berbalas luka dan duka!" tutur Aira, Hanif menggeleng tak setuju.
"Kamu salah paham Aira, aku tak sejahat itu. Kebencianku hanya untuk Embun Khafifah Fauziah. Dia alasan semua sepi dan sendiriku. Dia putri yang membuatku kehilangan kasih sayang dan hangat dekapan seorang ayah. Apa kamu pikir aku bahagia jauh dari papa? Aku merindukannya, tapi wajah Embun yang membuatku membenci papa. Dia alasan semua ini terjadi, dia yang harus disalahkan bukan aku!" ujar Hanif lantang, Aira berjalan mundur. Tubuhnya bersandar pada dinding ruangan Hanif. Gelengan kepala Aira, isyarat dia tak percaya dengan semua yang terjadi. Hanif bukan Hanif yang dulu, dia berubah menjadi pribadi bengis dan kejam.
"Aira, dia yang salah. Aku hanya ingin membuatnya hancur. Dia tak pantas menyandang nama Adijaya. Dia penyebab pewaris tunggal keluarga Adijaya tersiksa!" ujar Hanif, ketika melihat Air takut menatapnya. Tundukkan kepala Air, pertanda Aira tak berharap mengenal Hanif lagi.
"Kamu salah kak Hanif, kak Embun tidak salah. Kamu yang tak pernah melihat sisi lemah seorang ayah. Kamu yang terus menjauh dari ayahmu. Bukan kak Embun yang ingin merebutnya darimu. Kak Hanif, seorang ayah tak pernah bisa mengutarakan kasih sayangnya. Semudah dan sesempurna seorang ibu. Ada sebuah gengsi yang terkadang membuat seorang ayah malu. Bahkan terkadang, seorang ayah ragu memeluk anaknya yang tumbuh dewasa. Semua demi harga diri dan kehormatanmu sebagai laki-laki sejati. Sebaliknya, seorang ayah akan lebih dekat dengan anak perempuannya. Bukan karena dia pilih kasih, tapi nyatanya seorang ayah tak lain cinta pertama seorang anak perempuan!" tutur Aira, Hanif tersenyum sinis.
"Kamu hanya pintar bicara, kamu tak pernah merasakan sakitnya tak dianggap. Kamu tidak berada di posisiku. Kehidupanmu baik-baik saja, om Arya tak pernah menjauh darimu. Dia tak seperti papa yang selalu memikirkan Embun. Om Arya sangat menyayangimu, sekalipun dia tak peduli akan kepergian Embun. Kehidupanmu sempurna, kedua orang tuamu lengkap. Tak ada yang sibuk sendiri, sampai melupakan keberadaan putra kandungnya. Demi anak angkat yang tak jelas!" ujar Hanif lantang dan sinis, perkataan Hanif terdengar begitu menyakitkan. Bukan hanya bagi Embun atau Iman, tapi tanpa Hanif sadari perkataannya menyakiti Aira.
"Bohong, kamu hanya ingin membela Embun!"
"Aku tidak pernah berbohong, mungkin tubuh papa bersamaku. Namun dalam hati dan jiwanya, tertulis satu nama dengan indah. Putri yang dirindukan dalam setiap hembus napasnya. Putri yang namanya mengalir dalam tiap tetes darahnya. Namun aku mencoba memahami kesedihan papa. Merindukan seseorang yang tak pernah bisa dilihat kedua mata. Menyayangi seseorang yang tak bisa dipeluk dengan kedua tangan. Itu sangat menyakitkan, jangankan air mata darahpun bisa menetes. Rasa sakit yang takkan pernah kakak rasakan. Sebab hatimu tak pernah merindukan seseorang. Hatimu hanya dipenuhi ambisi!" ujar Aira, lalu memutar tubuhnya. Aira tak ingin bicara dengan Hanif. Jika mungkin Aira ingin mengubur rasanya.
__ADS_1
"Tunggu Aira, jika kamu menyadari Embun begitu berarti dalam hidup om Arya. Sangat tidak mungkin di hatimu tak menyimpan rasa benci. Seperti kebencianku pada Embun!"
"Aku tak pantas membencinya, setelah semua pengorbanannya!" sahut Aira tegas, Hanif mengertyitkan dahinya tak mengerti. Aira memutar tubuhnya, lalu memberikan sebuah surat kepada Hanif.
"Kak Embun, tak pernah ingin mengambil sesuatu dari kita. Tidak ayah kita atau harta keluarga besar kita. Nama besar Adijaya tak pernah membuatnya bangga atau harta keluarga Adiputra tak sedikitpun membuatnya silau. Semenjak kak Embun mengetahui kehadiran kita, dia telah memutuskan semua status yang berhubungan dengan keluarga Adijaya dan Adiputra. Kak Embun memberikan seluruh haknya pada kita berdua. Tak sepeserpun kak Embun menginginkan harta itu. Dia telah menjamin kehidupan kita, jauh sebelum kita terlahir. Kak Embun menunjukkan kasih sayangnya, sebelum kita memintanya. Namun hari ini, dengan bodohnya kakak menyerahkan om dan tante. Menggadaikan mereka dengan harta yang sejak awal tak pernah diinginkan kak Embun. Sebab bagi kak Embun, harta berharganya tak lain dua ayah yang pernah dimiliki dalam hidupnya!"
"Kamu bohong, ini hanya tulisan tanpa kekuatan hukum. Kamu sengaja membuatnya, agar aku percaya. Kalau Embun itu baik hati!" ujar Hanif, Aira tersenyum di balik cadarnya.
"Kak Hanif bukan orang bodoh, kakak bisa melihat kertas yang mulai lusuh. Tertera tanggal tepat di bawah tanda tangan kak Embun. Seminggu sebelum kak Hanif terlahir dan sebulan sebelum aku terlahir. Sekuat apapun hati dan benakmu menyangkal. Nyatanya kak Embun sangat menyayangi kita. Dia tak pernah mengharapkan posisi kita. Satu hal lagi kak Hanif, keputusan kakak hari ini membuatku tersadar. Jika kamu bukan Hanif yang pernah aku kenal. Kebencian dan keserakahan, membutakan mata dan hatimu. Maafkan aku kak, pernah menyimpan rasa untukmu. Namun hari ini, aku akan mengubur rasa ini sedalam mungkin!"
"Aira, maafkan aku. Namun percayalah, dia tak sebaik itu!"
"Kak Hanif, hanya hati yang bersih mampu melihat kebaikan orang lain. Sedangkan hatimu terlalu gelap. Takkan pernah ada cahaya yang meneranginya. Hanya kehancuran yang kelak membuatmu tersadar. Sekali lagi kak Hanif, selamat telah menjadi pemilik tunggal perusahaan Adijaya. Selamat juga, jika akhirnya kakak bisa terlepas dari ayah yang kamu anggap beban!" tutur Aira lirih, lalu mengambil kembali berkas yang dipegang Hanif.
__ADS_1
"Berkas ini bukti cinta dan ketulusan kakak padaku. Tidak akan pernah aku membiarkannya berada di tangan orang yang salah. Jangan pernah menghina kak Embun, atau kakak akan melihat amarah dalam diamku!" ujar Aira tegas dan dingin.
"Kenapa aku begitu bodoh? Aku kehilangan dua wanita yang menyayangiku hanya dalam waktu satu jam. Kenapa aku hanya fokus pada kebencianku? Sampai aku lupa, resiko kehilangan mama dan papa!" batin Hanif kesal.