KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Akhir kesalahpahaman


__ADS_3

"Mama!"


"Kanaya sayang!" sapa Embun, kala melihat Kanaya datang menemuinya. Kanaya duduk di lantai, dia menyandarkan kepalanya di pangkuan Embun. Kanaya menutup kedua matanya, mencari ketenangan dalam gelisah yang ditinggalkan Galuh.


Embun merasakan ada yang salah, tapi sebagai seorang ibu. Embun memahami arti sikap Kanaya dan percaya putrinya mampu menyelesaikan semua masalahnya. Sejak kecil, Kanaya terbiasa mandiri. Tidak ada alasan Embun cemas memikirkan putrinya. Sama halnya pagi ini, Embun memilih diam menanti kata yang keluar dari bibir Kanaya. Tanpa bertanya atau memaksa Kanaya menceritakan semuanya. Kelembutan Embun yang selalu menenangkan Rafan dan Kanaya.


"Menangislah, basahi gamis mama dengan air matamu. Namun jangan pernah keluhkan kelemahan suami atau keluarganya di depan mama. Ingat sayang, dia suami yang harus kamu jaga kehormatannya. Layaknya kamu menjaga kehormatanmu sendiri!" tutur Embun lembut, sembari mengusap kepala Kanaya. Perlahan Kanaya mengangguk, bersamaan dengan tangis Kanaya yang pecah.


"Mama, kenapa suami tidak bisa mengatakan isi hatinya? Kenapa mereka selalu diam dan menjauh? Menempatkan kita pada posisi yang sulit dan penuh rasa khawatir!" ujar Kanaya lirih, Embun tersenyum simpul.


Perlahan Embun mengusap punggung Kanaya. Tubuh Kanaya bergetar hebat, ketika Kanaya menangis dengan begitu kerasnya. Embun melihat tangis putri kecilnya. Tangis yang membuat Embun lega sekaligus bahagia. Sebab kini putrinya telah menemukan alasan tawa dan tangisnya. Seseorang yang membuat Kanaya rapuh dan kuat dalam waktu bersamaan.


"Mereka berpikir menggunakan logika, sebaliknya kita berpikir menggunakan perasaan. Seorang laki-laki takkan pernah jujur mengenai suara hatinya. Mereka malu dan merasa rendah diri, seandainya istri mereka yang menghapus air matanya!"


"Tapi aku istrinya bukan orang lain? Bukankah seharusnya dia jujur, agar aku tidak berprasangka buruk!" ujar Kanaya kesal dengan di sela isak tangisnya. Air mata Kanaya pecah, membasahi cadar yang dikenakannya. Kanaya bingung melihat sikap Galuh semalam. Seandainya bisa, Kanaya ingin pergi sejauh mungkin dari hidup Galuh.


"Kalau memang kamu istrinya, belajarlah menjadi seorang istri yang baik. Jika kamu berharap kejujuran, maka kamu harus jujur padanya. Jika kamu ingin perhatian, makan curahkan kasih sayangmu hanya padanya. Pernikahan bukan untung rugi, tapi hubungan yang didasari dari hati. Sebelum kamu bertanya isi hatinya, tanyakan dulu pada hatimu. Sudahkah kamu jujur padanya? Masih adakah rahasia yang kamu sembunyikan darinya?" tutur Embun hangat, Kanaya terdiam membisu. Kanaya mendongak, Embun tersenyum melihat dua bola mata Kanaya. Embun melihat penyesalan yang nyata dalam tatapan Kanaya.


"Lalu, kenapa kamu marah melihat diamnya?"


"Aku takut Galuh pergi dariku!" ujar Kanaya lirih, Embun menggelengkan kepalanya lemah.


"Sayang, dia memang lebih muda darimu. Namun pemikirannya jauh lebih tua darimu. Dia sudah memikirkan banyak hal. Termasuk hidup berdua bersamamu, tanpa ada orang tuanya. Terutama tante Clara yang selalu menyulitkanmu!"


"Darimana mama mengetahuinya?" ujar Kanaya terkejut, Embun mengangguk pelan.


"Semalam Galuh menemui papa. Dia meminta saran dari papa. Bahkan Galuh bertanya pada kak Rafan tentang kondisimu. Galuh pergi bukan menjauh darimu. Galuh pergi mencari jalan terbaik dari rasa takutnya!"


"Maksud mama!" sahut Kanaya tidak mengerti, Embun menepuk pelan punggung tangan Kanaya. Dengan isyarat mata, Embun meminta Kanaya berdiri di depan jendela kamarnya.

__ADS_1


"Kak Galuh!"


"Pergilah Kanaya, tanyakan padanya kegelisahanmu!" titah Embun, Kanaya mengangguk tanpa ragu. Kanaya melihat Galuh duduk di balkon paviliun rumahnya. Sejak semalam, Galuh menginap di rumah Abimata. Kanaya merasa lega, saat menyadari Galuh berada di rumahnya.


"Kanaya, mama akan mengirimkan sarapannya nanti!" teriak Embun, Kanaya mengangguk sembari tertawa riang. Kanaya bergegas menuju paviliun rumahnya. Kanaya tidak sabar bertemu dengan Galuh. Laki-laki yang kini ada dalam setiap hembus napasnya.


Kreeeekkk


"Kak!"


"Sayang!" sahut Galuh hangat, Kanaya masuk ke dalam kamar di lantai dua. Galuh masuk ke dalam, menemui Kanaya istri yang sangat dicintainya.


Kanaya berjalan pelan menghampiri Galuh. Suasana yang sepi, tiba-tiba terasa bergemuruh. Kala hasrat cinta tiba-tiba menguasai Kanaya dan Galuh. Dengan penuh cinta, Galuh memeluk Kanaya. Mencium lembut seluruh wajah Kanaya. Saling menempelkan kening, dengan napas yang memburu penuh cinta. Sejenak Kanaya dan Galuh lupa akan perselisihan semalam. Mereka larut dalam rindu yang menyesak di dada. Hanya semalam mereka berpisah, rindu mereka tak lagi mampu dibendung.


"Maafkan aku!" ujar Galuh lirih, lalu mencium puncak kepala Kanaya. Tangan Galuh menyusup di leher jenjang Kanaya. Mengalung erat penuh cinta, mengalirkan desiran hangat dalam nadi Kanaya.


"Maaf!" ujar Galuh lagi, Kanaya mengangguk. Kanaya membeku, hangat sentuhan demi sentuhan Galuh membuatnya kehilangan akal. Air mata kecemasan lenyap, tergantikan dengan hangat cinta.


Galuh merebahkan tubuhnya bersama dengan Kanaya. Mendekap erat tubuh Kanaya, menepis kegelisahan yang menguasai hati Kanaya. Menghapus ketakutan yang menghantui benak Kanaya. Galuh menempelkan kepala Kanaya tepat di dadanya. Debaran jantung Galuh, menandakan betapa besar cintanya pada Kanaya.


"Sayang, maafkan sikapku semalam. Tanpa sengaja aku telah menyakiti hatimu!"


"Kenapa kakak pergi? Kakak tidak menginginkannya!" ujar Kanaya lirih, Galuh menggeleng lemah.


"Aku sangat bahagia, tapi aku juga takut kehilangan dirimu. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Sakit yang kamu derita, bukan sakit biasa. Aku takut kehilangan dirimu!"


"Sejak kapan kakak mengetahui penyakitku?"


"Jauh sebelum kita menikah, tanpa sengaja aku melihat hasil kesehatanmu. Ketakutanku semakin besar, saat kamu mengatakan dirimu tidak mungkin hamil. Aku takut kehilanganmu, aku takut!"

__ADS_1


"Tapi dia tumbuh di rahimku!" ujar Kanaya lirih, Galuh mengangguk pelan.


"Kakak tidak akan memintaku menggugurkannya!" ujar Kanaya takut, Galuh menarik tubuh Kanaya. Galuh mendekap erat wanita yang sangat disayanginya.


"Aku tidak akan melakukannya, tapi jangan pernah tinggalkan aku. Percayalah Kanaya, aku tidak akan sanggup jauh darimu!" ujar Galuh hangat penuh cinta.


Galuh mengusap lembut wajah Kanaya, mencium lembut puncak kepala Kanaya. Galuh merasakan cinta yang teramat besar. Kanaya membuat Galuh lupa segalanya. Sinar fajar menyusup melalui tirai putih. Dingin angin pagi, menerpa tubuh Kanaya dan Galuh. Menyejukkan tubuh yang terbakar cinta. Menghapus amarah dan cemas yang menguasai hati. Galuh semakin tak berdaya, saat mahkota indah Kanaya tergerai indah.


Galuh menyibak rambut hitam legam Kanaya. Mencium lembut leher putih yang tertutup mahkota. Mengalirkan hasrat yang membuncah, menguasai akal dan kesadarannya. Galuh bermain dengan tubuh Kanaya. Mencurahkan cinta yang membuncah, gairah yang tertahan oleh rasa takut. Suara helaan Kanaya, membakar hasrat Galuh. Menantang Galuh lebih berani dan liar, sampai akhirnya tak lagi ada yang memisahkan keduanya. Cinta menyatukan mereka dalam hangat napsu. Kanaya terbaring tak berdaya, lemah oleh kemurnian cinta.


"Sayang!" bisik Galuh mesra tepat di telinga Kanaya.


"Aku siap!" sahut Kanaya lembut penuh cinta. Galuh mengangguk perlahan, bersiap mencurahkan rasa cinta yang menggebu.


"Awwwsss!" rintih Kanaya, Galuh tersentak.


"Maafkan aku!" ujar Galuh, Kanaya menggeleng lemah.


"Percayalah kak, aku baik-baik saja!"


"Tidak, aku tidak bisa!" ujar Galuh, Kanaya menahan tubuh Galuh memeluk dengan sangat erat.


"Ini kewajibanku, jangan rebut pahalaku. Sesakit apapun? Percayalah aku mampu, hanya ini caraku membuktikan cinta padamu!"


"Sayang, maafkan aku!" bisik Galuh mesra dan penuh rasa bersalah. Kanaya mengedipkan kedua matanya, tangannya memegang sprei dengan sangat erat.


"Aku mencintaimu kak, sangat mencintaimu!" ujar Kanaya, sembari menahan rasa sakit.


"Maafkan aku yang tak mampu menahan hasrat ini!"

__ADS_1


"Cintai aku kak, jangan pernah ragukan aku!" ujar Kanaya, sesaat sebelum puncak kehangatan.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu!"


__ADS_2