KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Arti Mimpi


__ADS_3

"Kita berangkat sekarang!" pinta Fahmi, Abra mengangguk.


Tepat pukul 08.00 WIB, Fahmi dan Abra berangkat menuju luar kota. Hari ini akan ada pembukaan hotel baru milik Sanjaya group. Abra dan Fahmi menjadi salah satu rekan bisnis keluarga Sanjaya. Sebab itu mereka harus hadir, Embun dan Nur tidak ikut. Mereka memilih tinggal di rumah. Jarak tempuh yang cukup jauh, akan membuat mereka kelelahan. Apalagi Embun yang memiliki bayi, tentu akan semakin melelahkan. Meski kecewa, Abra dan Fahmi setuju. Mereka tidak ingin Embun dan Nur kelelahan yang akan membuat keduanya sakit.


"Fahmi, apa kita harus menginap? Aku merasa tidak nyaman tanpa Embun. Aku takut Embun membutuhkanku nanti malam!" ujar Abra lirih, ketika berada di dalam mobil.


Fahmi mengangkat bahunya pelan. Tanda Fahmi tidak mengetahui pasti jawaban untuk kegelisahan Abra. Fahmi merasa ragu mengatakannya pada Abra. Walau sebenarnya, besar kemungkinan mereka akan menginap. Sebab jarak tempuh yang begitu jauh dan acara yang dimulai sore hari. Menjadi alasan kepulangan mereka hanya angan.


"Aku sudah menduganya, kita memang harus menginap!" sahut Abra, Fahmi menoleh tanpa mengatakan apapun. Fahmi fokus mengemudikan mobilnya. Sedangkan Abra merasa cemas, entah kenapa sejak tadi malam hati Abra meras gelisah? Seakan ada masalah yang tengah menantinya. Ketakutan tanpa alasan, membuat Abra cemas dan takut berjauhan dengan Embun.


"Kita lihat nanti Abra. Jika memang memungkinkan kita akan pulang. Namun tipis kemungkinan kita akan pulang. Selain kita masih kerabat tuan Dirgantara. Kita juga rekan bisnisnya, tentu saja beliau tidak akan membiarkan kita pulang begitu saja!" ujar Fahmi tegas, Abra mengangguk setuju dengan perkataan Fahmi.


Mobil Fahmi melaju dengan kecepatan sedang. Fahmi mulai menyadari arti keselamatan. Bukan hanya demi dirinya, tapi demi Nur istri yang begitu menyayanginya. Sebenarnya Abra dan Fahmi masih ada acara lain sebelum peresmian hotel. Sebab itu Fahmi memilih berangkat lebih pagi. Agar dia tidak terlambat sampai di peresmian hotel.


Setelah menyelesaikan semua jadwalnya. Fahmi dan Abra langsung berangkat menuju hotel. Hampir empat jam lebih, Fahmi mengemudikan mobil. Keduanya baru tiba di hotel sekitar pukul 14.00 WIB, satu jam sebelum peresmian hotel. Fahmi dan Abra memilih beristirahat di salah satu kamar hotel. Kamar yang sudah disediakan untuk Abra dan Fahmi. Dirgantara bukan hanya rekan kerja Fahmi dan Abra, tapi beliau papa mertua Fahmi. Tentu saja Dirgantara akan menjamu menantunya dengan sangat baik dan spesial.


"Abra, kenapa sejak tadi kamu diam? Apa yang sedang kamu pikirkan?" ujar Fahmi, sesaat setelah tiba di hotel tempat mereka akan menginap. Abra diam membisu, entah kemana hati dan pikiran Abra? Nampak jelas Abra tubuh tanpa nyawa. Fahmi sangat heran melihat diam Abra selama di perjalanan.


Abra berjalan perlahan masuk ke dalam hotel. Meninggalkan Fahmi yang merasa heran dengan sikap Abra. Seketika Fahmi berjalan cepat, mencoba mengejar Abra yang tengah kalut. Entah apa yang tengah dipikirkan Abra? Fahmi merasa semuanya baik-baik saja. Embun dan Rafan dalam kondisi baik-baik saja. Mereka tidak keberatan, ketika Abra pamit pergi.


"Abra, tunggu aku!" teriak Fahmi, Abra terus berjalan tanpa peduli akan teriakkan Fahmi. Seolah kedua telinga Abra tuli, tertutup oleh rasa gelisah yang tak mampu terucap.

__ADS_1


"Abra, kamu kenapa?" teriak Fahmi, lalu menahan tangan Abra. Fahmi menghentikan langkah Abra. Mencoba mencari alasan kegelisahan Abra sahabatnya. Alasan tidak ada tawa di wajah saudara angkatnya.


Abra menghela napas, bersamaan dengan langkahnya yang tertahan. Fahmi jelas melihat kegelisahan Abra. Dengan langkah tegas, Fahmi menarik tangan Abra. Membawa Abra menuju cafe tak jauh dari hotel. Fahmi harus mencari tahu alasan cemas Abra. Gelisah yang tidak biasa nampak di wajah Abra. Fahmi merasa perlu mendengar keluhan Abra. Sekadar mencari tahu, kenapa Abra begitu kalut dan bimbang?


"Sekarang katakan, kenapa sejak tadi kamu diam? Aku bersama tubuhmu, tapi jiwa dan hatimu entah pergi kemana?"


"Aku baik-baik saja!"


"Kamu berbohong, jelas kamu sedang mencemaskan sesuatu. Katakan Abra, aku bukan hanya sahabatmu. Kita sudah seperti saudara!" ujar Fahmi tegas, Abra mendongak menatap Fahmi. Dua bola mata Abra terlihat sendu. Seolah menyimpan rahasia yang begitu besar. Abra benar-benar berbeda, dia bukan Abra yang tangguh dan bijak. Abra tak lebih dari laki-laki yang kalut akan cinta.


"Aku!" ujar Abra terhenti, Abra menunduk mencari keberanian yang pergi entah kemana?


"Kamu bertengkar dengan Embun atau kamu sedang sakit?" tanya Fahmi dengan nada penasaran, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada apa Abra? Jangan membuatku cemas, aku bisa mati karena cemas!" sahut Fahmi kesal, Abra menatap Fahmi. Lagi dan lagi terdengar helaan napas Abra. Isyarat Abra tidak baik-baik saja. Fahmi mengusap wajahnya kasar, dia semakin tak percaya dengan sikap Abra yang penuh rahasia.


"Aku merindukan Embun, aku takut kehilangan Embun. Aku tidak bisa jauh dari Embun!" ujar Abra lirih, sontak Fahmi terdiam.


Dua bola mata Fahmi membulat sempurna. Dia tidak percaya dengan perkataan Abra. Berkali-kali Fahmi mengedipkan kedua matanya. Fahmi merasa tak percaya, alasan kegelisahan Abra. Gelisah yang seolah membunuh sahabatnya. Gelisah yang sangat tidak masuk akal menurut Fahmi. Apalagi melihat sikap Embun yang begitu hangat dan menyayangi Abra.


"Kamu kehilangan akal Abra?" ujar Fahmi, seraya menggelengkan kepalanya pelan. Fahmi masih tidak percaya, jika Abra gelisah memikirkan Embun.

__ADS_1


"Aku sangat takut Embun pergi tanpa pamit. Sebenarnya aku tidak ingin pergi denganmu. Aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Embun sendirian. Aku kehilangan separuh hatiku. Aku merasa sesak jauh dari Embun!" ujar Abra lirih penuh ketulusan. Fahmi diam menatap lekat sahabatnya.


Fahmi jelas melihat ketulusan Abra pada Embun. Tidak ada yang lucu dari rasa cinta Abra. Sebaliknya rasa sayang Abra yang begitu besar pada Embun. Menyadarkan Fahmi, jika sahabatnya tidak lagi dingin, ada banyak kehangatan tersimpan dalam hati Abra. Rasa cintanya yang suci pada Embun. Membuat Fahmi memahami arti cinta sesungguhnya. Sebuah cinta yang mampu membuat siapapun rapuh dan lemah? Tidak terkecuali sahabatnya yang kuat dalam segala hal.


"Jika memang kamu sangat takut kehilangan Embun. Kenapa kamu memilih pergi? Kamu bisa tinggal menemani Embun. Aku tidak keberatan pergi sendirian. Namun katakan satu hal padaku, kenapa kamu begitu takut kehilangan Embun? Padahal hubungan kalian baik-baik saja!" ujar Fahmi, Abra mendongak menatap lurus ke arah bola mata Fahmi.


"Semalam aku bermimpi, Embun meninggalkan rumah tanpa pamit. Embun menjauh dariku, tanpa mengatakan apapun? Embun meninggalkan Rafan yang menangis bersamaku. Embun tak menoleh, dia terus berjalan tanpa peduli padaku dan Rafan. Aku menjerit, tapi Embun tetap pergi. Aku menangis sampai suaraku hilang dan ketika aku terbangun. Aku menyadari semua itu hanya mimpi, tapi air mata dan kesedihanku nyata. Aku menyeka air mataku, kurasakan dadaku sesak. Jika memang semua itu mimpi, kenapa hatiku terasa sakit?" tutur Abra lirih, Fahmi menepuk pelan tangan Abra.


"Aku akan meminta salah satu staf mengantarmu pulang. Jangan pernah pergi menjauh dari Embun. Jika memang kamu tidak bisa. Aku akan berada di sini, besok pagi aku akan pulang bersama tuan Dirgantara!"


"Tidak Fahmi, aku sudah ada di sini. Aku akan pulang setelah acara selesai!"


"Percuma kamu di sini, jika nyawa dan hatimu ada bersama Embun. Pulanglah, katakan pada Embun akan rasa cintamu yang begitu besar. Tentang mimpi semalam, jangan kamu pikirkan. Angggap semua itu hanya bunga tidur. Sekarang yang harus kamu pikirkan, kebahagianmu bersama Embun dan Rafan!"


"Tapi Fahmi!"


"Pulanglah, aku bisa sendiri!"


"Terima kasih, maaf merepotkanmu!" sahut Abra, Fahmi mengerdipkan kedua mata indahnya.


"Abra, aku bahagia melihat senyummu. Jangan pernah menyimpan dukamu sendirian. Aku akan ada di sampingmu selamanya, dalam suka dan dukamu!" ujar Fahmi, Abra mengangguk.

__ADS_1


"Terima kasih!" ujar Abra.


"Sayang aku pulang, aku tidak bisa jauh darimu. Aku sangat menyayangimu!" batin Abra tegas.


__ADS_2