KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Hadiah Berharga


__ADS_3

Seminggu lebih sudah, Embun tidak bertemu dengan Abra. Semenjak malam itu, keduanya sedikit menjauh. Tanpa sadar, Embun mengucapkan kata yang mrmbuat Abra terluka. Ada rasa sakit yang terasa di hati Abra. Kala bibir mungil Embun memanggil nama laki-laki lain. Sebuah panggilan yang diucapkan Embun dalam tak sadarnya.


"Abra, sepuluh menit lagi rapat dimulai. Ingat Abra, ini rapat penting. Jangan sampai ada kesalahan!" Ujar Haykal membuyarkan lamunan Abra.


Hampir dua puluh menit, Abra duduk melamun di atas kursi kerjanya. Abra mengingat kenangan pahit malam itu. Abra menghitung setiap detik yang dilaluinya tanpa Embun. Abra benar-benar tak menyangka, jika semua akan terkuak di malam yang panjang itu. Haykal yang datang tanpa pemberitahuan. Melihat diam putra kebanggannya. Sebuah diam yang begitu jelas menampakkan rapuh putra pertamanya.


"Sejak kapan papa ada di ruanganku?"


"Sejak kamu menghela napas, mengingat kenangan tidak pentingmu bersama wanita itu!" Sahut Haykal sinis, Abra menatap tajam Haykal.


"Dia istriku!"


"Istri di bawah tangan, istri yang takkan pantas bersanding denganmu!"


"Papa cukup, Embun istri sahku. Aku mengakui hanya dia istriku. Memang kami masih menikah secara agama. Namun semua itu sudah cukup membuatku bertanggujawab akan dirinya. Hanya menunggu waktu, Embun menjadi istri sahku secara agama dan hukum!" Ujar Abra lantang dan tegas. Haykal meradang, dia berjalan menghampiri Abra.


Braaakkk


Kedua tangannya menggebrak meja kerja Abra. Amarah Haykal nampak jelas. Seolah perkataan Abra telah memancing amarahnya. Dengan mata merah, Haykal menatap Abra. Menunjukkan betapa Haykal marah mendengar perkataan Abra.


"Apapun hubungan dia denganmu. Kerjasama hari ini harus tercapai. Ingat Abra, kewajibanmu membuat perusahaan kita terus stabil. Meski untuk semua itu, harus ada yang kamu bayar!"


"Apa maksud perkataan papa? Kenapa aku harus bertanggungjawab akan kerjasama pagi ini!"


"Karena pagi ini, bukan hanya akan ada kerjasama. Namun akan ada perjodohan dirimu dengan putri sahabatku!" Ujar Haykal, Abra menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Aku sudah menikah, tidak akan pernah ada perjodohan. Jika papa ingin menjadi besan mereka. Papa masih memiliki satu putra, dia jauh lebih pantas menjadi putra kebangganmu!" Tolak Abra lantang, lalu berjalan melewati Haykal.

__ADS_1


Abra hendak keluar dari ruangannya. Cukup sudah perdebatan yang tak penting. Tidak ada gunanya berdebat, untuk sesuatu yang memang sudah jelas akhirnya. Seorang Abra Achmad Abimata tak lagi sendiri. Ada Embun yang kini menjadi istrinya. Meski status itu masih jauh dari kata sempurna. Sakit hati Abra bukanlah awal sebuah keraguan. Namun awal sebuah perjuangan akan cinta yang harus digapainya. Memenangkan hati Embun, jauh lebih penting. Daripada terus meratapi penolakan yang Abra rasakan.


"Sampai kapan kamu akan bertahan Abra? Jelas wanita itu menolakmu. Lamunanmu yang tadi papa lihat, jelas menunjukkan betapa dia melukai hatimu. Kamu putraku, aku bisa merasakan gelisah hatimu. Wanita itu terus menjaga jarak darimu. Dia tak lebih dari wanita yang tak tahu terima kasih!" Ujar Haykal sinis, sontak Abra menghentikan langkahnya.


Tangan Abra mengepal erat, amarahnya memuncak dan darahnya mendidih. Abra tidak percaya, Haykal mampu bicara sekasar itu. Wanita yang terus dihina Haykal, tak lain menantu pilihan putranya. Meski Haykal ayah kandung Abra. Tak sepantasnya hinaan itu terlontar dari Haykal. Abra benar-benar marah, seandainya dia lupa akan status hubungan diantara mereka. Sudah lama Abra melayangkan pukulan ke arah wajah Haykal.


"Papa!" Panggil Abra dengan nada tinggi.


Haykal tersentak mendengar panggilan Abra yang penuh amarah. Dengan perlahan dia memutar tubuhnya. Haykal menatap putra yang selalu membuatnya bangga. Dua bola mata Abra membulat sempurna. Haykal tertegun, jelas dia melihat amarah sekaligus rasa sakit. Sejenak Haykal tertegun, saat menyadari dua mata putranya nampak sendu. Haykal merasa ada yang aneh, hatinya terasa ngilu.


"Ada apa Abra? Kenapa kamu menatap papa seperti itu? Atau hubungan beberapa bulanmu dengan wanita itu. Membuatmu lupa akan hubungan beberapa tahun kita. Kamu baru mengenalnya, tapi seolah telah mengenalnya lama. Melupakan semua hubungan yang pernah ada diantara kita!"


"Papa, aku tak pernah melupakan hubungan kita. Namun semakin aku mengenalmu. Kini semakin aku sadar, papa tidak akan pernah mengerti diriku. Bukan aku yang melupakan papa, tapi papa yang membuangku. Papa lupa cara menghapus sedihku. Papa tidak pernah menenangkan gelisahku. Papa melupakan diriku, putra yang tak pernah papa harapkan. Putra yang lahir dari wanita desa!"


Plaaakkk


"Jaga bicaramu Abra!" Ujar Haykal penuh amarah. Tepat setelah sebuah tamparan mendarat di pipi Abra.


"Inilah kenyataannya papa. Aku jauh dari kalian, saat papa memutuskan menikah dengan wanita sehebat nyonya Indira. Aku tersisih, ketika Ibra lahir melengkapi kebahagian papa. Aku menghilang dan terbuang, kala Naura hadir menjadi penyempurna keluarga kecil papa. Sejak kecil sampai sekarang, aku tak pernah merasakan belaian. Aku mulai lupa hangat sentuhan tanganmu. Bahkan hari ini, saat aku butuh dukungan papa dan pengertian. Dengan mudahnya papa menyakiti hatiku. Aku semakin sadar, papa tak pernah mengenalku. Papa tidak akan pernah ingin melihatku bahagia!"


"Abra!" Ujar Haykal lirih, nampak jelas penyesalan di hati Haykal. Suara hati Abra, lemah dalam kuat putranya. Kini terpampang jelas di depan keduan matanya. Haykal tersadar, akan jarak yang begitu jauh diantara mereka.


"Terima kasih, papa berusaha ingin melihatku bahagia. Namun percayalah, bukan itu kebahagianku. Entah apa yang aku rasakan bersama Embun? Namun aku yakinlah papa, dia wanita yang membuat putramu nyaman. Meski kini aku sakit menerima penolakannya. Namun dia juga yang akan menyembuhkannya. Embun wanita pilihan hatiku. Jika papa tidak bisa menerima dia sebagai menantu idaman. Terima dia sebagai hadiah kecil untukku!" Ujar Abra, lalu menengadahkan kedua tangannya di depan Haykal.


Haykal menatap Abra tak percaya. Sejak dulu dia selalu melihat dingin Abra. Tak pernah sekalipun dia melihat lemah Abra. Namun tepat di depannya, Abra menengadahkan tangan padanya. Abra meminta sesuatu yang bahkan dengan mudah bisa Abra dapatkan. Haykal terus menatap nanar Abra. Seolah dia tak percaya akan rapuh sang putra.


"Apa yang kamu lakukan?" Ujar Haykal tak mengerti.

__ADS_1


"Hari ini ulang tahun Abra, sejak dulu sampai sekarang mungkin papa melupakannya. Namun hari ini aku mengingatkan papa. Aku meminta sebuah hadiah kecil darimu. Jangan pernah menghina istriku. Embun wanita yang membuatku merasa sempurna. Menyadari jika diriku selama ini hampa!"


"Bukannya ulang tahunmu beberapa hari lagi!" Ujar Haykal, Abra tersenyum sinis. Abra menurunkan tangannya, lalu berjalan menjauh Haykal. Tepat di depan pintu, saat tangan Abra memegang ganggang pintu. Abra menoleh ke arah Haykal yang berdiri terpaku.


"Bahkan hari lahirku, papa tidak pernah mengetahuinya!" Ujar Abra lirih.


Kreeeeekkkk


"Sayang, sejak kapan kamu berdiri disini?" Ujar Abra, Embun terdiam lalu menunduk. Nampak sebuah kotak makan di tangannya.


"Aku hanya ingin mengantar ini. Sebaiknya aku permisi, sebentar lagi aku ada janji!" Sahut Embun, Abra menarik tangan Embun. Saat Embun menyodorkan kotak makan yanh dibawanya.


"Kita akan makan ini bersama. Sekarang aku akan mengantarmu!"


"Tidak perlu!" Tolak Embun, seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa?" Ujar Abra kecewa.


"Kamu sibuk, lebih baik kamu tetap disini. Jika nanti aku ada waktu sebelum pulang. Aku akan mengabarimu!"


"Kamu malu jalan denganku!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya.


"Tanggungjawabmu jauh lebih besar, daripada menemaniku!"


"Baiklah, aku akan menunggumu. Jangan pernah kecewakan aku!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan.


"Assalammualaikum!" Ujar Embun, lalu mencium punggung tangan Abra. Embun mengangguk pelan ke arah Haykal. Sebuah sapaan hangat pada ayah mertuanya.

__ADS_1


"Dialah wanita yang selalu papa hina. Wanita yang tak pernah mengharapkan lebih dari putramu. Dia selalu mengalah, demi kalian keluargaku!" Ujar Abra lirih, perkataan yang menohok hati Haykal.


"Terima kasih sayang, telah mengingat hari pentingku. Hadiah berharga yang pernah aku terima!" Batin Abra ketika membuka kotak makan yang diberikan Embun.


__ADS_2