KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Fakta mengejutkan


__ADS_3

"Kak Fahmi sayang!" ujar Nur mesra, lalu bergelayut manja pada lengan Fahmi.


"Nur!" sapa Fahmi terkejut, Nur mengangguk berkali-kali. Mengiyakan perkataan Fahmi, seutas senyum nampak di wajah Nur. Seolah dia bahagia melihat raut wajah Fahmi. Nampak jelas Fahmi terkejut dan tidak percaya akan kedatangan Nur.


"Maaf, aku datang tanpa pemberitahuan!" ujar Nur lirih, lalu mencium punggung tangan Fahmi. Abra menatap Fahmi dan Nur, ada rasa rindu akan senyum Embun. Ketika melihat Nur tersenyum manis untuk Abra.


"Tunggu Fahmi, bukankah dia bu Nur!" ujar Sabrina, Fahmi mengangguk pelan.


"Dia Nur istriku, CEO Adijaya Group!" sahut Fahmi tegas, Sabrina menggeleng tak percaya. Nur merangkul tubuh tegap Fahmi, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Fahmi. Abra tersenyum sinis, melihat kehangatan Fahmi dan Nur.


"Tidak mungkin!"


"Kenapa tidak mungkin?" sahut Nur, Sabrina menggeleng tak percaya. Dia melirik ke arah Abra, Sabrina berharap Abra menjelaskan semuanya.


"Nur!" sapa Abra, sembari memberikan berkas kepada Nur.


"Apa ini?" ujar Nur tidak mengerti.


"Sayang, periksalah sendiri. Berikan pendapatmu, apa yang harus kami lakukan?" ujar Fahmi lirih, sontak Nur menoleh dengan raut wajah terkejut. Pertama kalinya Nur mendengar Fahmi memanggilnya mesra di depan orang lain.


"Suamiku, aku tidak salah mendengar!"


"Hmmmm, fokus saja pada berkas yang kamu pegang!" ujar Fahmi dingin, lalu memutar wajah Nur fokus pada berkas yang ada di tangannya.


Nur terkekeh melihat sikap dingin Fahmi. Sikap dingin yang mengguratkan rasa cinta untuknya. Sejenak Nur lupa akan tugas yang menunggunya. Sampai akhirnya Fahmi menyenggol tangan Nur. Membuyarkan lamunan Nur, agar kembali fokus menatap berkas yang ada di tangannya. Abra dan Sabrina diam menunggu keputusan Nur. Hampir lima belas menit, Nur memeriksa berkas yang diberikan Fahmi. Nur menghela napas tepat di lembar terakhir.


"Kenapa kak Abra ingin membatalkan kerjasama ini?" ujar Nur lirih, Sabrina berjalan mendekati Nur. Menatap sinis ke arah Abra, laki-laki yang telah membuatnya kecewa.


"Semua karena kecemburuan istri Abra. Sikap tak profesional yang ditunjukkan oleh CEO hebat sekelas Abra. Seorang suami yang lebih peduli akan pendapat rendah istrinya. Daripada keuntungan besar dari kerjasama ini. Abra tak lebih dari laki-laki pengecut, dia mengorbankan karir demi wanita yang belum tentu pantas menerima pengorbanannya!" ujar Sabrina lantang dan emosi. Nur langsung merah padam, amarah jelas menguasai hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Apa maksud perkataannya?" ujar Nur sinis pada Abra.


"Jangan dengarkan dia, pembatalan ini tidak ada hubungannya dengan Embun. Semua murni keputusanku!"


"Kak Fahmi, katakan yang sejujurnya. Sebelum aku mencari sendiri kebenarannya. Aku merasa kakak mengenal siapa diriku? Kakak jujur atau akan ada jarak diantara kita!" ujar Nur lantang, Fahmi menghela napas. Sekilas nampak rauf wajah Fahmi yang kebingungan.


"Kak Fahmi!"


"Sayang, jangan salah paham. Tidak ada hubungan spesial diantara Abra dan Sabrina. Memang mereka dekat, tapi semua karena pekerjaan tidak lebih!"


"Lalu, kenapa Embun cemburu?" sahut Nur, Fahmi menoleh ke arah Abra. Sekilas nampak Abra mengangguk, isyarat Abra mengizinkan Fahmi jujur pada Nur.


"Abra dan Sabrina sempat dekat, tapi kedekatan mereka sebatas teman. Namun Abra merasa nyaman bersama Sabrina. Sampai akhirnya Embun dan Rafan datang. Menyadarkan Abra, jika dia memiliki keluarga kecil yang bahagia!"


"Kak Abra, aku tidak percaya. Kamu mampu mengkhianati Embun!" ujar Nur lirih.


"Ibu kenal dengan istri Abra, wanita rendah dan kampungan. Istri yang tak pernah mendukung kesuksesan Abra. Lihat hasil kecemburuannya, Abra memilih mengakhiri kerjasama yang sangat menguntungkan!" ujar Sabrina menggebu.


"Apa yang aku katakan memang benar? Istrimu tak lebih dari wanita kampungan. Dia tidak profesional, membuatmu harus memilih masalah pribadi atau pekerjaan. Aku yakin, dia yang telah menghasutmu. Dasar istri kampungan, tidak tahu diri. Sudah bagus menikah dengan pria kaya sepertimu. Sekarang malah menahan dirimu berkembang!" ujar Sabrina ketus, Nur menghampiri Sabrina. Tatapannya sangat tajam, lebih tajam dari pisau dapur. Nur mengepalkan kedua tangannya.


Braaakkkkk


"Lupakan kerjasama diantara kita. Satu hal lagi, jangan pernah muncul dihadapanku. Aku salah menilaimu, wanita anggun dengan pendidikan tinggi. Ternyata tak lebih dari wanita rendah tanpa moral. R.A. Kartini berjuang demi kaumnya, sedangkan kamu menghina kaumnya sendiri. Wanita yang terus kamu hina, dia sahabatku sekaligus saudara angkatku. Istri yang kamu ragukan kepintarannya, dia pewaris perusahaan Adijaya Group. Ibu yang kamu rendahkan harga dirinya, dia wanita tangguh yang akan menghancurkan kesombonganmu. Mungkin jabatan CEO yang kamu pangku, membuatmu lupa akan status sosial. Namun Embunku takkan pernah silau akan jabatan CEO yang telah membuatmu kehilangan akal. Embunku lebih memilih menjadi seorang istri yang terus menjaga harga diri dan kehormatan suaminya. Walau akhirnya dia harus menerima pengkhianatan!" tutur Nur lantang penuh emosi, sesaat setelah melempar berkas tepat di wajah Sabrina. Amarah Nur membuncah, dia tak lagi peduli akan harga dirinya. Nur menoleh ke arah Abra, tatapan sinis penuh rasa kecewa. Terpancar jelas dari dua bola mata indahnya.


"Ibu!"


"Nona Sabrina yang terhormat, aku sudah mengatakan keputusanku. Silahkan anda kembali ke kantor. Jika anda ingin menggugat perusahaan kami, silahkan. Namun sebelum anda menggugat, pastikan anda memahami satu hal. Perusahaan Adijaya tidak akan membiarkan siapapun menghancurkan wibawanya. Apalagi anda telah merendahkan penerus perusahaan Adijaya. Jadi sebelum terjadi sesuatu pada anda. Lebih baik anda menyadari kesalahan yang telah terjadi!" ujar Nur tegas, lalu memutar tubuhnya. Nur memilih menjauh dari Abra dan Fahmi


"Sayang!" sapa Fahmi, sembari menahan tangan Nur.

__ADS_1


"Aku tidak marah!" sahut Nur lirih.


"Pertimbangkan kembali!" pinta Sabrina sembari menangkupkan kedua tangannya.


"Maaf nona Sabrina, aku tidak bisa!" sahut Nur, lalu keluar menuju tempat parkir.


"Sayang, aku pergi denganmu!"


"Tidak perlu, temani kak Abra. Dia lebih membutuhakan sahabatnya. Seperti Embun yang membutuhkanku sekarang. Bodohnya aku, melupakan sahabatku demi pekerjaan yang takkan pernah ada habisnya. Sampai aku tidak menyadari, sahabatku menangis tanpa pundakku!"


"Nur, aku yang salah!"


"Kakak tidak salah, semua ini pasti terjadi. Apalagi ketika ada laki-laki dan perempuan bekerja dalam satu ruangan. Jangankan kakak, suamiku pasti tergoda melihat pesona Sabrina!"


"Sayang, kenapa aku yang dituduh?"


"Entahlah kak, aku juga bingung. Ketika laki-laki melakukan kasalahan, semua orang akan menganggap itu biasa saja dan tidak masakah. Bahkan wanita dipaksa melupakannya. Namun saat wanita yang melakukan kesalahan, laki-laki langsung menghakimi tanpa meminta penjelasan. Cinta seolah alasan dasar yang membenarkan sikap kasar laki-laki. Sebaliknya cinta pula yang membuat wanita mengalah dan memaafkan tanpa banyak bicara!"


"Sayang, jangan pernah meragukanku!" ujar Fahmi lirih, Nur mengangguk pelan.


"Kak Abra, Embun tidak akan pernah mengatakan apapun padaku. Dia akan menjaga kehormatanmu, meski itu artinya dia harus menahan rasa sakit. Embun sangat mencintaimu, dia takut kehilanganmu. Dalam keras kepalanya, tersimpan cinta yang mendalam untukmu. Aku harap, Sabrina wanita pertama dan terakhir yang membuat kak Abra sejenak melupakan Embun. Aku tidak akan menyalahkanmu, sebab laki-laki tidak akan pernah puas dengan satu hati!"


"Rasa nyamanku dengan Sabrina hanya kekhilafan, tapi kini aku menyadari. Embun pemilik hatiku dan hanya bersama Embun aku bahagia!" ujar Abra lantang.


"Lebih baik aku menemui Embun!" ujar Nur, lalu pergi meninggalkan Abra dan Fahmi.


"Kak Fahmi, persiapkan pembatalan kontrak dengan Sabrina!" pinta Nur, Fahmi mengangguk mengiyakan.


"Salah jika kalian membatalkan kontrak demi rasa sakitku. Jangan pernah berpikir aku bahagia, melihat Sabrina dipermalukan. Bagaimanapun dia seorang wanita yang berhati lemah? Mungkin tutur katanya kasar, tapi aku percaya hatinya rapuh!" ujar Embun.

__ADS_1


"Embun!" sapa Nur tidak percaya. Abra dan Fahmi langsung menoleh. Mereka tidak sadar melihat Embun datang.


......................


__ADS_2