
"Papa, apa pendapatmu tentang perjodohanku dengan Hanna? Apa papa mengizinkan aku menikah dengan Hanna? Bersediakah papa menerima Hanna menjadi menantu papa?" tutur Rafan lirih, lalu menunduk. Rafan meremas tangannya, ada ketakutan yang menjalar dalam hatinya. Rafan merasa tak berdaya, jika akhirnya Abra menolak perjodohan diantara dirinya dengan Hanna.
"Kamu menanyakan pendapat papa?" ujar Abra tak percaya, Rafan mengangguk mengiyakan.
Rafan merasa harus bertanya pada Abra, bagaimanapun Abra ayah kandungnya? Orang pertama yang harus setuju dengan pernikahannya dengan Hanna atau wanita lain. Hubungan Rafan dan Abra tak begitu dekat, tapi darah yang mengalir dalam nadi mereka sama. Sekuat apapun Rafan menjauh, nyatanya Abra orang paling dekat dengannya. Darah Abimata mengalir dalam nadi keduanya. Tak ada yang bisa meragukan semua itu. Mereka akan tetap dekat, sampai maut memisahkan.
"Kamu serius!" ujar Abra tak percaya, lagi dan lagi anggukan kepala yang terlihat. Rafan mengangguk penuh ketegasan. Dia menyakinkan Abra, jika izin Abra yang dibutuhkannya saat ini.
"Papa, sikap dinginku tak berarti aku membencimu. Selamanya kamu ayah kandungku, ridhomu yang selalu aku butuhkan. Mama surgaku, papa panutanku. Hanya pada kalian hidup dan bahagia kusandarkan!" ujar Rafan lirih, Abra tertegun menatap Rafan.
"Rafan, papa tidak salah dengar!"
"Sudah saatnya, hangat diantara kita tercipta. Ada saatnya, aku membutuhkan papa. Hari ini, izin dan ridho papa yang kubutuhkan!" ujar Rafan hangat, Abra menatap nanar Rafan. Tak percaya akan kata yang keluar dari bibir putranya.
Abra seolah bermimpi merasakan hangat sikap Rafan padanya. Jarak yang selama ini tercipta diantara mereka. Seketika hilang hanya dengan satu permintaan. Rafan seolah membutuhkan Abra sebagai ayah yang sangat dihormatinya. Rafan menyadari, Abra orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Tentu saja setelah Embun, ibu yang melahirkannya.
"Jujur Abra, papa tidak percaya dengan semua ini. Bukan papa tidak bahagia, sebaliknya papa sangat bahagia. Sampai papa merasa takut semua ini hanya mimpi!" ujar Abra tak percaya, Rafan mendekat ke arah Abra. Dengan santai dan rasa tak bersalah. Rafan mencubit lengan Abra, seakan ingin menjawab rasa tidak percaya Abra. Sontak Abra menjerit kesakitan.
"Papa sudah percaya!" ujar Rafan datar, tak ada rasa bersalah di wajah Rafan. Setidaknya permintaan maaf telah mencubit Abra. Sebaliknya dengan santai Rafan berlalu dan duduk di tempatnya semula. Rafan merasa tugasnya sudah selesai. Abra merasakan sakit yang artinya, semua ini nyata adanya.
"Rafan, kenapa mencubit papa?" ujar Abra tak percaya, Rafan tersenyum dengan kepolosannya. Abra menatap penuh rasa bahagia. Akhirnya setelah sekian tahun, Abra bisa membuat putranya tersenyum ke arahnya. Abra rela merasakan sakit, asalkan bisa membuat Rafan merasa nyaman di dekatnya.
__ADS_1
"Papa, sekarang jawab pertanyaanku. Keputusan papa akan menjadi pertimbanganku!" ujar Rafan dingin dan tegas, Abra menghela napas pendek.
Abra merasa Rafan tetaplah putra Embun. Rafan yang akan kembali dingin, melupakan hangat yang baru saja tercipta. Abra merasa kecewa, ketika hangat diantara dirinya dengan Rafan hanya sebentar saja. Namun sedikit hangat diantara mereka. Sudah cukup membuat hati dingin Abra merasa hangat. Putra kebangaannya kini mulai menyandarkan kegelisahan padanya.
"Rafan!" sapa Abra lirih, Rafan langsung mendongak menatap Abra.
Tatapan tajam Rafan menunjukkan keseriusannya. Rafan menanti dengan kecemasan. Jawaban dari kegalauan hatinya akan hubungannya dengan Hanna. Wanita yang membuatnya cemas, tapi belum bisa mengetuk hatinya. Namun ada satu niat tulus yang tersimpan jauh di dalam hati Rafan. Sebuah harapan kebahagian Hanna di sisa hidupnya.
"Kamu mencintai Hanna?" ujar Abra, Rafan menunduk sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Kamu menghargainya?" ujar Abra lagi, Rafan mengangguk dengan tegas.
"Rafan, papa pernah berada di posisi Hanna. Merasakan ketakutan akan kehilangan cinta. Rasa rindu yang tak pernah terbalaskan. Sikap dingin yang hampir membuat papa mati beku. Kegalauan akan rasa yang tak bersambut!" ujar Abra, Rafan menatap tak percaya.
"Papa!" sahut Rafan lirih, Abra mengangguk tegas.
"Apa kamu pikir mama mencintai papa jauh sebelum kami menikah?"
"Tentu saja, jika tidak ada cinta. Tidak mungkin kalian akan menikah!"
"Mama tidak pernah mencintai papa. Dia menghormati papa dan alasan pernikahan kami tak lebih demi baktinya pada abah Iman!"
__ADS_1
"Tidak mungkin!" sahut Rafan sembari menggelengkan kepalanya.
"Sayangnya semua itu benar, bahkan saat papa akan menikah dengan mama. Papa masih takut kehilangan mama. Perasaan yang mungkin dirasakan Hanna saat ini. Perbedaannya, hanya papa laki-laki dan Hanna seorang wanita. Sedangkan dulu, kakek Haykal menentang hubungan papa!"
"Dan papa, akankah menentang hubunganku dengan Hanna!" ujar Rafan memotong perkataan Abra.
"Papa tidak akan melarang hubungan kalian. Bahkan papa akan melangsungkan pernikahanmu dengan sangat meriah. Hanya saja, satu hal yang harus kamu ketahui. Pernikahan bukan permainan yang akan berhenti saat kalah atau kita bosan memainkannya. Pernikahan akan menguji kuat iman dan rasa yang ada di hati kita. Jika kita menang, artinya kita mampu manahan keangkuhan dan sikap rendah diri. Namun jika kita kalah, hanya akan ada satu jalan yang menjawabnya. Sebuah akhir yang akan membuatmu menyesal seumur hidup!"
"Jika memang tidak ada cinta? Bagaimana mama bersedia menikah dengan papa? Sedangkan papa langsung setuju menikah dengan papa?" cecar Rafan, Abra tersenyum simpul. Dia melihat kebingungan Rafan yang membutuhkan dirinya sebagai seorang ayah. Abra merasa berarti dalam hidup putranya. Sejenak Abra merasa, putranya masih sangat kecil dan akan selamanya menjadi putra kecilnya.
"Rasa percaya dan yakin!" ujar Abra lantang, Rafan diam tak memahami arti perkataan Abra. Rafan merasa ada sesuatu yang begitu sulit dimengerti. Rafan semakin tak mengerti, kemana arah hubungannya dengan Hanna setelah ini.
"Sebuah hubungan bukan hanya didasari dengan cinta. Jika cintamu tidak memiliki rasa percaya. Selamanya rasa curiga akan mengusainya. Jika setia selalu diragukan, maka tidak akan pernah ada rasa percaya dalam hubungan itu. Seandainya kejujuran menjadi alasan pertengkaran. Tidak akan rasa pengertian dalam sebuah hubungan. Papa mencintai mama dengan kepercayaan penuh. Sehingga papa tidak pernah takut kehilangan mama. Meski terkadang rasa cemburu dan rendah diri menyapa. Namun mama selalu memahami kegelisahan hati papa. Tak pernah mama berdiri di depan papa. Mama akan berdiri di samping papa, sebab dasar hubungan diantara papa dan mama bukan cinta semata. Melainkan rasa percaya dan yakin, jika semua yang terbaik. Bahkan mama menjadi wanita pertama yang menghargai papa, meski rasa cinta itu belum ada untuk papa. Kesetian papa sudah pernah diuji dan papa kalah. Papa melakukan kesalahan yang tak mudah dimaafkan. Namun kamu lihat sendiri, dengan kepercayaan dan keyakinannya. Mama memaafkan papa, tanpa sedikitpun mengeluh akan rasa sakit yang papa torehkan. Kejujuran papa akan rasa sayang paxa mama. Membuat papa selalu yakin, mama akan melakukan hal yang sama padaku. Jika kamu hanya mencintaiku tanpa kepercayaan atau kesetiaan serta kejujuran. Lebih baik mantapkan lagi hatimu. Akan banyak halangan dan rintangan yang tidak akan mudah kita lewati!" tutur Abra tegas, Rafan menghela napas.
"Sekarang tanyakan hatimu, Hannakah wanita yang tepat untukmu!"
"Papa, terima kasih!" ujar Rafan lirih, Abra merasa heran. Nampak jelas di raut wajah Abra. Namun senyum Rafan membuat hati Abra bahagia.
"Untuk!" sahut Abra.
"Papa membuat Rafan yakin akan alasan hubungan dengan Hanna. Nanti malam akan kupastikan semuanya!" ujar Rafan tegas dan mantap. Abra mengangguk penuh rasa bangga.
__ADS_1
"Itu baru putra papa!"