KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Nasi Goreng


__ADS_3

"Pagi!" sapa Galuh, Kanaya menoleh sembari mengangguk pelan. Tampak Galuh datang dengan wajah yang segar.


Kanaya tengah sibuk di dapur. Hari masih sangat pagi, azan subuh baru saja berkumandang. Tepat setelah sholat subuh, Kanaya turun menuju dapur. Malam panjang berlalu begitu cepat. Pagi menyapa, membangunkan Kanaya dengan status baru sebagai seorang istri. Setelah semua saudara pulang, tidak terkecuali Abra dan Embun. Tinggallah Kanaya dan Galuh berdua tinggal di rumah milik Abah Iman.


"Kopi!" ujar Kanaya, kedipan mata Galuh dibalas dengan senyum manis Kanaya. Tanpa bertanya lagi, Kanaya membuatkan secangkir kopi. Galuh duduk di meja makan tak jauh dari dapur.


Galuh terus menatap Kanaya, melihat Kanaya yang begitu terbiasa di dapur. Pagi terindah dalam hidup Galuh. Setelah sekian lama, akhirnya Galuh menemukan alasan untuk bahagia. Senyum Kanaya bak embun yang mendinginkan hati Galuh. Tak lagi cadar menghalangi pandangan Galuh. Bukan hanya senyum, Galuh bisa melihat jelas wajah cantik di balik sosok bernama Kanaya.


"Silahkan!"


"Terima kasih!" sahut Galuh, saat menerima kopi dan sepiring roti bakar dari Kanaya.


"Kemana?"


"Dapur!" sahut Kanaya, Galuh mengeryitkan dahinya. Kanaya menyadari rasa heran Galuh, seketika tersenyum ke arah Galuh.


"Aku hanya ingin mengambil ini. Tidak ada sisa makanan, jadi aku membuat nasi goreng!" ujar Kanaya, seraya duduk di depan Galuh. Kanaya membawa sepiring nasi goreng. Galuh terbelalak, melihat satu piring penuh nasi goreng di depan Kanaya.


"Kamu nasi goreng, kenapa aku hanya roti?" ujar Galuh, Kanaya mendongak. Senyum Kanaya mengusik ketenangan batin Galuh. Jantung Galuh berdetak begitu hebat, kala bola mata Galuh menangkap senyum manis Kanaya. Galuh mengusap wajahnya kasar, mencoba menghilangkan gemuruh dalam hatinya.


"Bukankah kamu tidak suka nasi goreng. Apalagi nasi goreng dengan telor orak-arik!" sahut Kanaya santai, sembari mengunyah suap demi suap nasi goreng buatannya sendiri.


"Kata siapa?"


"Hampir seluruh penghuni rumahmu mengetahui itu!" ujar Kanaya santai, Galuh terdiam membisu.


"Kamu ke rumah!" ujar Galuh, Kanaya mengangguk pelan. Tak ada lagi jawaban yang paling tepat. Tatapan heran Galuh, tak sedikitpun mengusik Kanaya. Rasa penasaran Galuh, tak lantas membuat Kanaya menjelaskan kapan dan untuk apa dia datang ke rumah Galuh. Bahkan dengan santainya, Kanaya menyodorkan sepiring roti ke arah Galuh. Sikap santai yang membuat Galuh terbelalak tak percaya. Rasa penasaran Galuh teracuhkan begitu saja.


"Kenapa tidak makan? Aku sudah menyiapkan roti bakar kesukaanmu. Jangankan dimakan, disentuhpun tidak!" ujar Kanaya lagi, Galuh hanya diam.


"Kanaya!"


"Hmm!" sahut Kanaya tanpa menoleh ke arah Galuh.

__ADS_1


"Aaaa!"


"Apa?" ujar Kanaya, mendongak menatap Galuh yang tengah membuka lebar mulutnya.


"Aku ingin itu!" ujar Galuh, menunjuk ke arah nasi goreng yang tengah dimakan Kanaya.


"Baiklah, aku akan mengambilkan nasi goreng untukmu!" ujar Kanaya, Galuh menggeleng lemah.


"Lalu!" sahut Kanaya.


"Suapi aku!"


"Serius, tidak akan!" sahut Kanaya ketus dan lantang. Galuh menatap lekat Kanaya, tatapan yang memaksa akan keinginannya.


"Aku suamimu!"


"Baiklah, aku akan mengambil sendok yang baru!" ujar Kanaya, sesaat setelah suara hembusan napasnya. Galuh menolak, dia menunjuk ke arah sendok yang ada di tangan Kanaya.


"Tidak, ini sendok bekasku!"


Kanaya menyuapi Galuh dengan sendok bekasnya. Kanaya diam membisu, menyuapi Galuh seolah dirinya tengah menyuapi Faiz. Bocah kecil yang membuatnya kesal setiap waktu. Sekaligus alasan senyumnya, melupakan sepi yang selama ini mengisi hatinya. Sedangkan Galuh mencoba mengunyah nasi goreng buatan Kanaya. Satu suap, seakan satu piring penuh nasi goreng masuk ke dalam mulutnya. Rasa tidak sukanya akan nasi goreng membuat Galuh sulit mengunyahnya.


"Sudahlah, kamu tidak akan sanggup menelannya. Sebentar lagi ada tukang sayur yang datang. Aku akan membuat makanan kesukaanmu!" ujar Kanaya, lalu menghabiskan nasi goreng yang tersisa. Galuh menelan nasi goreng dengan susah payah. Sekilas Kanaya tersenyum, melihat Galuh yang memaksa menelan sesuap nasi goreng darinya.


"Minumlah!"


"Terima kasih!" sahut Galuh, Kanaya berdiri meninggalkan Galuh. Sesaat setelah dia mengangguk, menyahuti Galuh.


"Kanaya!" panggil Galuh, tangan kekarnya menarik tubuh Kanaya dalam pelukannya.


Kanaya berteriak, saat merasakan hangat sentuhan Galuh. Tangan kekar Galuh melingkar sempurna di perut langsing Kanaya. Menyusup dalam abaya yang tengah dikenakan Kanaya. Perlahan Galuh meletakkan kepalanya di pundak Kanaya. Menyandar penuh hangat, merasakan desiran hangat dalam nadi darahnya. Hasrat yang membuncah, kala dua bola matanya menatap cantik wajah Kanaya. Galuh semakin erat memeluk tubuh Kanaya, seiring detik dan menit yang terus berputar.


"Kenapa kamu bersedia menikah denganku?" bisik Galuh mesra, napas Galuh berhembus menerpa pipi putih Kanaya. Suara mesra Galuh, terdengar begitu merdu di telinga Kanaya. Terasa hangat, mengalir deras dalam nadi Kanaya. Membekukan tulang Kanaya, membuatnya terdiam tak berkutik.

__ADS_1


"Kanaya!" bisik Galuh hangat, membuyarkan lamunan Kanaya. Menyadarkan Kanaya dari rasa hangat yang sejenak membuatnya melayang jauh. Kanaya langsung menunduk, menyadari dirinya tengah terbuai dalam hangat pelukan Kanaya.


"Haruskah aku menjawabnya!" ujar Kanaya, seraya memegang tangan Galuh yang tengah memeluknya. Kanaya membalas sentuhan Galuh, sentuhan yang membuat tubuh Galuh bergetar.


"Harus, aku ingin mendengar alasanmu. Sejak aku mendekatimu, kamu selalu menolak mengenalku. Sangat aneh, hanya dalam beberapa bulan kamu menerima rasaku!" bisik Galuh, dekapan Galuh semakin erat. Hembusan napas Galuh memburu, terdengar menggemuruh di telinga Kanaya.


Suasana pagi yang sunyi, tetesan kabut yang tertinggal dengan kesejukkannya. Mengiringi hangat pelukan dua insan yang menyatu dalam ijab suci. Dingin kabut terkalahkan dekapan hangat Galuh. Kanaya membisu, sentuhan Galuh pertama kali dalam hidupnya. Menyiratkan sebuah rasa yang tak pernah ada dalam hidupnya. Galuh menutup mata, menyadarkan kepalanya tepat di pundak Kanaya. Sesekali Galuh menoleh, mencium leher Kanaya yang tertutup hijab panjang. Galuh larut dalam gemuruh cintanya. Dekapan Galuh semakin erat, kala tak terasa penolakan dari Kanaya.


"Air mata kerinduanmu, alasan aku menerima rasamu. Aku ingin menghapus air mata itu, menjadi sandaran akan rasa rindu yang takkan pernah tersampaikan. Sikap setiamu pada ibu yang melahirkanmu. Membuatku percaya, jika kamu takkan pernah mengkhianatiku. Kasih sayang seorang ayah yang ingin melihat kebahagianmu. Keyakinan terbesarku, jika kamu laki-laki yang baik dan berhak bahagia!" tutur Kanaya lirih, Galuh terdiam.


"Papa!" ujar Galuh, sembari memutar tubuh Kanaya.


"Ayah yang selalu merindukanmu!"


"Kapan kalian bertemu?" ujar Galuh penasaran, Kanaya menunduk. Sontak Galuh mengangkat dagu Kanaya, menatap lekat wajah cantik Kanaya. Desiran hangat semakin membuncah, tubuh Galuh terasa bergetar. Menahan gairah rasa yang menguasai jiwanya.


"Beberapa bulan sebelum pernikahan kita. Tepatnya saat aku mengajukan syarat padamu. Memintamu menjadi mahasiswa terbaik!"


"Kamu tidak pernah mencintaiku!" ujar Galuh, sembari tetap memegang dagu Kanaya. Galuh mendekatkan wajahnya, begitu dekat sampai Galuh bisa merasakan hangat hembusan napas Kanaya.


"Aku belum mencintaimu, bukan tidak mencintaimu. Namun selama hidupku, hanya tanganmu yang melingkar hangat di perutku!" ujar Kanaya, sembari menurunkan tangan Galuh.


"Haykal, kamu masih mencintainya!" ujar Galuh lantang. Kanaya menoleh, mendengar teriakkan Galuh.


"Dia masa laluku dan kini kamu masa depanku. Percaya atau tidak, tergantung suara hatimu. Jangan lakukan kesalahan yang sama seperti dirinnya!"


"Jangan pergi, aku mohon!" ujar Galuh, menarik tubuh Kanaya ke delam dekapannya. Kanaya menerima pelukan Galuh dengan dingin.


"Jangan pernah menanyakan keyakinanku. Sekali aku memutuskan, aku tidak akan mengkhianatinya!" ujar Kanaya, lalu melepas pelukan Galuh.


"Maaf!"


"Aku tidak marah, sebentar lagi tukang sayur datang. Aku harus mengambil cadarku, setelah sarapan. Aku akan mengajakmu pergi ke sekolah desa!" sahut Kanaya, Galuh diam membisu. Menatap lesu punggung Kanaya yang menjauh.

__ADS_1


"Ketakutan ini nyata, cinta ini nyata. Namun aku berharap, kehilangan dirimu hanyalah sebuah mimpi. Jangankan kehilangan dirimu, membayangkannya saja aku tidak mampu. Apapun alasanmu memilihku, aku akan diam menanti jawabanmu. Jangan pergi, aku takut kehilanganmu. Hanya bersamamu, hanya bersamamu harapan dalam hidupku. Maafkan keraguanku, tapi cemburu ini serasa membunuhku. Dia laki-laki pertama dalam hidupmu, alasan rasa takut kehilanganmu!" batin Galuh. Seraya menatap lurus langkah Kanaya yang menaiki tangga menuju kamarnya.


__ADS_2