
"Abra, kamu tidak salah rumah!" ujar Fahmi tidak percaya, Abra menggelengkan kepalanya lemah.
Abra menghela napas panjang, ada banyak beban dalam pikirannya. Bukan tentang besar dan megahnya rumah keluarga Adijaya. Melainkan siapa yang ada di dalam rumah itu? Abra merasa nyalinya menciut, ketika menyadari Adijaya bukan orang sembarangan. Fahmi melihat jelas rasa takut di wajah Abra. Ketakutan akan kekuatan yang belum ada dalam bayangan Abra.
"Aku akan menemanimu. Kita berjuang bersama, Embun butuh dirimu. Jauh sebelum Embun mengetahui semuanya. Hanya padamu dia bergantung. Itu berlaku sampai sekarang!"
"Aku percaya, Embun tidak akan melupakanku begitu saja. Hanya saja, kini status kami berubah. Dia jauh ada di atasku. Kami bagai dua dunia yang berbeda. Dulu saat Embun hidup biasa, aku masih sulit mendekat ke arahnya. Sekarang lihatlah, Embun begitu tinggi. Bagaimana tanganku bisa menggapainya?"
Tok Tok Tok
"Turunlah!"
"Abah Iman!" ujar Abra kaget, Iman mengedipkan kedua matanya.
"Ikut denganku, setelah makan malam. Bawa Embun pulang. Satu hal lagi, jangan bicara apapun? Dewangga Adijaya tidak mudah dihadapi. Biar Abah dan ayah Arya yang menghadapinya. Tugasmu hanya satu, tenangkan Embun dan jangan pikirkan yang lain!" ujar Abah Iman tegas, Abra mengangguk mengerti. Meski sesungguhnya dia tidak mengerti, kenapa Iman bicara seperti itu? Abra hanya percaya, apapun yang dikatakan Iman? Semua itu yang terbaik dari yang baik.
"Fahmi, ikutlah bersama kami. Ada Nur di dalam, tugasmu menjaganya. Apapun yang terjadi, jangan pernah ikut campur!" ujar Iman tegas, Fahmi mengangguk seraya menelan ludahnya kasar.
"Abra, abah Iman terlihat berbeda. Lebih tampan dan berkharisma!" bisik Fahmi, Abra menyikut pelan perut Fahmi. Isyarat meminta Fahmi untuk diam.
Abra dan Fahmi berjalan melewati barisan pengawal Adijaya. Nampak di sisi satunya, pengawal yang sengaja disediakan oleh Arya Adiputra. Abra dan Fahmi takjub melihat para pengawal yang berjajar. Sejenak mereka terdiam, melihat betapa dua orang hebat tengah bersaing memperebutkan Embun. Wanita desa yang awalnya biasa-biasa saja. Kini menjadi wanita yang luar biasa dengan kekayaan yang tak bisa diragukan lagi.
"Kak Abra!" teriak Embun, lalu berhambur memeluk Abra.
Embun berlari tanpa peduli lagi akan langkahnya. Embun tidak memperhitungkan, jika seandainya dia akan terjatuh. Hanya memeluk Abra yang ada dalam benaknya. Embun tidak lagi peduli, apapun resiko yang akan dia dapatkan. Bahkan Embun seolah lupa, jika ada banyak mata yang tengah menatapanya. Satu minggu lebih keduanya terpisah. Pertemuan setelah sekian lama, jelas terasa berarti dan tak dapat diganti.
"Sayang maaf, aku datang terlambat!" ujar Abra lirih, Embun menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku hanya butuh kedatanganmu. Terlambat atau tidak, aku sanggup menunggu. Mereka tidak akan menyakitiku. Bagaimanapun mereka keluargaku? Meski aku takut berada diantara mereka!"
"Sayang, kamu baik-baik saja!"
"Aku baik-baik saja, selama ada kamu aku akan baik-baik saja!" ujar Embun, seraya mengedipkan kedua mata indahnya.
"Kalian duduklah, setelah makan malam kalian bisa pulang!" ujar Iman, Embun menoleh seolah ada yang mengganjal dalam pikirannya.
__ADS_1
"Abah!"
"Sementara waktu, aku harus tinggal di rumah ini. Setelah puluhan tahun, sudah saatnya kembali ke rumah yang dulu membesarkanku!"
"Kenapa abah harus tinggal di rumah ini? Apa semua karena aku?" ujar Embun lirih, Iman menggelengkan kepalanya lemah.
"Sayang, abah harus merawat kakek. Usianya tidak lagi muda. Sudah saatnya dia dekat dengan abah. Semua ini tidak ada urusannya denganmu!"
"Tapi!"
"Abah baik-baik saja, percayalah sayang. Kamu harus tenang dan yakinkan dirimu. Semua ini tidak ada hubungannya denganmu!" ujar Iman, sembari mengusap kepala Embun lembut.
"Embun percaya!" ujar Embun, lalu memeluk Iman hangat.
Arya menatap nanar kedekatan Embun dengan Iman. Sebagai seorang ayah, jarak dia dengan Embun begitu dekat. Namun nyata ada jurang dalam yang membuat mereka terpisah. Salah satunya, kisah masa lalu yang takkan pernah bisa dilupakan begitu saja. Sekilas Iman melirik ke arah Arya. Jelas sebagai seorang ayah, Iman bisa merasakan sakit dan luka yang dirasakan Arya. Namun memaksa Embun, bukan hal yang benar. Sedangkan terus diam, hanya akan menambah dalam luka hati Arya.
"Sayang!" ujar Iman lembut, sembari memegang kedua lengan Embun. Iman menatap lekat wajah putri yang sang mirip dengan adiknya Almaira Adijaya.
"Ada apa abah? Ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu?"
"Haruskah aku melakukannya?"
"Lakukan jika hatimu mengatakan iya, jangan jika jiwamu menolak. Sudah saatnya luka bernanah ini sembuh. Dia hancur karena cintanya. Dia rapuh karena kebodohannya, tapi dia bertahan hanya demi satu kata maafmu. Jika mungkin, terimalah permintaan maafnya!"
"Kak Abra!" ujar Embun lirih, seraya menoleh ke arah Abra.
"Sayang, aku tidak akan memaksamu. Sebagai seorang laki-laki, aku pernah melakukan hal yang sama padamu. Cintaku yang begitu besar padamu. Sejenak membuatku buta dan malah menyakitimu. Jujur Embun, saat itu aku hancur dan rapuh. Jauh darimu membuatku tak berdaya, seandainya tidak ada kata maaf darimu. Mungkin aku sudah tiada dan lemah. Sama halnya tuan Arya, dia melakukan kesalahan pada mama. Dia tak mungkin lagi berharap kata maaf dari mama Almaira, hanya darimu kata maaf itu. Lakukan apapun yang menurutmu benar? Aku akan mendukungmu!" ujar Abra, Embun menunduk menatap lantai marmer.
"Minum Arya!" ujar Sofia, sembari menyodorkan segelas minuman beralkhohol.
"Menjauh dariku!"
"Percuma kamu mengusirku, ini rumahku!"
"Sofia, pergi jauh dariku. Sebelum aku lupa akan hubungan darahmu dengan Almaira!" teriak Arya, Sofia tersenyum sinis. Lalu dengan angkuh, Sofia meletakkan minuman tepat di depan Arya.
__ADS_1
"Kamu bisa menolakku, tapi tidak minuman ini!"
"Tuan Arya!" sapa Embun lirih, Arya langsung menoleh. Tangan yang semula ingin mengambil minuman. Seketika terhenti di udara, suara Embun seolah menyegarkan hatinya.
"Minggir kamu anak ingusan!" ujar Sofia sinis dan dingin, Arya langsung menahan tangan Sofia.
"Jangan menyentuhnya, kamu lupa akan ancamanku tadi!"
"Arya, lepaskan tanganku sakit!"
"Diam atau aku akan berbuat lebih dari ini!" ujar Arya penuh emosi.
"Maaf, jika aku mengganggu!"
"Embun sayang!" sapa Arya lirih, seolah takut menyakiti Embun.
"Tuan Arya, belajarlah menjauh dari minuman yang tak seharusnya kita minum. Sayangi kesehatan anda, setidaknya demi orang-orang yang menyayangimu!"
"Sayang, kamu memperhatikanku!"
"Abah Iman tidak pernah membuatku mengenalmu. Namun dia tidak mengajarkanku untuk menjauh darimu. Sangat sulit bagiku menerima hadirmu, tapi putraku kelak akan mengenal kakeknya!"
"Kamu memaafkanku!"
"Kata maaf, jika memang ada kesalahan. Sejak dulu, anda tidak salah. Sebab kehadiranku tak pernah anda ketahui. Namun menganggap semua baik-baik saja. Sungguh aku minta maaf, hatiku tidak selapang itu menerima namamu. Namun percayalah, sejak liontin ini ada di leherku. Sejak saat itu aku selalu merindukan dan bertanya. Siapa ayah kandungku?"
"Kamu mengetahui, kalau Iman bukan ayah kandungmu!" ujar Arya, Embun mengangguk pelan.
"Aku tahu, tapi aku berpura-pura tidak tahu. Sebab siapapun ayah kandungku? Nyatanya hanya abah Iman yang selalu melindungi dan mengayomiku!" ujar Embun final, lalu merentangkan tangan.
"Sayang!"
"Peluklah aku, setidaknya sebagai rasa terima kasihku telah melindungi suami dan ayah dari putraku!" ujar Embun lirih, Arya diam mematung.
"Mimpikah ini?" batin Arya lirih.
__ADS_1