KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Cemburu itu Sakit


__ADS_3

"Abra, kita berangkat sekarang!" ujar Fahmi, Abra mengangguk pelan. Embun menoleh setengah tidak peduli pada Fahmi.


"Sayang, aku berangkat kerja!" pamit Abra, Embun mengangguk pelan.


Sejak bangun tidur, Embun terlihat kesal dan marah pada Abra. Tak ada suara yang terdengar dari mulut Embun. Setiap Abra bertanya, Embun hanya mengangguk atau menggelengkan kepalanya. Entah apa alasan Embun bersikap dingin? Abra bingung melihat perubahan sikap Embun yang tiba-tiba dingin padanya.


"Sayang, aku harus ke luar kota. Aku sudah menghubungi mama Indira. Dia akan menemanimu!" ujar Abra, Embun mengangguk mengiyakan. Embun berdiri menghampiri Abra. Dia mencium punggung tangan Abra. Embun duduk kembali, kepalanya masih pusing dan tubuhnya terasa lemas.


"Sayang, kamu kenapa?" ujar Abra heran, Embun menggelengkan kepalanya. Isyarat dia baik-baik saja.


"Sayang, sekali saja bicara padaku. Agar aku tahu, kalau kamu baik-baik saja!"


"Aku baik-baik saja. Pergilah dan hati-hati di jalan!" ujar Embun, Abra menghela napas. Abra jelas merasa ada yang berbeda dengan Embun. Sikap Embun tidak seperti biasanya.


Fahmi menunggu Abra bak orang tanpa kebingungan. Tanpa sengaja, Fahmi menjadi saksi pertengkaran dalam sebuah rumah tangga. Fahmi merasa tak habis pikir, ketika dia melihat Embun yang tiba-tiba bersikap dingin dan acuh pada Abra. Sebaliknya Abra mulai terlihat gelisah dengan sikap Embun.


"Assalammualaikum!" ujar Nur lirih.


"Waalalaikumsalam, kita berangkat sekarang!" ujar Embun, sesaat setelah melihat Nur datang.


Embun langsung berdiri, dia hendak berjalan menghampiri Nur. Namun langkah kakinya terhenti, ketika Abra menahan tangannya. Abra merasa aneh, ketika mendengar Embun akan pergi. Sebaliknya Embun merasa tidak senang dengan sikap Abra.


"Sayang, kamu akan pergi?"


"Bukankah aku sudah minta izin pada kakak!" sahut Embun dingin, Abra mengedipkan mata. Isyarat Abra mengiyakan perkataan Embun. Namun ada hal yang mengganjal dalam pikiran Abra. Apalagi dengan sikap dingin Embun.


"Kamu akan pergi kemana?" ujar Abra heran.


"Aku akan meninjau lokasi proyek. Papa memintaku mengerjakan proyek yang ada di pinggiran kota. Aku dan Nur sudah membuat cetak birunya. Aku hanya perlu melihat lingkungan sekitarnya!"


"Tunggu sayang, kamu naik apa? Supir sedang libur, sedangkan aku akan ke luar kota!"


"Aku dan Nur naik sepeda motor!"


"Tidak boleh!" ujar Abra tegas, Embun langsung menatap lekat Abra.


Sontak Nur menjauh, dia memilih menunggu Embun di ruang tamu. Sedangkan Fahmi, memilih pergi ke teras. Entah kenapa Nur dan Fahmi kompak menjauh? Mereka jelas melihat perselisihan antara Abra dan Embun.


"Baiklah, aku tidak pergi!" sahut Embun dingin dan tegas. Embun berjalan menuju ruang tamu. Dia menemui Nur, memberika berkas dan meminta Nur berangkat sendiri.


"Sayang, aku mohon dengarkan alasanku. Aku melarangmu, karena aku takut terjadi sesuatu denganmu. Perjalanan ke pinggiran kota butuh waktu lama. Menggunakan sepeda motor tentu akan membuatmu lelah dan beresiko pada putra kita!" ujar Abra mencoba menerangkan pada Embun.


"Nur, berangkatlah sekarang. Aku tidak jadi ikut. Maaf, kamu terpaksa pergi sendiri!" ujar Embun, Nur diam menatap dua mata sayu Embun. Jelas ada yang sedang disembuyikan oleh Embun.


"Aku pergi dulu, istirahatlah Embun. Setelah pulang kerja, aku akan menjengukmu!" ujar Nur lirih, Embun mengangguk pelan. Abra diam membisu, menatap dingin Embun yang membuat tubuhnya membeku.


"Fahmi, kita berangkat sekarang!" ujar Clara lantang, Embun dan Nur sekilas melirik ke arah Clara. Abra dan Fahmi terkejut, ketika melihat Clara sudah datang ke rumah Abra.


Dengan santai Clara masuk ke dalam rumah Abra. Clara tersenyum ke arah Embun dan Nur. Hubungan Embun dan Clara mungkin tidak baik. Namun hubungan darah diantara mereka tidak bisa dipungkiri. Embun langsung masuk ke dalam kamarnya. Tepat setelah menyahuti sapaan Clara. Nur melihat jelas rasa cemburu Embun yang tersimpan dalam diam sahabatnya.

__ADS_1


"Sayang!" teriak Abra mengikuti langkah Embun.


"Apa yang terjadi padamu? Sejak tadi pagi kamu diam dan dingin padaku. Katakan apa kesalahanku? Agar aku bisa memperbaikinya!"


"Kak Abra, Clara sudah menunggumu. Pergilah sebelum terlambat!" sahut Embun dingin, Abra menatap lekat Embun.


"Sayang!" ujar Abra lirih, sembari memeluk Embun.


"Lepaskan, kakak harus pergi!"


"Sayang, maafkan aku!" ujar Abra, Embun terus meronta ingin melepaskan diri. Namun semakin keras Embun meronta, Abra semakin erat mendekap Embun.


"Lepaskan!" ujar Embun, Abra menggelengkan kepalanya. Dia terus mendekap Embun, menempelkan kepala Embun tepat di dadanya.


"Sakit!" ujar Embun lirih, di sela isak tangisnya.


Buuugh Buuugh Buuugh


"Lepaskan aku, lepaskan!" teriak Embun, sembari memukul dada Abra. Tangis Embun pecah, napasnya mulai terdengar sesak. Tubuh Embun bergetar hebat, dadanya terasa sakit.


"Marahlah, pukul aku sekuatmu. Hukum aku yang telah membuatmu terluka. Aku bodoh tak menyadari sakit hatimu!"


"Kenapa hatiku begitu sakit? Aku tidak bisa bernapas!" ujar Embun lirih, Abra mendekap erat Embun. Abra mengecup lembut puncak kepala Embun. Menenangkan amarah Embun yang membuncah, saat melihat Clara datang.


"Sayang, aku tidak akan pergi dengannya. Aku akan tetap disisimu. Lebih baik aku kehilangan proyek ini. Daripada aku kehilangan senyummu!"


"Kenapa cemburu sesakit ini? Rasanya sakit, sampai aku tidak bisa bernapas!"


"Pergilah, aku tidak akan menghalangimu!" ujar Embun lirih, Abra hanya diam. Sepintas nampak Abra tersenyum bahagia. Pertama kalinya dia melihat kecemburuan Embun. Sebuah isyarat cinta Embun untuknya.


"Antarkan aku ke depan!" ujar Abra, Embun menggelengkan kepala dalam pelukan Abra.


"Aku mohon ikut denganku, agar aku merasa tenang!" ujar Abra, Embun mengangguk pelan. Embun merasa nyaman dalam dekapan Abra. Seolah Embun tidak ingin jauh dari Abra. Di saat Abra dan Embun berselisih, Clara dan Fahmi tengah berdebat akan sesuatu yang tidak pasti.


"Fahmi, kenapa Abra malah masuk? Ini sudah siang, kita harus berangkat sekarang!" ujar Clara, Fahmi mengangkat kedua bahunya pelan.


"Kita tunggu sebentar lagi!" sahut Fahmi santai.


"Kita sudah terlambat!" ujar Clara sinis, Fahmi diam tak peduli akan perkataan Clara. Nur yang merasa tidak ada hubungan dengan Clara dan Fahmi. Langsung pamit keluar, dia harus segera berangkat.


"Nur, hati-hati!" ujar Fahmi ramah, Nur menoleh sembari mengangguk pelan.


"Siapa dia? Penampilannya sangat kampungan, tidak staylist!"


"Siapapun dia bukan hakmu menghinanya? Penampilannya yang tertutup, jauh lebih staylist dari penampilan seksimu. Dia jauh lebih terhormat darimu. Wanita yang menjaga kehormatannya dari pandangan laki-laki. Bak mutiara yang belum tersentuh tangan, berkilau dan murni. Sedangkan kamu, lihat penampilan seksi yang kamu anggap anggun. Berapa pasang mata laki-laki yang sudah menikmatinya? Tatapan lapar mereka, kamu anggap sebuah penghormatan. Sebuah pemikiran bodoh, sebab tubuhmu tak lagi murni!" ujar Fahmi sinis, Clara meradang tangannya mengepal.


"Jaga bicaramu Fahmi, aku sahabatmu. Demi membela dia, kamu berkata sekasar itu padaku!"


"Aku bukan membelanya, tapi aku kasihan padamu. Pandangan modernmu malah membuatmu terlihat bodoh!"

__ADS_1


"Fahmi, cukup kamu bicara. Dia hanya wanita biasa. Kenapa kamu membelanya daripada diriku?"


"Percuma aku bicara denganmu, kamu tidak akan pernah mengerti. Satu hal yang ingin aku tegaskan. Jika kamu marah, ketika penampilanmu dikritik. Lalu, bagaimana dengan Nur? Padahal dia tidak pernah mengeluh akan dirimu!" ujar Fahmi final, Clara langsung terdiam. Keduanya memilih menunggu Abra di teras.


"Nur, tunggu!" teriak Abra, ketika melihat Nur sudah bersiap pergi. Fahmi dan Clara langsung berdiri. Sedangkan Embun langsung melepaskan pelukan Abra.


"Ada apa kak Abra?"


"Bisakah kalau kamu meninjau lokasinya sekitar jam 1 siang!"


"Tentu saja bisa, besok juga tidak apa-apa? Aku akan di sini menjaga Embun!" ujar Nur, Abra menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak perlu, hari ini kamu bisa pergi. Namun setelah aku selesai meninjau proyekku!"


"Maksud kak Abra!"


"Aku akan ikut dengan kalian. Kita akan pergi bertiga, setelah aku selesai rapat!" ujar Abra tegas, Embun mendongak menatap Abra. Tatapan tak percaya, sekaligus terkejut yang diliputi rasa bahagia.


Cup


"Iya sayang, aku akan pergi denganmu dan Nur. Aku akan menjadi sopir, sekaligus pengawal pribadimu!" ujar Abra, tepat sesaat setelah mengecup lembut bibir Embun. Tatapan Embun begitu menggoda Abra, sehingga tanpa sadar Abra bersikap hangat di depan mata para jomblo sejati.


"Tidak bisa Abra, mobil sudah penuh!" sahut Clara, Embun langsung menunduk.


"Aku akan membawa mobil lain, kalian pakai saja mobilku!"


"Tapi!" sahut Clara, Fahmi langsung menarik tangan Clara. Membawanya masuk ke dalam mobil Abra.


"Abra, kita bertemu di lokasi proyek. Hati-hati mengemudi, jaga Embun dan calon keponakanku dengan baik-baik!" teriak Fahmi, Abra mengacungkan jempol. Fahmi langsung masuk ke dalam mobil. Fahmi yang akan mengemudi mobil Abra dan Clara duduk tepat di samping Fahmi. Menahan kesal dan marah yang tiba-tiba membuncah di dalam hatinya.


"Sayang!" ujar Abra, sembari mengangkat dagu Embun pelan.


"Jangan pernah menundukkan kepalamu di depan Clara atau siapapun? Abra hanya milikmu, tidak ada yang berhak merebut hakmu. Kamu segalanya dalam hidupku. Tangismu tidak sepantasnya jatuh, hanya karena wanita seperti Clara!" ujar Abra lirih, Embun mengangguk pelan.


"Permisi, tuan dan nyonya yang terhormat. Jika boleh, aku izin tidak ikut!"


"Kenapa?" sahut Embun, Nur tersenyum simpul.


"Jiwaku merana melihat kehangatan kalian. Jadi daripada nanti tersiksa, lebih baik aku tidak ikut!"


"Tenang Nur, Ibra ada dalam tim. Jadi kamu bisa bertemu dengannya!" ujar Abra lantang, Nur mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa harus Ibra?" ujar Nur kesal.


"Sebab dia calon imammu, tulang rusukmu yang membuatnya kuat. Sampai dia bersedia berangkat ke luar kota tengah malam!" ujar Abra menggoda, Nur diam membisu. Raut wajahnya memerah, Embun tersenyum lalu mengajak Nur masuk ke dalam mobil.


"Kak, aku duduk di belakang bersama Nur!"


"Iya sayang, apapun yang kamu inginkan!" ujar Abra dengan raut wajah bahagia.

__ADS_1


"Terima kasih kak, bersedia mengerti sakit dan cemburuku. Abah tidak salah menjodohkan kita. Kakak imam yang mampu menengahi watak kerasku. Terima kasih, selalu tenang menghadapi amarahku. Aku menyayangimu, wahai calon ayah dari putraku!" batin Embun, sembari menatap Abra dari kaca spion mobil.


__ADS_2