
"Assalammualaikum!" sapa Haykal lirih, Embun mendongak ke arah pintu. Tepat ketika dia mendengar, ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Waalaikumsalam!" sahut Embun, Nampak Haykal berdiri di depan ruangan Embun.
Embun menghampiri Haykal, sesaat setelah meminta Haykal masuk. Haykal duduk di sofa panjang ruang kerja Embun. Sebuah perusahaan kecil yang didirikan Embun. Bukan ingin sukses dengan kemampuannya sendiri. Embun sengaja mendirikan perusahaan, demi mempertahankan sisa puing-puing kehancuran perusahaan keluarganya. Embun hanya ingin menunjukkan pada Hanif. Jika tidak mudah mempertahankan sesuatu. Termasuk ketenaran dan nama besar perusahaan Adijaya.
Haykal datang menemui Embun di kantornya. Entah dengan alasan apa? Namun satu hal yang pasti, Embun merasa ada sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang mungkin membuat Embun terkejut dan tak percaya. Embun menatap penuh rasa heran. Haykal menunduk, ada rasa malu yang ditutupinya. Asisten Haykal dan pengawalnya, sengaja menunggu di luar ruangan Embun.
"Ada apa Haykal? Tidak biasanya kamu datang menemui mama. Pasti ada sesuatu yang sangat penting. Sampai-sampai seorang CEO besar datang ke perusahaan kecil ini!" ujar Embun lirih, nada Embun menggoda tapi serius.
"Mama, kenapa bicara seperti itu?"
"Bukankah perkataan mama benar. Kamu CEO perusahaan besar. Jika tidak ada hal yang sangat penting. Mama yakin, kamu tidak akan datang ke perusahaan mama!"
"Sudahlah ma, aku tidak punya apa-apa? Buktinya Kanaya putrimu tak pernah menganggap aku orang kaya. Sekalipun Kanaya tak pernah bertanya tentang semua ini. Jadi tidak ada alasan, aku bangga dengan semua ini!"
"Jelas Kanaya tidak bertanya, kamu juga tidak pernah mengatakannya. Kalian berdua sama dalam hal materi. Tak pernah menganggap, materi itu penting!" ujar Embun, Haykal mengangguk pelan.
"Kanaya yang mengajarkanku semua ini. Dia yang membuatku seperti ini. Nama besar, harta dan kesuksesanku. Tidak akan berarti apa-apa? Jika Kanaya tak pernah menganggapnya ada!" ujar Haykal lirih, Embub tersenyum simpul. Dia melihat betapa besar Haykal menyayangi Kanaya. Alasan yang membuat Embun sanggup menolak lamaran Umi Halimah.
"Baiklah, kita akhiri basa-basinya. Sekarang katakan padaku, apa alasan kedatanganmu? Tidak mungkin kamu datang tanpa alasan. Kamu sangat sibuk, jadwalmu sangat padat. Katakan apapun yang ingin kamu sampaikan. Mama tidak akan kaget atau marah. Selama itu, bukan sesuatu yang akan menghancurkan hidup seseorang!" ujar Embun lirih, Haykal diam membisu. Sejenak Haykal merasa bersalah. Kedatangannya justru membawa kabar kehancuran orang lain.
"Mama, maafkan Haykal. Jika kedatangan Haykal membawa kabar yang tidak baik. Haykal tidak bisa menyimpan rahasia sebesar ini dari mama. Hanya dengan restu mama, Haykal akan menerima kerja sama ini!" ujar Haykal, Embun menatap Haykal lekat. Rasa penasaran Embun berganti dengan rasa haru. Kala mendengar rasa hormat Haykal yang begitu besar padanya.
Haykal memberikan sebuah berkas kepada Embun. Sebuah berkas yang mungkin melukai Embun atau mungkin isi dari berkas itu telah Embun sadari. Apapun kenyataannya yang tersimpan dalam berkas bersampul biru? Haykal sudah pasrah akan reaksi Embun.
__ADS_1
"Kapan perjanjian ini dibuat? Apa dia mengetahui statusmu sebagai menantuku?" ujar Embun lirih, Haykal mendongak terkejut. Dia tak percaya mendengar ketenangan dalam perkataan Embun. Seakan yang terjadi bukan hal yang besar dan patut dirisaukan.
"Mama tidak marah atau kecewa!"
"Aku mungkin kecewa, tapi tidak ada alasanku marah dengan semua ini. Kamu seorang pembisnis dan Hanif pemilik perusahaan Adijaya. Rasa kecewaku takkan merubah apapun? Hanif berhak melakukan semua ini. Mama tidak memiliki kewenangan apapun? Hanya satu hal yang membuat mama menyesal. Mama tidak bisa menyadarkan Hanif, sebelum semua ini terjadi!"
"Mama, tawaran tuan Hanif belum sepenuhnya aku setuju. Banyak hal yang membuat kerjasama ini tak mudah dijalin. Mengingat perusahaan Adijaya yang tak lagi hebat dan di ambang kehancuran. Namun aku bisa mengiyakan tawaran ini. Seandainya mama setuju dengan tawaran tuan Hanif!"
"Kenapa harus atas persetujuan mama? Kamu pembisnis hebat, tidak ada hak mama ikut campur!"
"Mama berhak, karena semua yang aku lakukan. Hanya akan mendapat sukses dengan ridho dan doa mama. Jika mama mengiyakan kerjasama ini. Aku akan menghubungi beliau, untuk menandatangani kontrak kerja!"
"Haykal!" panggil Embun, Haykal mendongak ke arah Embun.
"Haykal, tandatangani kerjasama itu. Jadikan perusahaan Adijaya menjadi milikmu. Kembalikan nama besar Adijaya, tapi jangan pernah kamu hancurkan hidup Hanif adikku. Mama berharap, kerjasama diantara kalian. Membuatnya tersadar, dia takkan pernah bisa sukses. Selama hati dan jiwanya menyimpan dendam pada kedua orang tuanya. Sadarkan dia dengan mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Tunjukkan pada dia, dunia ini kejam dan akan semakin kejam pada orang tak berhati sepertinya!" tutur Embun lirih, sekilas terlihat Embun menyeka air matanya. Embun menangis, bukan karena kehilangan perusahaan Adijaya. Melainkan dia menangis, mendengar kehancuran perusahaan Adijaya di tangan adiknya sendiri.
"Mama, sejujurnya aku tidak ingin mengambil alih perusahaan Adijaya. Sebab perusahaan itu milik keluarga besar mama. Aku datang dengan harapan, mama yang mengambil alih perusahaan Adijaya. Aku akan membeli saham perusahaan Adijaya dan mengatasnamakannya dengan nama mama!" tutur Haykal lirih, Embun menggeleng lemah.
"Jangan lakukan itu, persaudaraanku dengan Hanif terputus karena perusahaan itu. Aku tidak ingin melihat, hubungan darah ayah dan anak terputus untuk kedua kalinya. Hanif akan semakin marah dan membenciku. Kala dia mengetahui, perusahaan Adijaya jatuh ke tanganku!"
"Bukankah tujuan mama membangun perusahaan ini, untuk menghancurkan tuan Hanif!" ujar Haykal, Embun menunduk. Sekali lagi, tetes air mata jatuh tepat di pelupuk matanya. Embun menyeka air mata yang seolah terus ingin menetes. Memaksa turun menyapa hati Embun yang terluka.
"Dia adikku kandungku. Darah yang mengalir dalam nadinya, darah yang mengalir dalam nadiku. Kasih sayang abah Iman yang mengiringi langkah kecil kami. Hanya waktu yang membedakan dia dan diriku. Sampai kapanpun Hanif adikku? Takkan sanggup aku menyakitinya. Jangankan menghancurkannya, melihat lukanya saja aku tak sanggup. Kerasku kalah oleh kasih sayangku. Aku tak mampu melawan dia, Hanif tetap adik yang harus aku jaga. Perusahaan ini, aku bangun dari puing-puing kehancuran perusahaan Adijaya. Bukan untukku, tapi demi Hanif!"
"Mama sangat menyayanginya!"
__ADS_1
"Takkan pernah ada seorang kakak membenci adiknya. Sampai kapanpun saudara akan tetap saudara? Sekejam atau sejahat apapun dia, sebab kami berdua lahir dari darah yang sama. Kebencian Hanif padaku, takkan merubah status dirinya. Selama dia adikku!"
"Apa pendapat papa?"
"Kak Abra tidak pernah melarang niatku. Sampai detik ini, dia satu-satunya orang yang mendukungku. Suami yang terus memahami keras kepalaku. Dia tak pernah menyalahkan atau sekadar bertanya. Hanya kepercayaan yang terus diberikannya padaku!"
"Papa dan mama membuatku iri, aku berharap hubunganku dengan Kanaya langgeng. Kecuali!" ujar Haykal terhenti, Haykal menunduk menatap lantai ruangan Embun.
"Kenapa?" sahut Embun heran.
"Bukan masalah besar, lebih baik aku kembali ke kantor!" pamit Haykal, Embun mengangguk mengiyakan. Haykal berjalan keluar dari ruangan Embun. Membawa rasa penasaran yang mengganjal.
"Haykal!" panggil Embun, Haykal menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah pintu ruangan Embun.
"Iya mama!" sahut Haykal lirih.
"Mama sudah menolak lamaran Umi Halimah untuk Kanaya. Mama sudah mengatakan pada Rizal akan status Kanaya. Sejak awal, Rizal tidak pernah serius pada Kanaya. Hubungan baik antara aku dan Rizal yang membuatnya menganggap Kanaya layaknya adik. Jangan pernah lemah hanya, karena satu lamaran. Hubungan kalian masih sangat jauh, jadi berpikir dewasa. Jangan mengikuti napsu sesaat. Keputusan besar antara kamu dan Kanaya, membutuhkan pertanggujawaban yang besar. Bukan hanya mental yang kalian butuhkan, tapi hati yang besar. Agar mampu menerima tekanan akan pernikahan dini kalian berdua!"
"Mama!"
"Kanaya berada di pesantren, agar dia kembali menjadi seorang istri yang sempurna untukmu. Sejujurnya mama tidak ingin menikahkan kalian. Apalagi pernikahan secara agama, sebab Kanaya yang akan terluka bila terjadi sesuatu pada hubungan ini. Seorang wanita akan menjadi yang salah, ketika dia menerima pengkhianatan. Namun di balik semua resiko yang mungkin terjadi. Ada satu kepercayaan yang kamu buktikan selama setahun ke belakang. Mama berharap, kamu percaya semua akan baik-baik saja!" tutur Embun, Haykal mengangguk pelan.
"Terima kasih ma!"
"Ingatlah Haykal, mama dan papa menutup mata akan keraguan orang lain tentang pernikahan kalian. Namun mama tidak akan menutup mata, saat tanganmu mulai terangkat pada Kanaya. Tangan yang tulus menyerahkan Kanaya padamu. Jangan sampai meminta Kanaya kembali!" ujar Embun dingin.
__ADS_1