KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
BUlan Purnama


__ADS_3

Malam semakin larut, terdengar suara hewan malam saling bersahutan. Tak ada keramaian, suasana desa terasa sunyi. Bulan bersinar begitu terang. Maklum, malam ini tepat malam bulan purnama. Satu malam diantara tiga puluh malam yang terlihat begitu indah. Menampakkan keagungan sang pencipta. Kesempurnaan alam yang tercipta, untuk makhluk bumi.


"Belum tidur!" Sapa Abra, Embun menggeleng tanpa menoleh.


Embun terus menatap indah malam bulan purnama. Sengaja Embun berdiri di balkon lantai dua rumahnya. Embun merasa tenang, jika melihat bulan purnama. Kebahagian sederhana dalam hidup Embun. Bahagia yang tak bisa dinilai dengan harta. Atau terbayar dengan kemewahan. Abra baru saja naik ke lantai dua. Setelah hampir dua jam lebih dia berbicara dengan Abah Iman. Abra memutuskan menginap, setelah kejadian sore tadi. Dia tidak ingin kehilangan waktu bersama Embun. Apalagi setelah malam ini, Abra harus menunggu selama seminggu untuk bisa bertemu Embun.


Seminggu lagi Abra dan Embun akan menikah. Sebuah pernikahan yang sangat diinginkan semua wanita. Namun biasa bagi Embun, sebab pernikahan sesungguhnya sudah terjadi hampir dua bulan yang lalu. Abra sengaja datang, untuk membicarakan persiapan pernikahan. Namun sesuai permintaan Embun, pernikahan hanya akan diadakan secara sederhana. Tanpa pesta mewah yang berlebihan. Bahkan untuk mahar, Embun sepenuhnya pasrah akan pemberian Abra. Hanya saja Embun berharap, Abra bertanya pada Abah Iman. Apa mahar yang diinginkan beliau untuk putrinya? Sejatinya penebusan Abra bukan pada Embun. Melainkan Abah Iman, orang tua yang telah membesarkan Embun. Ayah yang dengan kedua tangannya akan menyerahkan Embun pada Abra. Mahar bagi Embun, bukan sesuatu yang penting. Restu dan ridho sang ayah yang Embun harapkan.


"Sedang apa?" Ujar Abra tepat di samping Embun. Namun lagi dan lagi Abra menerima diam dan dingin Embun.


"Kenapa lagi dia?" Batin Abra heran.


"Lihatlah, bulan itu cantik!" Ujar Embun tiba-tiba. Abra langsung mendongak, menatap Embun lekat. Suara merdu Embun, terasa bak angin dalam gerah dan gusar hatinya. Abra merasa bingung, ketika menghadapi Embun yang penuh dengan misteri.


"Secantik Embunku!" Ujar Abra, Embun diam membisu. Pujian Abra tak mampu menghangatkan dingin Embun. Entah apa yang tengah dipikirkan Embun? Abra hanya bisa menunggu sampai Embun mengatakan padanya.


"Abra!" Sapa Embun lirih, Abra langsung menoleh.


Abra yang tengah sibuk dengan ponselnya. Langsung mematikan ponsel, Abra tidak ingin melihat amarah Embun. Entah sikap Abra benar atau tidak dengan terus mengalah pada Embun? Satu hal yang pasti, Abra merasa tenang dan bahagia, ketika berada di samping Embun.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Abra, mungkinkah aku masih bisa melihat bulan di rumah megahmu? Ataukah bulan malu bersinar, sebab kalah oleh cahaya kota yang begitu terang!"


"Embun!" Ujar Abra lirih, seakan dia mengerti kegelisahan Embun. Ketakutan Embun tinggal di tempat asing. Tersirat jelas dalam perkataan lirih Embun.


Abra langsung menggenggam erat tangan Embun yang berpegangan pada teralis balkon. Abra berharap Embun bersedia menyandarkan kegelisahan hati pada cintanya. Percaya sepenuhnya pada Abra, jika semua akan baik-baik saja. Selama keduanya satu, berpegangan dalam melangkah. Melawan penolakan keluarga besar Abra. Mengukir kisah indah yang belum tertulis.


"Malam ini mungkin bulan purnama terakhir yang aku lihat. Seminggu lagi aku akan pergi ke rumahmu. Jauh dari desa tempatku dibesarkan. Meninggalkan abah seorang diri. Mengabdikan diri pada imam pilihan abah. Berbakti pada orang tua yang tak pernah menerimaku. Jangankan menerimaku, melihat atau mengenal namaku. Mereka tidak akan sudi!" Tutur Embun dingin, Abra menunduk penuh rasa malu.


Abra malu akan sikap kedua orang tuanya. Abra merasa sakit, saat Embun mengatakan semua rasa sakitnya. Abra benar-benar tidak mengerti, kenapa keluarganya begitu angkuh? Meski berulang kali Abra mengatakan. Jika Embun satu-satunya wanita yang membuatnya sempurna. Sejujurnya Abra tak pernah peduli akan pendapat orang lain. Selama dia dan Embun masih terus bersama. Namun suara hati Embun, terasa menyayat hatinya. Keraguan Embun membuatnya takut kehilangan. Bukan kehilangan keluarga, melainkan Embun penyempurna hidupnya.


"Jangan pedulikan mereka. Aku ada bersamamu. Selama aku hidup, mereka takkan mampu menyakitimu. Percayalah Embun, tidak perlu mereka menerimamu. Cukup aku yang ada di sampingmu!"


"Kita tidak akan tinggal di rumah keluarga Abimata. Aku sedang mencari rumah yang layak untuk kita. Hanya kita berdua, tidak akan ada orang lain!" Sahut Abra meyakinkan, Embun tersenyum geli. Abra merasa Embun belum sepenuhnya percaya akan janji dan perkataannya. Senyum geli Embun, seakan mengutarakan rasa tak percaya yang begitu besar padanya.


"Aku bodoh Abra!" Ujar Embun dengan diiringi tawa. Sebuah tawa yang seolah ingin menertawakan pilihannya.


"Maksudmu!"

__ADS_1


"Aku bodoh telah melupakan siapa suamiku? Aku lupa, jika kamu seorang CEO yang mampu mengubah dunia sesuka hatimu. Bahkan dengan mudah kamu melupakan hubungan lama, demi hubungan baru denganku!"


"Embun kamu salah paham!"


"Abra, aku datang ke dalam rumahmu bukan sebagai penghancur. Aku datang sebagai menantu keluargamu. Aku putri yang akan menjaga dan merawat keluargamu. Jangan pernah jadikan aku alasan permusuhan dalam keluargamu!"


"Embun tersakiti, tapi kenapa dia keras kepala ingin merawat keluargaku? Apa yang sebenanrnya dia inginkan? Kenapa begitu sulit aku memahaminya?" Batin Abra bingung.


"Embun, katakan apa yang kamu inginkan?" Ujar Abra memelas, Embun menggelengkan kepalanya pelan. Embun sendiri merasa sulit mengerti dirinya. Lalu, bagaimana dia mengatakan isi hatinya pada Abra?


"Sudahlah, tidak perlu dibahas. Pernikahan sudah di depan mata. Tidak ada jalan kita mundur. Pertemuan diantara kita sudah tertulis, pernikahan kita sudah terencana. Hanya masa depan kita yang belum terlewati. Apapun yang aku katakan tadi? Lupakan dan jangan pernah kamu simpan di hati. Jangan pernah meragukan kesucianku. Aku yakinkan padamu, sekali kamu merenggut suci hatiku. Selamanya bening cintaku hanya untukmu!" Ujar Embun sembari berjalan melewati Abra. Dengan langkah pelan, Embun berjalan menuju kamarnya. Meninggalkan Abra yang terdiam membisu. Otak dan hatinya tidak mampu mencerna perkataan Embun.


"Sayang!" Panggil Abra, Embun menghentikan langkahnya. Dia menoleh ke arah Abra yang tengah tertunduk. Abra mengalihkan pandangannya dari indah bulan purnama. Abra terlalu malu, untuk mengagumi kecantikan bulan.


"Seminggu lagi, kamu akan resmi menjadi milikku seutuhnya. Jika mungkin, kamu wanita yang kelak melahirkan putra-putraku. Demi hubungan yang akan kita jalani. Bersediakah kamu menjawab satu pertanyaan yang selama ini mengganjal pikiranku!" Ujar Abra, Embun mengangguk pelan.


"Katakan!" Sahut Embun dingin, sesaat setelah anggukan kepalanya.


"Siapa Ibrahim Dwi Abimata dalam hidupmu?"

__ADS_1


Duaaaaarrrr


"Kenapa dia menanyakan hal itu?" Batin Embun.


__ADS_2