KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Salah paham


__ADS_3

"Kak Abra!"


Braakkk


Teriak Naura bersamaan dengan suara pintu ruangan Abra yang terbuka. Abra langsung mendongak, menatap penuh kesal ke arah Naura. Sebaliknya Naura terlihat marah, seolah sikap tak sopannya benar dilakukan. Sesaat setelah masuk ke dalam ruangan Abra. Naura langsung menghampiri Abra, dia berdiri tepat di depan Abra. Tatapan Naura tajam, mengunci wajah Abra kakak yang sangat disayanginya.


"Jaga sikapmu Naura, ini kantor bukan pasar!" ujar Abra marah, Naura terus menatap Abra tajam. Naura tidak peduli dengan amarah Abra. Entah kenapa Naura datang ke kantor? Satu hal yang pasti, Naura datang dengan amarah yang meledak-ledak.


"Kakak yang harus menjaga sikap, kenapa kakak begitu membenciku? Sampai kakak memblokir semua kartu kreditku. Kakak menghukumku tanpa alasan!"


"Tunggu Naura, kakak tidak mengerti perkataanmu. Bukankah kakak sudah mengembalikan satu kartu kreditmu. Kakak tidak pernah memblokir lagi kartu kreditmu!"


"Lantas, kenapa aku tidak bisa menggunakannya lagi? Aku malu pada teman-temanku, saat aku tidak bisa mentraktir mereka!" ujar Naura marah, Abra mengangkat kedua bahunya pelan.


"Kakak tidak tahu, mungkin kartu kreditmu sudah melebihi batas. Ingat Naura, kakak sudah mengatakan padamu. Kartu kreditmu memiliki batas penggunaan. Sebab kartu itu hanya untuk kebutuhan penting dan bukan untuk memenuhi gaya hidup mewahmu!"


"Tapi, aku adik seorang Abra Achmad Abimata. CEO perusahaan besar dan sukses. Aku harus menjaga nama baik kakak dengan berpenampilan mewah!" sahut Naura, Abra diam tidak peduli akan perkataan Naura.


"Itu urusanmu Naura, kakak tidak peduli itu. Silahkan lakukan apapun? Kakak sudah memenuhi tanggungjawab sebagai seorang kakak!" ujar Abra, Naura mengerucutkan bibirnya. Dia merasa kesal mendengar perkataan Abra.


"Tapi kak, aku butuh lebih dari ini. Aku masih sangat muda, banyak yang ingin aku beli!"


"Kenapa kamu tidak minta pada papa? Biasanya papa memenuhi permintaanmu tanpa banyak bicara!"


"Papa sedang kesulitan keuangan, dia tidak seperti dulu!" ujar Naura lirih, Abra mendongak dengan tatapan terkejut.


Abra tak pernah bertanya akan masalah finasial Haykal. Sejak dulu, ada batasan yang tak kasat mata diantara Abra dan Haykal. Memang semua kebutuhan keluarga Abimata menjadi tanggungjawab Abra. Namun Abra tidak pernah ikut campur urusan finansial Haykal. Entah keuangan dalam keluarga atau keuangan kantor? Abra hanya memantau dan memastikan keuangan Haykal baik-baik saja. Sebab itu dia terkejut, mendengar Haykal kesulitan masalah finansial.


"Apa yang terjadi pada papa? Kenapa dia bisa kesulitan keuangan?"


"Salah satu proyek papa mengalami kerugian. Papa harus membayar pinalti atas kerugian itu. Beberapa hari ini, papa tidak bisa tidur. Sering aku melihat papa duduk melamun di tengah gelap malam!"


"Kenapa tidak ada yang mengatakan padaku?"

__ADS_1


"Mama melarangku mengatakannya pada kakak. Menurut mama, papa harus bisa menyelesaikannya sendiri. Satu hal yang kakak harus tahu. Mama sudah menjual beberapa perhiasannya, untuk membantu menutupi kerugian papa!" ujar Naura lirih, Abra termenung mendengar kenyataan yang menimpa Haykal.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Perusahaan papa baik-baik saja. Apa papa Arya terlibat dalam masalah ini?" ujar Abra, Naura menggelengkan kepalanya lemah.


Abra teringat akan perkataan Arya tempo hari. Ancaman yang akan membuat perhitungan dengan Haykal. Entah kenapa Abra bisa berpikir seperti itu? Namun dari semua lawan bisnis Haykal. Arya satu-satunya lawan tangguh yang mampu membuat Haykal hancur tanpa sisa. Kemampuan dan ketangguhan perusahaan Arya tidak bisa diragukan lagi. Walau masih di bawah perusahan Adijaya group.


"Mungkin saja kak, secara di ayah Embun. Sedikit banyak dia ingin membalas dendam pada papa!" sahut Naura sinis, Abra diam memikirkan yang sebenarnya sedang terjadi.


"Pulanglah Naura, aku akan mencari tahu. Jika memang papa Arya terlibat. Aku akan meminta penjelasan darinya!" ujar Abra tegas dan lantang, Naura mengangguk dengan semangat. Kini Naura bisa bernapas lega, ketika mendengar Abra bersedia membantu Haykal.


Namun tanpa sadar, tunduhan lantang Abra pada Arya. Terdengar oleh Embun yang sejak kedatangan Naura berdiri di depan pintu. Embun sengaja tidak masuk ke dalam ruangan Abra. Bukan berniat mencuri dengar pembicaraan Abra dan Naura. Embun hanya ingin memberikan waktu dan ruang lebih pada Abra dan Naura. Sekadar melepas rindu atau menghabiskan waktu berdua. Namun semua menjadi pilu, ketika Embun mendengar tuduhan Abra pada Arya ayah kandungnya.


"Tidak perlu kakak mencari tahu, biarkan aku yang menanyakan pada papa. Soal kerugian yang ditanggung tuan Haykal. Biarkan aku membantunya, ada sedikit uang di tabunganku. Meski tidak banyak, itu bisa menutup setengah kerugian tuan Haykal!" ujar Embun dingin, lalu memberikan selembar cek pada Abra.


Embun langsung menguras habis tabungan yang dimilikinya. Embun memberikan semuanya pada Abra. Entah kenapa ada rasa sakit di hati Embun? Mendengar tuduhan Abra pada Arya. Namun di balik rasa sakit itu, Embun menyadari satu hal. Jika Abra tidak salah, semua yang terjadi berawal dari status Embun. Jika memang Arya terlibat, semua itu demi kasih sayang Arya pada Embun. Sebaliknya jika tuduhan Abra tidak benar, Embun tidak pantas menyalahkan Abra. Sebab sebagai seorang anak, wajar Abra merasa terluka mendengar ayahnya tersakiti.


"Fantastis, darimana uang sebanyak ini? Pasti pemberian kak Abra, secara kamu tidak memiliki penghasilan sendiri. Sudah sepantasnya juga kamu memberikan semua tabunganmu. Sebab semua ini hasil jerih payah kakakku!" ujar Naura, sembari memegang cek yang diberikan Embun.


Abra langsung menghampiri Embun, tangannya menggenggam erat Embun. Berharap Embun menatapnya, membuang jauh pikiran buruk tentangnya. Abra tak dapat mengatakan apapun? Satu sikap dingin dan tegas Embun, seketika membuat jantungnya berhenti berdetak. Abra jelas melihat luka yang tersirat dari perkataan dan keputusan besar Embun. Abra tak menyangka, jika Embun mendengar semua perkataannya. Sebuah pemikiran keji yang jelas menyakiti Embun.


"Tenang saja Naura, itu murni keringatku. Sejak menikah dengan kakakmu, aku tidak pernah menggunakan tabunganku. Memang jumlahnya besar, tapi percayalah tak sepeserpun uang kakakmu ada di dalamnya. Jika memang kamu menginginkan uang yang diberikan kakakmu selama ini padaku. Tunggu besok pagi, aku akan mentransfernya ke padamu. Kamu kirim saja nomer rekening pribadimu!" ujar Embun tenang, Abra menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sedangkan Naura tertunduk malu, dia merasa malu mendengar bantahan Embun.


"Sayang cukup, kamu salah paham. Aku hanya menduga, bukan maksudku menuduh papa Arya. Jangan lakukan ini, kamu membuatku terluka. Kamu menghina harga diriku!"


"Maaf kak Abra, jika aku melukai harga dirimu. Namun sejak awal pernikahan kita. Tuan Haykal tidak pernah menganggap aku layak di sampingmu. Dia selalu merendahkanku, dia selalu mempertanyakan harga diriku. Menghina jati diriku, meragukan kesucianku. Namun pernahkan sekali saja, kakak mendengar dari mulutku. Sebuah keraguan atau dugaan hina akan sikap tuan Haykal!" ujar Embun dengan mata berkaca, Naura mundur beberapa langkah. Dia sempat meletakkan cek yang diberikan Embun di atas meja kerja Abra.


"Sayang, aku mohon maafkan aku!"


"Tidak perlu meminta maaf, kakak tidak salah. Apapun tuduhan kakak atau prasangka kakak pada papa Arya? Itu semua benar, malah wajib kakak melakukannya. Tuan Haykal ayah yang membesarkanmu, dia orang tua yang harus kakak lindungi dan jaga. Sama halnya aku yang merasa sakit. Ketika mendengar keraguan kakak akan papa Arya!"


"Sayang, dengarkan penjelasanku. Tidak semua yang kamu dengar itu benar. Adakalanya kamu salah menafsirkan!"


"Mungkin aku salah, tapi sakit yang aku rasakan nyata!" ujar Embun tegas, lalu membalikkan badan berjalan keluar dari ruang kerja Abra.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon dengarkan penjelasanku!"


"Kak Abra, jangan pernah tanyakan apapun pada papa Arya. Aku tidak ingin dia marah dan akhirnya membencimu. Biarkan aku yang merasakan sakit ini. Papa Arya ayah kandungku, sudah sepantasnya aku menjaga perasaannya. Itupun dengan izin dan ridhomu. Satu hal lagi, jangan pernah salah mengartikan sikapku. Aku memberikan semua penghasilanku, bukan untuk menghina harga dirimu atau membuktikan aku mampu tanpamu. Sebaliknya semua yang aku lakukan , karena aku tidak akan bisa memilih antara kamu dan papa Arya. Jadi sebelum aku diharuskan memilih, lebih baik aku yang memilih jalan terbaik!"


"Embun cukup, aku sudah berusaha menjelaskan padamu. Sejak dulu, kamu selalu keras kepala. Kamu hanya memikirkan pendapatmu. Tidak pernah kamu peduli dengan pemikiranku. Aku mengaku salah, telah berpikir buruk tentang papa Arya. Namun percayalah, aku tidak berniat menuduh papa Arya. Beri aku kesempatan menjelaskan!"


"Aku memang keras kepala, sebagai seorang istri mungkin aku durhaka. Maafkan aku, jika akhirnya kakak terpaksa menikah denganku!" ujar Embun lirih, Abra mengusap wajahnya kasar. Abra gusar mendengar salah paham yang terus terjadi.


"Sayang, bukan itu maksudku?"


"Kak Abra, tak perlu ada perdebatan lagi. Aku mohon akhiri masalah ini sekarang. Jangan sampai papa Arya atau tuan Haykal mendengarnya. Akan ada kesalahpahaman yang semakin besar. Jika memang kakak tidak ingin menerima bantuanku. Setidaknya anggap itu sebagai kasih sayangku pada orang tuamu. Sebab merekalah yang telah membesarkanmu, sehingga aku bisa menikah dengan laki-laki hebat sepertimu!"


"Haruskah kamu sekeras ini?" ujar Abra lirih, Embun menatap nanar Abra.


"Sekali lagi aku meminta maaf!" ujar Embun, Abra diam menatap Embun yang tengah tersakiti.


"Embun, kita makan dimana?" ujar Arya lantang, Embun langsung menyeka air mata yang bersiap meluncur tanpa permisi. Arya tidak melihat perselisihan yang baru saja terjadi. Bahkan Arya tidak melihat air mata Embun. Sejak masuk ke dalam ruangan Abra, Arya fokus pada ponselnya.


"Kita makan di cafe bawah saja. Kak Abra sedang sibuk, kalau mencari makanan siang di luar takut mengganggu waktu kak Abra!" sahut Embun, lalu menoleh ke arah Abra. Berharap Abra melupakan kejadian yang baru saja terjadi.


"Baiklah, papa mengerti. Sebentar papa akan menghubungi Iman. Dia akan datang bersama Afifah. Jadi kita bisa menunggu mereka di cafe!"


"Papa Arya, kita makan di luar saja. Aku bisa meluangkan waktu!" ujar Abra, Arya menoleh ke arah Embun. Seutas senyum menjadi jawaban dari keraguan Arya.


"Naura, ikutlah dengan kami. Ibra mungkin juga akan ikut. Bukankah kedatanganmu untuk makan siang bersama kak Abra dan Ibra!" ujar Embun ramah, Naura menoleh ke arah Abra.


"Aku!"


"Ikutlah Naura, kalian bertiga bisa makan di meja terpisah. Sebab di meja kami, nanti hanya ada orang tua yang galau!" ujar Arya, Naura langsung mengangguk pelan.


"Kita pergi sekarang!" ujar Arya antusias, Embun mengangguk pelan.


"Sayang!" ujar Abra, sembari menahan tangan Embun.

__ADS_1


"Kita bicara di rumah!" sahut Embun dingin, seraya menepis tangan Abra.


__ADS_2