KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Cafe Resort


__ADS_3

"Abra, sarapan bersama kami!" teriak Daniel, sahabat Abra. Abra menoleh ke arah Embun, tak nampak senyum di wajah Embun. Sejak semalam, baru pagi ini mereka keluar bersama. Sekadar sarapan pagi, sebelum Embun pulang.


"Aku sarapan bersama istriku, kalian silahkan lanjutkan tanpaku!" sahut Abra lirih, Daniel berjalan menghampiri Abra dan Embun.


Daniel berdiri tepat di depan Abra, lalu dia menepuk pelan pundak Abra. Seolah meminta Abra duduk sarapan bersamanya. Namun gelengan kepala Abra. Seakan menjawab permintaan Daniel. Abra menolak dengan tegas ajakan Daniel. Abra hanya ingin memperbaiki hubungannya dengan Embun. Abra tidak lagi peduli dengan persahabatannya. Tak terkecuali persahabatannya dengan Clara.


"Ayolah Abra, kita bertemu tidak setiap hari. Aku yakin, istrimu akan memahaminya. Dia tidak akan kelaparan. Jika dia tidak sarapan denganmu sekali!" ujar Daniel santai sembari tertawa. Abra langsung menepis tangan Daniel kasar. Abra marah mendengar Daniel mengejek Embun.


Embun mendongak menatap tajam Daniel, bukan marah mendengar hinaan Daniel akan dirinya. Hanya saja, Embun terkejut mendengar penilaian Daniel akan sosok seorang istri. Seutas senyum nampak di bibir Embun. Sebuah senyum yang menyimpan banyak makna. Abra semakin galau dengan sikap tak pantas Daniel. Namun ada alasan Abra, kenapa Abra hanya bisa menganggap biasa sikap Daniel? Sebab Daniel bukan hanya sahabat, dia tak lain investor terbesar dalam proyek yang dikerjakan Abra saat ini.


"Daniel, aku akan menemanimu nanti. Sekarang aku harus menemani Embun!" tolak Abra ramah, Daniel tertawa begitu keras.


Suara Daniel terdengar begitu nyaring di telinga Embun. Sebuah tawa yang seolah menghina sikap hangat Abra pada Embun. Abra menarik tangan Daniel, berharap Daniel menjauh dari Embun. Clara menghampiri Daniel, bukan menenangkan malam menambah keruh suasana. Clar bak menyiram bensin di atas api yang menyala.


"Daniel, Abra tidak akan menolak ajakanmu. Embun saja yang manja, memaksa Abra terus berada di sampingnya. Seorang istri yang tak pernah mendukung kesuksesan suaminya. Mungkin dia takut Abra sukses, sebab itu dia terus mengekang Abra dalam kata cintanya!"


"Clara, diam kamu. Sebelum aku menampar wajahmu!" ujar Abra emosi, sembari menarik tangan Clara. Menjauh dari hadapan Embun, Abra takut Clara bersikap nekat seperti semalam.


"Kenapa kamu marah pada Clara? Dia benar Abra, istrimu mengekang kebebasanmu. Kamu mulai kehilangan jati diri. Abra yang dulu tidak pernah takut pada wanita atau pandangan orang lain. Kamu laki-laki berkuasa, tidak ada yang bisa mengekangmu. Ingat Abra, seorang laki-laki itu kuat dan takkan lemah oleh satu wanita. Apalagi dia yang tak bisa mengenal dunia kita!"


"Cukup Daniel, dia istriku dan ini hidupku. Sejak awal pernikahan kami, tidak pernah ada kata mengekang atau dikekang. Pernikahan kami atasa dasar sebuah pengertian. Sesuatu yang tidak akan pernah bisa kalian pahami!" ujar Abra lantang, Daniel manatap Abra penuh amarah. Embun mulai lelah mendengar perdebatan yang tak perlu ada. Embun berjalan menuju meja, dia ingin segera keluar dari cafe resort. Agar bisa secepatnya pulang bersama Nura.


"Tunggu, kemana kamu akan pergi? Semua ini salahmu, kamu wanita tidak tahu diri. Wanita kampung yang selalu ingin merebut kebahagianku!" ujar Clara emosi, sembari menahan tangan Embun.


Embun meringis kesakitan, genggaman Clara terlalu kuat. Sampai-sampai Embun merasa aliran darahnya terhenti dan urat nadinya pecah. Embun meronta, Abra langsung menarik tangan Clara. Memintanya melepaskan tangan Embun. Namun Clara bak lupa sekelilingnya. Clara hanya ingin menyakiti Embun, sampai dia merasa puas mendengar rintihan Embun.


"Clara, lepaskan tangannya. Dia sedang hamil, jangan kotori tanganmu dengan menyakiti wanita hina ini. Biarkan Abra hanyut dalam rayuannya. Aku akan menyadarkan Abra dengan menarik semua investasiku. Agar Abra menyadari, istrinya alasan kehancuran kariernya!" ujar Daniel dengan sombongnya. Clara langsung melepaskan tangan Embun. Seketika Embun membungkuk, perutnya terasa kram. Tekanan pada pergelangan tangannya, membuat tubuhnya tegang dan akhirnya perut Embun kram.

__ADS_1


"Sayang, kamu baik-baik saja!" ujar Abra cemas, lalu menuntun Embun duduk di kursi terdekat. Namun Embun menolak, Embun berdiri kembali dan berjalan menghampiri Clara.


"Clara, aku tidak percaya kamu sangat membenciku. Meski kamu sendiri mengetahui, jika pernikahanku dengan kak Abra bukan sepenuhnya salahku. Aku mengenal kak Abra, setelah hubungan kalian berakhir. Bahkan pernikahan diantara kami terjadi karena sebuah perjodohan. Lantas, dimana alasanmu membenciku? Sampai kamu ingin menyakiti putraku yang bahkan belum lahir. Apalagi dia keponakanmu, dimana hati nuranimu sebagai seorang wanita?" tutur Embun lirih, Clara menatap tajam Embun.


"Jelas aku membencimu, kehadiranmu telah merebut semuanya dariku. Semua yang pernah menjadi milikku. Kini satu per satu kamu renggut, aku sangat membencimu!" ujar Clara lantang penuh emosi. Embun menggelengkan kepalanya perlahan. Embun tak menyangka, jika Clara sangat membencinya.


"Jujur Clara, seandainya aku bisa memilih. Aku tidak ingin ada dalam kehidupan kalian. Aku jauh lebih tenang dan bahagia, saat aku hidup menjadi wanita desa yang sederhana. Duniaku berubah, aku kehilangan jati diriku di depan kak Abra. Aku lemah tanpa bisa mempertahankan prinsip hidupku. Aku terbuai dalam kemewahan, yang setiap saat mampu menjauhkanku dari iman. Sungguh Clara, aku ingin kembali pada hidupku yang dulu!"


"Munafik!" ujar Clara emosi, Embun tersenyum simpul.


"Maafkan aku Clara, seandainya aku bisa mengubah rasa bencimu menjadi persaudaraan!"


"Aku akan memaafkanmu, jika kamu mengembalikan Abra!"


"Kamu kehilangan akal, apa hakmu mengatakan itu pada Embun?" ujar Abra emosi, Embun menunduk terdiam.


Plaaakkk


"Tutup mulutmu, sebelum aku menghancurkan hidupmu. Jangan sampai aku menutup mulutmu dengan caraku!" ujar Arya emosi, sesaat setelah memutar dan menampar Daniel. Clara langsung berjalan mundur, dia tak percaya melihat Arya ada di depannya.


"Tuan Arya!" ujar Daniel terkejut, sembari memegang pipinya.


"Papa!" ujar Abra dan Embun bersamaan.


"Om Arya, maafkan Clara!" ujar Clara menghiba, ketika Arya menatap Clara dengan tajam.


"Aku akan mengurusmu nanti!" ujar Arya kasar pada Clara. Embun menarik tangan Arya, meminta Arya menahan amarahnya.

__ADS_1


"Papa, lupakan yang terjadi. Aku tidak ingin ada keributan lagi!"


"Mereka harus diberi pelajaran!" ujar Arya kasar, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku mohon papa, jangan buat mereka semakin membenciku!" ujar Embun lirih.


"Tapi!" ujar Arya terputus, Embun menangkupkan kedua tangannya. Embun menghiba demi orang-orang yang tak menghargai dirinya. Arya mengusap wajahnya kasar. Dia kesal harus menahan amarahnya. Semua demi Embun yang terus memohon.


"Tuan Daniel yang terhormat, aku mungkin wanita desa yang hina dihadapmu. Namun apapun diriku saat ini. Jangan pernah anda mempertanyakan didikan orang tuaku. Jangan pernah meragukan ketulusan mereka selama membesarkanku. Seandainya aku seorang laki-laki, mungkin bukan tamparan papa Arya yang kamu terima. Melainkan tamparan dari tanganku sendiri. Sebagai seorang wanita, aku memiliki batasan yang tak bisa aku langgar. Satu hal lagi, tidak perlu tuan mengancam kak Abra. Sejujurnya, seandainya dia ingin seorang investor. Dia tidak perlu menghiba padamu. Aku mampu memberikan seluruh harta yang aku miliki. Namun suamiku tak sepicik itu, dia memenuhi tanggungjawab dengan kemampuannya. Bukan dengan ketampanan yang dia miliki. Seandainya, aku bukan seorang istri yang menghargai suami. Mungkin saat ini, aku akan meminta dia melepaskan proyek ini. Meski dia harus jatuh miskin dan hancur. Lagi dan lagi, aku seorang istri yang sangat menyayanginya. Aku harus menjaga kehormatan kak Abra, di atas luka dan harga diriku!" tutur Embun tegas dan dingin.


"Maaf!" ujar Daniel, Embun menggelengkan kepalanya pelan.


"Anda tidak pantas menghiba pada wanita kampung sepertiku!" ujar Embun final, lalu menoleh ke arah Abra.


"Kak Abra, jika boleh aku meminta. Jangan pernah menunduk di hadapan orang seperti Daniel. Dia hanya manusia biasa, hanya pada-NYA kakak pantas menunduk. Jangan pernah takut hancur, apalagi hanya karena orang seperti dia. Angkat kepalamu dan buktikan kakak mampu, tanpa dia ataupun statusku. Aku akan bangga mengatakan pada dunia, kamu suamiku meski tanpa harta. Asalkan kakak tidak pernah menunduk di depan orang seperti Daniel. Orang yang berpikir dia lebih segalanya dari orang lain!" tutur Embun, Abra diam menatap nanar Embun.


"Papa, kita sarapan di sana. Sebentar lagi Nur datang. Semalam dia sudah gelisah memikirkanku. Jangan sampai dia melihat kejadian ini!" ujar Embun, lalu melangkah sembari menggandeng tangan Arya dan Abra.


"Tuan Daniel, harta yang kamu banggakan. Dalam sekejam bisa hilang, karena sejatinya semua itu hanya titipan!" ujar Embun, sesaat setelah dia melangkah. Daniel terpaku mendengar perkataan Embun. Seolah perkataan Embun sesuatu yang nyata adanya.


"Om Arya, maafkan Clara!" ujar Clara lirih, Arya tak peduli ratapan Clara.


"Clara, dia putri tuan Arya. Kenapa kamu hanya diam saja? Aku pikir, dia wanita desa seperti yang kamu katakan. Sekarang aku hancur, tuan Arya pemegang 25% saham di perusahaanku!" ujar Daniel cemas, Clara hanya diam membisu.


"Dia bukan hanya putri om Arya. Dia cucu tunggal keluarga Adijaya!" ujar Clara lirih dan lemah.


"Kamu bercanda!" ujar Daniel tak percaya, sembari mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


__ADS_2