KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Halaman Belakang


__ADS_3

Hari semakin sore, seperti biasa di hari sebelumnya. Embun rutin membersihkan halaman depan rumahnya. Terkadang Embun membersihkan kebun di belakang rumahnya. Kebun kecil yang sengaja ditanami beberapa sayuran. Kebun yang membuat Embun lupa waktu. Apalagi saat Embun tak harus menunaikan kewajiban seorang muslim. Embun akan berada di kebun sampai petang menyapanya.


Layaknya sore ini, Embun sudah berada di kebun belakang rumahnya. Ada beberapa sayurang yang mulai bisa dipanen. Biasanya Embun membagikan kepada tetangga kanan dan kirinya, kala hasil panen melimpah. Embun hanya senang berkebun, sebab itu dia hanya mengambil sedikit dari hasil panennya. Pribadi Embun yang dermawan sudah diketahui hampir seluruh warga desa. Tidak heran mereka bersedih dan merasa kehilangan. Ketika mengetahui Embun akan menikah dengan Abra dan tinggal di kota.


"Embun!" Teriak Abah Iman, Embun yang berada tepat di tengah-tengah kebun. Langsung berdiri menoleh ke arah abah Iman. Nampak kedua tangan Embun penuh dengan tanah. Sedangkan tangan kanannya, memegang sebilah sabit.


"Ada apa Abah?" Sahut Embun lantang.


"Abra datang, dia ingin bicara denganmu!"


"Tapi!" Ujar Embun lirih, seolah kedatangan Abra tak pernah diharapkannya. Lebih tepatnya, Abra datang di waktu yang tidak tepat.


"Bersihkan dirimu, temui Abra dan jangan biarkan dia menunggu!" Titah Abah Iman, Embun mengendus kesal.


Embun menghentakkan kakinya ke tanah. Embun terlihat seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Pribadi yang tak pernah diperlihatkan Embun pada orang lain. Hanya di depan ayahnya Embun bersikap kekanak-kanakkan. Abah Iman hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sikap kekanak-kanakkan Embun, terkadang membuatnya tak percaya. Putrinya akan terus kesal, jika kesenangannya diganggu.


"Kenapa dia datang sore hari? Bukankah seharusnya dia di kantor. Malah datang mengganggu kesenanganku!" Gerutu Embun, sembari melangkah ke arah Abah Iman.


"Embun!" Ujar Abah Iman mengingatkan. Jelas abah Iman tidak suka melihat kekesalan Embun.


Embun terus mengerucutkan bibirnya, menunjukkan rasa kesalnya. Iman hanya bisa pasrah, melihat sikap Embun. Hanya dalam hati, Iman berharap Embun tidak memperlihatkan amarahnya di depan Abra. Namun sepertinya Embun akan terus dalam mode kesal. Melihat betapa Embun kesal, saat dia harus menghentikan kesenangannya.


"Kamu terlihat menggemaskan dengan bibir manyun itu!" Ujar Abra yang tiba-tiba sudah berada di depan Embun.


Abah Iman tersentak kaget, melihat Abra sudah berdiri di depan pintu yang mengarah ke halaman belakang. Sebab saat Iman berjalan memanggil Embun. Abra tengah berada di kamar mandi. Embun tak kalah terkejutnya, dia langsung tertunduk malu. Sebab Abra telah melihat sisi paling aneh dalam dirinya.


"Sejak kapan berdiri disitu?"


"Sejak aku mendengar kamu menghentakkan kaki ke tanah!" Sahut Abra santai, Embun langsung mendongak. Dia melihat senyum Abra yang seolah tengah menggodanya.


"Tidak sopan!" Sahut Embun dingin dan kesal. Abah Iman langsung pergi meninggalkan Embun dan Abra. Abah Iman tidak ingin mengganggu suami istri yang tengah menghabiskan waktu bersama.


Abra tersenyum simpul, pertama kalinya dia melihat sikap Embun yang berbeda. Abra tak menyangka, ada sosok anak kecil dibalik ketegasan dan kedewasaan Embun. Namun sikap Embun, tanpa sadar membuat Abra bahagia. Setidaknya, dalam diri Embun akan ada masa. Dimana Embun membutuhkan perlindungannya?


"Kenapa? Bukankah ini rumah istriku, artinya ini rumahku juga. Kenapa kamu harus marah? Saat aku melihat sisi lainmu. Sedangkan setiap lekuk tubuhmu, aku sudah pernah melihatnya. Bahkan semua telah aku miliki dan hanya aku yang berhak berada di sampingmu!" Ujar Abra menggoda Embun.


Embun langsung berjalan menjauh dari Abra. Dia melewati Abra tanpa banyak bicara. Kekesalannya seolah semakin menjadi. Embun marah demi menutupi rasa malunya. Namun Abra bisa bersikap dewasa, Abra seolah tidak peduli akan kekesalan Embun. Sebaliknya Abra mencoba menenangkan hati Embun. Berharap Embun bersedia memaafkan kesalahannya. Sebuah kesalahan yang jelas tak pernah dilakukan Abra.

__ADS_1


"Baiklah, aku minta maaf. Aku lancang sudah masuk ke dalam dapurmu!" Ujar Abra sembari memegang tangan Embun. Abra menghentikan langkah Embun. Abra tidak berharap akan ada salah paham diantara mereka. Apalagi hari pernikahan mereka sudah sangat dekat.


"Tidak perlu!" Sahut Embun dingin, Abra menggelengkan kepalanya. Lalu dengan sekuat tenaga, Abra menarik tubuh Embun. Mendekap erat tubuh mungil istri tercintanya. Wanita yang entah mulai kapan mengusik harinya?


"Lepaskan?" Teriak Embun meronta, Abra tak menggubris teriakkan Embun. Bahkan Abra mendekap Embun semakin erat. Abra meletakkan kepalanya tepat di pundak Embun. Mencium harum rambut Embun yang tertutup hijab.


"Maaf!" Bisik Abra, Embun terus meronta. Namun tenaganya tak sebanding dengan Abra. Semakin kuat Embun meronta, semakin erat dekapan Abra.


"Lepaskan, aku mohon!"


"Maafkan aku, setelah itu aku akan melepasmu!"


"Abra Achmad Abimata, lepaskan aku!" Teriak Embun kesal. Abra tersentak kaget, ketika teriakkan Embun memekik telinganya. Abra merasa takut, ketika menyadari amarah Embun yang sebenarnya.


"Sayang!" Ujar Abra lirih, lalu melepaskan dekapannya.


Abra langsung berjalan meninggalkan Embun. Dengan langkah sedikit lebar, Abra masuk ke dalam dapur. Abra berniat pulang, dia tidak ingin candaannya menjadi alasan pertengkaran mereka. Abra takut kehilangan Embun, Abra lebih rela mengalah. Agar tak ada perselisihan yang tidak penting.


"Maaf atas kelancanganku!" Ujar Abra tanpa menoleh.


Embun menunduk merasa bersalah. Apapun yang dilakukan Abra tidak salah. Abra memiliki hak atas diri Embun. Kewajiban Embun menerima seluruh keinginan Abra. Termasuk menyerahkan seluruh hidupnya pada imam pilihan abahnya. Embun benar-benar merasa bersalah. Dia tidak menyadari, sikap kerasnya telah menyakiti Abra. Laki-laki yang harus dia hormati.


"Ada apa?" Sahut Abra, lagi-lagi tanpa menoleh ke arah Embun.


"Aku memintamu melepaskanku, bukan karena aku marah akan sikapmu. Namun aku merasa malu dan tak layak. Kamu memelukku dalam kondisi kotor. Aku tidak ingin membuatmu merasa tidak nyaman dengan bau tubuhku. Kedua tanganku juga kotor. Aku mohon jangan salah paham, maafkan aku"


"Aku yang seharusnya meminta maaf. Kamu benar, aku terlalu lancang. Aku hanya memiliki tubuhmu, tapi tidak hati dan jiwamu. Seharusnya aku meminta izin darimu!"


"Abra!" Ujar Embun lirih.


"Aku pulang dulu!" Pamit Abra, Embun berlari mengejar Abra.


"Aku mohon, jangan pergi. Maafkan aku!" Ujar Embun, sembari memeluk Abra dari belakang. Sikap spontan yang tak pernah Embun bayangkan.


"Aku mohon, maafkan aku!" Ujar Embun sembari bersandar di punggung tegap Abra. Embun mencium harum tubuh Abra. Harum yang mampu menengkan hatinya.


"Embun, lepaskan pelukanmu sebelum aku khilaf!" Ujar Abra, Embun menggelengkan kepalanya. Gesekan kepala Embun, tanpa sadar mengusik hasrat Abra.

__ADS_1


"Embun!" Panggil Abra mesra, Embun menggelengkan kepalanya lagi.


Huuuffff


"Baiklah, aku memaafkanmu. Sekarang lepaskan pelukanmu. Satu menit kamu masih memelukku. Aku tidak bertanggungjawab, jika akan terjadi sesuatu!" Ujar Abra santai.


"Aku tidak takut, lagipula aku tengah datang bulan. Apa yang bisa kamu lakukan?" Sahut Embun, Abra menoleh ke arah Embun.


"Kamu menantangku!" Ujar Abra, Embun langsung melepaskan pelukannya. Dua mata elang Abra, mengunci dirinya. Tubuh Embun bergidik ngeri, saat melihat mata lapar Abra.


"Sudahlah, aku ingin membersihkan diri!" Ujar Embun, tapi langkahnya terhenti. Saat Abra menarik tangannya.


"Kenapa lagi?"


"Lebih baik kita ke kebun belakang. Aku ingin melihat istriku tersenyum. Aku bisa menunggu, tapi kesempatan membahagiamu tidak akan mudah aku dapatkan lagi!"


"Tidak!"


"Kenapa?" Sahut Abra, sembari mengeryitkan dahinya. Abra merasa aneh dengan penolakan Embun. Sebab keinginan Abra, semua demi kebahagian Embun.


"Abah tidak akan setuju!" Sahut Embun.


"Apa alasannya?"


"Kamu seorang CEO, tidak pantas memegang sabit. Bukan tanah dan cacing yang layak kamu pegang. Kertas dan bolpoint yang seharusnya kamu genggam!" Sahut Embun, Abra tersenyum mendengar jawaban tak masuk akal Embun. Lalu dengan santai, Abra menarik tangan Embun. Berjalan menuju halaman belakang rumah Embun. Halaman yang berhadap langsung matahari sore.


"Embun, lihatlah senja itu. Sinarnya begitu terang nan cantik. Guratan jingga, seolah ingin mengatakan pada dunia akan keanggunannya. Setiap mata yang menatapnya, akan merasa senja begitu sempurna. Namun pernahkan mereka berpikir, senja juga memiliki banyak kelemahan. Senja hanya akan datang, saat matahari mulai lelah bersinar. Senja akan pergi, ketika petang mulai menyapa. Senja hanya akan ada ketika matahari dan petang menyapa. Jika langit mendung, senja takkan pernah ada!"


"Lalu!"


"Sayang!" Ujar Abra, lalu menarik pinggul ramping Embun. Merangkul tubuh Embun yang begitu hangat terasa oleh jiwa dingin Abra.


"Aku ibarat senja yang takkan pernah hadir tanpa dirimu. Aku akan sempurna, ketika Embunku tersenyum. Demi keanggungan Illahi, senja mengalah diantara matahari dan petang. Demi dirimu pula, aku akan menjadi Abra yang hangat. Abra yang ada di sampingmu, bukan CEO tapi suami yanga ingin melihat senyummu. Laki-laki yang ingin menjadi senja dalam hatimu. Senja yang terus menghangat jiwamu!"


"Sejak kapan kamu puitis?"


"Sejak mengenal Embun Khafifah Fauziah!" Ujar Abra.

__ADS_1


"Terserah, aku ingin masuk. Lepaskan pelukanmu, sebentar lagi petang!" Ujar Embun, Abra melepaskan Embun.


"Ya Rabb, sungguhkan kabahagian ini? Apa ini yang dinamakan sempurna? Entah kenapa aku merasa begitu lemah di sampingnya? Aku begitu takut kehilanganya. Ya Rabb, jangan biarkan kisahku berakhir. Bersamanya, hanya bersamanya aku ingin menghabiskan sisa hidupku. Jadikan Embunku tetap bening, agar hatiku dingin saat bersamanya. Berada disisinya, menjadi harapan terbesar dalam hidupku. Mungkin aku salah mencintai Embun melebihi cintaku pada-MU. Namun percayalah, dia wanita yang membuatku ingin mengenal-MU. Iman dalam dirinya yang mengajarkanku, jika Engkau ada dalam hati hamba yang taat!" Batin Abra sembari menatap senja yang perlahan menghilang.


__ADS_2