KESUCIAN EMBUN

KESUCIAN EMBUN
Kejujuran


__ADS_3

"Abah Iman!"


"Ada apa sayang?" sahutnya pada Embun.


"Siapa Via yang tadi dibicarakan abah dan papa?" ujar Embun penasaran, Iman menoleh ke arah Embun.


"Kamu menguping!" ujar Iman, Embun menggelengkan kepalanya lemah.


"Aku tidak sengaja mendengar papa menyebut namanya!" ujar Embun, lalu bersandar pada bahu Iman. Embun menutup kedua matanya, sedangkan Iman terdiam. Bimbang mencari jawaban dari pertanyaan sederhana putrinya.


"Alvia Maulida Zahro, seorang dokter muda. Dia keponakan Afifah yang tanpa sengaja makan siang bersama papa dan abah!" ujar Iman menjelaskan, Iman merasakan anggukan kepala Embun.


"Ternyata dokter muda!" sahut Embun singkat, Iman menoleh ke arah Embun.


Iman merasakan sesuatu yang tengah mengganjal di dalam benak Embun. Rasa penasaran Embun bukan tanpa alasan. Apalagi setelah Embun mendengar pembicaraannya dengan Arya. Jelas ada yang ingin diperjelas Embun. Bukan hanya ingin mengetahui, siapa sebenarnya Via? Lama Iman termenung, sibuk dengan pemikirannya. Sampai akhirnya terdengar helaan napas panjang Embun.


"Ada apa Embun? Ada yang sedang kamu pikirkan?" ujar Iman, Embun duduk tegak di samping Iman. Sekilas Embun menoleh ke arah Iman. Lalu menatap lurus ke arah taman belakang. Tempat favorit Iman dan Embun di kala senja menyapa.


"Apa papa sunguh-sungguh dengan niatnya?"


"Niat!" sahut Iman tidak mengerti, Embun mengedipkan kedua matanya.


"Niat yang tadi terdengar jelas di telingaku. Sebuah keinginan akan hubungan yang lebih serius dengan Via. Dokter muda yang baru pertama kali bertemu dengan papa!" ujar Embun lantang dan tegas.

__ADS_1


"Aku sudah menduga, Embun akan bertanya niat Arya yang sebenarnya. Embun mungkin sudah mendengar semuanya. Sebab itu dia menjadi kepikiran dan stres. Arya, sekarang aku harus bagaimana? Mengatakan semuanya demi membantumu. Atau aku diam, agar Embun tidak terluka!" batin Iman lirih.


"Sayang, Arya hanya bercanda. Tidak mungkin dia menyukai Via. Mereka berdua baru saja bertemu. Apalagi Via seumuran dengan Nur. Sangat tidak mungkin Via menerima cinta laki-laki dewasa seperti Arya!" ujar Iman mengelak, Embun menatap senja yang mulai menyeruak. Sinar jingganya silau menerpa wajahnya.


"Kenapa tidak mungkin? Bukankah papa nampak serius dengan rencananya. Jika masalah diterima atau tidak. Sepertinya papa tidak terlalu peduli?"


"Sayang, abah boleh bertanya!" ujar Iman, sesaat setelah Embun meminum jus yang ada di depannya.


"Silahkan!"


"Apa kamu keberatan? Jika papa Arya melamar Via, menjadikan Via mama sambungmu. Melupakan perbedaan yang jelas terlihat antara Arya dan Via!" tutur Iman hangat, Embun membisu. Tak ada suara yang terdengar. Malah suara tarikan napas Embun yang terdengar jelas di telingan Iman.


Iman menatap lekat wajah putrinya. Wajah yang tiba-tiba dingin, setelah Iman mengutarakan maksud Arya. Wajah yang jelas tidak suka atau lebih tepatnya menolak rencana Arya. Nampak jelas di kedua mata Iman, sebuah keraguan akan rencana yang hendak dilakukan Arya.


"Embun sayang!" sapa Iman lirih, sembari menepuk pelan pundak Embun.


"Kamu belum menjawab pertanyaan Abah!" ujar Iman, Embun langsung tertunduk lesu. Keraguan dan kebimbangan, jelas menguasai hati dan pikiran Embun.


"Tidak ada hakku melarang, jika memang dia yang terbaik untuk papa. Aku akan menyetujuinya!"


"Sayang, kamu menyembunyikan sesuatu!" ujar Iman pada Embun.


"Aku jujur abah, tidak ada hakku melarang pernikahan papa. Baik dengan Via atau dengan tante Sofia. Papa berhak bahagia, dengan wanita pilihannya!"

__ADS_1


"Tidak Embun, ada yang mengganjal dalam pikiranmu. Jika orang lain, mungkin percaya kamu sudah berkata jujur. Namun ini abah, orang yang melihatmu tumbuh besar. Abah bisa memahami setiap isyarat dari tubuhmu. Katakan pada abah, jika memang kamu menolaknya. Arya mungkin akan membatalkan rencananya!" ujar Iman lantang, Embun langsung menoleh. Kedua tangannya tertangkup sempurna. Raut wajahnya memelas, bibirnya bergetar mengucap sebuah permohonan. Iman semakin yakin dengan dugaannya. Jika Embun tengah memikirkan sesuatu.


"Jangan pernah katakan pada papa. Jika aku mencari tahu tentang Via. Biarkan papa bahagia, apapun yang sudah kukatakan. Jangan pernah Abah ambil hati. Lupakan saja dan percayalah, Embun baik-baik saja. Aku akan menjadi orang pertama yang bahagia melihat pernikahan papa!" ujar Embun dengan tangan tertangkup. Memohon dengan sangat, agar Iman tidak mengatakan apapun pada Arya.


"Kalau begitu jujurlah pada abah!" ujar Iman tegas, Embun menunduk.


"Aku sudah berkata jujur, aku bahagia melihat papa menikah dengan wanita pilihannya!"


"Embun, abah bukan orang lain. Dengan mudah abah melihat beban yang ada dalam pikiranmu. Ada sesuatu yang kamu tutupi. Sekarang katakan atau abah akan mengatakan semuanya pada Arya!" ujar Iman final, Embun menggelengkan kepalanya lemah. Wajahnya tertunduk, seakan tak lagi tertarik oleh indah senja.


"Abah, salahkan jika hati Embun merasa cemburu dan marah? Ketika telinga Embun mendengar, ada wanita lain yang akan menggantikan mama Almaira. Pantaskah jiwa Embun sakit dan terluka? Saat kedua mata Embun menatap raut wajah papa Arya yang begitu bahagia. Namun semua itu nyata Embun rasakan, hati dan jiwa Embun menolak semua kebahagian yang akan dirasakan oleh papa Arya. Tepat saat bibir papa Arya menyebut nama Via dengan begitu lembut dan hangat. Air mata Embun menetes, takut papa melupakan mama Almaira begitu saja. Embun merasa tak berdaya, ada sedikit rasa cemburu. Menyadari akan ada nama lain dalam hidup papa!"


"Embun!" ujar Iman, seraya mengusap lembut kepala Embun.


"Apapun yang kamu rasakan tidaklah salah. Amarah dan rasa cemburumu wajar, mengingat sikap Arya pada Almaira. Kamu berhak marah, saat melihat cinta Arya pada wanita lain. Semua itu wajar, karena selamanya seorang anak akan berpikir ayah dan ibunya adalah pasangan paling serasi. Seorang anak akan terluka dan sakit, ketika ada cinta lain yang mengusik keharmonisan keluarganya. Namun di balik semua amarah dan rasa sakitmu. Ada hal yang harus kamu pahami, jika Arya tidak pernah berniat melupakan mama Almaira. Arya tidak pernah sekalipun hidup tanpa bayangan nama Almaira. Puluhan tahun kesendiriannya, sudah cukup menjawab kesetiannya pada Almaira. Kini di masa tuanya, Arya butuh pendamping yang mampu menjadi penopang hidupnya. Baik Arya atau aku, tidak pernah ingin membagi rasa sayang pada orang lain. Namun sebagai seorang ayah, tugas kami sudah selesai. Tanganmu tak lagi bisa kami genggam. Tubuhmu tak mampu kami peluk. Hidupmu kini bersama Abra, bukan dengan kami ayah yang mencintaimu. Jika mungkin, abah ingin meminta izinmu. Bolehkah Abah menikah dengan tante Afifah!"


"Embun tidak akan menghalangi kebahagian abah dan papa. Sepenuhnya Embun menyadari, kalian berhak bahagia tanpa Embun. Apa yang Embun rasakan saat ini? Hanya sakit sementara, rasa cemburu tanpa alasan yang tak pantas diambil hati. Percayalah Abah, semua yang Embun katakan. Sebuah rasa yang akan Embun hilangkan. Embun menyayangi kalian, kebahagian kalian segalanya bagi Embun!" ujar Embun tegas, Iman mengedipkan kedua matanya.


"Sayang, selamanya Embun putri tercinta abah dan papa Arya. Jangan pernah berpikir, kami menikah dan akan melupakanmu. Sebaliknya sayang, pernikahan kami hanya untukmu. Kami akan bahagia bersamamu. Izinmu yang akan menjadi pondasi kuat pernikahan kami. Jadi tidak akan ada pernikahan tanpa izin darimu!"


"Jangan katakan itu, maafkan Embun yang egois. Abah dan papa harus segera menikah. Jangan pedulikan perasaan Embun yang mengada-ada. Percayalah, Embun sangat bahagia dengan pernikahan kalian!" ujar Embun lantang.


"Tapi papa mulai ragu sayang. Tanpa sengaja papa menyakiti hatimu. Seharusnya papa meminta izin darimu. Sebelum papa mengambil keputusan. Pernikahan penuh perbedaan ini. Akan semakin sulit terjalin, ketika senyum papa alasan tetesan air matamu!" batin Arya, seraya melihat ke arah Embun. Arya berdiri tepat di belakang pintu dapur. Tempat Iman dan Embun saling bicara.

__ADS_1


"Artinya kamu setuju!"


"Embun sendiri yang akan menyiapkan acara lamaran papa dan Abah. Maafkan Embun yang sudah bersikap egois!" ujar Embun, sembari menyeka air mata yang menetes di pelupuk matanya.


__ADS_2